
Tn. Alex Rayne memutuskan untuk setuju dengan rencana pernikahan putranya dengan Reana. Begitu singkat dan cepat hingga membuat Reana dan Nico tercengang, antara percaya dan tidak. Mereka saling pandang, merasa tak yakin.
Mungkin karena tak menyangka keputusan itu bisa berubah dalam waktu semalam saja. Kemarin ibunya masih menolak rencana pernikahan mereka. Pagi ini keduanya sepakat menyetujuinya.
Reana dan Nico yang duduk di hadapan kedua orang tuanya itu berharap Tn. Alex Rayne akan mengulang ucapannya. Nico dan Reana hanya diam menunggu. Tak berani ke ge-er an, girang lebih dulu.
"Kenapa? Kalian tidak suka? Tak ada terima kasih untuk kami?" tanya Alex Rayne.
"Maksud Daddy? Mommy dan Daddy setuju kami menikah?" tanya Nico masih tak percaya.
"Daddy sudah bilang tadi, apa kuping kalian ada masalah?" tanya Alex Rayne.
"Serius Daddy?" tanya Nico tak percaya.
Laki-laki itu bahkan berdiri mendekati ayahnya. Tn. Alex Rayne merentangkan tangannya untuk memeluk putra kesayangannya.
"Semoga kalian bahagia selamanya," jawab Alex Rayne.
Nico balas memeluk ayahnya erat. Tak terkira betapa besar rasa bahagia yang dirasakannya. Ayah dan anak itu terlihat begitu akrab dan saling menyayangi. Padahal selama ini bersikap seperti biasa saja. Ny. Cathrina merasa sikap Nico berlebihan menunjukkan rasa bahagianya dan itu membuatnya mual.
Tapi saat Nico memeluknya erat lalu mencium kedua pipinya berkali-kali, nyonya yang terlihat jaga image itu tak tahan menahan geli hingga tertawa.
"Kamu ini seperti anak kecil saja," ungkap Cathrina.
__ADS_1
"Nico sayang Mommy! Sayang! Sayang! Sayang! Sayaaaang! Mommy," ucap Nico setelah puas mencium pipi ibunya.
Meski tak terlalu suka dengan keputusan suaminya. Melihat kebahagiaan putra satu-satunya itu, membuatnya tak terlalu menyesali keputusan menerima permintaan suaminya. Nico menarik tangan Reana dan meminta gadis itu berterima kasih pada kedua orang tuanya.
Reana tentu saja bahagia, saking bahagianya Nico hingga lupa syarat yang diajukan ayahnya untuk mengambil alih perusahaannya. Reana tersenyum pedih, namun tak mau merusak kebahagiaan laki-laki itu.
"Ada apa sayang? Kenapa tak bahagia?" tanya Alex Rayne saat Reana mencium punggung tangan orang tua itu.
Alex Rayne memeluk Reana menandakan ikut bahagia untuk mereka. Nico yang masih memeluk ibunya langsung sadar dengan kekhawatiran calon istrinya itu. Segera mendekati Reana dan memeluk untuk menghiburnya.
"Aku rasa … Reana risau karena tak bisa menetap di sini Daddy. Reana juga tak bisa meninggalkan Mamanya," jawab Nico.
"Kalau begitu bawa Mamanya ke sini," jawab Catharina.
"Aku rasa Mama Reana tidak akan bersedia Mommy," ucap Nico dengan raut wajah yang mulai murung.
"Jadi dia pilih anak gadisnya gagal menikah daripada mengalah untuk pindah ke sini? Apa kamu tidak lihat Mommy dan Daddy sudah mengalah pada kalian. Kenapa dia tidak mau mengalah demi anak gadisnya?--"
"Bukan begitu–"
"Kenapa harus kamu yang menjawab. Apa dia itu Mamamu? Kenapa tidak biarkan dia yang bicara mewakili Mamanya yang tak mau mengalah dan tinggal di sini?" tanya Catharina.
Reana mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk. Mencoba menatap wajah nyonya yang terlihat sangat tegas itu. Mendengar ucapan Ny. Catharina, Reana merasa bersalah. Nyonya itu dan suaminya telah mengalah menerimanya sebagai calon menantunya dan sekarang ingin menuntut pengorbanan dari ibunya.
__ADS_1
"Kami belum bicara tentang ini Nyonya. Aku tidak tahu, dan tidak menyangka akan diminta menetap di sini. Aku akan segera bertanya pada Mama tentang rencana pindah ke sini," jawab Reana yang gemetar karena ketegasan nyonya itu yang telah membuat nyalinya ciut.
"Lalu kapan kalian akan bicara? Kapan kami akan mendapat jawabannya. Kalau dia tidak bersedia bagaimana? Dan kenapa kami yang terlihat mengharapkanmu?" tanya Catharina bertubi-tubi.
Reana terperangah melihat kemarahan Ny. Cathrina. Gadis itu tak bisa bicara lagi. Semua yang ditanyakan nyonya itu terasa salah dan kesalahan itu berasal dari pihaknya. Nico merangkul calon istrinya agar Reana menjadi tenang. Laki-laki itu tersenyum seolah-olah menunjukan tak ada yang perlu ditakutkan.
"Aku sudah mengalah menerimamu, sekarang giliran Mamamu yang mengalah mengikuti keinginan kami. Nico harus menetap di sini untuk menjalankan perusahaan Daddy-nya. Coba pikirkan mana yang lebih penting dibandingkan dia yang tak mau meninggalkan rumah megahnya–"
"Mom!" seru Nico yang merasa tidak enak hati mendengar sindiran ibunya pada ibu Reana.
Ny. Cathrina berdiri dari tempat duduknya. Tak peduli apa pun lagi, menurutnya, dia telah berkorban cukup besar membiarkan putranya menikahi gadis miskin seperti Reana. Segera wanita itu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Daddy tidak tahu kalau Mamamu tak bersedia pindah ke sini atau kamu yang tak bisa meninggalkannya. Nanti kita pikirkan lagi solusinya. Intinya kami merestui pernikahan kalian. Mengenai masalah itu, nanti kita bicarakan lagi, ya!" ucap Alex Rayne kemudian berdiri dari sofa itu dan melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Reana segera menoleh ke arah Nico. Gadis itu merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku Kak," ucap Reana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah! Apa yang kamu katakan tadi itu memang benar. Kita harus bicarakan dulu dengan Mama. Tak mungkin kita putuskan itu sendiri. Masalahnya kita berdua tidak tahu kalau Daddy akan mengajukan syarat itu," jelas Nico sambil menangkup wajah calon istrinya.
Aku khawatir sayang, masalah ini tak ada solusinya. Tapi percayalah! Aku pastikan, aku akan memilihmu jika tak ada jalan keluarnya, batin Nico sambil memeluk Reana yang mulai mengalirkan air mata.
Rasa bahagia hanya sekejap mereka rasakan. Bagi Reana bahkan tak merasa bahagia sama sekali karena gadis itu tetap merasa ada ganjalan dalam usaha mereka menempuh jenjang pernikahan.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...