Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 81 ~ Pengawal Pribadi ~


__ADS_3

Tn. Malvin merasa begitu terganggu dengan bunyi gedoran pintu itu. Segera melihat siapa yang berani menggagalkan niatnya menaklukkan Reana. Begitu melihat siapa yang menggedor pintu, Tn. Malvin langsung melayangkan tamparan ke wajah orang itu. Wajah pengawal yang ingin menjadi pengawal pribadi Reana.


Berpura-pura mencari Reana karena telah berjanji menemaninya berjalan-jalan di pantai. Tn. Malvin semakin benci melihat wajah pengawal itu. Setelah menggagalkan niatnya sekarang mencoba mengajak gadis yang dicintainya.


"Aku yang akan mengantarnya jalan-jalan. Dia tak butuh kamu untuk menemaninya," ucap Malvin tegas dengan sorot mata yang tajam.


Reana yang terbebas dari kungkungan Tn. Malvin langsung berlari ke balkon. Dari sana gadis itu bisa melihat pengawal itu dimaki bahkan ditampar oleh Tn. Malvin. Dalam hati gadis itu berterima kasih pada pengawal yang nekad menggedor pintu itu. Reana tahu laki-laki itu sedang berusaha menolongnya.


Reana berdiri di balkon dan bersiap-siap untuk melompat dari lantai dua jika Tn. Malvin masih tetap memaksanya. Melihat tubuh Reana yang gemetar sambil melangkah mundur, akhirnya Tn. Malvin berjanji tidak akan memaksanya lagi. Namun, Reana tetap melangkah pelan untuk mundur.


Melihat gadis itu seperti frustasi, Tn. Malvin akhirnya berjanji mengijinkan pengawal itu menjadi pengawal pribadi Reana. Mendengar itu langkah mundur Reana terhenti dan Tn. Malvin segera memeluk tubuh gemetar itu. Bukan karena suka pada pengawal itu, tapi karena Reana merasa terlindungi oleh pengawal yang baru menolongnya itu.


"Kamu ingin jalan-jalan, ayo aku temani ya?" tanya Malvin.


Reana tak punya pilihan lain selain mengangguk. Demi melindunginya pengawal itu berpura-pura berjanji untuk berjalan-jalan dengannya. Namun, meski Tn. Malvin mengizinkan pengawal itu menjadi pengawal pribadi gadis yang dicintainya, Tn. Malvin tak mengizinkan mereka berduaan. Tn. Malvin selalu berada di sisi Reana hingga tak ada kesempatan bagi pengawal itu berbicara sedikit pun dengan Reana.


Seperti saat ini Tn. Malvin menemani Reana berjalan menyusuri pinggir pantai. Eksekutif muda yang tampan itu melepas setelan jas nya dan mengganti dengan setelan casual. Terlihat Tn. Malvin bergaya begitu santai, membiarkan kemeja itu lepas dengan dua kancing yang tak terpasang.


"Mau ke mana?" tanya Malvin sambil merapikan rambut Reana yang diterbangkan angin.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya karena memang Reana tak ada keinginan sedikit pun untuk berjalan-jalan. Gadis itu hanya ingin mengiyakan apa yang diucapkan pengawal tadi. Tn. Malvin bingung dengan sikap Reana. Menyadari itu Reana langsung berkilah.


"Aku hanya ingin jalan-jalan. Bosan kalau selalu di kamar. Tapi pergi ke mana, tentu aku tidak tahu, aku belum pernah ke sini," ucap Reana.


Tn. Malvin menarik nafas dalam-dalam. Bingung dengan keinginan Reana. Tempat itu sangat luas, kadang Reana merasa ragu kalau itu sebuah pulau karena tak melihat ujungnya. Reana masih berharap kalau semua ini hanya kebohongan untuk menakut-nakutinya.


Apa mungkin mereka semua bohong kalau ini sebuah pulau? Sengaja menempatkan posisi di pinggir pantai agar terlihat seperti pulau, batin Reana.


Melihat Reana yang bingung sendiri, melihat ke kanan dan ke kiri, Tn. Malvin malah tersenyum. Laki-laki itu meraih kedua tangan Reana lalu menatapnya sendu. Laki-laki itu mengecup kedua tangan Reana satu persatu lalu tersenyum.


"Tadi aku ingin ajak kamu ke surga malah nggak mau," ucap Malvin dengan gaya bahasa yang lebih santai. Reana tercengang.

__ADS_1


"Mati dulu baru bisa ke surga," ucap Reana kesal dengan arah bicara Tn. Malvin.


Gadis itu langsung melangkah pergi, memilih arah ke kanan karena semalam berjalan dengan pengawal itu ke arah kiri. Tn. Malvin mengejar menyusul. Segera meraih tangan gadis itu untuk digandengnya.


"Bukan surga itu, surga yang ada di dunia," ucap Malvin membalas ucapan Reana.


"Surga yang ada di dunia itu relatif. Tak sama di mata semua orang. Ada orang yang merasa tak menemukan surga sama sekali padahal, apa yang dimiliki adalah surga bagi orang lain," jawab Reana. Tn. Malvin tertegun sejenak lalu menjawab.


"Kamu benar. Kamu adalah surga bagiku. Apa bocah itu juga menganggapmu surga baginya?" tanya Malvin.


"Bukan itu maksudku, aahh … sudahlah!" ucap Reana lalu melangkah.


Tn. Malvin mengikuti dari belakang dengan menunduk. Hatinya seperti risau, melihat itu Reana pun merasa tak enak hati. Apa pun yang membuat orang kecewa atau bersedih akan membuatnya merasa bersalah. Reana menatap pengusaha tampan itu.


Harusnya Tuan segera menemukan seseorang yang bebas Tuan cintai, bukan aku, istri orang, batin Reana.


"Reana!" panggil Malvin tiba-tiba.


"Apa kamu mau ikut denganku? Malam ini aku akan ke hotelku. Aku tak ingin meninggalkanmu di sini," ucap Malvin tiba-tiba.


"Baiklah!" ucap Reana singkat.


Tn. Malvin merasa Reana akan merasa bosan tinggal sendiri di villa itu. Setiap kali pergi, Tn. Malvin merasa rindu pada Reana karena meninggalkan gadis itu sendiri. Gadis itu hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Begitu pulang, rasa rindunya semakin menjadi hingga membuatnya ingin melepas hasrat layaknya rindu terhadap istri. 


Sementara Tn. Malvin tak ingin Reana semakin membencinya karena memaksa memeluk dan mencium gadis itu hingga Reana merasa takut dan tertekan. Reana selalu merasa hidup dalam ancaman. Jika tak terjadi apa-apa dalam sehari itu dia akan bersyukur. Besoknya paginya berdoa agar tidak terjadi apa-apa hingga malam harinya.


Reana seperti burung dalam sangkar emas. Bergelimang harta dan semua kemewahan. Namun, tak pernah merasa satupun miliknya. Terkadang Tn. Malvin merasa sedih akan hal itu. Merasa menculik Reana hanya untuk menyiksanya. Padahal dalam hati Tn. Malvin, satu-satunya keinginannya adalah membahagiakan Reana.


Apa ini benar-benar pulau? Bagaimana Tn. Malvin keluar untuk mengurus urusan perusahaannya? Oh ya ampun aku lupa, helikopter. Tapi di mana? Bagaimana aku bisa keluar dari pulau ini jika harus menggunakan helikopter? Menyogok pilot untuk mengantarku pulang? Yang benar aja. Dia mungkin lebih kaya dari aku, yang mana orangnya aja aku nggak tahu, batin Reana.


"Reana!" ucap Malvin yang telah menyusulnya.

__ADS_1


"Ya?" tanya Reana menatap wajah sayu itu.


"Sudah berapa lama kamu di sini?" tanya Malvin.


"Nanti malam, tepat dua minggu," jawab Reana.


"Kamu pasti tidak betah di sini ya 'kan?" tanya Malvin.


Pertanyaan macam apa itu? Tentu aja aku nggak betah, meski tempat ini indah tetap aja aku merasa dipenjara, batin Reana.


"Aku tahu kamu nggak betah," jawab Malvin langsung tanpa menunggu jawaban Reana. Gadis itu tertunduk.


"Baiklah! Nanti sore kita berangkat ke hotel. Setiap kali aku meninggalkan kamu di sini, aku selalu merasa rindu. Ingin bertemu tapi sangat jauh. Kalau kamu ikut aku bisa segera menemuimu," ucap Malvin lalu kembali melanjutkan langkahnya menggandeng tangan Reana.


"Tuan! Ayo kembali ke Villa, aku sudah capek," ucap Reana ingin berbalik arah, teringat kalau sore nanti akan berangkat ke hotel, dia merasa tak perlu lagi berjalan-jalan dengan perasaan tertekan seperti sekarang ini.


"Kamu capek? Mau aku gendong?" tanya Malvin sambil tersenyum.


Laki-laki tampan itu semakin tersenyum saat melihat Reana menggeleng sambil membalik bola matanya. Gadis itu melangkah kembali ke villa. Tn. Malvin tak melewatkan kesempatan itu untuk menggandeng tangan gadis itu.


Begitu tiba di halaman belakang Villa, pengawal pribadi Reana telah berdiri menunggu. Dengan hati kesal Tn. Malvin melangkah sambil mengangkat tangan Reana dan mendekatkan ke bibirnya. Pengusaha tampan itu mengecup punggung tangan Reana di depan pengawal itu untuk memanasinya.


Namun, apa yang dilakukan pengawal itu. Dia justru tersenyum pada Reana. Reana kaget tetapi tetap membalas senyum pengawal itu walau ragu-ragu. Tn. Malvin terbelalak dan langsung berhenti di hadapan pengawal itu.


"Siapa namamu?" tanya Malvin dengan tatapan mata yang tajam.


"Rassya, Tuan!" jawab pengawal itu.


"Awas kalau aku melihatmu tersenyum lagi pada Reana," ucap Malvin mengancam.


"Maaf Tuan," jawab Rassya menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Begitu di kamarnya Reana langsung protes dengan sikap Tn. Malvin. Reana menganggap ancaman Tn. Malvin itu berlebihan. Sementara Tn. Malvin mengakui kalau dia merasa cemburu pada pengawal itu karena Reana yang selalu membelanya. Reana tertegun lalu bersikap lunak dan meminta maaf. Reana tak ingin karena marah Tn. Malvin batal membawanya ke hotel bintang lima milik pengusaha sukses itu.


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2