
Lisca telah pergi, seiring dengan berakhirnya pertunangan antara Ardy dan wanita itu. Ada rasa sedih muncul saat sarapan pagi itu. Mengetahui pertunangan sahabat mereka yang telah hancur, semua merasakan kesedihan. Terlebih lagi bagi Reana dan Nico yang secara tak langsung menjadi penyebab berpisahnya Ardy dan Lisca.
Tak ada yang bisa memaksa diri untuk ceria. Reana, Nico, Rommy, Dito dan Dina, seolah-olah ikut merasakan kesedihan sahabatnya itu. Namun, tak ingin larut dalam kesedihan, Ardy tak ingin membuat suasana menjadi seperti di pemakaman. Laki-laki itu menyatakan dirinya baik-baik saja.
Meski tak ada yang percaya tapi akhirnya mereka berusaha ciptakan suasana yang wajar seperti tak terjadi apa-apa. Dito dan Dina aktif menyodorkan masakan buatan mereka. Sekuat tenaga membuat Ardy melupakan masalah yang menimpanya.
Siangnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Suasana yang tak bisa diselamatkan lagi. Hati mereka tak bisa dibohongi. Meski masing-masing berusaha menutupi tetap tak bisa menyembunyikan kesedihan mereka.
"Kita biarkan Ardy menenangkan diri sendiri. Rasanya lelah berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Mungkin kita tidak pandai berpura-pura, justru membuat Ardy jadi tersiksa," ucap Nico pada istrinya. Reana mengangguk setuju.
"Ya, tapi kita tidak boleh membiarkan dia sendiri. Aku takut Kak Ardy putus asa sendiri. Aku ingin kita sering-sering menghubungi Kak Ardy atau mengajaknya ke apartemen. Aku nggak ingin mendengar hal yang buruk tentang Kak Ardy," ucap Reana dengan raut wajah murung.
"Terima kasih sayang, kamu perhatian pada teman-temanku. Aku sangat kagum padamu," ucap Nico.
"Kak, aku sudah anggap teman-teman Kakak seperti abangku sendiri. Mereka bahagia, aku juga akan bahagia. Mereka bersedih aku juga ikut bersedih. Mereka semua ikut menemaniku, mendukung aku perjuangkan cinta kita. Mereka seperti keluarga besar bagiku. Aku tak bisa tak peduli pada mereka," ungkap Reana.
Nico memeluk dan mencium puncak rambut wanita cantik itu. Begitu bersyukur memilih wanita sebagai istri yang sangat dicintainya. Nico memeluknya begitu lama, dengan bibir yang tersenyum bahagia.
Mereka pun berpisah siang itu dan berjanji akan lebih sering bertemu. Saat berpisah Dina menangis memeluk Reana serasa berpisah dengan kakak kandungnya sendiri. Berulang kali memeluk Reana.
"Kamu ini, kalau kangen tinggal datang ke apartemen. Jangan lupa bawa anak-anak," ucap Reana.
"Ah iya, mereka belum berkenalan dengan Tantenya," ucap Dina akhirnya teringat pada putra putri mereka.
Reana tertawa. Wanita itu memaksa Dina untuk datang bersama dengan anak-anak mereka saat mereka punya waktu nanti. Dina dan Dito berjanji, sebelum Reana melahirkan bayinya sendiri mereka akan membawa putra putri mereka berkenalan dengan Reana dan Nico.
Berpisah dengan Ardy, kali ini terasa begitu berat bagi Reana. Wanita itu wanti-wanti agar Ardy sering menghubunginya atau Nico. Ardy cuma tersenyum menatap wajah Reana tidak lepas dari rasa gelisah.
"Kamu khawatir padaku? Kalau khawatir, cepat carikan aku penggantinya. Biar aku segera melupakan wanita itu …."
__ADS_1
"Baik," jawab Reana cepat. Ardy tertawa.
"Sayang, jangan asal dijawab. Kamu itu sama saja dengan berjanji. Memangnya ada calon untuknya?" tanya Nico khawatir akan membebani pikiran istrinya.
"Kakak jangan khawatir, niat baik pasti dimudahkan. Jangan khawatir aku tidak bisa memenuhi janji, aku lebih khawatir kalau Kak Ardy ini kesepian. Kalau demi Kak Ardy, aku semangat Kak," ucap Reana.
"Ya baiklah terserah padamu," ucap Nico pada istrinya. "Dy, bilang sama Reana agar jangan terlalu memaksakan diri. Kalau aku yang bicara, dia tidak mau dengar," ucap Nico pada Ardy.
Ardy lagi-lagi tertawa mendengar percakapan mereka bertiga. Ardy tahu Reana khawatir padanya. Karena itu dia berjanji akan sering menghubungi Reana dan Nico. Reana ingin Ardy ceritakan apa pun kegiatannya, baik yang sedih atau senang. Ardy menyanggupi itu.
Saat tiba di apartemen, Reana mendapati apartemen telah bersih dan rapi. Wanita itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Karena dalam pikirannya telah tersusun rencana untuk membereskan apartemen itu.
"Karena kebetulan kita menginap di Villa, jadi aku manfaat waktu untuk bibi pengurus apartemen ini untuk membersihkan selagi kita tidak ada. Aku tidak ingin kamu yang bersihkan kekacauan akibat ulahku," ucap Nico sambil memeluk istrinya itu dari belakang.
Reana tersenyum. Senyum dari biibir manis itu langsung menggoda Nico. Segera membalik tubuh Reana, memeluk erat tubuh wanita itu sambil membenamkan bibirnya di bibir wanita itu. Rasa rindu bermesraan dengan bebas tanpa perasaan risau. Membuat ciuman mereka begitu menggebu-gebu.
Baru saja Nico ingin melepas kancing-kancing di blouse Reana, mereka mendengar bunyi bel pintu apartemen. Mereka langsung saling pandang. Baru saja kembali ke apartemen, mereka langsung kedatangan tamu lagi.
"Sudah datang tapi langsung pergi lagi?" tanya Reana.
"Aku pikir masih kosong! Aku kira Kak Reana tak ada di apartemen lagi," ucap Nella.
"Lagi?" tanya Reana heran.
"Ya, aku sudah ke sini kemarin tapi nggak ada yang buka pintu. Sore dan malam, tetap saja tak ada yang buka pintu, aku pikir Kak Reana kembali ke rumah mertua," ucap Nella panjang lebar.
"Kami berlibur di Villa bersama teman-teman Kak Nico," ucap Reana bercerita.
"Oh ya, teman-teman yang mana?" tanya Nella.
__ADS_1
"Teman-teman waktu kuliah," ucap Reana.
Nico yang tak kunjung melihat Reana kembali, merasa heran bercampur khawatir. Segera keluar dari apartemen itu untuk mencari istrinya. Begitu melihat Reana yang berbicara di lorong apartemen itu, segera Nico mendekat untuk melihat dengan siapa Reana bicara.
"Oh ya, Kak Dito, Kak Rommy dan Kak Ardy?" tanya Nella.
"Ya, dan juga istrinya …."
"Oh, mereka pasti sudah menikah semua," ucap Nella.
"Nella? Sayang kok malah berdiri di sini, kenapa tidak ajak Nella masuk …."
"Eh iya Kak, aku sampai lupa. Tadinya dia sudah mau pergi. Untung aku cepat keluar. Kalau tidak sia-sia lagi dia datang kemari," ucap Reana.
"Lagi?"
"Ya lagiiiii, kenapa dua-duanya heran aku datang ke sini lagi. Aku kan belum ketemu kalian, wajarkan aku ke sini lagi," ucap Nella pura-pura merajuk.
"Ya, ya, ayo kita ke masuk. Kamu sudah datang masa mau pergi lagi," ucap Reana lalu tertawa karena mendengarkan kata-kata 'lagi'.
"Ada apa? Tumben kamu datang bahkan sampai dua kali. Coba datang lebih cepat waktu itu, kamu bisa ikut liburan dengan kami ke Villa," ucap Nico.
"Nggak ah, untuk apa, kalian semua pasti datang dengan suami istri, lalu cuma aku sendiri yang single, manyun-manyun seorang diri," ucap Nella keberatan.
"Nggak! Belum menikah semua. Cuma Kak Dito yang telah menikah. Kak Ardy bahkan batal pertunangannya ….
"Apa? Kak Ardy belum menikah? Selucu dan seganteng itu masih belum menikah?" tanya Nella.
"Iya belum bahkan baru saja putus hubungan, aaahh …."
__ADS_1
Ucapan Reana terhenti. Dia teringat sesuatu. Wanita itu langsung berbisik pada suaminya. Nico menoleh pada Nella dan lalu mengangguk-angguk. Membuat Nella heran melihat tingkah pasangan suami istri itu.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...