Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 184 ~ Kejadian Sebenarnya ~


__ADS_3

Nico belum mengantuk, saat duduk sendiri mengenang masa lalu bersama Reana di beranda belakang menghadap ke arah pantai itu. Tiba-tiba Lisca datang dan langsung duduk di sampingnya. Nico kaget. Terlebih lagi saat wanita itu langsung memeluknya erat. Lisca segera membenamkan bibirnya ke bibir Nico.


Tepat di saat itu, Reana datang mencari Nico. Wanita itu tertegun menyaksikan adegan yang menyakiti hati itu. Nico mendorong tubuh Lisca. Langsung berdiri menjauh dari wanita itu.


Tanpa sengaja menatap Reana yang berdiri dan menatapnya dari balik dinding kaca villa. Nico segera mengejar istrinya yang langsung berbalik berlari menuju kamarnya. Nico menangkap dan memeluk wanita yang dicintainya itu dari belakang.


"Jangan salah paham. Ini bukan salahku. Dia tiba-tiba datang menghampiriku," ucap Nico dengan raut wajah panik.


"Semua telah tidur, apa yang Kakak lakukan di sini bersamanya?" tanya Reana dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.


"Sayang, aku hanya ingin sendiri. Mengenang saat-saat kita menginap disini. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba muncul dan melakukan itu …."


"Itu bohong! Dia yang mengajakku berciuman!" seru Lisca.


"Apa? Lisca! Jangan coba-coba memfitnahku. Aku tidak tertarik sedikit pun padamu!" seru Nico dengan kesal.


"Itu katamu saat di depan istrimu, kamu pura-pura tak peduli padaku jika ada istri di sekitarmu, tapi di belakangnya kamu menggodaku," ucap Lisca dengan senyum yang licik.


"Nggak! Itu nggak benar! Jangan dengarkan dia sayang. Kamu tahu, hanya kamu aku cintai. Aku tidak akan mengkhianati pernikahan kita demi wanita itu terlebih lagi, saat ini kamu sedang mengandung anakku. Jangan dengarkan dia Reana. Dia hanya ingin merusak rumah tangga kita," jelas Nico dengan raut wajah panik.


Nico menatap istrinya sambil memohon untuk mempercayainya. Sementara Reana hanya diam menatap nanar. Air matanya mengalir deras. Tak menyangka bisa menyaksikan adegan seperti itu antara Lisca dan suaminya.


"Sudahlah Nico, ini sudah berakhir. Sudah ketahuan. Akui saja kalau kita memang ada hubungan di belakangnya," ucap Lisca.

__ADS_1


Mendengar itu Reana langsung membalik badan. Ingin meninggalkan kedua orang yang membuat hatinya terasa teriris. Nico baru saja ingin menghentikan Reana, tapi langkah wanita itu telah lebih dulu terhenti. 


Reana tercengang. Ardy telah berada di hadapannya. Nico semakin gusar, merasa takut Ardy juga ikut salah paham padanya. Nico tak peduli pada Lisca tapi dia sangat peduli pada hati sahabatnya ini. Jika Lisca masih melancarkan fitnahnya, hubungan persahabatan mereka bisa berakhir.


"Reana, aku juga melihatnya …."


"Ardy," ucap Nico sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara itu Lisca, tertegun. Timbul rasa takut dihatinya. Ada keraguan akan keberhasilannya mengadu domba Nico dan Reana karena kehadiran Ardy. 


Aduh, bagaimana ini, jika Nico tak berhasil aku dapatkan, Ardy juga bisa lepas. Kenapa aku nekad melakukan ini, batin Lisca.


Lisca masuk kamar karena tak ingin lebih lama di abaikan oleh Ardy. Selama di dalam kamar bayangan Nico yang juga bersikap acuh tak acuh membuatnya merasa kesal. Tak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Rasa kesal itu karena dibandingkan sahabat yang lain, sikap Nico dinilai sangat angkuh olehnya.


Tak seperti Rommy yang masih mau berbasa-basi padanya, sikap Nico sungguh dingin padanya. Nico terkesan menyesal menawarkan menginap di Villa. Membuat Lisca frustasi sendiri di dalam kamar.


Ingin berteriak tapi takut terdengar. Tak bisa berteriak membuatnya semakin kesal. Tak bisa melampiaskan kekesalannya Lisca semakin kesal. 


Tak bisa memejamkan mata, Lisca memutuskan keluar dari kamar untuk berjalan-jalan. Setelah yakin melihat Ardy tertidur di sofa, Lisca melangkah keluar kamar. Ingin meredakan kekesalan, tapi apa yang dilihatnya? Laki-laki yang selalu membayang-bayang di pelupuk matanya kini tengah duduk seorang diri di beranda belakang. 


Tak kuasa menahan hati. Merasa bebas tak ada siapa pun di sana, Lisca nekat mendekati Nico. Berharap laki-laki itu akan tergoda padanya. Berharap saat Reana tak berada di sisi Nico, laki-laki itu bersedia menerima perasaan sukanya.


Lisca langsung menyerang Nico dengan ciumannya yang menggebu. Nico kaget, awalnya mengira Reana tapi setelah mengetahui yang tiba-tiba datang memeluk dan menciumnya bukan istrinya, Nico langsung mendorong tubuh wanita itu.

__ADS_1


Namun, sayang. Reana terlanjur melihat bibir keduanya menyatu. Membuat dada Reana terasa berdenyut perih. Sekarang Nico mencoba memberi penjelasan padanya. Dengan alasan yang bertentangan dengan apa yang dilihatnya. 


Ditambah lagi, Lisca nekat memfitnah Nico. Laki-laki itu tentu saja bertambah panik. Meyakinkan istrinya dengan ucapan saja, rasanya sudah sangat sulit. Sekarang mantan tunangan sahabatnya itu justru menambah fitnah atas dirinya.


Melihat suaminya yang panik dan terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya, Reana memilih percaya, tapi Lisca tetap bersikeras kalau dirinya dan Nico memiliki hubungan di belakangnya. Ardy muncul untuk lebih menyakinkan.


Nico kaget bahkan hingga menggelengkan kepalanya. Tak menyangka jika sahabatnya juga ikut menuduhnya. Rasa sakit difitnah oleh sahabat dan tunangannya, terlebih rasa tak percaya istrinya membuat mata laki-laki itu berkaca-kaca.


Sementara Lisca justru merasa ragu, Ardy akan membelanya. Nico justru merasa Ardy juga ikut menyalahkannya. Nico merasa letih tubuh dan jiwanya. 


Berusaha meyakinkan sahabat dan istrinya terasa sia-sia baginya karena Ardy juga mengaku melihat kejadiannya. Nico menatap nanar pada sahabat dan istrinya itu secara bergantian.


"Ya Reana. Yakinlah! Aku juga melihatnya. Aku melihat mereka berciuman tapi bukan Nico yang memulai. Dia yang tiba-tiba datang dengan penuh nafsu untuk menggoda Nico," ucap Ardy sambil menunjuk Lisca.


Reana dan Nico sontak menoleh ke arah Lisca. Wanita itu tercengang. Sempat berharap Ardy ikut salah paham dan mengira Nico menggodanya, kini justru menunjuknya orang yang lebih dulu menggoda Nico. Mendengar ucapan Ardy, Nico langsung merasa lega. Ardy bahkan meminta Reana untuk percaya pada suaminya.


"Reana, jangan ragukan Nico. Dia tidak bersalah. Aku melihat sendiri kejadiannya. Dia mengira aku telah tidur dan meninggalkan aku di kamar. Dia tidak tahu kalau aku mengikutinya. Saat langkahnya terhenti menatapmu di beranda, aku sudah merasa hal ini akan terjadi, dan memang terjadi. Aku tak melihat Nico melayani kemauannya jadi jangan khawatir. Suamimu telah difitnah, dia tidak menggoda wanita itu. Dia tetap setia padamu. Kalian masuklah, ada yang ingin aku bicarakan dengan wanita licik ini," ucap Ardy.


Nico dan Reana saling berpandangan. Laki-laki itu langsung memeluk istrinya dengan erat. Air matanya tak terbendung lagi.


"Terima kasih Ardy, aku dan Reana sangat berhutang budi padamu," ucap Nico.


Laki-laki itu langsung mengajak istrinya meninggalkan ruang tengah itu dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Lisca yang panik tinggal berdua dengan laki-laki dengan amarahnya yang telah memuncak.

__ADS_1


Ucapan Ardy meminta Reana dan Nico meninggalkan ruangan itu seolah-olah meminta agar keduanya membiarkan dirinya berhadapan berdua saja dengan Lisca. Ardy seperti ingin memberi pelajaran pada wanita yang telah mengkhianatinya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2