
Rommy memberi ultimatum, bahwa Nico harus menjalankan kewajibannya sebagai suami atau menceraikan Reana. Rommy yang telah menganggap Reana seperti adiknya sendiri tak rela jika diperlakukan seperti itu. Meski Nico adalah temannya sendiri. Rommy yang mengerti dan tahu persis seperti apa cinta Reana pada Nico tak tega menggantung cintanya seperti itu
Demi cintanya pada Reana, akhirnya Nico mencoba mengikuti ucapan Rommy. Nico mencintai Reana, tak ingin kehilangan gadis itu. Tapi semakin dalam cintanya pada Reana semakin sakit hatinya dalam harapannya pada gadis itu. Kepulangan Reana yang tiba-tiba, membuat Nico berasumsi bahwa Tn. Malvin telah mendapatkan apa yang diinginkan lalu mencampakkan Reana.
Malam itu menjadi saksi tekad Nico untuk menguji cintanya sendiri. Bahwa apa pun yang terjadi, bagaimanapun keadaan Reana, dia akan bisa menerima. Seperti biasa laki-laki itu menggendong Reana untuk tidur di kamarnya. Tapi kali ini Reana justru terbangun dan ingin mengalah agar suaminya bisa tidur di kamarnya sendiri.
"Ini apartemen Kak Nico. Kak Nico yang berhak tidur di kamar ini. Aku hanya menumpang tinggal di sini–" ucap Reana dengan dada yang terasa perih.
Reana merasa dirinya hanya sementara di tinggal di apartemen itu. Hanya menunggu waktu hingga Nico merasa bosan lalu mengusirnya. Saat Nico menemukan gadis yang benar-benar suci seperti yang diinginkannya. Reana rela menemaninya hingga saat itu tiba, semua demi cintanya pada Nico.
Pernah mengenal Kak Nico. Pernah menjadi gadis yang Kakak cintai, itu sudah cukup bagiku. Yang terpenting bagiku adalah kebahagiaan Kakak. Harusnya kita tahu, kita memang tidak cocok, Aku pamit Kak, aku akan pergi, semoga Kak Nico mendapatkan gadis yang pantas untuk Kak Nico. Gadis yang jauh lebih baik dariku, bisik hati Reana sambil menatap Nico yang fokus pada tayangan di layar televisi.
Reana bertekad akan pulang ke rumah ibunya tanpa sepengetahuan Nico. Sudah cukup baginya untuk menemani Nico. Gadis itu ingin membebaskan laki-laki itu untuk meraih kebahagiaannya. Tiba-tiba Reana mengecup pipi Nico. Membuat laki-laki itu kaget lalu menoleh ke arahnya.
"Maaf," ucap Reana sambil tersenyum. Nico membalas senyuman gadis itu.
Maaf Kak Nico, maafkan aku yang sudah mengecewakanmu, batin Reana.
Lalu merebahkan diri di sofa itu dan memejamkan matanya. Sekian lama akhirnya Reana tertidur di sofa. Nico menatap wajah itu dengan tatapan mata yang sendu. Merasa sedih atas apa yang dilakukannya terhadap Reana.
Ini tak adil untukmu. Aku perlakukan kamu dengan tidak adil. Kenapa aku begitu tega menyiksamu begini. Maafkan aku Reana. Maafkan aku sayang, batin Nico.
Nico memindahkan istrinya untuk tidur di kamarnya. Mengecup jemari Reana, lalu meletakkannya. Nico justru memutuskan untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Namun, melihat Reana yang tertidur lelap, Nico memutuskan untuk keluar kamar. Reana justru menghentikannya. Meminta laki-laki itu untuk tetap berada dikamar itu dan membiarkannya tidur di sofa.
"Reana, Jangan tidur diluar! Tidurlah di sini … bersamaku," ucap Nico.
Mendengar ucapan Nico, Reana sangat terharu. Gadis itu bahkan tak bisa menahan tangisnya. Nico yang tak tega melihat gadis itu menangis langsung membenamkan bibirnya pada bibir manis istrinya.
Tanpa memikirkan apa pun lagi laki-laki itu membaringkan istrinya dan segera melepas hasratnya yang sudah tertahan lama. Laki-laki itu terkejut saat merasakan sesuatu yang tak disangka-sangkanya. Nico merasakan sendiri kalau Reana masih suci,
"Kenapa tak cerita padaku, kalau kamu masih suci?" tanya Nico.
Nico menyesal atas apa yang terjadi. Karena keegoisannya menuntut kesempurnaan Reana. Hingga membuat gadis itu memiliki ukuran kesuciannya sendiri. Reana selama ini memang tak pernah disentuh oleh siapa pun selain oleh Nico. Saat tak mampu lagi mengelak dari Tn. Malvin, Reana merasa tubuhnya tak suci lagi.
Bekas ciuman itu menjadi tanda tubuhnya yang telah tersentuh laki-laki lain. Hingga suaminya sendiri mempertanyakan kesuciannya. Reana memang merasa tidak suci lagi. Nico memeluk erat istrinya. Berkali-kali menghujani gadis itu dengan ciuman-ciuman yang menggebu-gebu yang mengiringi permintaan maafnya.
"Maafkan aku sayang, tolong maafkan aku yang bodoh ini. Aku tidak tahu. Aku sungguh tak tahu. Aku benar-benar bodoh, maafkan aku Reana. Maafkan aku sayang, aku sungguh bodoh. Aku sudah menyakitimu, menyakiti perasaanmu. Maafkan aku sayang," ungkap Nico menitikkan air mata sambil terus memeluk dan menciumi istrinya.
Hal yang dulu sulit dilakukannya karena wajah Tn. Malvin yang terus membayanginya. Berkali-kali menyatakan cintanya pada istrinya. Untuk meyakinkan hati Reana. Laki-laki itu sangat menyesal setelah meragukan kesucian Reana.
Pagi harinya Reana terbangun lalu menatap wajah laki-laki tampan di hadapan itu. Reana tak menyangka, malam itu telah berpamitan pada Nico meski hanya dalam hati. Saat suami berangkat kerja, maka dia pun akan meninggalkan apartemen itu. Tetapi justru, malam itu Nico menjadikannya istri yang sesungguhnya.
"Aku nggak mau kerja, aku masih bulan madu," jawab Nico, saat Reana membangunkannya untuk berangkat kerja.
"Kakak, benar-benar nggak mau berangkat?" tanya Reana.
__ADS_1
"Nggak mau," ucap Nico sambil memeluk Reana lebih erat lagi.
Laki-laki itu lalu membuka matanya dan langsung tersenyum. Membayangkan hal yang mereka lakukan tadi malam membuat hati Nico berbunga-bunga. Melihat senyum di bibir suaminya, Reana pun merasakan bahagia. Bisa mempersembahkan mahkota kebanggaannya pada suami tercinta adalah hal paling membahagiakan.
Nico bahkan tak mau beranjak dari ranjang itu. Sedetik pun tak mau melepaskan pelukannya. Setiap kali gadis itu ingin duduk, Nico akan langsung menarik gadis itu dalam pelukannya. Begitulah yang dilakukan sepanjang hari. Nico akan menarik kain putih yang menutupi tubuh gadis itu dan membiarkannya polos. Mereka menghabiskan hari-hari dengan bercanda dan bercinta.
"Kak, ayo kita sarapan!" ajak Reana pada suaminya yang masih bergelung dibawah selimut.
Matanya membuka lalu menyipitkan lagi. Terlihat Nico yang masih mengantuk, karena semalam di habiskan waktu dengan bercinta. Gadis itu kesulitan membangun suaminya yang setiap malam minta dilayani.
"Aku siapkan sarapan dulu ya Kak," ucap Reana lalu lanjut ke dapur.
Tiba-tiba terdengar bunyi getaran ponsel di atas nakas. Nico pun terpaksa bangun untuk menerima panggilan telepon itu. Nico kaget karena ternyata yang bergetar adalah ponsel milik Reana. Nico penasaran lalu mengamati pesan yang masuk.
"Halo Reana, aku Rassya, apa kabarmu?,"
Rassya, siapa dia, apa hubungannya dengan istriku? Batin Nico bertanya.
Masih dengan mata mengantuk, Nico mendatangi Reana di dapur. Laki-laki itu menanyakan tentang pesan yang masuk di ponsel Reana. Wanita itu langsung meraihnya dan membalas pesan dalam ponsel itu.
"Siapa dia?" tanya Nico.
"Oh, dia … dia itu anak buahnya Tn. Malvin. Dia sering menolongku selama menjadi tawanan di sana," jawab Reana jujur.
"Ya Kak, aku sangat berterima kasih padanya. Di menolongku sampai hampir dipecat oleh Tn. Malvin. Nggak! Sebenarnya dia sudah dipecat, tapi aku memintanya jadi pengawal pribadiku," jelas Reana.
"Oh, lalu di mana dia sekarang? Kamu sudah tak bersama Tn. Malvin lagi, apa mungkin dia sudah dipecat sekarang?" tanya Nico.
"Sepertinya belum Kak, saat ini dia justru mengabarkan tentang Tn. Malvin," jelas Reana.
"Untuk apa dia mengabarkan tentang Tn. Malvin padamu?" tanya Nico.
"Kondisi Tn. Malvin saat ini sangat menyedihkan. Dia sepertinya sedang frustasi Kak Nico," jawab Reana yang juga ikut sedih mendengar berita yang disampaikan oleh Rassya.
"Dia seperti itu karena kehilanganmu?" tanya Nico.
"Entahlah, mana aku tahu?" tanya Reana.
"Pastilah seperti itu. Aku bisa merasakan apa yang dirasakannya. Karena aku juga pernah mengalaminya. Kepergianmu dari sisinya pasti membuat dia sangat terluka," jelas Nico.
Lalu memeluk istrinya. Nico mereka takut kalau Reana merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Tn. Malvin saat ini. Seperti saat Tn. Malvin ditangkap dan dijatuhi hukuman. Gadis itu ikut merasa sedih atas nasib yang menimpa Tn. Malvin.
Rassya mengabarkan kalau kondisi Tn. Malvin saat ini hanya mabuk-mabukan. Rasa frustasinya mencapai puncak ternyata bukan karena mengetahui Reana berselingkuh dengan pengawal pribadinya tetapi karena ucapannya yang akhirnya mengusir Reana.
Tn. Malvin begitu emosi terhadap ucapan Reana yang lebih memilih Rassya hingga akhirnya Tn. Malvin kalapnya hingga akhirnya mengusir Reana. Begitu tersadar laki-laki itu tak menemukan Reana lagi di hotel itu. Semua orang yang mendengar Tn. Malvin nyata-nyata mengusir Reana dari hotel itu. Tn. Malvin seperti lupa kalau dia bahkan telah memukuli Reana.
__ADS_1
Rasa menyesal membuatnya bersedih hingga akhirnya memilih untuk mabuk-mabukan. Sekian lama tenggelam dalam kesedihan atas kehilangan Reana untuk kedua kalinya, laki-laki itu pun dinasehati oleh orang kepercayaannya. Tn. Malvin diminta untuk menjadi pemimpin yang baik lagi perusahaannya.
Pengusaha sukses itu diminta untuk kembali mengurus perusahaannya yang telah terbengkalai sejak Tn. Malvin merasa frustasi. Kini laki-laki itu memilih tenggelam dalam kesibukan mengurus perusahaannya yang sudah lama tak digubrisnya.
"Tuan, ada seseorang yang mencari Tuan," ucap personal assistant Tn. Malvin.
Laki-laki yang sehari-hari lebih banyak melamun itu meminta agar dia tidak diganggu oleh kehadiran tamu mana pun. Dia lebih memilih menyendiri dibanding bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya mau pun tak dikenalnya.
"Katakan kalau aku sibuk," ucap Malvin.
"Tapi ini bukan tentang bisnis Tuan, ini urusan pribadi," ucap personal assistant itu.
"Urusan pribadi? Urusan pribadi apa? Lalu kenapa menemuiku di sini?" tanya Malvin.
"Karena Tuan tak mau menemui siapa pun beberapa hari belakangan ini. Tadinya dia sudah mencoba menemui Tuan di hotel. Apa sekarang Tuan juga tak mau menemuinya?" tanya personal assistant itu.
"Masalah pribadi? Menurutmu masalah apa?" tanya Malvin.
"Dia … sebaiknya Tuan temui saja. Mungkin bisa melepaskan beban pikiran Tuan dari kesibukan urusan pekerjaan," saran personal assistant itu.
Tn. Malvin akhirnya bersedia menerima tamu yang datang untuk menemuinya itu. Setelah berpikir-pikir siapa yang ingin menemuinya tetapi bukan berurusan dengan pekerjaan. Tn. Malvin akhirnya menyadari kalau dirinya tak memiliki teman sama sekali. Semua orang yang mengaku teman-temannya adalah orang-orang yang terhubung dengan perusahaan.
Mereka bertemu dan akrab hanya karena urusan bisnis. Selain itu Tn. Malvin tak mengenal siapa pun kecuali Reana. Atau para gadis-gadis yang pernah mengisi hari-harinya dengan bersenang-senang. Tn. Malvin tak pernah benar-benar memiliki seorang teman.
Terdengar suara ketukan pintu berbunyi. Personal assistant itu pun masuk dengan membawa seorang gadis. Tn. Malvin tak merasa mengenalnya tetapi saat melihat penampilan gadis itu, Tn. Malvin justru terkenang pada Reana.
Rambut yang dikuncir, mengenakan celana jeans serta kemeja lengan panjang polos yang digulung hingga ke siku. Tak lupa tas ransel yang menjadi ciri khas seorang mahasiswa yang berasal dari keluarga kelas bawah.
Gadis manis itu tersenyum dan mengangguk hormat pada Tn. Malvin. Lalu menyerahkan sebentuk sapu tangan dengan kedua tangannya. Tn. Malvin meraih sapu tangan itu dengan perlahan. Laki-laki itu sangat mengenali sapu tangan itu karena pemberiannya untuk Reana.
Sebuah sapu tangan dengan sulaman inisial namanya di sudut benda persegi empat itu. Melihat itu Tn. Malvin merasa heran, karena bisa berada di tangan gadis mahasiswi itu.
"Kenapa bisa ada di tanganmu?" tanya Malvin.
"Perkenalkan Tuan, saya Viana, gadis yang ditolong oleh Nona Reana waktu itu. Saya datang ingin mengembalikan sapu tangan ini padanya. Saat itu saya sedang bertengkar dengan pengunjung restoran–"
"Aku tahu, aku ingat sekarang. Reana membersihkan rambut dan wajahmu dengan sapu tanganku. Sekarang ambillah! Aku tak butuh sapu tangan ini," ucap Malvin.
"Tapi Tuan itu … sapu tangan yang sangat mahal," ucap Viana.
"Aku bilang ambil atau kamu buang sapu tangan ini terserah padamu. Aku tak ingin melihat sapu tangan ini lagi," bentak Malvin sambil melempar sapi tangan itu ke wajah Viana.
Gadis itu menangkap sapu tangan itu tapi terkejut saat tiba-tiba melihat Tn. Malvin rubuh dan tergeletak di lantai. Viana berteriak meminta tolong. Dengan panik gadis itu berteriak sambil melepas jas dan juga dasi Tn. Malvin untuk memberikan pertolongan pertama dalam menyelamatkan pasien henti jantung. Gadis itu melakukan kompresi dada dan pemberian napas buatan.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1