
Melangkah di bandara, Tn. Malvin tak melepaskan sedetik pun genggaman tangannya, hingga seseorang berpakaian pengawal mengantarkan sesuatu untuknya. Tn. Malvin mengambil benda itu lalu menyerahkannya pada Reana. Gadis itu menatap heran sebuah ponsel yang disodorkan padanya.
"Ambillah, ini untukmu. Kadang aku ingin menghubungimu tapi tak bisa. Ini keluaran terbaru, ambillah!" ujar Malvin.
Tak bisa tidak menerima, Reana terpaksa mengikuti keinginan Tn. Malvin. Meraih ponsel yang disodorkan itu dengan setengah hati. Timbul harapannya untuk menghubungi suaminya. Saat mengingat itu Reana bersedia menerima hadiah ponsel dari pengusaha sukses itu.
Tn. Malvin tersenyum melihat Reana mau menerima hadiah darinya. Begitu Reana melihat daftar kontak, satu-satunya yang tersimpan hanyalah nomor Tn. Malvin dengan nama "Kak Malvin Tersayang". Reana terperangah lalu tertawa. Ingatannya melayang saat Nico membelikan ponsel untuknya dan mendaftar nama kontaknya "Kak Nico Tersayang".
Saat itu Reana tertawa, karena Nico berharap menjadi orang tersayangnya. Melihat itu Tn. Malvin ikut tersenyum. Terpesona melihat Reana yang tertawa sambil menatap ponsel itu. Tn. Malvin mengira Reana merasa lucu karena nama kontak yang didaftarkan di ponsel itu. Reana tercenung, menyadari Tn. Malvin yang tersenyum melihatnya.
Ternyata keduanya sama. Sama-sama ingin menjadi seorang yang tersayang. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin mencintai dua laki-laki. Aku tak bisa mencintai laki-laki lain selain Kak Nico. Mungkin yang Tuan Malvin bilang waktu itu benar, jika kita bertemu lebih dulu, mungkin aku akan menyukaimu, batin Reana lalu menghela nafasnya.
Teringat saat itu dirinya juga tak menyukai Nico. Namun, laki-laki itu berusaha untuk memenangkan hatinya dengan berbagai cara. Perasaan yang sama dirasakannya saat membaca nama kontak yang terdaftar di ponsel waktu itu. Tertawa karena harapan Nico menjadi orang tersayang yang rasanya tak mungkin terwujud tetapi kini justru menjadi orang yang paling dicintainya.
"Malam ini aku ada meeting, kamu makan malam di kamar saja ya," ucap Malvin sambil mengusap pipi Reana.
Apa bagusnya hubungan seperti ini? Selalu mengurungku di kamar karena tak percaya padaku. Jika tak percaya padaku kenapa ingin bersamaku? Batin Reana yang ingin bebas.
Selama menjadi tawanan Tn. Malvin, Reana hanya hidup dari kamar ke kamar. Dari kamar hotel ini ke kamar hotel itu. Hanya bisa menghirup udara bebas saat bersama Tn. Malvin. Ditambah lagi sekarang ada seseorang yang patut diawasinya. Tn. Malvin semakin memperketat penjagaan terhadap Reana. Sejak gadis itu mengenal pengawal bernama Rassya.
Gadis itu pun makan malam sendiri di kamarnya. Tak lama kemudian ponsel itu pun bergetar. Reana yang tak bernafsu makan segera meraih ponsel itu. Menatap nama kontak yang muncul di layar. Hampir saja gadis itu berteriak gembira saat terbaca kata-kata tersayang tetapi setelah menyadari nama Tn. Malvin yang tertera, gadis itu langsung terkulai lesu.
Mana mungkin ada nomor kak Nico di sini? tanya Reana dalam hati.
__ADS_1
Aaahh, kalau begitu nanti akan aku cari, aaahh tapi aku lupa nomornya, bagaimana ini? Aku bisa mengira-ngira, aku akan coba-coba. Kalau begitu nanti aku coba satu persatu, batin Reana.
Lalu menerima panggilan telepon yang telah sejak tadi bergetar. Suara Tn. Malvin langsung terdengar antara marah dan panik. Reana bisa mengira kalau itu karena dirinya yang tak kunjung menerima panggilan telepon dari tuan besar itu.
"Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?" tanya Malvin tak bisa menahan kesalnya.
"Aku habis dari kamar mandi," ucap Reana berbohong. Mendengar alasan Reana, amarah laki-laki itu langsung surut.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Malvin.
"Hidangannya sudah tersedia tapi aku belum makan," jawab Reana.
"Kenapa belum makan?" tanya Malvin mulai meninggi lagi.
"Nggak apa-apa," jawab Reana.
"Aku ke kamarmu, aku akan temani kamu makan–"
"Nggak usah! Nggak usah! Siapa bilang aku malas makan? Aku hanya belum makan, bukannya malas makan," ucap Reana segera karena tak ingin laki-laki itu datang ke kamarnya.
"Ya sudah! Aku juga masih meeting tapi kalau kamu masih belum makan dalam dua menit, aku akan ke kamar–"
"Apa? Aaaah iyaa iya, aku makan sekarang," ucap Reana langsung.
__ADS_1
Tn. Malvin tersenyum mendengar suara Reana yang terdengar patuh padanya tetapi di lain sisi laki-laki itu juga bersedih. Reana jelas-jelas tak ingin dirinya datang menghampiri ke kamar. Suasana hati Tn. Malvin berubah menjadi buruk. Meeting diikutinya dengan setengah hati. Bukan karena emosi tetapi karena sedih. Sepanjang meeting hanya berpikir apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan cinta Reana.
Bisa dikatakan hanya tubuh Tn. Malvin yang hadir di meeting itu. Sementara jiwanya mengembara dalam khayalan-khayalan bisa hidup bersama dengan Reana tanpa paksaan. Namun, begitu meeting tetap berlangsung. Tak ada yang berani menegur pimpinan tertinggi perusahaan itu untuk memperhatikan presentasi. Pembicaraan dan perdebatan semua berlangsung tanpa terdengar suara dari Tn. Malvin.
Sementara itu Reana segera menghabiskan makan malamnya begitu teringat kesempatannya mencoba nomor Nico adalah di saat Tn. Malvin sedang meeting. Gadis itu mencoba menghubungi beberapa yang sekiranya mirip dengan nomor Nico tetapi tak ada satupun tepat orang yang dicarinya.
Jika tahu akan seperti ini, aku akan menghafal nomor teleponnya, batin Reana menangis letih setelah mencoba berkali-kali.
Reana berdiri di balkon, menatap langit dengan bintang yang tak begitu banyak. Air mata gadis itu mengalir di samping kedua matanya. Mengalir melewati pipi hingga ke leher. Di rumahnya Nico juga menatap bintang yang tak terlalu terang itu. Wajahnya tirus, matanya cekung.
Nico sering kali tak bisa tidur. Setiap kali teringat istrinya. Laki-laki itu tak bisa lagi memejamkan matanya. Sering kali bermimpi tentang Reana yang tak ingin kembali padanya. Laki-laki itu menangis karena mengira Reana tak menginginkannya lagi. Bersedih karena Reana menuduh dirinya tak mencari lagi.
Setelah selesai meeting, Tn. Mavin langsung bicara pada personal assistant-nya. Setelah sepanjang pertemuan tak satu pun yang masuk ke kepalanya. Tn. Malvin ingin merubah jadwal meeting malam menjadi siang hari.
"Aku tak suka meeting di malam hari. Bagaimanapun caranya lakukan meeting di siang hari," ucap Malvin yang menyesal karena tak menemani Reana makan malam.
Begitu selesai menyampaikan keinginannya, Tn. Malvin segera melangkah ke kamar Reana. Masuk ke dalam kamar itu tanpa mengetuk pintu. Meeting yang selesai sudah cukup larut malam itu membuat Tn. Malvin mengira Reana telah tidur.
Namun, begitu Reana tak terlihat di ranjang Tn. Malvin langsung panik. Beruntung matanya sempat singgah ke balkon. Hatinya lega melihat gadis yang dicintainya itu ternyata sedang menatap langit dan bintang-bintang.
Reana yang sibuk dengan khayalan dan kenangannya bersama Nico tak menyadari Tn. Malvin telah masuk ke kamarnya bahkan hendak mendekatinya. Begitu tangan Tn. Malvin melingkar di pinggang dan dadanya. Reana langsung menjerit dan menoleh.
"Kak Nico?" tanya Reana tanpa sadar.
__ADS_1
Namun, terkejut karena bukan Nico yang memeluknya dari belakang. Tn. Malvin yang tak menyia-nyiakan wajah Reana yang begitu dekat dengannya langsung mendaratkan ciuman di bibir gadis itu. Reana sadar dan langsung ingin mundur tapi dekapan Tn. Malvin sangat erat. Kembali gadis itu merasakan ciuman paksaan dari Tn. Malvin.
...~ Bersambung ~...