
Reana berusaha melupakan panggilan telepon dari Tn. Malvin. Namun saat teringat, gadis itu akan kembali risau. Kadang-kadang tanpa sengaja menatap ke halaman parkir restoran. Merasa was-was jika tiba-tiba Tn. Malvin muncul dihadapannya.
Sejujurnya Reana masih trauma pada masa lalunya bersama Tn. Malvin. Gadis itu tak akan pernah bisa melupakan saat-saat terbelenggu oleh cinta sepihak Tn. Malvin. Memaksanya dengan berbagai cara untuk mendapatkan cintanya. Tak hanya itu Tn. Malvin juga memaksa Reana menikah dengannya.
"Kita coba dulu, jika sudah menikah mungkin saja kamu bisa mencintaiku," ucap Malvin dalam satu kesempatan makan malam bernuansa romantis di sebuah restoran mewah.
Tak tanggung-tanggung Tn. Malvin kembali membooking seluruh restoran untuk menyenangkan hati Reana. Membooking restoran tempat Reana bekerja belum seberapa dibandingkan dengan membooking restoran mewah yang sekarang ini mereka datangi. Jika karyawan restoran dulu begitu semangat mempersiapkan segala sesuatunya karena mengira seorang eksekutif muda hendak melamar seorang gadis.
Bisa diperkirakan kalau para karyawan restoran mewah ini juga berpikiran sama. Reana reflek menoleh ke arah dapur, benar saja, beberapa pelayan sedang mengintipnya. Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Dulu mengira gadis yang akan dilamar pria eksekutif itu pasti akan sangat bahagia mendapatkan surprise. Namun, sekarang Reana mengalaminya sendiri dan berbeda jauh dari apa yang dibayangkannya dulu.
Gadis itu hanya bisa diam, setelah pasrah tak bisa lepas dari jeratan cinta Tn. Malvin, mungkin Reana akan mencoba untuk mencintai laki-laki tampan di hadapannya itu. Namun, jika tak berhasil maka dia sendiri yang akan hidup menderita sepanjang hidupnya.
Kenangan demi kenangan saat tinggal di rumah mewah pengusaha sukses itu kembali terlintas. Banyak hal romantis yang dilakukan Tn. Malvin padanya tetapi tak satu pun dapat menyentuh hatinya. Andaikan Nico tak bertengger di hatinya tentu sangat mudah bagi Reana jatuh cinta pada eksekutif tampan itu.
"Kak udah! Jangan dipikirkan lagi. Aku yakin dia menelpon hanya untuk menakut-nakuti Kak Reana aja. Dia tak akan sempat menemui Kakak, karena sebentar lagi Kakak akan segera menikah. Kalau Kakak sudah menikah, Kak Nico pasti akan melindungi Kakak," ucap Nella.
Reana tertunduk karena justru itu yang ditakutinya. Teringat kembali saat Nico mencoba untuk menyelamatkannya. Nico harus menghadapi para pengawal Tn. Malvin. Meski kewalahan, Nico tetap saja tak mengenal takut meski telah babak belur. Justru itu yang dikhawatirkan Reana. Laki-laki itu tak akan berhenti meski keselamatannya menjadi taruhan. Jika bukan karena khawatir keselamatan Nico, Reana tak akan menandatangani surat persetujuan bersedia menikah dengan Tn. Malvin.
__ADS_1
Setelah berlalu beberapa hari, tak ada tanda-tanda lagi dari Tn. Malvin. Rasa khawatir pada teror Tn. Malvin pun mulai berkurang. Reana pun sibuk mempersiapkan diri untuk pernikahannya. Nico selalu berpesan agar gadis itu tak terlalu memaksakan diri mengurus segala persyaratan menikah tetapi tetap saja Reana yang harus mengurus semuanya.
Reana tak punya ayah lagi dan dia tak mau menyusahkan ibunya. Semua persyaratan dan dokumen menikah pun tetap harus diurus sendiri olehnya. Meski terlihat aneh, calon pengantin sendiri yang mengurus dokumen pernikahan, Reana tak peduli karena dia telah terbiasa mandiri.
"Aku rindu sekali sayang. Rasanya ingin terbang untuk bertemu kamu. Tapi aku harus segera selesaikan urusan perusahaan ini agar aku bisa segera pindah ke sana. Reana … jaga dirimu ya sayang! Jangan terlalu menguras tenagamu, aku tak ingin kamu jatuh sakit," ucap Nico khawatir melalui sambungan telepon.
"Baik Kakak, Kak Nico juga ya! Jangan terlalu capek! Kakak juga harus jaga kesehatan," ucap Reana sambil membayangkan wajah calon suaminya itu.
Jika sudah berkomunikasi seperti itu biasanya mereka akan termenung sekian lama. Rasa rindu yang dikira akan hilang atau setidaknya berkurang karena telah bicara justru malah bertambah. Biasanya Reana akan memeluk bantal dan termenung.
Hari yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Pesta pernikahan dipersiapkan dengan sangat matang. Terlihat dari aula gedung yang telah didekorasi dengan sangat indah. Reana tampil dengan gaunnya yang sangat anggun membuat semua mata menatap kagum pada kecantikan gadis muda itu.
Nico tak bosan-bosannya menatap gadis cantik yang melangkah pelan menuju ke arahnya. Matanya bahkan tak rela berkedip demi menyaksikan momen indah itu. Sedetik saja mengedipkan mata terasa sangat merugikan bagi Nico yang terpana menatap bidadari itu melangkah ke arahnya.
Senyum bahagia tak lepas dari bibir laki-laki tampan itu. Menanti gadis yang dicintainya segera mendekat dan duduk disampingnya. Prosesi akad nikah berlangsung dengan sangat lancar. Nico mengucapkan akad nikah dengan sangat yakin tanpa ada kesalahan pengucapan sedikit pun. Seluruh sahabat-sahabat yang hadir bersorak dengan semangat menyatakan pernikahan itu telah sah.
Mengucapkan akad nikah dilakukan Nico dengan sangat mantap. Namun, saat pemasangan cincin pernikahannya Nico justru terlihat sangat grogi. Tangannya gemetar, menyentuh jemari gadis itu saja jantung Nico berdebar-debar.
__ADS_1
Aku sering memeluknya, menciumnya, tapi kenapa sekarang menyentuh jarinya saja jantungku berdebar begitu kencang, jadi grogi begini, batin Nico merasa heran.
Meski dengan kesulitan akhirnya Nico berhasil menyelipkan cincin nikah mereka. Begitu juga saat Reana memasangkan cincin di jari Nico. Gadis itu menyentuh jari jemari Nico membuat jantung mereka berdua berdengup sangat kencang.
Nico mengumpat dalam hati saat teman-temanya bersorak memintanya mencium pengantinnya. Tentu saja Nico mau melakukannya, ciuman panas pun bisa dilakukannya tetapi mencium gadis itu di depan banyak tamu tentu saja membuat laki-laki itu sangat malu.
Namun, Dito dan Ardy tak berhenti bersorak, Nico pun tak ingin semua orang mengira dia tak bersedia mencium Reana. Perlahan laki-laki itu mendekat, bergerak perlahan mencium kening pengantinnya yang begitu cantik. Nico terhanyut, begitu menikmati ciuman yang memang sangat ingin dilakukannya sejak melihat Reana muncul begitu cantik seperti bidadari di tengah aula pesta itu.
Nico tak peduli lagi dengan tamu-tamu yang hadir. Perlahan dari kening turun ke kelopak mata gadis cantik itu. Reana kaget tetapi tak kuasa menolak. Memejamkan matanya saat laki-laki yang telah menjadi suaminya itu mencium kedua kelopak matanya lalu turun ke bibir Reana.
Sorak-sorai teman-temannya tak digubris lagi. Para tamu undangan terperangah saat melihat Nico yang nekat mencium bibir istrinya dihadapan semua. Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar sangat keras. Nico menghentikan ciumannya dan menoleh. Sebagian yang hadir di situ terkejut saat melihat sosok yang bertepuk tangan itu.
"Selamat atas pernikahan kalian tapi pengantin wanita itu adalah milikku. Dia telah berjanji menikah denganku. Ayo … ke sini sayang!" ucap Malvin sambil menggerakkan telunjuknya meminta Reana berjalan ke arahnya.
Nico langsung melindungi istrinya, menyembunyikan gadis itu di belakang tubuhnya. Teman-teman Nico maju mendekat untuk mengusir Tn. Malvin. Namun para pengawal Tn. Malvin langsung mengacungkan senjata api. Semua tamu berteriak kaget. Tn. Malvin tak membolehkan siapa pun keluar dari aula itu dan dia telah menempatkan para pengawalnya di setiap pintu masuk.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1