Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 24 ~ Cinta Pertama ~


__ADS_3

Reana tercengang melihat lingkungan dimana Nico membawanya. Sebuah apartemen mewah dengan segala macam fasilitas yang tak pernah terbayangkan Reana sebelumnya.


Nico berhenti disebuah pintu, menekan tombol kombinasi password pada sebuah kotak pengaman dan pintu terbuka. Nico melangkah masuk, namun Reana masih mematung didepan pintu.


"Ayo masuk, ngapain disitu" ucap Nico mempersilahkan Reana masuk.


Tapi gadis itu tetap mematung, Reana masih ragu melangkahkan kakinya di sebuah apartemen yang dihuni oleh seorang laki-laki. Tentu saja hal ini tidak pernah Reana lakukan sebelumnya.


Akhirnya Nico memaksa Reana masuk, menggandeng tangan gadis itu hingga ke kamarnya. Nico meletakkan travel bag Reana disitu. Akhirnya Reana mengikuti masuk, menatap setiap sudut ruangan.


Begitu mewah, ranjang yang besar, bersih dan nyaman. Reana heran bagaimana seorang laki-laki bisa memiliki kamar sebersih ini, disampingnya ada sebuah jendela kaca yang memberikan pemandangan hutan kota.


"Kamu tidur disini, saya tidur di sofa" ucap Nico sambil menunjuk sofa diruang tengah.


Nico melangkah keluar kamar, Reana mengikuti, gadis itu merasa tidak enak hati, menumpang tapi justru malah merepotkan.


"Saya yang di sofa, kak Nico tidur di kamar aja" ujar gadis itu sambil memegang pintu.


"Yang bener aja, mana mungkin aku biarin kamu tidur di sofa" jawab Nico membantah ide Reana.


"Tapi saya nggak enak, masa kak Nico yang punya apartemen malah tidur di sofa" ucap Reana balik membantah Nico.


"Mmmm... Biar kamu merasa enak, gimana kalau kita berdua tidur dikamar ?" tanya Nico menggoda Reana.


Kontan saja wajah gadis itu merona merah, dalam sekejap Reana menutup pintu kamar. Nico tertawa. Reana menatap pintu yang barusan ditutupnya. Gadis itu salah tingkah, kaget dengan gurauan Nico.


Setelah merasa tenang Reana duduk di sebuah kursi kantor, sambil tersenyum seperti anak kecil memainkan kursi bisa berputar dan memiliki roda itu. Lalu memandang satu-persatu barang-barang yang ada di meja belajar Nico.


Tangannya menelusuri sederetan buku-buku di hadapannya lalu melihat ke sudut ruangan, disana juga tersusun rapi buku-buku di lemari buku.


Pantesan nggak pernah ke perpus, kalau perlu buku tinggal beli, batin Reana, ingat ucapan Nico dulu.


Reana kembali memandang barang-barang diatas meja, ada notebook lengkap dengan printernya, alat-alat tulis dan semua tertata rapi ditempatnya. Mata Reana terpaku pada kertas dibalik kaca meja.


Jadwal Kuliah dan Kerja Reana


Reana terpaku menatap tabel jadwal kuliahnya lengkap dengan jam, hari dan ruangan yang digunakannya. Gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas meja, buliran bening menetes.


Jangan seperti ini, tolong jangan seperti ini, aku takut tak bisa membalas kebaikanmu, aku takut hanya akan menyakitimu, jerit hati Reana.


"Knok.. knok.. knok.. may i come in?" Nico muncul dari balik pintu sambil tersenyum.


Reana buru-buru menghapus air matanya.


"Hei, kamu kenapa? sakit?" ucap Nico kaget melihat mata dan hidung gadis itu memerah.


Reana hanya menggeleng pelan lalu tertunduk.


"Kamu sedih karena diusir dari kost-an? atau sedih karena harus numpang di apartemenku?" tanya Nico sambil menarik kursi beroda yang diduduki Reana mendekat sementara laki-laki itu duduk di ranjang.


"Apa yang kamu pikirkan?" bisik Nico di hadapan Reana.


Reana menggelengkan kembali kepalanya, gadis itu memilih diam. Nico menatap gadis itu lamat-lamat, entah sampai kapan gadis itu akan terbuka padanya. Terbiasa mencurahkan isi hati padanya, dana Nico menunggu saat-saat seperti itu.


Nico ingin gadis itu bergantung padanya, namun Reana bukanlah gadis yang terbiasa meminta tolong. Jika tidak ditawari atau bahkan dipaksa Reana akan mencari jalan sendiri untuk mengatasi masalahnya.


Dan jalan yang dipilihnya sangat tidak disukai Nico, seperti meminta bantuan untuk biaya kuliah pada tuan Malvin atau seperti sekarang ini, minta izin menginap di kantor pak Gunawan.


Namun kali ini Nico tidak ingin memaksa Reana bicara, karena gadis itu sedang ada di apartemennya, dia tidak ingin gadis itu merasa tidak nyaman lalu ingin keluar dari apartemen ini. Nico sangat-sangat menghindari hal itu.


Nico meminta gadis itu untuk segera mandi dan bersiap untuk makan malam.


"Aku lupa memberi tahu, disebelah sana ada kamar mandi, kalau nona Reana ingin mandi dulu, silahkan" ucap nya sambil menunjuk pintu disudut ruangan.


Reana ikut memandang kearah pintu itu.


"Ngomong-ngomong kamu memakai jins itu untuk tidur, apa itu nyaman?" tanya Nico lagi.


Reana memandang celana jins yang dipakainya. Tak mungkin rasanya memakai celana yang sudah dipakainya seharian. Tapi Reana ragu, biasanya gadis itu mengenakan Jamaica Short selama di kost-an, karena disana hanya dihuni oleh gadis-gadis.


Nico menepuk pipi gadis itu, sambil tersenyum beranjak keluar kamar.


Sementara Reana membersihkan badan, Nico menata hidangan yang baru saja diantar kurir. Nico terlihat semangat mempersiapkan makan malam mereka berdua.


Reana membuka pintu kamar, keluar dari kamar mengenakan t-shirt berwarna kuning lembut dan Jamaica Short dengan warna senada, rambutnya digulung keatas, gadis itu melangkah pelan menuju ruang makan.

__ADS_1


Nico terpesona melihat penampilan Reana yang simpel namun manis. Dengan pakaian seperti itu tubuh Reana terlihat sangat mungil. Jika dipikir-pikir kapan Nico tidak terpesona melihat gadis itu ? Nico menelan ludah.


"Silahkan duduk nona Reana" ucapnya sambil menarik kursi untuk Reana.


Reana tersenyum canggung, gadis itu bingung apa yang harus dilakukannya. Reana tidak ingin dianggap tamu yang harus dilayani. Tapi itulah yang dilakukan Nico, justru mempersiapkan semuanya sampai-sampai laki-laki itu yang menyendokkan makanan untuk Reana.


Sambil tersenyum Nico meletakkan piring berisi makanan beserta beserta air putih dan juice jeruk dihadapan Reana. Reana hanya bisa memandang apa yang dilakukan laki-laki itu.


"Selamat makan" ucap Nico tak ingin gadis itu kelaparan lebih lama.


Nico menyantap makanannya dan bersikap sesantai mungkin, semua itu dilakukannya agar Reana tidak merasa canggung, kadang-kadang Nico bercerita tentang ulah teman-temannya jika menginap disana.


Reana mendengarkan dan kadang tertawa, Nico senang melihat gadis itu terhibur dengan ceritanya. Reana menyantap hidangan itu dengan tidak ragu-ragu lagi.


Selesai makan malam Reana berinisiatif mencuci semua piring kotor tapi Nico melarang. Namun Reana memaksa dan menyuruh Nico duduk diruang tengah menonton TV atau bermain gadget.


Gadis itu sampai menyipratkan air kran untuk mengusir Nico yang ingin membantu Reana membersihkan piring kotor.


Akhirnya Nico mengalah dan memilih menyalakan LED. Menikmati TV berlangganan yang menyiarkan siaran internasional maupun lokal. Kadang Reana tertarik untuk meliriknya.


Dari dapur bersih itu Reana juga bisa melihat tayangan yang di tonton Nico, tapi Nico tidak fokus menonton satu acara, sebentar-sebentar laki-laki itu berganti-ganti channel. Reana menggelengkan kepalanya.


Reana kaget dan memalingkan wajahnya saat tanpa sengaja Nico mampir di saluran film dengan adegan mesra. Nico pun kaget, reflek laki-laki itu mematikan LED nya.


Segera Reana menyelesaikan cucian piringnya dan pamit untuk tidur.


"Jam segini sudah mau tidur?" tanya Nico heran.


Reana mengangguk, biasanya gadis itu memang sudah tidur jam segini.


"Oh... kalau gitu selamat tidur ya, semoga mimpi indah" ucap Nico dengan nada agak kecewa.


Reana mengangguk ingin melangkah ke kamar tapi gadis itu menoleh kembali kearah Nico. Gadis itu tidur jam segini karena di kost-an, jam segini para penghuni kost sudah berada dikamar masing-masing.


Reana melangkah ke sofa Nico, laki-laki itu kaget.


"Ada apa? apa ada yang tidak nyaman?" tanya Nico ingin memeriksa kamarnya.


"Nggak kak, sebenarnya saya belum mengantuk tapi hanya karena kebiasaan aja jam segini udah kamar" jawab Reana, gadis itu masih berdiri disamping sofa.


Reana mengangguk setuju.


"Makasih kak, udah menampung saya disini. Tapi saya jadi merepotkan kak Nico lagi" ucap Reana menyesal.


"Tidak merepotkan sedikitpun, apalagi saya senang bisa bantuin kamu, saya justru sedih kalau kamu minta bantuan orang lain" ucap Nico, laki-laki itu teringat Reana yang hampir saja minta pertolongan pada tuan Malvin untuk membayarkan uang kuliahnya.


"Reana, jangan memendam segala sesuatu sendirian, cobalah sekali-sekali mengandalkan orang lain" nasehat Nico pada Reana.


"Tapi akhir-akhir ini saya justru mengandalkan kak Nico" jawab Reana membantah ucapan Nico.


Nico tertawa.


"Kamu mencoba mengatasinya sendiri" lanjut Nico sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa itu yang namanya mengandalkan ? kalau tidak di tawari, kalau tidak dipaksa kamu akan mengikuti keinginanmu sendiri." tanya Nico.


Reana terdiam, mungkin karena memang sifatnya yang penyendiri hingga selalu mencoba mengatasi segala sesuatu seorang diri, dengan pemikirannya sendiri. Reana sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan Nico.


"Kamu mau berterima kasih ? aku tau caranya" ujar Nico mendekatkan wajahnya pada Reana.


Gadis itu perlahan memiringkan badannya kebelakang, Nico masih tetap maju, Reana mengambil bantal sofa dan menempelkannya ke wajah Nico. Gerak Nico terhenti, mengambil dan memukul-mukulkan bantal itu ke wajahnya.


Reana tertawa.


Maaf kak Nico, saya takut, disini cuma ada kita berdua, bisik hati Reana.


Nico juga ikut tertawa, mereka tertawa bersama. Lalu hening sesaat, mereka bingung ingin membicarakan apa.


"Oh, ini lagu lama, mau diganti?" tanya Nico mencoba mencari pembicaraan, sambil mengacungkan remote control untuk mengganti saluran radio.


"Nggak usah, nggak apa-apa kak, saya nggak masalah lagu lama atau lagu baru, kalau saya belum pernah mendengarnya artinya itu lagu baru bagi saya" ucap Reana tanpa sengaja menahan tangan Nico untuk mengganti saluran.


Reana menarik tangannya malu-malu. Hening sejenak.


"Kakak tau lagu ini?" tanya Reana memecah suasana.

__ADS_1


Nico mengangguk.


"Judulnya Dirimu, rilis tahun 1990 oleh sebuah grup band namanya Gang Pegangsaan, kamu bahkan belum lahir, berarti lagu ini hits dimasa orang tua kita masih muda" cerita Nico sambil tersenyum.


Reana kagum dengan pengetahuan musik Nico. Sambil tersenyum Reana mendengarkan lirik lagu itu. Memperhatikan bait demi bait dengan sungguh-sungguh. Nico membiarkan gadis itu menikmati lagu yang menarik perhatiannya itu.


Tiba-tiba Reana menitikkan air mata, Nico kaget melihat ekspresi sedih Reana.


"Kamu kenapa? ingat cinta pertama?" goda Nico mencoba menghibur Reana.


Reana mengangguk. Nico langsung menyesal menanyakan hal itu.


"Lirik lagu itu mengingatkan saya pada janjinya" ucap Reana.


"Waktu itu, saat libur kenaikan kelas tiga SMP, kami menginap di sebuah Villa" entah kenapa Reana justru mulai bercerita.


Hah, baru kelas tiga SMP ? liburan bersama di sebuah Villa ? kenapa sekarang gayanya sok suci gitu ? bisik Nico dalam hati sambil mengipas-ngipas kepanasan padahal AC dalam keadaan menyala.


Nico ingat barusan gadis itu menempelkan bantal diwajahnya, untuk menghalangi Nico yang ingin lebih mendekat. Laki-laki itu memonyongkan mulutnya, tidak menyangka.


"Saat perjalanan pulang kami melihat matahari yang akan tenggelam, saya bertanya, berapa lama waktu yang butuhkan matahari tenggelam dibawah garis cakrawala ?" lanjut cerita Reana.


Nico setengah hati mendengar cerita Reana. Sejak kapan seorang laki-laki semangat mendengar cinta pertama perempuan yang disukai?.


"Lalu dia menjawab 'jika ingin mengetahui jawabannya maka harus dibuktikan, dengan begitu akan lebih berkesan, liburan tahun depan, kita menginap di villa dengan view matahari tenggelam' itulah janji nya" cerita Reana lalu menundukkan kepalanya.


Oh ya ampun licik sekali, mencari kesempatan menginap bersama lagi ? jerit hati Nico.


Nico sudah tidak tahan mendengar cerita itu. Tapi tidak tega menghentikan Reana. Rasanya laki-laki itu sangat ingin menjentur-jenturkan kepalanya. Reana melirik Nico yang duduk diam mendengarkan.


"Saya sangat bersemangat menantikan saat-saat itu, hingga di hari terakhir pelaksanaan UN, seorang guru memanggil saya dan menyuruh pulang, padahal saya belum menyelesaikan ulangan saya" lanjut cerita Reana.


Nico tercengang, perhatiannya pada cerita Reana mulai terlihat.


Apa diusir dari sekolah ? ketahuan bermalam bersama ? atau hamil diluar nikah ? bisik hati Nico, bertanya-tanya.


"Sesampai di rumah, saya heran, melihat sekeliling halaman rumah, kenapa begitu banyak orang ?


Guru yang mengantar saya mengajak kedalam rumah.


Saya melihatnya tertidur diruang tengah di kelilingi oleh orang-orang yang sebagian besar tidak saya kenal.


Mama memelukku erat, aku hanya terdiam terpaku di pelukan mama, dia tidak menepati janjinya, dia pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya " cerita Reana, tanpa terasa air mata gadis itu mengalir deras.


Nico kelimpungan, cerita Reana berakhir seperti ini. Laki-laki itu merengkuh Reana dan mendekap gadis itu dalam pelukannya membelai lembut punggung gadis itu.


"Dia... cinta pertamamu, adalah papamu?" tanya Nico merasa bersalah dengan pemikirannya tadi.


Reana mengangguk pelan.


Oh ya Tuhan, tentu saja, orang tua adalah cinta pertama bagi anak-anaknya, batin Nico.


Sekarang dia merasa konyol telah menuduh yang bukan-bukan pada gadis itu.


Mungkin itu adalah awal penderitaan hidup Reana, bisik hati Nico lebih mempererat pelukannya.


Hingga akhirnya Reana, merasa tenang.


"Saya tidak tau kenapa bisa menceritakan semua ini pada kakak, padahal saya tidak pernah menceritakan ini pada siapapun sebelumnya.


Makasih kakak sudah mendengarkan cerita saya, meskipun membosankan" ucap Reana sambil tersenyum meski air matanya masih menetes.


Nico menggelengkan kepala.


"Tidak membosankan, cerita apapun darimu tidak akan membosankan" sahut Nico memberikan dukungan dan perhatian pada gadis itu.


Reana tersenyum, Nico menghapus air mata Reana. Reana terkaget, buru-buru pamit ingin ke kamar untuk tidur. Gadis itu tidak ingin larut dalam suasana dan berlama-lama dalam pelukan Nico, ditambah lagi sekarang memang sudah larut malam.


Tak lama kemudian Reana keluar membawakan bantal, guling dan selimut.


"Kak Nico tidur juga ya" ucap Reana memaksa laki-laki itu berbaring di sofa.


Reana menyelimuti laki-laki itu. Nico menepuk pipinya dengan telunjuk. Reana mengecup pipi Nico, lalu laki-laki itu menunjuk bibirnya. Reana mengambil guling dan menempelkannya ke bibir Nico. Laki-laki itu tertawa. Reana masuk kedalam kamarnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2