Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 154 ~ Memaafkan Lagi ~


__ADS_3

Setelah mengucapkan kata-kata yang menyakiti Reana, Nico akan menyesal. Seperti saat dalam perjalanan mengantar istri dan ibu mertuanya itu. Nico berusaha bersikap wajar pada Ibu mertuanya. Berbincang dengan santainya dengan ibu mertuanya kadang sesekali menyapa Reana atau meminta pendapatnya. 


Namun, Reana hanya diam. Wanita itu sendiri sedang berusaha menenangkan dirinya. Tak ingin mengatakan apa-apa agar getar suaranya tak terdengar ibunya. Nico langsung melirik istrinya melalui kaca spion tengah mobil itu.


Menyadari apa yang dilakukannya menyakiti istrinya. Begitu mendapat kesempatan laki-laki itu langsung meminta maaf. Nico menyadari kesalahannya dan tulus meminta maaf. Laki-laki itu bahkan menangis di pundak istrinya. Nico tak mampu kehilangan Reana. Wanita yang diperjuangkan cintanya sejak beberapa tahun lalu.


Kini saat menjadi miliknya seutuhnya, mereka justru tertimpa berbagai macam masalah. Begitu mendapat kesempatan, Nico langsung meminta maaf. Nico tak ingin kehilangan istri yang dicintainya dan lagi-lagi Reana memaafkan Nico.


Reana membawa semua barang-barang bawaan ibunya dan tentu segera direbut oleh Nico. Laki-laki itu tersenyum sambil meminta wanita itu menunjukkan arah kantin. Berdua mereka membawa bahan-bahan untuk jualan Bu Ridha Lia.


"Wah karyawan baru lagi Bu Ridha?" tanya ibu kantin lain sambil menyapa Ridha Lia.


"Ganteng-ganteng semua Bu Ridha, kemarin ganteng sekarang juga ganteng, dapat di mana sih Bu?" tanya ibu-ibu yang lain menggoda.


"Ini menantu saya," jawab Ridha Lia akhirnya.


"Lho kemarin menantu juga, sekarang menantu juga, banyak amat menantunya Bu, anak ibu cuma satu," tanya ibu-ibu yang lain.


"Ih kalau itu ngaku-ngaku Menantu, kalau ini menantu beneran," ucap ibu yang lain.

__ADS_1


"Menantu?" tanya Nico langsung menoleh ke arah Reana dengan tatapan kesal. Reana langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku bertanya, dan kamu memalingkan wajahmu?" tanya Nico menarik dagu Reana dengan kasar.


"Nico!" seru Ridha Lia.


Mendengar suara itu Nico langsung melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan tempat itu. Para ibu-ibu yang melihat kejadian itu tercenung dan saling menyalahkan. Sementara Ridha Lia mengusap punggung putrinya.


"Kamu sih, pakai tanya-tanya seperti itu, jadi emosi kan dia?" ucap ibu itu pada ibu lain.


"Aduh maaf bu Ridha, saya nggak sengaja. Maksud saya cuma bercanda," ucap ibu yang bertanya tadi.


Ibu-ibu itu melanjutkan aktivitasnya, sementara Reana duduk menunduk. Bulir bening menetes di pangkuanku. Baru saja mereka berbaikan, sekarang mereka bertengkar lagi.


Nico yang melangkah tergesa-gesa menuju mobilnya tiba-tiba menghentikan langkahnya. Saat menatap mobil itu, Nico langsung sadar. Baru saja, Nico meminta maaf sambil memeluk istrinya itu di balik mobil itu. Kini laki-laki itu kembali emosi.


"Ya ampun, ini bukan kesalahan Reana. Kenapa aku masih saja menyalahkannya?" tanya Nico pada dirinya sendiri.


Laki-laki itu bahkan memukul-mukul keningnya sendiri. Nico baru sadar kalau semua itu bukanlah kesalahan Reana. Ibu-ibu itu sendiri menjelaskan pada semuanya.

__ADS_1


Laki-laki itu yang mengaku-ngaku sebagai menantu Mama Ridha. Ibu itu susah menjelaskan tadi. Kenapa pikiranku tidak terbuka. Kenapa begitu menyalahkan Reana. Bagaimana ini? Apa yang dipikirkan Mama tentang aku? Suami yang kejam terhadap putrinya. Suami yang selalu bersikap kasar pada putri. Ya ampun bagaimana ini? Bagaimana kalau Mama tak mau memaafkan aku. Bagaimana kalau Reana memutuskan untuk bercerai dariku. Reana mungkin selalu menutupi sikapku pada Mama. Sekarang Mama sudah tahu, apa yang akan Reana lakukan? Memutuskan bercerai dariku? Tidak! Tidak! Tidak!" jerit Nico lalu segera berlari menuju arah kantin lagi.


Beruntung suasana masih sepi. Nico segera berlari menuju kantin. Terlihat Reana yang duduk tertunduk. Kadang-kadang para ibu itu menoleh padanya dengan tatapan yang merasa bersalah. Nico segera menghampiri istrinya dan duduk berjongkok di hadapannya.


Laki-laki itu menggenggam kedua tangan Reana dan mencium dalam-dalam kedua telapak tangan itu bergantian. Laki-laki itu menatap wajah istrinya dengan tatapan yang menyesalkan. Lalu menghapus air mata yang menetes itu.


"Mungkin kita memang tidak cocok Kak. Aku doakan semoga Kakak bahagia dengan wanita lain. Aku janji tidak akan menikah lagi. Aku akan tetap mencintaimu meski kita tidak bersama," ucap wanita itu sambil terisak-isak.


"Nggak Reana, aku mohon jangan lakukan itu. Aku tidak bisa Reana. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa berpisah denganmu," ucap Nico juga menangis.


Bu Ridha tak sanggup menatap putri dan menantunya itu. Ibu itu memalingkan wajahnya dan menangis. Ibu-ibu yang lain merasa tak enak hati. Mereka menyesal karena candaan mereka membuat suami istri itu bertengkar. Mereka memohon pada Reana sementara Nico tertunduk di hadapan wanita itu.


"Aduh Nak Reana jangan begini. Kalau kalian berpisah, kami akan merasa bersalah. Tolong maafkanlah suamimu. Dia sangat mencintaimu. Di mana lagi bisa mencari suami seperti ini? Kami akan merasa berdosa jika kalian berpisah karena kami. Tolonglah Reana, maafkanlah suamimu," ucap mereka secara bergantian.


Nico mengangkat wajahnya menatap istrinya. Laki-laki itu laki-laki itu mengangguk dengan tatapan memohon. Sambil terus menggenggam tangan Reana. Nico memohon untuk dimaafkan.


Reana menatap ke arah ibu-ibu itu. Mereka langsung mengangguk berharap Reana memaafkan suaminya. Reana beralih menatap Nico, menatapnya dengan tatapan sendu, lalu mengangguk kepala. Nico tersenyum bahagia lalu mengecup kening istrinya itu. Sambil terus mengucapkan terima kasih padanya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2