Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 153 ~ Bertahan Demi Cinta ~


__ADS_3

Seperti biasa Yose datang untuk mengantar Bu Ridha Lia. Reana merasa bingung bagaimana cara menolak pertolongan laki-laki itu karena saat ini Nico juga ingin mengantarnya. Yose tahu diri karena itu memilih untuk pulang.


Reana memintanya untuk beristirahat di rumah karena dokter itu pasti mendapat tugas sebagai dokter jaga nanti malam di rumah sakit. Ucapan Reana dianggap sebagai perhatian yang berlebihan oleh Nico. Reana merasa kalau Nico lagi-lagi cemburu.


Alasannya dianggap sebagai kebohongan. Wanita itu pasrah dibentak. Lalu memutuskan untuk pergi membantu ibunya dengan berjalan kaki ke terminal. Kata-kata pamit Reana membuat Nico tercengang. 


Tak menyangka Reana akan berlalu meninggalkannya di mobil padahal Nico sudah siap sedia di mobilnya. Wanita itu rela menenteng bawaan sebanyak itu dengan berjalan kaki. Nico tak menyangka Reana menolak di antarkan olehnya dan memilih berjalan kaki. Nico sadar ucapannya pasti telah menyakiti hati istrinya. Segera laki-laki itu menyusul dengan menggunakan mobil dan berhenti di hadapan ibu mertuanya.


"Ma, ayo aku antar Ma, kenapa jalan kaki?" tanya Nico ke ibu mertuanya.


"Biasanya Mama memang jalan kaki, tapi karena tiba-tiba mengenal kakak kelas Reana, mama diantar olehnya. Mama sudah bilang agar Nico dan Reana di rumah saja, tapi Reana nggak mau, katanya selagi di kampung dia ingin membantu mama. Maaf ya," ucap Ridha Lia.


Ucapan Bu Ridha Lia membuat Nico tak enak hati. Jika orang lain saja bersedia mengantarnya, tak mungkin sebagai menantu laki-laki itu tak Bersedia membantu. Ucapan maaf dari Bu Ridha Lia seperti menampar keras wajahnya. Ibu itu sama seperti Reana, cenderung menyalahkan diri sendiri menghadapi orang yang sedang kesal.


"Dari tadi saya juga ingin ikut Ma, tapi Reana …."


Nico menoleh ke arah istrinya yang memalingkan wajahnya dana tertunduk. Nico segera merebut barang bawaan Reana. Lalu meletakkannya di bagasi belakang. Segera laki-laki itu mengajak ibu mertuanya dan membukakan pintu depan untuknya.


"Ayo sayang," ucap Nico sambil menggandeng tangan wanita dan memintanya masuk ke dalam mobil.


Nico tersenyum pada ibu mertuanya saat duduk di belakang kemudi. Laki-laki itu melirik istrinya melalui kaca spion tengah. Tercenung melihat Reana yang memandang keluar jendela kaca. Reana diam tetapi air matanya mengalir. Nico menyesal telah membentak istri yang dicintainya itu.

__ADS_1


Laki-laki itu melajukan mobilnya dengan petunjuk arah dari ibu mertuanya. Mereka berbincang tentang masa saat-saat Reana bersekolah di sana. Kadang-kadang mereka tertawa. Saat ibu itu mencerminkan kejadian lucu dan tertawa, Nico akan melirik kaca spion untuk melihat istrinya.


Reana masih saja mengalirkan air matanya. Dengan sesekali menghapus air mata itu. Cerita lucu ibu dan suaminya sama sekali tak mempengaruhi suasana hatinya. Kesedihan hati Reana belum bisa hilang sepenuhnya.


Baginya, membiarkan mereka pergi sendiri dengan berjalan kaki mungkin lebih membuat hatinya merasa lega. Saat bersama dengan Nico justru membuat Reana sulit melupakan kesedihannya. Wanita itu telah menyiapkan hati untuk berpisah dengan Nico.


Namun, lagi-lagi laki-laki itu datang dan meluluhkan hatinya. Kemudian dalam sekejap kembali menyakiti hatinya. Jika bukan tak ada ibunya, Reana mungkin telah menangis terisak-isak.


"Nah ini sekolahnya Nico, nanti kamu bisa parkir di sana," ucap Ridha Lia.


Nico melangkah untuk membukakan pintu untuk ibu mertuanya. Di saat itu Reana meminta ibunya untuk jalan lebih dulu. Reana yang akan membawakan barang-barangnya.


"Maafkan aku sayang," bisik Nico sambil membenamkan bibirnya di pangkal leher Reana.


"Ini di sekolah Kak," ucap Reana pelan.


"Aku tahu, tenang saja nggak ada yang lihat," ucap Nico.


Reana diam, wanita itu tahu kalau saat ini masih sepi dan tak mereka terhalang mobil tetapi Reana hanya ingin menunjukkan keengganannya dipeluk laki-laki itu setelah menyakiti hatinya.


"Tolong maafkan aku. Aku masih trauma kehilangan kamu Reana," sambung Nico semakin erat memeluk istrinya.

__ADS_1


"Sampai kapan kita seperti ini Kak? Sampai kapan aku dicurigai–"


"Maaf Reana."


"Kapan kakak bisa percaya padaku?"


"Maaf sayang."


"Sampai kapan aku harus dengar kata-kata seperti itu. Tidak percaya padaku kenapa menikahiku?" ucapan Reana dalam hati akhirnya terlontar.


"Maaf Reana–"


"Aku tidak butuh kata maaf lagi. Jika marah padaku kakak akan menyakiti hatiku. Tinggalkan aku saja," ucap Reana setengah menjerit.


Nico semakin menguatkan pelukannya. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya kuat, Nico pun menangis. Sesungguhnya Nico tak ingin seperti itu tapi rasa cemburunya membuat Nico lupa diri. Rasa sakit hatinya harus dirasakan oleh Reana. Sementara dia sendiri tak berusaha menahan emosinya.


"Jangan Reana, aku mohon. Aku nggak kehilangan kamu," ucapnya terisak membuat Reana memejamkan matanya.


Letih tetapi tak tega. Lagi-lagi demi cintanya Reana memaafkan Nico. Laki-laki itu tak ingin berpisah darinya. Seperti yang dikatakan Bu Ridha Lia, rumah tangga mereka selalu bermasalah bukan karena tak lagi mencintai tapi justru karena terlalu mencintai. Selagi masih ada cinta, maka rumah tangga mereka masih bisa bertahan hingga masalah demi masalah berlalu dengan sendirinya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2