Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 53 S2 ~ Di Apartemen ~


__ADS_3

Keesokan harinya setelah makan siang Nico, Reana dan Bu Ridha check out dari hotel. Dengan di tunggui Reana dan Nico, Bu Ridha Lia pulang ke kampungnya naik sebuah mobil travel. Tak lupa ibu itu memberi pesan-pesan pada kedua anak muda yang disayanginya itu. Agar mereka selalu menjaga kepercayaannya, saling menjaga, saling setia dan jujur satu sama lainnya.


Nico memeluk ibu yang telah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu. Laki-laki itu terharu karena segala pesan-pesan yang diucapkannya itu tidak hanya ditujukan untuknya tapi juga untuk Reana. Nico tersenyum saat ibu itu meminta putrinya untuk percaya padanya, menjaganya, setia padanya dan jujur padanya. Menunjukkan ibu itu juga berpihak padanya.


Bu Ridha Lia menepuk punggung laki-laki tampan itu dengan penuh kasih sayang. Begitu Nico memohon untuk mempercayakan Reana padanya, ibu itu yakin Nico akan menjadikan putrinya prioritas utama dalam hidupnya.


Reana melambaikan tangannya dengan isak tangis saat melihat ibunya berlalu bersama mobil travel itu.


"Ih, cengengnya! Punya istri cengeng begini bisa membujuk terus tiap hari," ucap Nico menggoda.


"Ya udah! Kalau keberatan begitu ya nggak usah," ucap Reana hendak melangkah keluar dari kawasan hotel itu.


"Eits, mau kemana?" tanya Nico menahan tangan Reana.


"Mau pulang lah, apalagi? Mau nangis di kamar biar nggak dibilang cengeng di sini," ucap Reana.


"Duh gitu aja ngambek, siapa bilang nggak boleh nangis di sini? Aku cuma bilang, kalau aku punya istri cengeng harus dibujuk. Mau nangis nggak perlu pulang dulu, ayo sini! Nangis dalam pelukanku!" ucap Nico sambil memeluk Reana.


"Ih, Kakak ini di tempat umum, malu!" ucap Reana.


"Trus maunya di mana? Di kamar? Kalau gitu kita check in lagi yuk?" tanya Nico sambil menahan senyum.


Reana mencubit pinggang laki-laki itu, Nico tertawa geli. Reana diminta menunggunya yang ingin mengambil mobil di parkir basement. Begitu naik di mobil itu Nico langsung mendekati Reana, tentu saja gadis itu langsung menahan napas. Seperti dulu Nico membantu Reana memasangkan seat belt-nya.


Melihat laki-laki itu meraih seat belt itu dari samping belakang, gadis itu bernapas lega. Jantungnya yang sudah keburu deg-degan akhirnya mereda. Tapi Nico tak ingin melewatkan kesempatan itu. Dengan cepat mengecup bibir Reana lalu segera kembali ke kursinya sambil tertawa.


"Dasar pencuri!" ucap Reana.


"Nggak apa-apa, mencuri cium istri sendiri. Daripada mencuri cium istri orang?" ucap Nico sambil tersenyum.


Reana tersipu dengan panggilan Nico terhadapnya. Gadis itu pun meminta diantar pulang ke kost-annya tapi Nico masih merindukan gadis itu, meminta Reana untuk mampir di apartemennya.


"Tapi aku sudah pakai baju ini dari kemarin lho Kak," ucap Reana sudah sangat ingin mengganti pakaiannya.


"Ya, ganti di apartemenku saja, kayak nggak pernah nginap di apartemenku aja," jawab Nico.


"Tapi waktu itu 'kan aku bawa pakaianku Kak," protes Reana.


"Tapi aku masih kangen, hari ini kamu masih libur 'kan? Pakai t-shirt ku dulu ya, atau kita beli baju untukmu sekarang?" tanya Nico.


"Nggak usah! Pake t-shirt Kakak aja," ucap Reana akhirnya.


Teringat saat Nico membelikan gaun untuknya. Ponsel dan juga mainan ponsel itu. Reana langsung meraih ponselnya dari dalam tas ransel. Menatap mainan ponsel yang dibelikan Nico dulu. Nico tersenyum melihat Reana yang mengusap mainan ponsel itu.

__ADS_1


"Ternyata masih ada?" tanya Nico sambil tersenyum.


"Masih, tempatnya selalu di sini, tak pernah berubah," jawab Reana sambil mengusap mainan ponsel berbentuk hati itu.


Nico tersenyum bahagia, mengingat Reana yang menjaga barang-barang pemberiannya. Laki-laki itu segera melajukan mobilnya ke apartemennya. Reana terpana menatap sekeliling ruangan yang telah berubah segalanya.


"Kita tidak salah masuk?" tanya Reana.


Dalam ingatannya, apartemen Nico masih sama seperti dulu, sebuah apartemen mewah namun terkesan cowok banget dengan interior yang cocok untuk mahasiswa namun sekarang semua terlihat begitu manis dengan warna yang tak lagi didominasi biru putih.


"Tentu tidak sayang! Kan ada password-nya--"


"Tapi--"


"Dulu apartemen ini adalah apartemen Nico tapi sekarang apartemen Nico dan Reana. Harus ada sentuhan wanitanya," jawab Nico.


Reana tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Gadis itu hanya bisa menghamburkan tubuhnya ke tubuh laki-laki yang dicintainya itu.


"Kamu tahu? Saat aku memutuskan mengubah semuanya, aku berdoa. Jika ternyata kamu telah mengkhianati aku, aku berharap dengan niat tulusku untuk membahagiakanmu. Maka kamu akan kembali padaku," jelas Nico.


"Kakak, aku sudah janji akan menunggumu," ucap Reana seperti mengingatkan.


"Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku dulu tidak menyangka kamu memutuskan menikah dengan Tn. Malvin," ucap Nico.


"Maafkan aku--"


"Kakak sudah sering mengucapkan itu," ucap Reana dengan wajah yang pura-pura cemberut.


"Aku harus selalu mengucapkan itu agar aku selalu ingat betapa besar pengorbananmu untukku. Agar aku selalu ingat untuk membayarnya," ucap Nico.


"Membayar? Apa yang Kakak berikan padaku untuk membayar pengorbananku?" tanya Reana penasaran sambil mengangkat wajahnya menatap Nico.


"Seorang anak mungkin?" jawabnya sambil menangkup wajah Reana dan mengecup bibir gadis cantik itu.


"Tidak cukup--"


"Baiklah dua atau tiga orang anak dan … ditambah aku sendiri," ucap Nico membuat Reana tertawa lalu mengangguk.


"Kalau begitu lepaskan pakaianmu--"


"APA?"


"Katanya mau diganti, sini biar aku cuci," ucap Nico sambil tersenyum.

__ADS_1


"Baju gantinya dulu kalau begitu," ucap Reana sambil cemberut.


"Sekarang kamu cerdas ya?" tanya Nico.


"Aku memang cerdas, siapa yang mengajari Kakak Analisa Numerik," ungkap Reana.


"Cuma Matematika doang," sahut Nico sambil menarik tangan Reana ke kamarnya.


Membuka lemarinya agar Reana bisa memilih baju kaos yang diinginkannya.


"Ya, tapi 'kan susah lulusnya," jawab Reana asal namun itu memang benar, membuat Nico kembali kagum pada gadis itu.


Jika tak mengenal Reana mungkin masih terperangkap di kampus itu atau lulus dengan nilai D yang manis terpampang di transkip nilainya. Nico memeluk tubuh mungil itu.


"Aku bersyukur hari itu masuk ke kelasmu, mengenalmu, jatuh cinta padamu, memilikimu," ucap Nico sambil menangkup wajah gadis manis itu.


Lagi-lagi mengecup bibirnya, namun kali ini lebih lama. Bibir itu enggan untuk menjauhi justru inginkannya lagi dan lagi.


Ya ampun, rasanya tak sanggup menunggu hingga menikah, batin Nico yang perlahan mendorong tubuh Reana hingga ke ranjang.


"Kak, aku mau pilih baju," ucap Reana pura-pura tak tahu apa yang diinginkan Nico.


Dulu mereka tak pernah satu ruangan di kamar itu. Jika Nico butuh sesuatu di kamar itu, Reana akan keluar. Reana dan Nico sangat menjaga diri namun sekarang, saat Reana telah menerima lamarannya. Perasaan bahwa sebentar lagi mereka akan menikah membuat perasaan mereka jadi lebih berani.


Gawat, jika tak mampu menguasai diri, aku bisa jadi orang yang tak bisa dipercaya. Aku sudah berjanji pada Mama, kalau aku akan menjaganya, bukan malah merusaknya, batin Nico.


"Ya, kamu pilihlah! Aku tunggu di luar ya!" ucap Nico akhirnya.


"Kak! Besok aku pulang ke kost-an ya?" tanya Reana.


Nico mengangguk. "Ya sayang," jawab Nico sambil tersenyum.


Seperti itu memang lebih baik, lebih lama di sini berbahaya. Baru melamar saja perasaanku dia sudah jadi istriku saja, mana kuat lama-lama kalau begini, batin Nico.


Nico memilih duduk di ruangan tengah sambil menikmati tayangan televisi. Reana ke luar dengan mengenakan t-shirt putih longgar tanpa mengenakan bawahan, rambutnya digelung ke atas. Berjalan santai sambil membawa pakaiannya ke ruang cuci.


Dia melepas pakaian dalamnya nggak ya? Aah ya ampun, apa yang aku pikirkan? Saat ini dia belum jadi milikmu sepenuhnya Nico! Jangan pikirkan yang macam-macam, batin Nico sambil memukul-mukul keningnya sendiri.


Laki-laki itu berusaha fokus pada tontonannya. Mencari sesuatu yang lucu, jauh dari unsur romantisme. Mendengar Nico tertawa, Reana jadi tertarik untuk ikut menonton. Gadis itu duduk di samping Nico. Otomatis mata Nico beralih ke paha Reana yang sedikit terbuka karena T-shirt yang sedikit naik saat gadis itu duduk.


Reana yang selalu mengenakan jeans, tak pernah terlihat kulit kakinya. Membuat Nico menelan ludah dan ruangan itu pun mendadak terasa panas.


Nico tak bisa lagi menahan diri, segera menyerang Reana dengan ciuman yang menggebu-gebu membuat gadis itu hanya bisa terbaring pasrah di atas sofa. Menghujani Reana dengan ciuman yang begitu dalam dari bibir hingga ke lehernya. Perlahan tangan Nico menyusup ke balik t-shirt yang longgar itu. 

__ADS_1


Mencari jawaban untuk sesuatu yang membuatnya penasaran sejak tadi, laki-laki itu tersenyum. Nico tak merasakan apa pun melekat di tubuh gadis itu.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2