
Demi menghilangkan rasa berdosa pada istrinya. Demi mengangkat beban rasa bersalahnya pada Reana. Nico menghubungi Rassya yang belum mengenal sebelumnya. Pengawal itu merasa heran saat menerima telepon masuk dari nomor yang tak dikenalnya.
"Halo," ucap Rassya menyapa dengan pikiran yang melayang mengira-ngira.
"Halo, perkenalkan saya Nico. Suami dari Reana," jawab Nico.
"Oh ya Kak Nico, apa kabar Kak? Maaf kenapa tiba-tiba menghubungi saya?" tanya Rassya langsung karena merasa heran.
Laki-laki itu sempat berpikir hal buruk terjadi pada Reana. Nico meminta izin untuk bertemu di sebuah cafe dan Rassya memenuhi permintaan itu. Awalnya Nico merasa cemburu melihat ketampanan pengawal yang masih terlihat muda tetapi bersikap dewasa itu.
Pertama bertemu Nico langsung menjelaskan kalau dirinya mendapat nomor telepon Rassya dari daftar kontak di ponsel istrinya. Rassya mengangguk, meski merasa sangat heran. Segera Rassya menanyakan kabar Reana.
"Untuk itulah aku mengajakmu untuk bertemu. Beberapa hari yang lalu, Reana pulang ke kampung halamannya dan meninggalkan ponselnya. Aku membaca pesan-pesan masuk darimu tapi merasa tak memiliki kapasitas untuk membalasnya. Aku takut kamu salah paham kenapa Reana tak mau membalas pesanmu, karena dia ketinggalan ponselnya," jelas Nico.
"Oh begitu! Aku pikir kenapa? Tadinya Kak Reana masih membalas pesanku dan juga menerima teleponku. Tiba-tiba Kak Reana mendiamkan aku begitu saja. Aku sempat berpikir sesuatu yang buruk terjadi padanya dan merasa khawatir padanya. Ingin mencarinya tapi aku tak tahu alamatnya. Lagi pula aku juga sempat merasa kalau Kak Reana tak ingin bertemu atau berhubungan denganku lagi," jelas Rassya.
"Ya, sekarang kamu sudah tahu alasannya. Dia baik-baik saja tapi aku rasa dia merasa tak enak hati karena mengabaikan pesan-pesanmu," jelas Nico.
"Oh tidak apa-apa Kak, harusnya Kak Reana jelaskan begitu saja. Jadi saya bisa berhenti merasa khawatir padanya," jelas Rassya.
"Reana orang yang perasa, sedikit hal saja bisa membuatnya merasa bersalah. Aku rasa dia sangat ingin membalas pesanmu tetapi merasa tak enak hati hingga keinginannya tertahan begitu saja," jelas Nico.
"Oh begitu," balas Rassya.
"Sama rasa bersalah Reana padamu karena aku juga melihat pesanmu tapi tak bisa membalas. Aku juga merasa bersalah karena terasa seperti ikut mengabaikan pesan-pesanmu," ucap Nico.
"Kakak berdua ini ada-ada saja. Kelihatannya sangat cocok. Sama-sama baik hati karena tak biasa mengabaikan orang lain. Saya ini apalah Kak. Hanya seorang miskin yang memang biasa diabaikan orang–"
"Kalau itu dalam hal itu kamu sama dengan Reana tapi tidak sama denganku," jawab Nico langsung.
__ADS_1
Membuat Rassya langsung tertawa. Tanpa dijelaskan pun, hanya dengan melihat sekilas saja, Rassya sudah tahu kalau Nico berbeda dengan dirinya dan Reana. Nico terlihat jelas seperti seorang laki-laki yang berkelas, tentu saja tak pernah merasakan miskin dan diabaikan orang.
Meski dalam pesannya terkesan Rassya hanya menganggap Reana sebagai seorang kakak tetapi Nico sangat ingin tahu perasaan Rassya yang sesungguhnya terhadap istrinya. Nico ingin mengenal orang-orang di sekitar Reana.
Seperti yang disarankan Rommy, Nico ingin mengenal, menyukai bahkan mencoba menyayangi orang-orang yang disayangi istrinya. Niat itu ingin dimulainya dari Rassya. Nico tak ingin Rassya berpikir buruk tentangnya dan juga Reana. Karena itu segera laki-laki itu menyelesaikan masalah yang satu ini.
"Kami saling kenal saat kami berada di pulau milik Tn. Malvin. Kak Reana terlihat sangat tertekan karena terpisah dari orang yang dicintainya. Meskipun Tn. Malvin memanjakan Kak Reana tapi terlihat kalau Kak Reana selalu dirundung rasa takut terhadap Tn. Malvin. Setiap saat, setiap waktu bisa saja Tn. Malvin memaksa Kak Reana untuk menerima cintanya. Kasihan Kak Reana, dia terlihat sangat menderita," jelas Rassya.
Aku pikir dia baik-baik saja saat bersama Tn. Malvin buktinya Reana masih perawan setelah bebas dari sekapan Tn. Malvin, batin Nico.
"Aku tidak tahu kalau Reana begitu menderita saat bersama dengan Tn. Malvin," ucap Nico.
"Bagaimana tak menderita Kak. Baru saja Kak Reana menikah sudah langsung terpisah dengan suaminya. Lagi pula hidup Kak Reana tak tenang karena setia saat kehormatannya bisa terancam oleh Tn. Malvin," ungkap Rassya.
"Bagaimana cara dia mengatasi semua itu?" tanya Nico.
"Ya Kak Nico, Kak Reana tetap bertahan. Meski seperti apa pun rayuan Tn. Malvin, Kak Reana akan terus menolaknya. Seromantis apa pun perlakuan Tn. Malvin terhadap Kak Reana tapi Kak Reana terus bertahan setia pada suaminya. Hanya saja kadang Tn. Malvin terbawa emosi hingga lepas kendali. Saat itulah Kak Reana sulit untuk menghindar dari paksaan Tn. Malvin–"
"Ya Kak, tapi beruntung aku selalu bisa menolongnya melepaskan diri dari cengkeraman Tn. Malvin," jelas Rassya.
"Oh ya ampun hingga seperti itu? Kalau begitu, wajar saja jika Reana begitu merasa berhutang budi padamu," ucap Nico.
"Saya tidak merasa seperti itu Kak. Apa yang saya lakukan tulus untuknya. Kak Reana tak perlu merasa berhutang budi padaku. Aku senang bisa menolongnya. Aku yakin akan menyesal jika tak menolongnya waktu itu," ucap Rassya.
"Tidak! Pertolonganmu ini sangat besar artinya bagi kami. Lalu apa tidak masalah dengan pekerjaanmu? Apa Tn. Malvin tidak marah padamu karena kamu selalu menggagalkan niatnya?" tanya Nico.
"Tak mungkin tak marah Kak. Hari pertama kenal dengan Kak Reana aku sudah langsung dipecat," jawab Rassya.
"Lalu?" tanya Nico.
__ADS_1
"Kak Reana mempertahankan aku, Tn. Malvin tak berkutik. Demi cintanya pada Kak Reana Tn. Malvin rela memenuhi permintaan Kak Reana menjadikan saya sebagai pengawal pribadinya," ungkap Rassya.
"Sebagai pengawal pribadi Reana?" tanya Nico tak yakin.
"Dengan menjadi pengawal pribadi Kak Rean, aku jadi lebih mudah melindunginya sekarang Kak Reana sudah bebas, aku sudah tenang. Yang aku takutkan jika aku dipecat dan Kak Reana tetap disekap Tn. Malvin. Tapi syukurlah sekarang Kak Reana sudah bebas dan bahagia bersaman Kak Nico," jelas Rassya.
"Lalu bagaimana denganmu sekarang? Bukankah Tn. Malvin kesal padamu karena selalu menghalangi menaklukkan Reana?" tanya Nico.
"Tentu saja segera dipecat Kak. Begitu Kak Reana pergi aku langsung mendapat hukuman. Karena tak ada lagi yang membelaku, Tn. Malvin dengan bebas memecatku–"
"Apa? Kamu dipecat? Lalu kamu bekerja di mana sekarang?" tanya Nico.
"Hanya bantu-bantu angkat barang di mini market Kak," ungkap Rassya.
"Apa? Kenapa tak melamar pekerjaan di perusahaan jasa keamanan?" tanya Nico.
"Pengaruh Tn. Malvin itu sangat besar Kak. Aku melamar pekerjaan di berbagai perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan tapi saya selalu ditolak tanpa sempat menyerahkan surat lamaran kerja," ungkap Rassya lalu tertunduk.
"Besok bawa dokumen lamaran kerjamu ke perusahaanku. Aku akan mencarikan posisi yang cocok untukmu," ucap Nico.
"Apa … menjadi pengawal Kak Nico? Tak perlu Kak, jangan terlalu dipaksakan. Aku cuma sebatang kara, tak ada yang aku khawatirkan," jelas Rassya lalu tertawa.
"Aku memang tak suka menggunakan jasa pengawalan tapi mungkin aku butuh seseorang yang bisa menjadi asistenku saat menemui orang-orang penting," jelas Nico.
"Jadi sopir, pengawal sekaligus orang kepercayaan?" tanya Rassya ragu-ragu.
"Ya, semacam itu," jawab Nico.
"Wah, itu cita-cita saya, dari sekian banyak atasan saya, baru kali ini jadikan saya orang kepercayaan," ungkap Rassya sambil tertawa.
__ADS_1
Nico pun tersenyum, demi membalas kebaikan Rassya dirinya yang tak pernah memiliki pengawal. Sekarang harus merasakan memiliki pengawalan. Nico hanya ingin mencari solusi sementara untuk membantu Rassya yang tak punya pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...