Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 60 S2 ~ Mengalah ~


__ADS_3

Reana menatap rumah megah di hadapannya. Penerbangan selama 23 jam lebih itu sama sekali tak membuatnya lelah. Gadis yang memang telah terbiasa bekerja keras itu sama sekali tak merasakan letih. Justru Nico yang selalu merasa khawatir padanya. Setiap saat bertanya apakah gadis itu merasa lemas atau sakit. Reana selalu menjawab dengan gelengan kepala sambil tersenyum.


Laki-laki itu terus bertanya karena khawatir. Awalnya Nico ingin memesan tiket first class. Kelas yang paling mahal dengan fasilitas yang paling mewah. Namun, saat melihat nominal yang harus dikeluarkan laki-laki itu untuk satu seat saja, yang mencapai hingga dua ratus juta lebih. Membuat gadis itu langsung menggelengkan kepalanya. Gadis itu membayangkan bekerja seumur hidup menjadi pelayan tetap tak akan mampu membeli satu tiket saja.


Sementara Nico ngotot ingin memesan tiket itu, baginya kenyamanan calon istrinya itu lebih berharga daripada nilai yang harus dibayarkannya. Demi Reana, Nico sanggup membelinya.


"Perjalanan kita ini, tidak hanya satu atau dua jam saja sayang. Bisa sehari semalam bahkan lebih. Aku tak ingin kamu merasa tak nyaman," jawab Nico sambil menatap Reana lalu beralih menatap aplikasi pemesanan tiket online itu.


"Kalau begitu aku tak usah berangkat! Harga tiket itu terlalu fantastis. Aku bukan gadis kaya yang butuh kenyamanan ekstra. Juga bukan nenek-nenek yang gampang jatuh sakit hanya karena tak mendapatkan kenyamanan di kelas tak masuk akal itu. Aku ini hanya seorang pelayan restoran. Melihat uang melayang sebanyak itu sementara ada yang lain yang lebih murah, aku seperti berkhianat pada teman-teman seperjuanganku," jawab Reana panjang lebar.


"Apa hubungannya dengan teman-temanmu, sayang?" tanya Nico sambil menarik tangan gadis yang dicintainya itu hingga rebah di atas sofa di apartemennya itu.


Reana jatuh di pangkuan Nico. Laki-laki itu langsung mengusap wajah cantik di hadapannya itu.


"Rasanya sama seperti mengumpulkan semua hasil kerja keras seluruh karyawan restoran dari tingkat atas hingga ke tingkat paling bawah lalu aku buang ke laut. Sia-sia dan tidak menghargai orang-orang kalangan bawah. Jika Kakak ingin memilih tiket kelas itu, silakan! Kalau aku nggak! Aku ambil kelas ekonomi. Itu aja udah mencapai belasan juta--"


"Kelas ekonomi? Lalu kita duduk terpisah, begitu? Yang bener aja?" tanya Nico seperti kesal.


"Kenapa? Yang penting masih dalam satu pesawat? Dan selamat sampai tujuan," tanya Reana.


"Ya! Terus, kamu duduk di samping orang lain bersempit-sempitan. Apalagi kalau ternyata di sampingmu itu laki-laki. Mana bisa aku membiarkan tanganmu bersentuhan dengan laki-laki lain. Nggak! Aku tak izinkan!" seru Nico dengan ekspresi serius cenderung kesal.


"Ih gitu aja marah, nggak bisa negosiasi ya? Pasti payah jadi negosiator, maunya menang sendiri aja!" celetuk Reana.


"Aku kesal!" seru Nico lagi.

__ADS_1


"Kesal kenapa?" tanya Reana sambil duduk di hadapan Nico dengan kakinya yang masih di atas sofa.


"Aku bukannya tak bisa negosiasi, tapi aku kesal mendengar ucapanmu. Hanya karena masalah tiket kamu memilih tak jadi berangkat. Tidak berangkat artinya kamu tak ingin bertemu dengan orang tuaku. Tidak bertemu dengan orang tuaku artinya kamu tak mau menikah denganku. Aku kesal!" jawab Nico sambil memalingkan wajahnya.


"Siapa bilang aku tak mau bertemu dengan orang tua Kakak. Kata siapa aku tak ingin menikah dengan Kakak. Ih … Kak Nico ini terlalu cepat menyimpulkan sesuatu," jawab Reana sambil tertawa tertahan.


Nico perlahan menolehkan pandangannya ke arah Reana. Wajah mereka begitu dekat, hingga maju sedikit saja, wajah mereka akan bertemu. Reana tersenyum, Nico sudah bersiap-siap hendak menyatukan bibir mereka.


"Kalau begitu aku naikan satu kelas. Jadi … kelas ekonomi premium," ucap gadis itu.


Lalu berpaling ke arah laptop di atas meja itu. Nico yang telah bersiap-siap mencium, menjadi batal lalu berdecak kesal. Reana langsung menoleh. Ingin tahu apa yang membuat laki-laki itu bersikap seperti itu. Nico akhirnya menyampaikan usulnya.


"Aku turunkan jadi kelas bisnis, tidak ada cerita turun lagi. Jika kamu tidak mau ya sudah, tak usah ke New York, tak usah ketemu orang tuaku. Tak usah menikah!" ucap Nico sambil berdiri dari sofa lalu menatap melalui jendela kaca besar apartemen itu.


Laki-laki itu paling tidak suka mengalah, tetapi sekarang terpaksa mengalah demi gadis yang dicintainya itu. Ditambah lagi batal mencium Reana yang membuat rasa kesalnya jadi bertambah-bertambah bahkan berkali-kali atau mungkin berpangkat-pangkat.


Terlihat Reana yang mengerucutkan mulutnya. Melihat laki-laki itu seperti tak mau bernegosiasi lagi. Reana segera mengecek harga-harga tiket dengan kelas bisnis. Melihat harga tiketnya di berbagai maskapai, berkali-kali gadis itu menelan ludahnya.


Tiga puluh juta lebih sampai enam puluh juta lebih? Terlalu sering cek harga tiket bisa kenyang aku menelan ludah melulu, batin Reana sambil menoleh ke arah laki-laki tampan yang langsung memalingkan wajahnya saat Reana menoleh ke arahnya.


"Baiklah! Kita ambil kelas bisnis!" seru Reana.


Akhirnya memutuskan untuk setuju memilih tiket kelas bisnis seperti permintaan Nico. Reana pasrah. Semakin sering mengecek harga tiket semakin kembung rasa perutnya.


"Benarkah! Kamu mau?" tanya Nico yang dibalas anggukan oleh Reana.

__ADS_1


Nico langsung duduk di samping gadis itu dan mengecup bibir Reana dengan cepat. Segera kembali menatap layar laptop dan segera membooking tiket penerbangan ke New York itu tanpa ragu-ragu lagi.


"Sekarang waktunya transfer," ucap Nico bicara sendiri dengan nada penuh semangat.


Laki-laki itu tersenyum lalu menoleh ke arah Reana yang hanya tersenyum melihat kegembiraan di wajah Nico. Laki-laki itu bahagia karena berhasil memesan tiket sesuai dengan keinginannya. Sebenarnya tidak terlalu sesuai, tetapi Nico masih mau mentolerir hingga kelas itu.


Di bawah itu dia tak mau lagi, bahkan mengancam akan batal menikah. Tentu saja hal itu membuat Reana keder juga. Padahal Nico sendiri merasa getar-getir dengan ancaman yang terlanjur diucapkannya tadi.


Untung saja dia setuju, kalau tidak, mau gimana? Batal menikah atau aku harus mengalah lagi? Ih mau ditarok di mana mukaku tadi bilang udah final nggak bisa diganggu gugat lagi. Tahu-tahunya masih mengalah lagi? Di mana harga diriku? Pakai ngancam-ngancam tahunya mengalah juga. Ih malu amat, batin Nico tersenyum dalam hati. Laki-laki itu menoleh ke arah Reana lalu memeluk gadis itu.


"Makasih ya sayang!" ungkap Nico dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam karena keputusan Reana menyetujui usulannya telah menyelamatkan harga dirinya.


Mereka pun terbang dengan pilihan kelas bisnis. Seat yang didesain ergonomis dan bisa ditekuk sampai mendatar seperti tempat tidur itu sudah sangat bagus bagi Reana untuk berbaring dengan nyaman. Tersedia layar LCD untuk setiap penumpang yang ingin menikmati berbagai hiburan. Bisa memilih berbagai menu makanan dan disediakan berbagai jenis welcome drink.


Ini saja udah lebih dari nyaman, gimana orang ini? Tak mau sengsara sedikit pun, maunya selalu yang terbaik, ampun deh, batin Reana sambil menoleh pada laki-laki di sampingnya itu.


"Ada apa?" tanya Nico sambil meraih tangan Reana.


Mengecup punggung tangan gadis itu lalu menempelkan ke dadanya. Laki-laki itu tersenyum bahagia karena akhirnya mereka berangkat juga. Ditanya seperti itu Reana hanya tersenyum, sementara Nico merasa sangat bersyukur.


Nggak apa-apalah kelas bisnis, yang penting ada istriku di sampingku, batin Nico tersenyum sendiri karena telah mengklaim secara sepihak status Reana sebagai istrinya.


Tentu saja hal itu hanya bisa diucapkannya di dalam hati. Takut ditertawakan Reana jika nekat memanggil gadis itu dengan panggilan seperti itu. Sementara Reana hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Mereka pun menikmati perjalanan 23 hingga 24 jam lebih itu.


Reana sama sekali tak mengeluh, sama sekali tak merasa takut. Namun saat menatap rumah megah yang begitu indah itu, tangannya mendadak terasa dingin dan tubuhnya mendadak gemetar. Rumah berhantu pun kalah angker dibanding dengan rumah calon mertuanya itu.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2