Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 96 S2 ~ Kembali Cinta ~


__ADS_3

Pagi itu Reana telah disibukkan untuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Setelah semua terhidang di meja makan, gadis itu berpikir untuk menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.


Selagi Kak Nico masih mandi, aku siapkan pakaian kerjanya aja, batin Reana.


Tergesa-gesa gadis itu masuk ke kamar agar bisa segera menyiapkan pakaian untuk suaminya. Reana terkejut saat melihat Nico yang belum berpakaian. Gadis itu segera membalik badan, menghadap ke pintu. Tak hanya Reana yang terkejut, Nico pun terkejut karena Reana yang tiba-tiba masuk.


Reana meminta maaf dan segera keluar dari kamar. Jantung mereka berdebar-debar kencang. Namun, semua itu harus mereka tahan karena tak ingin mengalami kejadian seperti kemarin. Nico belum bisa menerima keadaan Reana yang sepertinya masih belum bersih dari jejak-jejak kepemilikan Tn. Malvin.


Kapan aku siap menerimanya? Jika bekas ciumannya saja membuatku muak lalu bagaimana aku akan bercinta dengannya? Bercinta dengan bekas dari laki-laki itu. Apa aku bisa menerima tubuh yang telah dipeluk laki-laki. Tubuh yang telah disentuh oleh tangan laki-laki itu. Tubuh yang telah dinikmati olehnya? Yang telah memberikan kenikmatan dan kepuasan baginya. Bagaimana aku bisa menerima keadaan itu. Bagaimana kalau selamanya aku tak bisa menerimanya? Batin Nico bertanya-tanya.


Laki-laki itu terduduk di sofa sekian lama. Saat tengah malam terbangun dan menatap kamar yang ditempati Reana. Jika dulu sebelum menikah dia sangat ingin masuk dan menemani gadis itu di sana. Namun, saat ini mereka telah menikah, harusnya mereka telah tidur di kamar yang sama dan berbagi ranjang yang sama.


Nico menitikkan air mata. Cintanya yang begitu besar pada Reana ingin dibuktikannya dengan bersedia menerima gadis yang telah dinodai oleh musuh bebuyutannya itu. Namun, kenyataannya, Nico benar-benar belum sanggup menerima kenyataan itu.


Bayangan laki-laki itu dengan raut wajah penuh kepuasan setelah meniduri istrinya selalu menghantuinya. Nico belum siap menerima keadaan itu hingga memilih untuk menjaga jarak dari Reana. Nico tersentak saat melihat jam di dinding.


Seharusnya laki-laki itu sudah dalam perjalanan menuju kantor. Nico pun bergegas bersiap-siap. Begitu Nico keluar dari kamar Reana langsung menawarkan sarapan pagi buatannya.


"Kamu sarapan sendiri ya. Aku mau buru-buru ke kantor. Nanti aku sarapan kantor aja ya sayang," ucap Nico, melangkah tergesa-gesa menuju pintu keluar apartemen.


Reana hanya terpaku menatap laki-laki yang melangkah tergesa-gesa itu. Menurutnya Nico hanya mencari alasan untuk menghindar darinya. Jelas-jelas Reana melihatnya bersiap-siap sejak tadi. Namun, di detik-detik masuk kantor, Nico baru keluar dari dalam kamarnya.


Reana tertunduk, begitu tergesa-gesa Nico bahkan tak sempat menoleh ke arahnya. Jangankan mencicipi sarapan pagi yang telah susah payah disiapkannya. Memberikan ciuman berangkat kerja pun tak sempat dilakukan Nico.

__ADS_1


Reana menatap dua piring nasi goreng kesukaan Nico yang sangaja dibuatnya untuk mengingatkan kenangan indah mereka. Namun, sedikit pun Nico tak mencicipinya. Tanpa terasa air matanya mengalir.


Gadis itu bahkan menekan dadanya yang terasa sesak. Reana merasa sulit bernapas. Semakin lama menatap sarapan yang tak tersentuh itu, semakin gadis itu merasakan sakit di dadanya. Reana berlari ke balkon, berpegangan pada pagar pembatas lalu menangis sekencang-kencangnya.


"Kenapa membawaku kemari, jika hanya untuk diabaikan. Kenapa? Kenapa? Kenapa tak membiarkan aku pulang jika tak inginkan aku lagi. Apa yang harus aku lakukan pada tubuhku? Apa aku harus menguliti tubuh agar Kak Nico tak jijik lagi padaku. Apa harus seperti itu? Jika tak bisa menerimaku, kenapa membawaku kemari. Biarkan aku mati di kamar kost ku. Biarkan aku pulang ke rumah Ibuku, kenapa Kak Nico tega padaku. Ini juga bukan kehendakku. Aku juga tak ingin ini terjadi. Aku tak ingin ini terjadi, Kak Nico jahat, Kakak jahat, aku benci Kakak, aku benci, aku cinta, aku bertahan karena aku cinta, tapi seperti ini balasan Kakak padaku. Sebaiknya aku mati saja, biarkan aku mati saja, biarkan aku mati saja," jerit suara Reana yang semakin lama semakin lemah.


Gadis itu bahkan terduduk di lantai balkon itu. Jeritan dan tangisan yang ditumpahkannya sedikit membuatnya lega. Namun, tak bisa menghilangkan kesedihannya.


Tiba-tiba Nico muncul dan berlari mencari istrinya. Terkejut, saat melihat Reana yang terduduk bersandar pada pagar pembatas balkon apartemen itu. Laki-laki itu langsung memeluknya dan meminta maaf. Reana tersenyum dengan air matanya yang masih mengalir.


"Kenapa Kakak balik lagi, nanti Kakak bisa terlambat," ucap Reana lemah.


"Aku tak bisa melepaskan bayanganmu. Aku tahu kamu pasti sedih. Aku tak bermaksud seperti itu Reana, sungguh! Aku hanya terburu-buru," ucap Nico.


"Aku tak akan konsentrasi Reana. Meninggalkan istriku dalam keadaan sedih, aku juga tak akan bisa bekerja dengan baik, percuma," ucap Nico lalu merenggangkan pelukannya.


Menatap wajah yang bersimbah air mata itu. Nico tersenyum lalu mengecup kelopak mata yang menangis itu. Reana mundur lalu menghapusnya.


"Kenapa?" tanya Nico heran.


"Basah terkena air mata. Aku tahu rasanya, air mata. Rasanya seperti air laut, ayo dihapus!" ucap Reana sambil mengusap ujung lengannya ke bibir Nico.


Laki-laki itu tersenyum lalu duduk menghadap Reana. Lalu menarik tubuh Reana dalam pelukannya. Menciumi seluruh wajah Reana.

__ADS_1


"Kak Nico! Kakak ini aneh dilarang justru malah dikerjain," ucap Reana pura-pura kesal.


"Ya, baru tahu? Aku orang yang suka menentang. Semakin dilarang semakin aku lakukan," ucap Nico sambil tersenyum.


"Kakak ini bagaimana? Bukannya harus segera masuk kantor?" tanya Reana khawatir.


"Di perjalanan aku cerita  Shafira kalau aku sudah membuat istriku bersedih karena buru-buru berangkat kerja tanpa menyicipi sarapan bulatannya. Shafira langsung suruh aku kembali pulang. Katanya dia yang mengurus selama aku belum datang. Aku masih ada waktu … setengah jam lagi, apa kita bisa sarapan sekarang sayang?" tanya Nico.


Reana mengangguk, segera mereka menuju meja makan. Mereka segera makan bersama. Meski sedikit terburu-buru, tetapi Reana bahagia. Bukan hanya karena sarapan yang disiapkannya habis disantap suaminya tetapi rasa bahagia karena Nico memikirkan perasaannya.


"Maafkan aku Kak," ucap Reana saat mengatar Nico ke depan pintu.


"Kenapa?" tanya Nico.


"Aku sudah memaki Kakak jahat tadi di sana," ucap Reana sambil menunjuk balkon. Nico tertawa.


"Makilah aku sesukamu, jika itu membuatmu lega. Tapi setelah itu maafkan aku ya?" tanya Nico.


Reana tersenyum, lalu mengangguk. Saat gadis berkata akan memaki Nico tiap hari di sana. Laki-laki itu kembali tertawa. Lalu mengecup bibir Reana. Laki-laki itu tersenyum lalu pamit berangkat. Saat di perjalanan laki-laki itu bersyukur karena memutuskan untuk kembali pulang.


Mendengar ucapan Reana yang membuat hatinya berbunga-bunga. Gadis itu bahagia karena Nico memikirkan perasaannya. Begitu pintu apartemen di tutup, Reana langsung berlari ke balkon. Terdengar Reana yang kembali memaki.


"Aku nggak jadi benci Kak Nico, aku mau cinta Kak Nico aja," jerit Reana yang berteriak dari ketinggian dua ratus meter itu. Nico tersenyum dari balik pintu apartemennya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2