
Rommy menutup teleponnya, kembali memandang teman-temannya yang penasaran dengan jawabannya.
"Serius loe bakal datang? " tanya Ardi dengan suara lantang.
Rommy bingung, Ardi dan Dito menatapnya tajam, sementara Nico hanya duduk tertunduk di sofa. Rommy menghampiri Nico dan duduk disebelahnya.
"Gue nggak tega Nic, suaranya tertahan seperti menangis" ucap Rommy pada Nico yang masih tertunduk.
Undangan pernikahan Reana sudah tersebar beberapa hari yang lalu. Tuan Malvin mengundang seluruh mahasiswa, bahkan orang-orang di struktur organisasi universitas seperti dosen-dosen, dekan bahkan rektor.
Hari ini Reana menelpon Rommy, secara khusus mengundangnya untuk datang ke pesta pernikahannya. Gadis itu memohon pada Rommy untuk datang dan mengajak sahabat-sahabatnya.
"Kalo loe mau datang silakan aja, gue nggak" ucap Ardi yang menolak dengan tegas, saat Rommy mengajaknya untuk hadir di pesta pernikahan Reana.
"Mikir nggak sih, kalo loe datang itu artinya loe merestui pernikahan mereka, loe nggak mikirin perasaan Nico" jelas Dito panjang lebar, jelas kalau Dito juga menolak.
Rommy beralih menatap Nico, tapi Rommy hanya diam, dia sendiri tak mampu bertanya pada laki-laki itu. Rommy berpikir, bertanya pada Nico sama saja melukai perasaan sahabatnya itu.
"Datanglah Rom, dia sangat mengharapkan kehadiranmu" ucap Nico pelan masih menunduk.
"Sebenarnya dia mengharapkan kita semua untuk datang tapi dia hanya berani ngubungin gue, dia minta gue untuk ngajak loe semua" ucap Rommy menjelaskan.
"Ya iyalah, loe kan abangnya, waktu mereka marahan dia bahkan nggak mau terima telepon dari Nico tapi justru terima telepon dari loe, kalo loe mau datang silahkan aja, dasar pengkhianat" ucap Ardi kekanak-kanakan.
"Dia nangis ditelpon, kalo loe denger sendiri dia ngomong loe juga nggak bakalan tega menolaknya" ucap Rommy menerangkan situasinya.
Nico menepuk paha Ardi, memandang wajah sahabatnya yang bingung dengan posisinya. Antara memenuhi permintaan Reana dengan memikirkan perasaan Nico.
"Pergilah, sebenarnya gue juga ingin datang, tapi gue takut kehadiran gue justru mengacaukan acara, gue nggak sanggup aja Rom" ucap Nico memberi dukungan pada Rommy untuk hadir.
"Kenapa harus mikirin Reana sih, dia aja nggak mikirin perasaan loe" ucap Ardi kesal pada Nico.
"Kasian Di, Reana sendirian" bela Nico, terlihat laki-laki itu masih mengkhawatirkan Reana.
"Ya enggak-lah disana kan ada calon suaminya beserta pengawal-pengawalnya, loe lupa gimana keadaan loe saat mereka gebukin loe rame-rame.
Apa yang dilakuin Reana ? dia justru ngusir loe, cewek itu udah berubah, dia udah ke makan harta dan kemewahan yang dikasi tuan Malvin, jangan-jangan tuh cewek udah rusak lagi" ucap Ardi dengan wajah kesal.
"ARDI !!!" jerit Rommy, tidak suka dengan tuduhan Ardi.
Rommy membentak Ardi karena menurutnya Ardi sudah keterlaluan menuduh Reana. Sejak mereka mengira Nico bunuh diri karena frustrasi, Ardi terlihat lebih protektif terhadap sahabatnya itu.
Mereka bertiga bahkan menginap di apartemen Nico sejak saat itu. Berangkat kuliah, mengerjakan skripsi semua mereka lakukan di apartemen sahabatnya itu.
Ardi kesal pada Rommy karena membiarkan Nico datang ke hotel seorang diri saat konferensi pers. Nico pergi diam-diam menemui Reana dan hanya Rommy yang tau kemana perginya.
Ardi kaget saat mendapati Nico dengan luka-luka lebam. Bertanya apa yang menjadi penyebabnya. Awalnya Nico tidak mau cerita, tapi Ardi terus mendesak hingga akhirnya Nico menceritakan darimana dia mendapatkan semua luka-luka di wajah dan tubuhnya.
Sejak saat itu Ardi seperti membenci Reana, dia tak menyangka gadis itu bisa berubah seperti itu. Hanya karena di cintai laki-laki kaya, Reana mencampakkan Nico dengan cara yang kejam seperti itu.
"Udahlah, loe kan udah janji mau datang, ya udah besok pagi loe kesana sendirian, hadirin akad nikah adik loe itu" sindir Dito.
Rommy merasa semua sahabatnya memusuhinya karena menyetujui untuk datang ke pesta Reana. Tapi entah kenapa Rommy merasa dia harus datang kesana. Entah karena tidak mau ingkar janji dengan Reana atau karena kasihan pada gadis itu.
Nico memutuskan untuk membiarkan Rommy datang menghadiri pesta pernikahan Reana.
"Gue minta tolong ama loe karena gue emang nggak bisa, datanglah ke pestanya, jadilah perwakilan kami. Setidaknya harus ada dari kita yang datang kesana, loe nggak usah bingung mikirin gue.
Ini nggak akan merubah persahabatan kita... tolong sampaikan salam gue untuk Reana" ucap Nico pelan, berdiri dan berlalu menuju kamarnya.
Akhirnya Nico memberi izin pada Rommy untuk menghadiri.
Dito menggebrak meja, kesal dengan ucapan Nico. Ardi menarik keras rambutnya sambil mondar-mandir menatap Rommy yang akhirnya mendapat izin dari Nico untuk datang ke pesta pernikahan Reana.
Nico terduduk dibalik pintu, laki-laki itu sejak tadi telah berusaha menahan tangisnya. Hingga dia tak sanggup lagi, pergi dari hadapan ketiga sahabatnya untuk menangis seorang diri, terisak seorang diri.
Nico sangat ingin menemui Reana tapi dia tidak akan sanggup menahan sakit hatinya. Sebagian dirinya ingin menatap gadis itu untuk terakhir kalinya, sebagian lagi ingin segera melupakannya namun tak bisa.
Tapi sekuat apapun dia mencoba, Nico tak mampu membenci Reana. Nico tetap mengkhawatirkannya, Nico tetap mengharapkannya, Nico tetap merindukan gadis yang sudah mencampakkannya.
Sementara itu Reana menangis terisak di kamarnya, berbicara dengan Rommy membuatnya terbayang wajah Nico. Kembali teringat saat-saat mereka bersama, saat Nico hadir dalam hidupnya.
Saat pertama kali mengenalnya, saat Nico menghiburnya, membantunya, membahagiakannya. Mengisi hari-hari indah bersamanya. Tapi Reana harus tegar, semua ini dilakukannya demi laki-laki itu. Laki-laki yang tak bisa bergeser sedikitpun posisinya di hati Reana.
__ADS_1
Gadis itu menghapus air matanya yang selalu mengucur lagi. Hari ini adalah hari terakhirnya menjadi gadis yang hidup bebas. Gadis itu merasa takut membayangkan kehidupan pernikahannya nanti.
Mampukah dia hidup bersama laki-laki yang tak dicintainya ?
Bisakah suatu saat dia menerima tuan Malvin ? Bagaimana jika tuan Malvin berhenti menginginkannya dan membuat hidupnya menderita ?
Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya takut menunggu hari esok. Air mata Reana menetes di layar ponsel, gadis itu mengusap air yang membasahi ponsel itu, menyentuh gantungan ponsel yang penuh kenangan itu.
Masih pantaskah aku menyimpannya ? batin Reana.
Memandang ponsel pemberian Nico, mendekapnya di dada, gadis itu menangis terisak-isak. Semakin lama isaknya semakin keras. Gadis itu tak ingin menahan tangisnya lagi, dia ingin menangis sekeras-kerasnya sambil mendekap ponsel di dadanya.
Reana dan Nico menangis ditempat yang berbeda.
Lama Reana menangisi dirinya, hingga perlahan tangis itu mereda. Gadis itu menghapus sisa-sisa air matanya saat mendengar ketukan pintu.
Gadis-gadis penata rias masuk dengan wajah ceria. Mereka mengajak Reana untuk berendam di Jacuzzi whirpool bath milik tuan Malvin.
"Tuan Malvin menyuruh pelayannya menyiapkan kolam air panas untuk nona, tuan Malvin mengizinkan kami untuk menemani, ayolah nona kita kesana" ajak seorang gadis dengan sopan.
"Saya nggak, kalian saja" ucap Reana menolak.
"Tapi tuan Malvin menyiapkannya untuk nona, agar tubuh nona merasa nyaman, fresh dan bugar saat menjalani pesta pernikahan besok, ayo nona" bujuk gadis yang lain.
Reana masih diam tak merespon, gadis itu masih ragu. Suasana hatinya masih buruk.
"Ayolah nona, ini kesempatan terakhir kami, besok adalah hari-H tak ada kesempatan lagi bagi kami, untuk kenang- kenangan nona, menikmati nyamannya kolam air panas bersama seorang pelanggan yang baik seperti nona Reana adalah pengalaman pertama dan mungkin terakhir bagi kami. Ayolah nona mari ikut" bujuk gadis yang begitu berharap, sementara gadis lain mengangguk bersamaan.
Reana akhirnya mengalah, mengikuti keinginan gadis-gadis itu. Tapi saat mereka memutuskan memakai bikini, Reana kembali menolak untuk ikut. Gadis itu tidak suka dan memang tidak terbiasa mengenakan pakaian-pakaian yang terbuka seperti itu.
Akhirnya para gadis memilihkan t-shirt berwarna gelap serta celana pendek untuk Reana kenakan. Sementara gadis-gadis itu memilih bikini yang tersedia di walk in closet.
Reana mengizinkan mereka memakainya, bahkan kalau Reana berani mungkin Reana akan memberikannya pada mereka. Tapi ternyata Reana tidak berani.
Whirpool yang disiapkan pelayan tuan Malvin adalah yang digunakannya kemarin. Whirpool yang terkoneksi dengan kamar tuan Malvin.
Saat ingin menikmati sendiri tuan Malvin akan menutup full pintu kaca yang membatasi whirpool dengan kolam renangnya.
Reana tersenyum memandang para gadis yang bercanda dengan ceria, tingkah laku mereka membuat suasana hati gadis itu menjadi lebih baik setelah merasa sedih karena pembicaraannya dengan Rommy di ponsel tadi.
Reana memejamkan matanya, membenamkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya pada tepian kolam. Diam menikmati kolam dengan lubang-lubang kecil yang terus mengalirkan air dengan tekanan hingga tubuh merasakan pijatan-pijatan yang memberikan efek relaks.
Seorang gadis nyaris berteriak saat melihat tuan Malvin muncul dari samping kolam renang, jika laki-laki itu tidak buru-buru menyilangkan telunjuk di bibir meminta gadis itu untuk diam.
Para gadis itu tak mampu menyembunyikan rasa kagum mereka saat melihat tubuh atletis tuan Malvin yang hanya mengenakan celana pendek renang. Laki-laki itu masuk ke kolam yang mampu menampung delapan hingga sebelas orang itu.
Reana masih memejamkan mata hingga tak menyadari tuan Malvin yang perlahan masuk ke dalam kolam dan duduk disampingnya.
Sementara tuan Malvin justru menikmati pemandangan didepannya, dengan menelusuri lekuk wajah gadis yang terlihat begitu manis dengan cipratan air di wajahnya.
"Maju terus tuan jangan ragu-ragu" teriak gadis itu yang tak sabar melihat tuan Malvin hanya memandang wajah Reana.
Spontan Reana membuka matanya, melihat tuan Malvin yang tersenyum padanya. Reana memalingkan muka, merasa heran karena tak menyadari kehadiran laki-laki itu disampingnya.
"Kamu tidak memakai bikini? bukankah ada banyak di kamarmu? " tanya tuan Malvin.
"Nggak suka" jawab Reana singkat.
"Gadis-gadis itu menyukainya" sambung tuan Malvin melihat para gadis yang terlihat ceria mengenakan bikini pilihan mereka masing-masing.
Reana merasa tidak perlu menjawab ucapan tuan Malvin, gadis itu hanya memalingkan wajahnya kearah lain.
"Kami ini berbeda tuan, ini adalah kesempatan kami menikmati gaya hidup orang-orang kelas atas, kami belum tentu mendapat kesempatan seperti ini lagi, jadi kami perlu mencoba semuanya termasuk mencoba mengenakan bikini ini" ucap seorang gadis yang berkulit sawo matang.
"Beda dengan nona Reana, setelah menikah nanti, nona Reana bisa mengenakannya seumur hidup kalau perlu setiap hari" ucap gadis lain sambil tertawa.
Semua tertawa, Reana mendelik sewot karena namanya disebut-sebut.
"Setiap hari, wah... bahaya kalau Reana berbikini tiap hari, bisa nggak jadi-jadi berangkat ke kantor" kelakar tuan Malvin.
Para gadis tertawa cekikikan, saking lucunya gadis itu sampai-sampai memegang perutnya. Tuan Malvin memandang Reana yang hanya diam tak suka dengan candaan mereka.
Tuan Malvin menyuruh gadis-gadis itu menghentikan ketawanya. Merekapun mematuhi.
__ADS_1
"Maaf nona, kami cuma bercanda" ucap seorang gadis.
Reana hanya diam tak menjawab, mendadak hening, suasana menjadi canggung, para gadis itu menyesal dengan candaan mereka.
"Gimana kalau kita melakukan permainan?" tanya tuan Malvin memecah kesunyian.
"Permainan apa tuan? " salah satu gadis itu tertarik.
"Apa yah... gimana kalau kita bagi jadi dua tim, tim saya dan tim Reana. Tim lawan memberikan pertanyaan jika tidak bisa menjawab harus diberi hukuman, kalian yang menang akan saya beri hadiah... masing-masing sembilan juta" ucap tuan Malvin.
"Haaa... serius tuan? apa hukumannya? " tanya gadis itu antusias.
"Kalau tim Reana kalah, Reana harus cium saya, kalau tim saya kalah, saya yang cium Reana" jawab tuan Malvin.
"Setujuuu...." jawab para gadis serentak.
Reana langsung berdiri hendak beranjak dari tempat itu. Tuan Malvin menyambar tangan Reana, menghentikan gadis itu untuk pergi.
"Mau kemana ?" tanya tuan Malvin.
"Mau kembali ke kamar" ucap Reana mencoba menarik tangannya.
"Ayolah ini hari terakhir kita bersama mereka, kalau kamu pergi, kamu menghilangkan kesempatan mereka mendapat hadiah, kamu tidak suka permainannya? kita cari permainan lain" ucap tuan Malvin memohon.
"Saya tidak suka hukumannya" ucap Reana masih berdiri.
Tuan Malvin kembali menarik tangan Reana, hingga gadis itu terduduk.
"Kamu ingin hukuman seperti apa?" ucap tuan Malvin mendekatkan wajahnya pada Reana.
Reana mundur, para gadis memandang tegang pada pasangan itu. Reana mengelak dari pandangan tuan Malvin, memilih memandang gadis-gadis yang menatapnya.
Reana sungguh tak ingin menghilangkan kesempatan para gadis itu untuk mendapatkan hadiah dari tuan Malvin. Tuan Malvin sudah terlanjur berjanji dan mereka sudah terlanjur berharap.
"Terserah tuan, kenapa tidak tuan pikirkan sendiri.
Apa cuma hukuman ini yang bisa tuan pikirkan atau jangan-jangan memang jadi kebiasaan tuan membawa gadis-gadis kemari dan mencari permainan dengan hukuman seperti ini" jawab Reana kesal.
"Reana, kamu cemburu" ucap tuan Malvin.
"Aku tidak peduli" ucap Reana memalingkan wajahnya.
Tuan Malvin meraih dagu Reana, memaksa gadis itu menoleh kearahnya
"Aku tidak pernah membawa gadis manapun kerumah ini, kami bisa bertemu di resort, villa ataupun hotel, tapi rumah ini, satu-satunya gadis yang boleh menginjakkan kakinya dirumah ini hanyalah calon istriku" ucap tuan Malvin dengan serius memandang kedua mata Reana.
Wajah mereka sangat dekat, Reana merasa jengah. Tuan Malvin menoleh pada para gadis itu.
"Kalian tidak termasuk" ucap tuan Malvin.
"Ya tuan, kami mengerti" ucap gadis-gadis itu tersenyum.
"Reana tidak suka dengan permainan ini jadi permainan dibatalkan" ucap tuan Malvin.
Wajah para gadis itu berubah kecewa, Reana pun terkejut, Reana tak bermaksud membuat para gadis itu gagal mendapat hadiah yang tuan Malvin janjikan.
Reana memandang tuan Malvin dengan wajah menyesal Tuan Malvin tersenyum pada gadis itu, tuan Malvin senang karena membuat Reana menyesal.
"Malam ini tolong rawat calon istriku dengan baik karena besok adalah hari pernikahan kami, saya akan transfer ke rekening kalian masing-masing sembilan juta sebagai tips dan rasa terima kasihku karena telah menjaga calon istriku" ucap tuan Malvin.
"Benarkah tuan ? kami masih dapat hadiah ? " tanya seorang gadis memastikan.
Tuan Malvin mengangguk, Reana merasa lega, gadis itu memandang wajah tuan Malvin yang tersenyum pada para gadis itu.
"Tapi kalau boleh tau tuan kenapa tidak genap sepuluh juta, kenapa tanggung hanya sembilan juta ?" tanya seorang gadis ragu-ragu.
"Karena sembilan adalah tanggal pertama kali saya bertemu dengan Reana" ucap tuan Malvin singkat.
"Oh so sweet, makasih tuan Malvin, makasih nona Reana" ucap gadis itu yang diikuti senyuman dari gadis-gadis lain.
Tuan Malvin mengangguk sambil tersenyum, baginya, apapun yang berhubungan dengan Reana selalu menjadi sesuatu yang sangat berarti.
...*****...
__ADS_1