Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 76 S2 ~ Ingin Melarikan Diri ~


__ADS_3

Reana diminta untuk datang ke sebuah Gazebo yang terlihat sangat mewah. Begitu datang Reana melihat Tn. Malvin sedang berdiri menatap laut lepas. Gazebo yang dikelilingi oleh taman asri yang indah diterangi lampu taman itu menambah suasana romantis undangan makan malam itu. 


Tn. Malvin yang langsung membalikan badan setelah seorang pelayan menyampaikan kalau Reana telah datang. Langsung menatap gadis yang telah ditunggu-tunggunya itu. Laki-laki itu tersenyum, terpesona oleh kecantikan Reana dengan gaun malamnya itu. Laki-laki itu segera mendekati Reana. Meraih tangan gadis itu lalu mengecup punggung tangannya.


Tak cukup hanya memuji gadis itu, Tn. Malvin juga mencium telapak tangan gadis itu. Mengecupnya begitu lama. Seperti ingin menikmati hingga membuat mata pengusaha tampan itu terpejam. Reana ingin menarik tangannya tetapi tak tega. Laki-laki itu bahkan menitikkan air mata. Teringat kegagalan pernikahannya dengan gadis dihadapannya itu. Dengan lantang, akhirnya Tn. Malvin menyatakan ingin kembali menikahi Reana.


"Apa? Nggak mungkin! Apa Tuan sudah gila? Aku ini sudah bersuami. Mana mungkin aku menikah lagi?" tanya Reana protes dengan ucapan Tn. Malvin. 


"Aku bisa mengurus pembatalan pernikahan kalian," ucap Malvin begitu enteng.


"Nggak! Aku nggak sudi. Tuan harus konsekuen dengan keputusan Tuan. Hari itu di penjara Tuan mengatakan sendiri kalau Tuan sudah membatalkan pernikahan kita. Kenapa sekarang ini Tuan ingkari ucapan Tuan sendiri?" tanya Reana dengan raut wajah panik.


"Ya benar. Hari itu aku rela batalkan pernikahan kita. Semua itu demi kesembuhan kamu yang sedang kritis. Aku tak ingin kamu menyerah dan merelakan hidupmu karena tak ingin menikah denganku. Aku mengucapkan itu karena aku begitu takut kehilangan kamu selama-lamanya. Aku rela membatalkan pernikahan kita agar doaku terkabul, tapi kini ... aku ingin memulai lagi dengan harapan yang baru. Aku ingin melanjutkan pernikahan kita. Apalagi semua orang sudah tahu kalau kamu adalah pengantinku–"


"Dari mana orang tahu kalau aku adalah pengantinmu? Konferensi pers itu tidak menjamin pernikahan benar-benar terjadi," sanggah Reana.


"Aku tahu itu, konferensi pers tak menjamin pernikahan benar-benar terjadi tapi karena itu pula keinginanku semakin kuat untuk menikahimu. Banyak beredar video rekaman pengantinku dibawa lari laki-laki lain. Banyak yang berharap aku berhasil menemukan kamu lagi dan banyak yang mendoakan agar aku bisa menikahi kamu lagi–"


"Apa? Nggak! Itu nggak mungkin!" seru Reana dengan raut wajah semakin panik.


"Kamu nggak tahu itu? Kamu nggak melihat video rekaman yang beredar di dunia maya. Mereka, menunggu saat-saat aku mengumumkan pernikahan kita kembali. Mereka mendukung aku untuk merebut kembali kamu dari bocah ingusan itu," jelas Malvin.


"Tuan, kenapa selalu memaksaku? Tuan tahu aku tak mencintai Tuan. Kenapa Tuan masih memaksa?" tanya Reana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan menangis Reana. Aku akan lakukan apa saja untuk bahagiakan kamu. Aku yakin suatu saat kamu bisa menerimaku asalkan kamu tak melihat laki-laki itu lagi. Kamu hanya perlu pasrah kalau dia bukan jodohmu," ucap Malvin sambil menangkup wajah Reana yang menangis.

__ADS_1


Tn. Malvin memeluk tubuh Reana yang mematung. Laki-laki itu begitu bahagia hingga tersenyum. Rasanya Tn. Malvin ingin melakukannya sepanjang malam tetapi teringat Reana yang harus segera makan malam. Laki-laki itu pun mengajak Reana memulai makan malam mereka.


Reana tertunduk mengikuti langkah kaki laki-laki itu menuju meja makan yang disediakan, lengkap dengan lilin untuk menambah kesan romantis. Namun, seperti apa pun suasana yang ingin dipersembahkan untuk Reana, tetap saja tak membuat raut wajah gadis itu gembira.


Tn. Malvin mengerti itu. Dia pun tak memaksa gadis itu untuk bicara lagi. Mereka pun tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Setelah makan malam itu berlangsung. Tn. Malvin membebaskan Reana untuk mengisi kegiatannya sendiri sementara dia harus menghubungi seseorang untuk mengurus perusahaannya. Reana memilih berjalan-jalan sendiri di pantai itu. Gadis itu sangat ingin bertanya bagaimana caranya agar bisa pergi dari tempat itu tetapi tak ada satu pun yang berani mendekat dengannya.


"Seperti apa rasanya? Di paksa menikahi seseorang?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Reana mengenali laki-laki itu sebagai salah seorang pengawal Tn. Malvin. Paling muda di antara pengawal yang lainnya dan juga tampan. Di tanya seperti itu, Reana tak menjawab. Merasa tak perlu membalas pertanyaan laki-laki itu, Reana hanya memandang jauh ke tengah laut.


Kalau aku bertanya padanya? Apa dia akan beritahu aku cara pergi dari tempat ini? Dia pasti tahu seluk beluk daerah ini. Tapi dia itu bodyguard-nya Tuan Malvin. Dia pasti melaporkan apa pun yang aku tanyakan padanya, batin Reana.


Gadis itu urung bertanya solusi atau cara-cara agar dia bisa melarikan diri dari tempat itu. Reana malah mengira kalau laki-laki itu justru di kirim Tn. Malvin untuk mengawasinya. Reana akhirnya tak pedulikan laki-laki itu, terus melangkah menyusuri pinggir pantai sambil melihat-lihat situasi.


"Apa?" tanya Reana kaget.


"Nona ingin mencari jalan pulang?" tanya laki-laki itu sambil tersenyum.


"Nggak! Mana mungkin aku bisa dengan mudah pergi dari sisi Tn. Malvin?" tanya Reana yang tak memerlukan jawaban.


"Aku beritahu caranya apa Nona mau dengar?" tanya laki-laki itu.


"Apa? Apa maksudmu bertanya begitu? Kamu ingin menguji aku? Lalu melaporkan pada Tuan Malvin kalau aku bertanya-tanya dan mencari jalan pulang. Iya 'kan?" tanya Reana.

__ADS_1


"Bukan! Tuan Malvin tak akan peduli kalau aku beritahu jalan pulang pada Nona," ucap pengawal itu.


"Apa? Kenapa dia tak peduli? Apa itu rencananya? Jika aku berhasil melarikan diri dari tempat ini, dia akan membiarkan aku pergi?" tanya Reana.


"Ya, aku yakin Tn. Malvin tidak akan melarangmu–"


"Benarkah? Lalu ke mana arah jalan pulang? Apa benar Tn. Malvin tak peduli jika aku berhasil melarikan diri dari sini?" tanya Reana.


"Ya, aku bisa jamin itu," ucapnya lagi sambil tersenyum.


"Baiklah! Kamu yang tanggung jawab ya? Kalau begitu di mana jalannya. Aku akan mengingatnya," ucap Reana.


"Tak sulit untuk kabur dari sini, itu arahnya ke sana. Sangat mudah kan? Nona tinggal berenang saja–"


"Apa? Ke sana? Kenapa harus berenang? Apa ini sebuah pulau?" tanya Reana kaget.


"Ya, kalau Nona bisa berenang mungkin Nona bisa pergi tanpa izin dari sini tapi kalau menggunakan helikopter ya, harus izin sama Tn. Malvin dulu," ucap laki-laki itu sambil menahan senyum.


Reana menatap tajam ke arah laki-laki itu, yang di tatap justru malah tertawa. Reana menajamkan tatapannya membuat mimik wajah sejudes mungkin. Namun, pengawal itu justru tertawa, Reana semakin geram karena merasa di permainkan.


Ya ampun cantik sekali. Pantas saja Tuan Malvin tak rela melepaskannya, batin pengawal itu.


Laki-laki tampan bertubuh tegap itu menatap Reana. Terpesona dengan raut wajah cantik yang menggemaskan itu. Seperti apa pun Reana ingin menunjukkan kemarahannya, tetap terlihat manis di mata lawan jenis.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


 


__ADS_2