Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 59 S2 ~ Perjalanan ~


__ADS_3

Nico mentraktir semua penghuni kost itu. Mereka menikmati makan pagi itu dengan gembira. Diselingi senda gurau dan canda tawa dari para gadis-gadis yang kebanyakan para mahasiswi.


"Kak Reana sudah mau menikah, Kak Icut kapan?" tanya seorang gadis sambil menikmati makan pagi mereka.


Mereka tahu Cut Anisyah adalah paling senior di antara mereka. Cut Anisyah bahkan telah menamatkan kuliahnya dua tahun yang lalu. Sekarang bekerja di sebuah perusahaan. Berkarir di sebuah perusahaan tak membuat gadis itu berubah. Tak terniat untuk membeli atau menyewa sebuah apartemen. Hatinya terlanjur terpaut di rumah kost milik Bu Yati.


"Kakak mau tetap di sini, temani Bu Yati," jawabnya seenaknya.


"Jangan ngomong seperti itu Cut, jangan karena menemani ibu kamu jadi enggan menikah. Ibu akan merasa bersalah kalau kamu punya pemikiran seperti itu. Di sini ibu selalu punya teman. Dari tahun ke tahun selalu ada yang datang untuk mencari kamar di sini. Ibu bahkan harus menolak mereka saking banyaknya permintaan. Kamu tak perlu khawatir ibu nggak punya teman," jelas Yati.


"Tapi Icut udah janji sama ibu, kalau Icut akan temani ibu," jawab Cut Anisyah.


"Itu hanya rayuan kamu agar ibu mau buka kost-kostan tapi … lihat lah temanmu yang waktu itu sudah pindah dari sini begitu tamat kuliah," jawab Yati.


"Karena itu Bu, tinggal Icut yang harus tepati janji," jawab Cut Anisyah.


"Bagi ibu itu hanya janji hingga kamu tamat kuliah atau hingga kamu ketemu jodoh. Kalau ketemu jodoh ya, kamu harus ikut suamimu. Jangan karena janji itu kamu enggan mencari jodoh. Dan ini nasehat buat kalian semua. Siapa pun yang ketemu jodohnya silakan jalan duluan, jangan menunggu senior mendapatkan jodoh dulu," jelas Yati.


"Siap Bu, kami ikut Kak Reana. Begitu dapat jodoh langsung nikah--"


"Selesaikan dulu kuliahmu, main nikah-nikah aja," sahut yang lain.

__ADS_1


"Iya iya, itu aja sewot!" jawabnya lagi.


Reana dan Nico saling berpandangan dan tersenyum. Mereka hanya diam mendengarkan obrolan para gadis-gadis itu dan ibu Kost.


"Kak Nico nanti mau boyong Kak Reana ke New York ya?" tanya seorang gadis.


"Kalau itu belum tahu, bagaimana kesepakatannya nanti dengan orang tua. Kalau diminta pindah ke New York ya kami pindah tapi kalau Reana nggak mau berarti Kakak yang akan pindah ke sini," jelas Nico.


"Di sini aja Kak, kasihan Kak Reana di Amerika sana. Ntar digoda cowok bule lho--"


"Huuu, kalau itu sih Kak Reana nggak bakal tergoda. Ingat Tn. Malvin yang ganteng dan tajir itu. Kak Reana nggak tergiur tuh, jadi mau di sini atau di sana, mau bule atau nggak. Kak Reana nggak bakal tergoda," bela yang lain.


Para gadis yang lain langsung mengangguk-angguk. Serentak mereka melarang Reana untuk pindah ke luar negeri. Reana dan Nico hanya tersenyum menanggapi usulan mereka.


Keduanya pun tersenyum sambil bergandengan tangan melangkah menuju kantor imigrasi. Dengan sabar Reana menjalani tahap demi tahap prosedur pengajuan pembuatan paspor miliknya. Nico dengan sabar menemani gadis itu. Bagi Nico seharian mengurus apa pun asalkan bersama gadis itu tak masalah baginya. Hatinya selalu bahagia bisa selalu berada di samping Reana.


Dan hari keberangkatan mereka pun tiba. Terlihat Reana yang tegang menunggu di boarding room. Nico tersenyum melihat wajah Reana yang tegang sambil detik-detik keberangkatan menuju rumah calon mertuanya itu.


Nico meraih pundak calon istrinya dan menyandarkan ke dadanya. Menggenggam tangan Reana yang terasa dingin.


"Kamu panik ya sayang?" tanya Nico pelan. Reana membalas dengan mengangguk, Nico tersenyum.

__ADS_1


"Menurutmu mana yang lebih panik masuk ke kelas Pak Prapto atau ketemu calon mertua?" tanya Nico yang membuat Reana tertawa.


Bagi Reana masuk ke kelas Pak Prapto bukan masalah baginya. Mengenal calon mertuanya ini lebih menakutkan baginya. Nico mengangkat tangan Reana yang digenggamnya itu. Mencium punggung tangan calon istrinya begitu lama hingga membuat Reana mengangkat wajahnya menatap Nico.


"Jangan takut! Aku ada di pihakmu. Aku akan selalu memilihmu bagaimana pun situasinya, apa pun pilihannya," ucap Nico untuk menenangkan gadis itu.


Reana mengangguk, berulang kali Nico menyakinkannya gadis itu akan selalu mengangguk dan percaya namun saat kembali teringat pada calon mertuanya itu. Reana otomatis menjadi risau.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Nico.


Reana tersenyum, ungkapan cinta itu sering di dengarnya namun Reana tahu kali ini untuk menguatkan hatinya agar tak perlu risau. Nico memang berkali-kali mengucapkan itu, bahwa dia akan selalu berada di pihak Reana. Laki-laki itu tetap akan memilihnya apa pun keputusan kedua orang tuanya.


Jika perlu Nico akan meninggalkan segalanya demi gadis yang dicintainya itu. Orang tuanya atau segala fasilitas kemewahan yang diperolehnya dari orang tuanya, rela ditinggalkannya demi tetap bisa bersama Reana. Bahkan menanggalkan status keluarga pun dia rela.


Tapi, apa mungkin Reana tega membuat laki-laki itu durhaka pada orang tuanya? Hal yang ditakutkan Nico. Gadis itu memilih mundur daripada membuat Nico bertentangan dengan orang tuanya.


Aku telah melamarmu dan kamu telah menerimaku. Awas Reana! Kamu jangan ingkar janji. Seperti apa pun keadaannya nanti, jangan mundur dan jangan tinggalkan aku apa pun alasannya. Ya sayang? Pinta Nico dalam hati.


Mereka pun akhirnya memasuki pesawat yang akan terbang membawa mereka ke Bandara Internasional John F. Kennedy. Nico tersenyum sambil menggenggam tangan Reana saat pesawat itu mulai lepas landas.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2