
Sepeninggal Reana Tn. Malvin merasa sepi. Begitu bosannya, laki-laki itu memandang mengitari seluruh ruang rawat inap mewah itu. Matanya terhenti pada sebuah buku yang tergeletak di atas nakas. Laki-laki itu meraihnya dan membuka sampul buku itu.
Laki-laki itu tersenyum saat melihat nama yang tertera di sudut kanan atas buku itu. Entah kenapa, Tn. Malvin merasa lucu saat membaca nama itu. Tiba-tiba buku itu direbut oleh Viana.
"Kamu ini seperti hantu, tiba-tiba muncul mengagetkan orang," ucap Malvin.
"Kenapa seenaknya sentuh-sentuh barangku–"
"Barang?"
"Buku!"
"Kamu terobsesi padaku ya?" tanya Malvin sambil menahan senyum.
"Apa?"
"Nama itu yang tertulis di bukumu itu! Itu gabungan nama kita," ucap Malvin sambil menunjuk buku yang berada di tangan Viana.
"Apa?" tanya Viana dengan nada yang semakin tinggi.
"Malvin dan Viana menjadi Malviana–"
"Oh ya ampun, ge er sekali. Itu nama yang diberikan orang tuaku sejak aku lahir," ucap Viana.
Namun, Tn. Malvin mengerutkan keningnya seperti tak percaya. Gadis itu memutar matanya sambil membuka tas ranselnya. Mengambil dompet sederhana itu lalu mengeluarkan KTP dan Kartu Mahasiswa. Menyerah kedua kartu identitas itu pada pengusaha muda yang tampan itu. Tn. Malvin memperhatikan dengan seksama keduanya lalu tersenyum.
"Kenapa nama kita bisa mirip?" tanya Malvin.
"Kenapa? Karena Tuan terobsesi padaku. Mengganti nama lalu muncul di restoranku," tuduh Viana.
Tn. Malvin tertawa, gadis itu pun tersenyum. Jelas kalau itu hanya tuduhan yang asal-asalan. Mereka tertawa bersama. Di tempat lain Reana pun tersenyum lega. Sambil menyiapkan makan malam untuknya dan suaminya yang segera pulang.
Wanita itu bahagia setelah menyelesaikan masalahnya dengan Tn. Malvin. Wanita cantik itu hubungannya dengan Tn. Malvin akan baik-baik saja dan berharap laki-laki itu bisa menerima kenyataan kalau dirinya tak bisa mengalihkan cintanya dari suaminya.
Hanya saja menjelang Nico pulang, hati wanita itu mulai getar-getir. Merasa ragu memutuskan untuk bercerita pada suaminya atau merahasiakan pertemuannya dengan Tn. Malvin. Semakin dekat waktu kepulangan Nico, semakin berdebar-debar jantungnya.
Wanita itu terlonjak saat mendengar bunyi bel. Reana langsung membukakan pintu untuk suaminya. Begitu pintu terbuka, laki-laki itu langsung memeluk dan mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
"Kenapa pakai pencet bel segala? Seperti tamu aja," ucap Reana.
"Itu tandanya aku seorang yang baik. Kalau kamu selingkuh, aku memberi waktu untuknya lompat dari balkon itu," ucap Nico sambil menunjuk ke arah balkon.
"Itu namanya baik? Memberi waktu untuk lompat dari ketinggian dua ratus meter itu nama baik?" tanya Reana sambil tersenyum.
"Ya, daripada aku langsung masuk dan pergoki kamu sedang selingkuh? Ujung-ujungnya dia lompat sambil menahan malu–"
"Jadi bedanya cuma itu? Langsung lompat dan lompat sambil menahan malu?" tanya Reana tertawa.
"Ya, atau lompat dengan ikhlas atau lompat dengan terpaksa–"
"Iiih Kakak! Udah ah, ngeri membayangkannya," ucap Reana.
"Memangnya kamu ada rencana untuk selingkuh?" tanya Nico.
"Aku ini istri yang setia. Mana mungkin berselingkuh. Jadi nggak ada cerita lompat-lompatan," ucap Reana.
"Kalau nggak ada lompat ya lempar," ucap Nico.
"Lempar? Nggak! Udah aaah ngeri. Nggak ada lompat-lompatan atau lempar-lemparan," ucap Reana dengan raut wajah khawatir.
"Ada."
"Ada."
"Nggak mau, kok maksa sih?" tanya Reana khawatir.
"Lempar ke ranjang gimana? Kamu, aku lempar ke ranjang? Kalau aku, lompat ke ranjang. Kamu nggak mau?" tanya Nico menggoda.
Reana mencubit pinggang suaminya dengan wajah bersemu merah. Menatap cantiknya Reana dengan wajah yang memerah itu, Nico tak mampu lagi menahan hasratnya. Segera melempar pakaiannya ke sembarang arah lalu menghempaskan tubuh istrinya ke ranjang.
Reana berpura-pura mengelak, itu justru membuat Nico semakin tak mampu menahan hasratnya. Reana pun tak mampu melawan kehendak Nico. Melayani suaminya dengan sepenuh hati sambil menatap wajah laki-laki yang dicintainya itu. Berkali-kali Nico membenamkan bibirnya ke bibir manis itu hingga akhirnya aksi bercinta itu berakhir.
"Apa Kak Nico nggak capek?" tanya Reana sambil menoleh pada laki-laki yang memeluknya dari belakang itu.
"Capek sekali," jawabnya.
__ADS_1
"Lalu kenapa nggak segera istirahat," sahut Reana yang menyalahkan suaminya yang tak bisa menahan hasratnya sendiri.
"Mau bagaimana lagi? Itu resiko punya istri cantik, selalu bergairah," ucap Nico sambil tersenyum.
Reana membalik badan menghadap suaminya. Wanita itu tiba-tiba memutuskan untuk menceritakan kegiatannya hari ini. Nico langsung kaget bahkan bangun dari posisinya. Reana mengusap punggung suaminya untuk menenangkan hati laki-laki itu.
"Kenapa kamu harus menemuinya? Apa kamu masih nggak kapok bertemu dengannya? Dia sudah menyakiti kamu. Memisahkan kita. Membuat rumah tangga kita nyaris hancur. Kenapa kamu masih peduli padanya?" tanya Nico dengan nada kesal.
"Karena aku ingin menuntaskan dendamku dan dendamnya. Aku tak ingin dia membenciku, menganggap aku adalah musuhnya. Aku ingin dia memaafkan aku dan mengikhlaskan aku. Aku ingin bebas darinya. Aku ingin hidup tenang bersama Kak Nico tanpa rasa takut dia akan muncul lagi karena sakit hatinya dan membalas dendam pada kita," jawab Reana.
Nico menoleh ke arah istrinya, menatap wajah wanita itu dengan raut wajah yang khawatir. Nico tak takut pada Tn. Malvin, tetapi membayangkan istrinya dalam kuasa laki-laki itu membuatnya sangat lemah. Seluruh hidupnya terasa hampa. Merasa hidupnya tak berarti.
"Aku sangat takut dia menguasaimu lagi. Aku takut kehilanganmu sayang," ucap Nico dengan tatapan sendu.
"Dia tidak akan melakukan itu lagi. Aku rasa dia sudah bisa menerima kenyataan kalau aku selamanya tak bisa bersamanya," jawab Reana.
"Sungguh! Reana, tolong! Jika ingin menemui laki-laki mana pun, tolong! Jangan pergi sendiri. Ajak aku bersamamu. Aku nggak mau kamu menemui laki-laki mana pun sendirian," ucap Nico.
"Kakak, jangan terlalu posesif gitu–"
"Terlalu posesif? Aku menunggu untuk menikahimu lebih dari dua tahun. Begitu menikahi denganmu aku langsung kehilanganmu. Apa kamu tahu bagaimana rasanya hidupku, seperti di neraka! Apa menurutmu aku ini posesif? Apa rasa cemburu kelewat batas, apa rasa takut kehilanganku ini terlalu berlebihan? Lalu aku harus bagaimana? Hampir setiap hari aku mimpi buruk. Setiap hari aku bangun dengan tubuh dan hati yang lelah," jelas Nico.
"Justru itu, aku ingin menghilangkan rasa takut. Ingin menghilangkan rasa was-was. Aku ingin hidup bahagia bersama Kak Nico. Tanpa takut kemunculan Tn. Malvin. Bertemu dengannya pun aku tak masalah lagi. Tak ada rasa takut lagi. Aku ingin hidup seperti itu Kak," jelas Reana meminta pengertian Nico.
"Sudahlah! Aku lega tidak terjadi apa-apa padamu," ucap Nico sambil menyatukan kening mereka.
Reana tersenyum, bibir Nico kembali menempel di bibirnya. Nico memeluk wanita itu erat. Melihat sikap Nico yang telah reda emosinya. Reana meminta izin untuk kembali masuk kerja.
Nico terpaksa mengangguk karena untuk yang satu itu Nico tak bisa melarang Reana. Wanita itu telah berusaha dengan susah payah untuk menamatkan kuliahnya. Berharap memiliki karirnya sendiri di restoran itu.
Nico tak permasalahkan cita-cita Reana yang ingin berkarir. Laki-laki itu sepenuhnya mendukung Reana hingga akhirnya wanita itu berhasil diterima di bagian manajemen restoran. Sama sekali tak masalah hingga saat menjemput istrinya, dia harus melihat Reana yang ditawari pulang oleh para karyawan pria.
...~ Bersambung ~...
Halo pembaca setia Noveltoon.
Sambil nunggu update, mampir juga ke karya temanku ini yaaa 🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk dukungan Author, makasih 😘😘😘