Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 133 ~ Persaingan ~


__ADS_3

Dokter menyatakan Angela menderita leukemia kronis yaitu Acute Myeloid Leukemia atau AML. Dokter menyarankan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang dari donor yang secara DNA paling mirip. Sementara DNA yang paling mirip adalah DNA dari saudara sekandung.


"Risiko untuk relapse atau kambuhnya leukemia diyakini sangat kecil bagi pasien yang sudah menjalani transplantasi sumsum tulang belakang," jelas dokter itu.


Cangkok sumsum tulang belakang adalah saran dokter waktu itu. Mendengar masih ada harapan, kedua orang tua Angela dan Angelica itu pun lega karena memiliki jalan untuk pengobatan penyakit Angela. Angelica adalah kandidat paling cocok sebagai pendonor.


Angelica yang cocok sebagai donor terlebih dahulu melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa sumsum tulang yang dimilikinya sama dengan sampel sumsum tulang penerima donor. Dokter pun memberitahukan bahwa Angelica telah dinyatakan cocok sebagai pendonor dan menempati ruang disebelah untuk persiapan transplantasi sumsum tulang.


Angelica mendatangi ruang rawat inap kakaknya. Menceritakan betapa besar pengorbanannya untuk menolong menyembuhkan penyakit kakaknya itu. Angelica meminta Nico sebagai imbalannya. 


"Aku yang akan jadi penyelamatmu. Mereka akan mengambil sumsum tulang belakang milikku untuk diberikan padamu. Pengambilan sampel saja rasanya sangat sakit, bagaimana dengan proses transplantasi sumsum tulang? Kakak, aku berkorban besar untukmu, apa Kakak mau memberikan sesuatu yang sangat aku inginkan?" tanya Angelica.


Namun, bukannya setuju, Angela justru menghina Angelica. Bukannya mendapat penghargaan atau rasa terima kasih. Bukannya bersyukur atau membalas pengorbanan Angelica. Angela malah menghina dan merendahkan adiknya sendiri.


Enak saja inginkan Nico ku, kamu berkaca dulu sebelum meminta sesuatu, batin Angela.


Siapa orang yang rela menyerahkan kekasih hatinya? Bagi Angela, Nico adalah kebanggaannya. Satu-satunya laki-laki yang sepadan dengannya di SMA itu adalah Nico. Satu-satunya laki-laki yang pantas menggandeng tangannya hanyalah Nico. Laki-laki itu yang akan diserahkannya pada Angelica?


Mati aja lu. Dasar nggak tahu diri, batin Angela saat mendengar permintaan adiknya itu.


Daripada menyerahkan Nico pada adiknya, mungkin Angela lebih memilih mati atau memilih pendonor lain untuk menolongnya. Dalam hati Angela mengumpat-umpat. Memaki-maki bahkan menghina adiknya serendah-rendahnya.


Angela mengeluarkan kata-kata terbaik yang bisa diucapkannya. Kata-kata yang telah disaringnya dengan susah payah. Dibandingkan dengan yang umpatan dalam hatinya.


"Kamu mau sama dia? Tapi dia nggak mau sama kamu. Kalau aku serahkan dia sama kamu. Dalam sekejap dia akan berlari lagi ke arahku. Meski aku tendang dia ke arahmu, dia akan kembali merangkak padaku. Kamu tak punya apa-apa yang bisa menandingi aku. Jangankan menandingi aku, nilaimu tak ada setengahnya dari nilaiku. Kecantikan kamu tak ada sepersepuluhnya dibanding kecantikanku. Apa mungkin Nico mau menerima kamu. Sementara ada aku yang sebentar lagi sehat dan bahagia bersamanya? Lagi pula Nico itu cinta mati padaku," jelas Angela panjang lebar.


Dengan anggun kata-kata itu terucap dari mulut Angela. Ucapan Angela yang sudah sangat baik menurutnya. Ibarat marah tetapi marah seorang putri bangsawan yang bisa menahan diri.


Namun, tidak bagi Angelica. Kata-kata Angela sangat menyakitkan baginya. Secara tidak langsung Angela meminta Angelica untuk berkaca jika menginginkan sesuatu. Pengorbanan Angelica dianggap tak bernilai sedikit pun bagi Angela. Bukannya mendapatkan permintaan tetapi justru mendapat hinaan.

__ADS_1


Hal yang bisa dilakukan Angelica saat itu hanyalah pergi dari ruang rawat inap itu. Terlihat pasrah tapi dihatinya tak rela. Dengan dendam dihatinya mata Angelica menangkap Kotak bening dengan sekat-sekat kecil untuk memisahkan obat-obat sesuai dengan dosisnya itu.


Sengaja atau tidak sengaja. Sadar atau tidak sadar tangan Angelica merogoh kotak bening itu. Mengambil beberapa biji obat-obatan itu lalu membuangnya ke jendela. Angelica menatap punggung kakaknya dengan penuh dendam. Lalu melangkah meninggalkan ruang rawat inap itu. Rela tidak rela, Angelica tetap menjadi donor sumsum tulang belakang untuk kakaknya. 


"Sebelum proses transplantasi dilakukan, Angela harus menjalani pengobatan dengan kemoterapi. Itu berguna untuk menghancurkan sel sumsum tulang dan sel kanker yang ada serta untuk melemahkan sistem kekebalan tubuhnya. Selain untuk mengurangi resiko penolakan sel transplantasi," jelas dokter saat itu.


Terlihat raut wajah khawatir dari kedua orang tua itu. Apakah putrinya akan sanggup menjalani proses pengobatan yang dikenal sangat menakutkan dan menyakitikan itu. Efek samping kemoterapi sangat ditakutkan oleh para pejuang penyembuhan kanker.


Ketahan fisik dan kekuatan mental diuji dalam proses pengobatan kemoterapi itu. Bibir kering, mual dan muntah bahkan kerontokan rambut akan menjadi beban batin tersendiri selain menahan rasa sakit bagi penderita.


Raut wajah khawatir kedua orang tua itu tak menjadi perhatian bagi Angelica. Perhatian Angelica hanya tertuju pada Nico. Sosok tampan yang membuat matanya tak lepas memandangi pacar kakaknya itu. Nico hanya fokus pada Angela hingga tak pernah memperhatikan Angelica.


"Akhirnya Kak Nico datang juga, dari tadi Kak Angela sudah menunggu," ucap Angelica menyapa Nico.


Laki-laki itu sedang mengusap wajah Angela demi membujuknya untuk tetap makan. Nico datang setiap hari mengunjungi Angela. Orang tua Angela sangat bahagia melihat kesetiaan Nico menemani putri mereka.


"Aku yang jadi donor sumsum tulang untuk Kak Angela, Kak," ucap Angelica pada Nico.


"Oh ya?" ucap Nico.


Angelica bahagia ucapannya mendapat perhatian dari Nico. Semakin semangat bercerita pada laki-laki itu. Menceritakan bagaimana sakitnya saat proses pengambilan sampel dan lain-lainnya. Nico tersenyum mendengar cerita Angelica. Semakin semangat gadis itu bercerita pada Nico.


Terkadang Angelica mengapit lengan laki-laki itu untuk menunjukkan rasa akrabnya. Angela menahan hati melihat tingkah sok akrab adiknya. Angelica bertingkah seperti mendukung cinta Nico pada kakaknya.


Padahal Angela tahu isi hati Angelica yang ingin merebut Nico dari sisinya. Nico bahkan memeluk Angelica demi berterima kasih karena adik Angela itu bersedia menjadi pendonor bagi kakaknya. Angelica tersenyum ke arah Angela sambil memeluk laki-laki tampan pujaan hatinya itu.


"Kak Nico, mana mungkin aku menolak menolong kakakku sendiri. Jika aku tahu sejak dulu aku bisa menolongnya pasti sudah aku lakukan. Kak Angela, kakakku satu-satunya, aku akan lakukan apa pun untuknya," ucap Angelica sambil membalas pelukan Nico.


"Untunglah, kamu bersedia menolongnya," ucap Nico ingin melepas pelukannya sambil tersenyum tapi Angelica justru menarik laki-laki itu kembali memeluknya.

__ADS_1


Betapa kesal hati Angela melihat pemandangan itu. Terlebih lagi, Angelica selalu tersenyum padanya setiap kali berhasil merebut perhatian Nico. Namun, Angela tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak ingin Nico merasakan persaingan antara dirinya dan Angelica.


"Besok Kak Nico akan ke sini lagi? Kasihan Kak Angela selalu sedih kalau Kak Nico nggak kunjung datang," ucap gadis remaja itu tanpa mengurangi erat pelukannya.


"Tentu, aku akan datang setiap hari," jawab Nico.


"Sudah! Jangan lama-lama peluknya," ucap Angela akhirnya tak bisa menahan rasa cemburunya.


Saat Nico pamit pulang, Angela merasa lega. Semakin lama Nico di situ semakin lama hatinya tersiksa. Begitu Nico keluar dari ruang rawat inap itu, Angelica juga langsung ingin pergi.


"Tunggu! Ada yang ingin aku bicarakan, kemarilah!" ucap Angela tak tahan melihat tingkah adiknya itu.


Persaingan jelas-jelas terbuka. Meski telah diejek dan dihina oleh Angela, ternyata Angelica tak surut juga. Tingkahnya justru semakin menjadi-jadi. Angela tak kuasa lagi menahan rasa kesalnya.


"Jika Nico datang lagi, awas kamu bersikap seperti tadi lagi. Atau kamu akan mati," ucap Angela sambil memegang erat lengan adiknya.


Angela menggenggam erat lengan itu begitu erat hingga membuat lengan Angela memerah. Saking kesalnya, Angela seperti tak menganggap Angelica sebagai adiknya lagi tetapi sesama perempuan yang sama-sama menyukai Nico.


Namun, begitu juga dengan Angelica. Gadis itu pun tak menganggap Angela sebagai kakaknya lagi. Sejak mendapat hinaan dari kakaknya, setelah pengorbanannya menolong Angela, gadis itu juga tak peduli pada keselamatan kakaknya lagi.


"Aku akan bersikap seperti itu lagi, bahkan lebih. Siapa dari kita yang akan mendapatkan Kak Nico pada akhirnya! Lihatlah siapa yang sakit di sini," ucap Angelica.


"Meski aku sakit, tapi aku tetap lebih cantik darimu. Cinta Nico tak mudah berpindah. Usahamu akan sia-sia. Lihatlah saat aku sehat kembali, aku akan membalasmu," ucap Angela sambil meremas lengan Angelica hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Kata siapa Kak Angela akan sehat? Kak Angela akan mati!" ucap Angelica sambil menepis tangan kakaknya.


Angela tercenung mendengar ucapan kejam adiknya. Tak menyangka Angelica tega mengucapkan kata-kata seperti itu padanya. Pada seseorang yang sedang menderita penyakit yang mematikan. Barulah terasa olehnya, Angelica, adiknya telah menganggapnya orang lain, menganggapnya saingan dan musuh yang harus dilenyapkan.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2