
Nico menghentikan sedan sportnya di jalan gang khusus untuk menuju rumah kost Reana. Jalan gang besar yang dapat dilalui mobil itu adalah jalan buntu yang berujung tepat didepan rumah kost Reana.
Setelah membayar tagihan rumah sakit, Nico mengantar Reana pulang ke rumah kostnya. Gadis itu berterima kasih atas segala bantuan biaya perawatannya, Nico tersenyum lalu memeluk gadis itu.
"Jangan berlebihan, kamu tau kan ? apapun akan kuberikan untukmu" ucap Nico sambil membelai lembut rambut gadis itu.
Reana mengangguk, Nico membukakan pintu mobil untuk Reana dan mengantarnya sampai ke gerbang kost. Hari terasa begitu cerah, Reana merasa kehidupannya telah kembali seperti semula. Seperti sebelum terikat perjanjian dengan tuan Malvin.
Nico ingin gadis itu menginap di apartemennya, tapi Reana menolak. Nico kecewa tapi akhirnya membiarkan Reana tinggal sendiri di kost-an dengan syarat Reana tak boleh terlalu banyak beraktivitas dan tak boleh bekerja terlalu berat.
Reana menyetujui, gadis itu sangat merindukan kamar kost nya, karena itu Reana sangat ingin kembali ke kesana. Barang-barang Reana yang tertinggal di rumah tuan Malvin pun telah diantar oleh pengawal tuan Malvin.
Reana membuka pagar rumah itu dan masuk setelah melihat mobil Nico menghilang dibalik tikungan. Reana kembali menjalani hari-harinya seperti biasa, mengejar ketinggalan kuliahnya dan Nico selalu mengingatkan untuk tidak boleh terlalu banyak bergerak.
Reana mematuhi perintah Nico, dia tidak ingin berdebat lagi dengan laki-laki itu karena ibunya sendiri juga berpesan agar selalu mendengarkan nasehat Nico.
Meski diperbolehkan pulang dan melakukan pemulihan di rumah, Reana masih harus memeriksakan dirinya secara rutin ke dokter. Nico yang selalu mengingatkan dan mengantarnya ke rumah sakit.
Laki-laki itu masih seperti dulu, masih ngotot mengantar Reana kemanapun gadis itu ingin pergi, bahkan sekarang makin ketat mengawasi.
Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter dan dinyatakan sembuh. Reana bermaksud mengunjungi tuan Malvin di Lembaga Pemasyarakatan. Laki-laki itu dijatuhi hukuman empat tahun penjara atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Reana mengetahui keadaan tuan Malvin dari pemberitaan di media massa. Gadis itu merasa sedih dan menyesal mendengar nasib tuan Malvin. Sedikit banyak Reana ikut menjadi penyebab terjadinya peristiwa yang menjadikan hidup tuan Malvin berubah seperti sekarang ini.
Reana mencari waktu yang tepat untuk melakukan kunjungan. Gadis itu tak ingin Nico mengetahui niatnya menemui tuan Malvin. Karena Reana merasa Nico tidak akan setuju kalau Reana menemui laki-laki yang hampir menikahinya itu.
Beberapa hari ini Nico sedang sibuk menjalani serangkaian ujian praktek, ujian lab. dan tes program, jadwal yang sangat padat harus dilewatinya demi persiapan menjelang wisuda. Sehingga Nico terlalu sibuk untuk dapat mengawasi Reana.
Kesempatan ini dipergunakan Reana untuk mengunjungi tuan Malvin. Gadis itu pergi tanpa memberitahu Nico, berangkat seorang diri memasuki gerbang Lembaga Pemasyarakatan itu.
"Kenapa menemuiku ?" tanya tuan Malvin, matanya tak mau menatap Reana.
Reana merasa terenyuh melihat kondisi tuan Malvin, laki-laki yang terbiasa hidup di rumah mewah yang sangat luas dan selalu dilayani oleh banyak pelayan.
Sekarang harus hidup seadanya setara dengan napi-napi lain.
Terkurung dalam ruangan sempit berbagi dengan orang yang tak dikenalnya. Bahkan untuk bicara dengannya Reana harus duduk diruangan yang dibatasi sebuah kaca.
"Saya ingin mengetahui keadaan tuan, apakah tuan baik-baik saja?" tanya Reana benar-benar ingin mengetahui keadaan tuan Malvin.
"Menurutmu ?" tuan Malvin balik bertanya.
Mendapat ucapan sinis seperti itu, Reana menitikkan air mata. Tapi Reana mencoba tenang, Reana merasa dia pantas mendapat sikap ketus dari laki-laki itu.
Tuan Malvin selama ini selalu bersikap baik padanya, menyayanginya, memanjakannya, memujanya namun apa balasan untuk tuan Malvin, sebuah pemberontakan, penolakan, penghinaan yang Reana tampilkan di depan banyak orang, didepan media massa yang meliputnya.
Calon istrinya melarikan diri bersama laki-laki lain. Calon istri yang dipuja-pujanya didepan media, memilih laki-laki lain dan meninggalkannya. Semua itu adalah sebuah penghinaan yang sangat kejam yang dilakukan Reana di depan publik.
Gadis itu menangis terisak, Reana benar-benar merasa menyesal harus berakhir seperti ini.
"Maaf tuan, saya kesini ingin meminta maaf" ucap Reana sambil mengusap air matanya.
Tuan Malvin menatap gadis yang telah mengisi penuh hatinya itu. Perasaan tuan Malvin bercampur aduk, marah atas perbuatan yang menghinanya didepan semua orang-orang penting yang hadir di pesta itu, sedih karena harus kehilangan gadis yang terlanjur membuatnya jatuh cinta dan lega karena gadis itu muncul dihadapannya dalam keadaan selamat dan sehat.
"Saya sangat menyesal karena harus berakhir seperti ini, saya telah melanggar janji. Saya sungguh-sungguh tak sanggup memenuhi janji saya tuan, maafkan saya" ucap Reana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Gadis itu menangis tersedu-sedu, tuan Malvin menatap gadis dihadapannya. Sejujurnya laki-laki itu tidak suka melihat gadis yang dicintainya ini menangis.
Entah mengapa, meskipun Reana telah berlaku kejam terhadapnya tapi tuan Malvin masih tak bisa membencinya.
"Hanya itu ? kamu datang kemari hanya untuk meminta maaf ? kamu tidak memohon untuk membatalkan perjanjian kita ? seperti yang dilakukan anak itu ?" tanya tuan Malvin.
"Apa ? apa maksud tuan ? " ucap Reana menatap heran dengan pertanyaan tuan Malvin, wajahnya masih basah tersiram air mata.
"Beberapa hari setelah kejadian, anak itu datang dan memohon agar aku membebaskanmu dari perjanjian pernikahan" cerita tuan Malvin.
Reana kaget, gadis itu berpikir orang yang dimaksud tuan Malvin adalah Nico. Reana tidak tau kapan Nico datang ke lapas dan menemui tuan Malvin. Laki-laki itu merahasiakannya dari Reana.
"Apa tuan mengabulkan permohonannya ?" tanya gadis itu penasaran.
Terlihat jelas Reana juga ingin menanyakan hal yang sama.
"Tentu saja tidak, kenapa aku harus menuruti keinginannya ?" ucap tuan Malvin sambil tertawa.
Reana tertunduk, air mata gadis itu menitik. Sepertinya tidak ada harapan untuk hidup bahagia selamanya. Tuan Malvin masih mengikatnya dengan perjanjian pernikahan. Gadis itu diam tak lagi terisak namun air matanya masih tetap mengalir.
Tuan Malvin menatap gadis itu dengan pandangan sedih, laki-laki itu kehilangan harapan mendapatkan hati gadis itu seperti apapun usahanya.
"Aku sudah berkorban banyak, materi dan harga diri, tapi apa yang kudapatkan ?" tanya tuan Malvin.
Pertanyaan itu tak mendapat jawaban apa-apa, laki-laki itu mengangguk.
"Untuk dapat menciummu, harga yang sangat mahal untuk dapat mencium seorang Reana"
Selintas terbayang saat menjelang pernikahan mereka, tuan Malvin mendatangi Reana diruang rias pengantin. Laki-laki itu mencium calon pengantinnya sebelum acara pernikahan dimulai.
__ADS_1
Pandangan Reana nanar, air matanya mengalir, dadanya sesak, ucapan tuan Malvin membuat gadis itu merasakan sebuah sindiran. Benar, harga yang terlalu mahal untuk dapat mencium seorang gadis miskin sepertinya.
Dan wajar jika tuan Malvin tidak bisa memaafkannya.
"Harusnya aku tidak mendatangimu waktu itu, harusnya aku percaya mitos itu" ucap tuan Malvin menyesal.
Laki-laki itu berdiri, ingin kembali ke sel tahanan. Tuan Malvin menganggap tidak ada lagi yang ingin dibicarakan dengan Reana. Reana berdiri, pandangan matanya mengikuti langkah tuan Malvin.
Gadis itu menangis tersedu-sedu, tuan Malvin menghentikan langkahnya. Menatap gadis yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya, namun suara tangis itu tak bisa diredam.
Tubuh gadis itu berguncang menahan tangis yang tak bisa tertahankan. Tuan Malvin menatap gadis itu, matanya berkaca-kaca.
"Aku telah membatalkannya" ucap laki-laki itu memutuskan untuk memberitahu Reana.
Reana tertegun, menatap tuan Malvin.
"Aku berjanji pada diriku sendiri, jika kamu selamat, aku akan membatalkan pernikahan kita. Aku menepati janjiku, aku telah membatalkannya" ucap tuan Malvin sambil menatap sendu pada Reana.
Tangis Reana semakin menjadi, jawaban yang diinginkannya dari tuan Malvin justru membuat hatinya merasa teriris. Rasa sedih yang dirasakannya adalah untuk tuan Malvin, yang kembali berkorban untuk dirinya.
Ucapan terima kasih saja, rasanya tidak cukup untuk membalas tuan Malvin, gadis itu ingin mengejar namun tertahan pembatas kaca.
Jari-jari Reana yang basah terkena air mata menempel di kaca yang meneruskan wajah tuan Malvin. Laki-laki itu tertunduk, lalu mengetuk pintu, meminta sipir mengeluarkannya dari ruangan itu.
Air mata penyesalan Reana sudah cukup untuknya, laki-laki itu keluar dari ruangan dengan mata berkaca-kaca. Sayup-sayup terdengar jeritan Reana.
"Terima kasih tuan, terima kasih, maafkan saya, maafkan saya" jerit Reana menangis tersedu-sedu.
"Aku akan sangat merindukanmu" bisik tuan Malvin sambil berjalan diiringi sipir penjara.
Mata tuan Malvin yang berkaca-kaca tak mampu lagi membendung air matanya yang terus bertambah, perlahan mengalir membasahi pipi laki-laki tampan itu.
Reana kembali ke kost-an dengan perasaan tak menentu, gadis itu beristirahat untuk menenangkan pikirannya. Pertemuan dengan tuan Malvin menguras tenaga dan perasaannya.
Reana melewati hari-hari dengan hati tenang sekaligus sedih, gadis itu berharap perlahan waktu bisa meringankan dan menghilangkan trauma dari bayangan kejadian masa lalu.
Perhatian dan kasih sayang Nico membantu gadis itu untuk melewatinya. Hari ini sepulang dari kampus Nico mengajak Reana pergi ke suatu tempat, laki-laki itu meminta Reana membawa perbekalan untuk menginap.
Awalnya Reana tidak bersedia namun setelah di yakinkan bahwa dia telah mendapat izin dari bu Ridha akhirnya Reana menurutinya.
Kak Nico meminta izin pada mama, apa yang ingin dilakukannya ? batin Reana.
Reana merasa ragu namun akhirnya mengikuti keinginan Nico, pergi bersamanya ke suatu tempat. Menempuh perjalanan dan menikmatinya, gadis itu bertanya-tanya, kemana Nico hendak membawanya.
Reana berdecak kagum saat mereka sampai di sebuah villa yang tak terlalu besar namun sangat indah. Villa dengan view laut, dan halaman belakang yang luas dengan hamparan rumput serta bunga-bunga yang tertata asri.
Reana berlarian bertelanjang kaki ke pinggir pantai sambil tertawa riang. Merasakan sensasi bermain air laut, hingga gadis itu melupakan Nico yang memandang khawatir padanya
Nico memandang gadis itu dari kaca dapur villa, setelah meletakkan barang-barang bawaan mereka. Lalu melangkah ke halaman belakang Villa, duduk di ayunan kayu yang telah tersedia di sana.
Memandang Reana yang bermain riang di pinggir pantai. Bergerak maju menantang ombak lalu mundur saat ombak itu menghempas mendekatinya.
Gadis itu berteriak mengajak Nico bermain bersama, gadis itu melompat-lompat memanggil Nico. Laki-laki itu kesal Reana melupakan nasehatnya untuk tidak terlalu banyak bergerak, segera Nico menyusul Reana.
"Gadis ini... aku bilang jangan banyak bergerak, jangan melompat, jangan berlari malah..." umpat Nico sendirian sambil berlari mengejar Reana dan menghentikan gadis yang berlari kesana kemari itu.
"Aku sudah sembuh, dokter bilang aku sudah sembuh" teriak gadis itu melihat ekspresi kesal Nico.
Nico tak peduli, menyambar tubuh gadis itu dan memeluknya dari belakang.
"Sayang... lukamu memang terlihat sembuh tapi bukan berarti kamu boleh bergerak sesukamu, biarkan semua luka itu sembuh total, aku tidak mau ada masalah dibelakang hari, tolonglah jangan membuat aku khawatir" bisik Nico, meletakkan dagunya dibahu Reana.
Gadis itu akhirnya menurut, menganggukkan kepalanya. Nico membalikkan tubuh gadis itu ke hadapannya. Memeluk gadis itu dengan erat, Nico bersyukur gadis itu mau menuruti kata-katanya.
Nico mengajak Reana kembali ke villa, menjelang sore laki-laki itu menyiapkan tikar piknik lengkap dengan bekal makanan di halaman belakang Villa, Reana terharu dengan apa yang dilakukan laki-laki itu untuknya.
Reana menatap matahari yang akan tenggelam, senyumnya yang tadi mengembang langsung hilang. Nico melihat perubahan di wajah gadis itu, mata Reana berkaca-kaca.
"Sebentar lagi matahari akan tenggelam, kamu bisa menghitung berapa lama matahari itu menghilang dibawah garis cakrawala " ucap Nico sambil mengajak gadis itu duduk di tikar yang telah disiapkannya.
Reana tercenung, gadis itu baru menyadari, Nico ingin mewujudkan janji papa Reana untuk membuktikan sendiri berapa lama matahari itu akan tenggelam.
Nico duduk sambil memeluk gadis itu, menghapus air matanya yang mengalir. Reana memandang laki-laki itu, tersenyum dan bersandar padanya.
Langit berwarna biru selalu indah dipandang, tetapi saat senja, pancaran cahayanya berkilau orange keemasan itu membuat mata tak mau beralih menatapnya.
Menikmati fenomena alam yang sangat indah, warna matahari yang membias dilangit adalah pemandangan yang luar biasa. Gadis itu tersenyum dengan mata yang tak mau beralih dari pemandangan indah dihadapannya.
Matahari itu telah menyentuh garis cakrawala, Nico melihat jam ditangannya mulai menghitung waktu, Reana juga ikut melihat jam Nico sambil tersenyum. Mereka terus mengamati hingga matahari itu benar-benar menghilang dibawah garis cakrawala.
"Lima menit, setelah membuktikan dengan mengamati bersama, dengan ini kami nyatakan, waktu yang dibutuhkan matahari untuk tenggelam di negara ini adalah lima menit" ucap Nico sambil merangkul gadis itu.
Reana tertawa mendengar Nico mengumumkan pernyataannya. Kemudian gadis itu terdiam, menatap lurus dengan pandangan yang serius.
"Kakak sudah membantu papa untuk membuktikannya. Terima kasih atas semua yang kakak lakukan untuk mewujudkan janji papa. Terima kasih kak Nico" ucap Reana berkaca-kaca masih bersandar dibahu laki-laki itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu" ucap Nico tiba-tiba.
Reana terkejut lalu bangun dari sandarannya menatap laki-laki itu. Nico berbalik menatap Reana
"Maaf aku tidak bisa seperti papamu, membuktikannya kemudian menyatakannya. Aku tidak sesabar itu, aku selalu ingin menyatakannya. Aku janji akan berusaha memberikan buktinya seumur hidup ku" ucap Nico menatap mata gadis itu.
"Kakak salah, kak Nico telah membuktikannya. Aku sudah sering membuktikannya dan hari ini kakak sudah menyatakannya, kak Nico sama seperti papa" ucap Reana.
Nico tersenyum, laki-laki itu menunggu jawaban dari Reana namun gadis tak menunjukkan tanda-tanda memberikan jawaban. Nico tertunduk sedih menanyakannya.
"Reana, kamu tidak menjawab pernyataanku ?" ucapnya dengan suara pelan.
"Aku tak bisa" ucap Reana singkat.
Nico kembali menatap Reana.
"Aku tak bisa seperti kak Nico, membuktikannya lalu menyatakannya" ucap Reana sambil menatap bias cahaya matahari yang mulai menghilang.
"Kurang bukti apa ? kamu bahkan rela mengorbankan nyawamu untuk menyelamatkanku" ucap Nico mengingatkan.
"Aku rasa dalam situasi seperti itu, terhadap orang lainpun aku akan melakukan hal sama" ucap Reana lirih.
Nico menghembuskan nafas berat, kecewa dengan jawaban Reana.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan itu, kamu rela menerima persetujuan menikah, rela mengorbankan kebahagian dan masa depanmu untuk menyelamatkan nyawaku" ucap Nico semangat mengingatkan Reana.
"Kakak lupa seperti apa tuan Malvin, dia itu baik, kaya dan sangat tampan, gadis mana yang tidak ingin dinikahinya, bisa jadi aku memang ingin menikah dengannya, itu sama sekali tidak membuktikan apa-apa" ucap gadis itu seperti bergumam.
Nico memalingkan wajahnya, komat kamit menggerutu tak jelas, Reana tertawa tertahan melihat tingkah laki-laki itu. Reana berdiri diatas lututnya lalu meraih wajah Nico agar menghadap kearahnya.
Nico menghadap kearah gadis itu dengan ekspresi bingung, posisi Reana lebih tinggi darinya. Reana menangkup wajah Nico lalu mendaratkan ciuman di bibir laki-laki itu.
Nico terbelalak, Reana berinisiatif menciumnya lebih dulu. Nico merasakan perasaan yang berbeda. Dadanya berdegup kencang, untuk pertama kalinya laki-laki itu merasakan hal seperti itu.
Nico terdiam mematung, terpana, terkesima, terpesona, Reana mengambil kendali dengan mencium untuk menunjukkan perasaannya.
"Apa ini bisa untuk membuktikannya ?" tanya Reana tersenyum masih menangkup wajah Nico.
Laki-laki mengangguk cepat, Reana tertawa.
Kemudian mengecup kening laki-laki itu, mencium puncak rambutnya, lalu memeluknya, menenggelamkan laki-laki dalam dekapannya. Semua yang pernah dilakukan Nico terhadapnya, dilakukannya dalam satu waktu.
"Aku mencintaimu kak Nico" ucap Reana
Masih memeluk Nico dalam dekapannya, menikmati angin yang berhembus semilir menyapu rambutnya. Nico tersenyum dalam dekapan Reana, laki-laki itu tidak mau tinggal diam, Nico berdiri dan mengajak Reana untuk berdiri dihadapannya.
Menangkup wajah gadis itu, lalu membalas mencium bibir Reana, menggigit lembut bibirnya, memainkan lidahnya, merasakan manis strawberry gadis itu.
Reana memejamkan mata, merangkul punggung laki-laki itu, jantung mereka berdegup kencang, Nico mempererat pelukannya, nafasnya memburu, telah lama mereka tidak melakukannya, karena masalah demi masalah yang datang menghalang, membuat mereka ingin melepaskan hasrat mereka yang telah lama terpendam.
Nico merenggangkan pelukannya, memandang mesra gadis dihadapannya. Lalu memeluk gadis itu dengan erat.
"Terima kasih kak Nico, terima kasih karena telah mencintaiku, menerima aku, apa adanya"
...~ T A M A T ~...
Dear,
Pembaca dan Penulis Setia Noveltoon
Terima kasih atas segala bentuk dukungannya Like, vote, Comment, Favorite, hadiah berupa koin atau pun poin and rate 5 Stars.
Semua itu sangat berarti bagi kami para penulis yang menjadi penyemangat kami untuk menamatkan karya kami dan memulai karya baru.
Jangan lelah dan jangan bosan memberikan dukungan.
Sedikit pengumuman ya, karya ' AKU, APA ADANYA' telah berlanjut ke AFTER MARRIAGE.
Tapi sebelumnya mari refreshing dulu ke karakter dan cerita baru, silahkan mampir di
karyaku yang bertema berbagi cinta dengan judul :
...BERBAGI CINTA - SUAMI YANG DINGIN...
Favorit, like dan komennya di setiap bab sangat berharga, karena itu terus beri dukungannya ya, terima kasih.
^^^Salam hormat,^^^
^^^Author^^^
^^^Alitha Fransisca^^^
__ADS_1
...~~ 💖💖💖💖💖 ~~...