Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 107 S2 ~ Memaafkan ~


__ADS_3

Ny. Cathrina merasa cemas dengan pernikahan putranya yang belum dikaruniai keturunan. Sebagai keluarga pengusaha sukses, tak ada lagi hal lain yang diinginkannya selain penerus. Melihat Nico yang tak bisa dilarang menikahi Reana, nyonya kelas atas itu akhirnya pasrah menerima Reana menjadi menantunya.


Melihat putranya yang begitu mencintai Reana dan melihat Reana yang begitu mencintai putranya hingga rela mempertaruhkan nyawanya untuk menolong Nico, ibu itu akhirnya pasrah menerima Reana sebagai menantunya.


Pesta pun digelar, hal yang diinginkan Ny. Cathrina sekarang berubah. Dari mendapatkan menantu yang sepadan menjadi mendapatkan cucu sebagai penerus keluarga. Bagi mereka sekarang tak ada yang lebih penting dari itu. Karena semua telah dimiliki kecuali pewaris dari semua yang mereka miliki.


Hari demi hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, setiap kali ditanyakan hal yang satu itu, jawabannya tetap sama. Rasa cemas Ny. Cathrina muncul, hingga tak bisa dibendung lagi. Ibu itu memutuskan Nico mencari wanita lain untuk dinikahi atau menceraikan Reana.


Tentu saja Nico protes, baginya Reana adalah segala-galanya. Nico merasa dia tak akan ada di dunia ini lagi jika bukan karena Reana. Mengingat itu Ny. Cathrina akhirnya terdiam, dan Nico pun seperti melupakan masalahnya dengan Reana.


"Kalau begitu … pindahlah ke sini. Rumah ini sangat besar, hanya dihuni oleh kami berdua sebagai pemilik. Jika kamu tinggal di sini, mungkin Mommy bisa mengajari Reana atau setidak-tidaknya dia tak bisa bebas begitu saja tanpa ada yang mengatur. Mommy bisa mengajaknya berkonsultasi ke dokter atau mengajaknya berkumpul dengan ibu-ibu untuk bertukar pikiran. Ikut senam atau kegiatan apa saja yang bisa membuka wawasannya agar bisa segera hamil. Mana tahu, ini bisa memancing istrimu untuk bisa segera mengandung," jelas Cathrina akhirnya dengan lemah lembut.


Nico terdiam, hal ini tentu saja belum bisa diputuskannya sendiri. Nico harus bicara serius dulu dengan Reana. Namun, mendengar ibunya bicara seperti itu, Nico sebagai putra yang menyayangi ibunya tentu saja merasa kasihan. Secara pribadi Nico setuju untuk pindah ke rumah itu.


Pagi itu Nico kembali ke apartemennya. Setelah sarapan di rumah orang tuanya, Nico berencana mampir di apartemen untuk mengganti pakaiannya. Begitu mendengar bunyi tombol password ditekan. Reana yang tidur di sofa di ruang tengah langsung terbangun.


Wanita itu sontak berlari mendekati pintu. Terlihat Nico yang sedang melepas sepatunya. Langkah Reana terhenti, wanita itu ingat Nico sedang marah padanya. Laki-laki itu bahkan menekan tombol password sendiri untuk membuka pintu apartemennya. Reana berdiri tertunduk, begitu sedih karena merasa Nico tak membutuhkannya untuk membuka pintu.


Teringat saat dulu, Reana protes saat Nico rela menunggu istrinya itu membuka pintu untuknya. Saat itu Reana masih di kamar mandi dan tak mendengar bunyi bel. Reana menertawakan Nico yang bersikeras tak mau membuka sendiri pintu apartemennya.

__ADS_1


"Kenapa harus tunggu aku yang buka pintu?" tanya Reana.


Mengingat password itu sama dengan membawa kunci sendiri. Nico hanya perlu menekan tombol angka-angka itu dan pintu akan terbuka. Namun, setelah menikah Nico justru tak mau menekan tombol password itu lagi.


"Bertahun-tahun aku masuk dengan menekan tombol password itu, karena memang begitu caranya aku bisa masuk. Jika tinggal sendiri siapa yang akan membuka pintu untukku? Tapi sejak aku mengenalmu. Aku tak ingin tinggal sendiri lagi. Aku ingin ada seseorang di dalam yang mau membukakan pintu untukku. Seseorang yang begitu berarti bagiku. Seseorang yang akan tersenyum saat membukakan pintu untukku. Seseorang yang sangat ingin aku temui saat pulang. Orang yang membukakan pintu itu sangat berarti bagiku, dan orang yang aku khayalkan itu adalah dirimu. Jika aku membuka sendiri pintu itu, artinya kamu tidak ada gunanya lagi," jelas Nico.


Saat itu Reana langsung mencubit pinggang suaminya karena berani menganggapnya tak berguna lagi. Reana mencubit pinggang suaminya itu habis-habisan sambil tertawa. Namun, kini langkah Reana terhenti. Pintu telah terbuka sendiri. Wanita itu merasa tak ada guna lagi berlari menghampiri pintu.


Kaki Reana terasa berat, tak bisa melangkah lagi. Wanita itu hanya bisa berdiri di tempatnya sambil tertunduk, menangis tersedu-sedu. Nico telah membuktikan ucapannya. Reana tak berguna lagi untuk membukakan pintu dan itu artinya Nico menganggapnya tak ada gunanya lagi.


Nico tercenung karena disambut oleh tangis sedih istrinya. Laki-laki itu hanya diam menatap istrinya yang tersedu-sedu menatap lantai apartemen. Laki-laki itu hanya diam menatap wanita yang dirindukannya sejak tadi malam itu.


Nico mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Laki-laki itu merasa Reana, tidur di sofa menunggunya. Laki-laki itu juga beralih pandang ke arah meja makan. Terlihat hidangan yang tertata rapi belum tersentuh.


Reana belum makan sejak tadi malam, batin Nico.


Lalu beralih menatap Reana yang masih berdiri tertunduk menangis. Sama sekali tak berani mendekatinya. Nico melangkah perlahan mendekati wanita yang dicintainya itu. Lalu memeluknya. Tangis Reana semakin menjadi, wanita itu menangis tersedu-sedu di bahu suaminya.


Begitu takut akan kemarahan Nico, Reana bahkan tak berani membalas pelukan laki-laki itu. Sebelah tangan Nico memeluk punggung wanita itu dan sebelah lagi membelai rambutnya. Nico ingin wanita itu meredakan tangisnya.

__ADS_1


"Kakak ke mana? Apa menginap hotel?" tanya Reana di sela-sela tangisnya.


"Aku tidak ke mana-mana. Aku cuma ke rumah Mommy tapi Mommy malah memintaku menginap. Sudah Reana, jangan menangis lagi," jawab Nico.


Reana berusaha menghentikan tangisnya. Lalu melangkah mundur, Reana merasa perlakuan Nico berubah padanya. Laki-laki itu sangat jarang memanggil namanya. Kata sayang lebih sering diucapkan Nico terlebih lagi saat Reana bersedih.


Kini laki-laki itu berubah, setidaknya itulah yang dirasakan Reana. Wanita itu mengangkat wajahnya untuk menatap lurus ke mata Nico lalu meminta maaf. Laki-laki itu tak menjawab, hanya balas menatap Reana.


Wanita itu menunggu jawaban Nico tapi laki-laki itu tak kunjung menjawabnya. Reana merasa Nico tak memaafkannya, dengan dada yang berdenyut perih, wanita itu akhirnya berlari ke kamarnya. Di sana wanita itu menangis sesenggukan sambil menekan dadanya yang terasa sakit.


Nico masuk ke kamar dan langsung menghampiri wanita yang duduk di pinggir ranjang itu. Reana memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya. Nico justru duduk di samping Reana.


"Aku ingin menatapmu, kamu malah lari. Apa aku tak boleh lagi menatap wajah istriku?" tanya Nico.


Mendengar itu Reana langsung menoleh ke arah suaminya. Tangisnya yang berusaha diredakan kini pecah kembali. Dengan tangis yang tersedu-sedu, Reana mengungkapkan penyesalannya berbohong pada Nico. Laki-laki itu mengangguk, Nico tak tahan lagi menatap air mata yang membanjiri wajah istrinya.


"Jangan menangis lagi sayang, aku sudah memaafkanmu," ucap Nico sambil menghapus air mata wanita cantik itu.


Nico menarik tubuh yang masih berguncang karena isak tangis itu. Wanita itu bersandar lemah di dada suaminya. Nico mengerti Reana pasti kurang istirahat bahkan mungkin tak tidur dengan nyenyak. Laki-laki itu merebahkan istrinya lalu memejamkan mata sambil memeluknya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2