Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 51 S2 ~ Di Hotel ~


__ADS_3

Mereka bertiga sampai di sebuah hotel. Nico memesan dua kamar yang bersebelahan. Saat jam makan siang mereka datang ke restoran hotel. Nico segera menarik sebuah kursi untuk Bu Ridha. Ibu itu duduk setelah berterima kasih pada laki-laki tampan itu.


Reana ingin duduk di samping ibunya, raut wajah Nico langsung kecewa. Bu Ridha langsung tersenyum dan meminta putrinya untuk duduk di samping Nico. Dengan senang hati gadis itu duduk di samping laki-laki yang dicintainya itu.


Mereka makan siang bersama sambil menceritakan pengalaman masing-masing. Reana dengan kesibukannya di kampus dan Nico dengan kuliah pasca sarjananya dan sekaligus bekerja di perusahaan milik ayahnya.


"Kamu tidak tahu 'kan kalau setiap kali libur kuliah aku kembali kesini untuk melihatmu," ucap Nico.


"Sungguh? Kenapa Kakak tidak temui aku?" tanya Reana dengan wajah cemberut.


"Kamu di telepon saja tidak boleh, video call juga tidak boleh. Kalau tiba-tiba aku muncul di hadapanmu, aku takut kamu akan mengamuk," ucap Nico tertawa.


"Ini tak adil, Kakak bisa melihatku tapi aku tak bisa melihat Kakak, aku 'kan juga kangen," ungkap Reana.


"Kamu bilang kalau melihatku, kamu tak bisa melakukan apa-apa setelah itu. Sampai-sampai kena tegur karena suka melamun," ucap Nico mengulang ucapan Reana sendiri.


"Tetap tidak adil, tidak adil," ucap Reana nyaris berteriak.


"Tapi sekarang aku sudah ada dihadapanmu 'kan, sayang," ucap Nico membujuk Reana.


Bu Ridha Lia hanya bisa tersenyum melihat percakapan kedua sejoli yang dimabuk cinta itu. Mendengar ibu itu tertawa tertahan akhirnya mereka sadar, kalau ada ibunda Reana di hadapan mereka, mereka tak hanya berdua saja. Mereka pun tertawa bersama.


Setelah makan siang mereka langsung melangkah menuju kamar. Reana ingin ibunya segera beristirahat. Setelah membantu dan menemaninya bersiap-siap di sebuah salon kecantikan dari sehabis subuh hingga acara wisuda selesai.


Nico memberikan card lock untuk Reana. Gadis itu dan ibunya langsung masuk ke kamar hotel, laki-laki itu menunggu di depan pintu.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Ayo masuk!" ajak Ridha Lia pada Nico yang hanya tersenyum sambil memegang card lock miliknya.


"Apa?" tanya Nico ragu.


"Apa sudah ingin langsung tidur? Apa tidak ingin kumpul dulu dengan kami? Nanti kalau sudah ingin tidur, nggak apa-apa kembali ke kamarmu," ucap Ridha menawari.


"Bolehkah Ma?" tanya Nico lalu menoleh pada Reana yang hanya tersenyum.

__ADS_1


Bu Ridha mengangguk dan kembali mengajak Nico masuk. Laki-laki itu akhirnya masuk ke kamar yang telah di pesan Nico untuk ibu dan anaknya itu. Bu Ridha Lia tak tega membiarkan Nico sendirian di kamarnya, wanita paruh baya itu yakin kalau laki-laki itu masih merindukan putrinya.


Bertiga mereka akhirnya berbincang-bincang sambil menonton tayangan televisi. Lama kelamaan Nico rebah di sofa panjang itu. Sementara Reana duduk di karpet dengan kepalanya rebah di pangkuan ibunya sambil tetap menonton tayangan di televisi.


Posisi kepala di atas pangkuan ibunya adalah posisi paling disukai Reana. Karena saat itu ibunya akan membelai rambut putrinya. Bu Ridha Lia menoleh pada Nico yang sudah mulai diam. Suaranya hanya terdengar satu satu menimpali.


"Sepertinya dia sangat mengantuk," bisik Ridha Lia pada putrinya.


Reana menoleh pada Nico yang memang telah memejamkan matanya.


"Reana bangunin ya Ma, suruh pindah ke kamarnya," bisik Reana membalas bisikan ibunya.


"Jangan! Kasihan dia, perjalanan dari New York ke sini sangat lama 'kan?" tanya Ridha Lia masih berbisik.


Reana mengangguk, " 22 jam bahkan bisa lebih," balas Reana.


"Kalau begitu jangan ganggu dia, kasihan! Biar Mama saja yang menempati kamarnya," ucap Ridha Lia.


"Mama juga mengantuk ya?" tanya Reana seolah-olah enggan ikut ibunya ke kamar sebelah namun tak tega melihat ibunya yang juga ingin beristirahat.


"Ya, Mama juga ingin rebahan," jawab Ridha.


"Oh, ayo Ma," ucap Reana bangkit dari duduknya di karpet untuk ikut bersama ibunya ke kamar sebelah.


"Kamu di sini saja, temani dia. Tapi jangan berbuat macam-macam ya!" ucap Ridha sambil menoel puncak hidung putrinya.


Reana tersenyum mendengar ibunya yang mengizinkannya menemani Nico. Reana segera memberikan card lock kamar Nico pada ibunya. Membantu ibu itu untuk masuk ke kamarnya lalu kembali ke kamar di mana Nico tertidur.


Gadis itu langsung duduk di karpet menghadap ke arah Nico yang sedang tertidur. Tersenyum sambil menepis lembut helaian rambut yang menutupi sebagian keningnya. Reana perlahan mengecup kening laki-laki yang dicintainya itu dengan sangat perlahan. Reana sangat takut membangunkan Nico yang terlihat sangat lelah.


Kak Nico makin lama makin ganteng, wajahnya makin dewasa dan semakin tampan, batin Reana mengamati.


Tak bosan-bosannya Reana menatap wajah tampan di hadapannya itu hingga dia sendiri akhirnya tak bisa menahan kantuknya. Reana tertidur dengan hanya duduk di karpet sambil menghadap ke arah Nico.

__ADS_1


Gadis itu sendiri juga harus bangun sebelum subuh untuk bersiap-siap mengikuti acara wisudanya. Duduk diam hanya memandang Nico membuat matanya juga letih. Mereka berdua tertidur hingga menjelang sore hingga akhirnya Nico terbangun. Mendapati gadis yang dicintainya itu tidur di sampingnya namun hanya duduk di lantai beralaskan karpet tebal hotel kamar hotel itu.


Nico tersenyum saat mendapati card lock telah raib dan Bu Ridha pun tak ada. Laki-laki itu bangun perlahan agar tak membangunkan Reana. Dengan gerakan yang lembut Nico menggendong gadis cantik itu dan membaringkannya di ranjang.


Sambil tersenyum laki-laki itu pun perlahan berbaring di samping Reana. Menatap wajah gadis yang dicintainya itu dari dekat. Ini adalah pertama kalinya Nico berbaring di ranjang berdua dengan Reana, hatinya berbunga-bunga. Sekian lama memandang wajah gadis itu, akhirnya Nico bertahan menatap bibir manis di hadapannya itu. Nico tak tahan ingin mengecupnya.


Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku. Aku sangat bahagia Reana, akhirnya bisa melamarmu, batin Nico tersenyum sambil menempel bibirnya di bibir Reana.


Niat hati hanya ingin mengecup sekilas tapi Nico merasa itu masih belum cukup. Perlahan mengulang kembali kecupannya lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, hingga akhirnya kecupan itu terasa semakin dalam, membuat Reana terbangun. Gadis itu tersenyum melihat wajah tampan yang begitu dekat dengannya itu. Nico begitu fokus ingin kembali menempelkan bibirnya.


Reana membuka sedikit mulutnya tepat saat laki-laki itu kembali ingin mengecupnya. Nico kaget saat merasakan bibirnya sedikit masuk ke dalam. Laki-laki itu menoleh ke arah mata Reana.


"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Nico menyesal karena merasa membangunkan Reana.


Gadis itu hanya tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu. Mendapati sikap Reana yang seperti itu membuat laki-laki itu pun nekat meneruskan niatnya mencium bibir gadis cantik itu.


Pendaratan bibir yang sempurna saat gadis itu membuka mulutnya. Dengan sigap lidahnya menyusup ke rongga mulut gadis itu. Mereka saling menyesap, saling mengulum dengan nafas yang semakin memburu. Berhenti sejenak untuk menarik nafas lalu menghembuskannya kembali.


Tak ingin berlama-lama mengatur nafas Nico kembali memagut bibir indah itu. Namun, kali ini tangan Nico telah menyusup ke balik blouse gadis itu. Merasakan halus dan lembutnya punggung putih gadis itu. Ciuman Nico telah beralih ke leher jenjang gadis itu, membuat pelukan Nico tanpa terasa semakin mengetat.


"Jangan Kak!" bisik Reana saat tangan itu berusaha melepas pengait tali yang menyilang di punggung gadis itu.


Nico langsung tersadar. "Maaf sayang!" ungkap Nico menyesal.


Laki-laki itu sendiri tak ingin melakukan hal yang lebih jauh sebelum mereka resmi berstatus suami istri. Namun dorongan hasratnya membuat laki-laki itu lupa, beruntung Reana mengingatkannya. Nico pun perlahan menghentikan niatnya di tengah deru hasratnya yang sedang memuncak.


Laki-laki itu akhirnya memilih memeluk Reana, mengecup puncak rambut gadis itu. Lalu menatap langit-langit kamar hotel.


"Aku ingin mengajakmu berkenalan dengan orang tuaku," ucap Nico berbisik.


Hanya berbisik namun itu membuat Reana kaget, ucapan Nico itu adalah hal yang paling ditakutkan Reana. Gadis itu tak memiliki rasa percaya diri untuk bertemu dengan orang-orang dari kalangan atas itu karena Reana hanyalah gadis yang tidak memiliki keistimewaan apa-apa dan hanya berasal dari keluarga yang berstatus sosial kelas bawah.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2