Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 111 S2 ~ Permintaan ~


__ADS_3

Hasbi memutuskan untuk pergi. Keputusan yang membuat Nico merasa lega. Hasbi mengancam akan kembali jika gadis yang dicintainya itu tersakiti. Alangkah kesalnya Nico mendengar itu ancaman itu.


Apa hakmu mengancamku? Reana sedih atau bahagia, itu adalah tanggung jawabku. Membahagiakan Reana adalah tujuan hidupku. Reana bersedih, menghiburnya adalah tugasku. Apa hubungan denganmu. Dari dulu selalu ikut campur dengan urusanku dengan Reana. Apa yang harus aku lakukan pada orang ini? Batin Nico bertanya-tanya.


Mengingat itu rasanya Nico ingin melayangkan pukulan ke wajah mantan adik kelasnya itu. Namun, teringat permintaan Reana agar dia tidak emosi. Nico pun telah berjanji bahwa pertemuan mereka hanyalah pembicaraan dari hati ke hati, pembicaraan antara dia pria dewasa yang bisa mengendalikan emosi. Teringat itu, Nico menahan emosinya demi memenuhi permintaan istri tercintanya.


Saat pulang ke rumah, Nico langsung di datangi istrinya. Dengan raut wajah cemas, Reana memperhatikan wajah laki-laki yang dicintainya itu. Menangkup wajah Nico sambil menolehkan ke kiri dan ke kanan.


"Ada apa sayang? Mau cari apa di wajahku?" tanya Nico sambil tersenyum.


"Cari luka," ucap Reana singkat.


"Kamu ingin suamimu terluka?" tanya Nico dengan wajah heran.


"Bukan begitu! Kalau dia berani melukai Kakak, aku nggak akan memaafkannya. Dulu saat aku tahu, dia berani memukul Kakak, aku sangat kesal. Dia benar-benar tidak sopan pada orang yang lebih tua–"


"Lebih tua?" tanya Nico.


"Ya benar 'kan? Kakak lebih tua?" tanya Reana dengan wajah polosnya.


"Beda satu atau dua tahun itu sama aja sepantaran," ucap Nico yang tak mau dikatakan lebih tua.


"Kalau sepantaran, aku boleh panggil nama kakak dong? Memang boleh? Ni-co?--"

__ADS_1


"Ya ampun, istri durhaka ini–"


"Katanya sepantaran?" tanya Reana sambil menahan senyum.


"Ya, tapi tidak berlaku untuk istri," jawab Nico


"Itu resiko kalau mau sepantaran denganku, Ni-co?" ucap Reana lalu berlari meninggalkan suaminya masuk kamar.


Belum sempat wanita itu masuk kamar, Nico sudah langsung menangkap tubuh Reana dan menggendongnya. Reana reflek menjerit. Bukannya menghentikan perbuatannya, jeritan Reana justru membangkitkan hasrat laki-laki itu. Nico segera menghempaskan tubuh istrinya ke ranjang. Langsung menyatukan bibir mereka. Tak lama kemudian terdengar lenguhan-lenguhan dan *******-*******.


Nico selalu berupaya membahagiakan istrinya, termasuk dengan cara memberikan kepuasan pada wanita yang telah menyerahkan hidup untuk dirinya itu. Mulai dari sentuhan lembut, belaian dan kecupan yang membuat Reana melayang dibuatnya. Selain Nico berniat segera ingin membuat Reana mengandung anaknya.


Merupakan ketakutan terdalam bagi laki-laki itu jika Reana masih belum juga mengandung benihnya di dalam rahim istrinya. Setiap kali teringat tuntutan ibunya, membuat Nico sakit kepala. Pindah rumah atau menikah lagi, adalah hal yang tak ingin dilakukannya.


Nico ingin berduaan dengan Reana. Tanpa ibunya yang mengatur kehidupan mereka. Merecoki kehidupan rumah tangganya dan terlebih lagi membuat istrinya bersedih dengan segala tuntutan-tuntutannya. Keinginan Nico cuma satu, yaitu ingin membahagiakan istrinya, memiliki anak atau tidak memiliki anak.


Apa mungkin semua karena ini? Reana tak kunjung hamil, apa karena luka ini? Batin Nico bertanya-tanya.


"Kenapa Kak?" tanya Reana heran melihat Nico yang tak lanjut mencumbunya.


"Nggak apa-apa sayang," jawab Nico segera.


Laki-laki itu bertekad tak peduli dengan permintaan ibunya. Nico tak akan mengungkit apa pun tentang kehamilan dan pilihan untuk menikah lagi. Sambil tersenyum Nico melanjutkan aksi untuk memuaskan istrinya itu. Semua berjalan lancar, Reana tersenyum sambil memeluk suaminya. Nico pun membalas pelukan wanita yang dicintainya itu.

__ADS_1


Melupakan segala pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Nico tak ingin Reana tahu kalau dirinya risau karena permintaan ibunya. Meski begitu Nico ingin mencari kejelasan tentang penyebab tertundanya kehamilan Reana. Nico pun menemui seorang dokter untuk berkonsultasi. 


"Jika organ yang rusak adalah organ reproduksi, maka bisa jadi menyebabkan gangguan kesuburan, tapi tidak selalu menyebabkan kemandulan. Hanya kondisi tertentu dengan tingkat keparahan tertentu yang kemudian bisa berakibat gangguan kehamilan," jelas dokter itu.


"Lalu apa yang harus kami lakukan dokter.


"Harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, mungkin saja ada informasi medis yang terlewatkan atau mungkin saja ada masalah kesuburan tapi disebabkan oleh hal lain seperti miom, kista, atau gangguan hormon yang tidak berkaitan dengan luka yang pernah diderita istri anda," lanjut dokter itu.


Nico pun tertunduk, laki-laki itu bingung bagaimana cara mengajak istrinya untuk memeriksakan diri tanpa membuat Reana merasa sedih. Saat kebingungan itu melanda pikirannya, berbincang dengan Rommy adalah salah satu kebiasaannya sejak dulu. Nico pun meminta untuk bicara dengan sahabatnya itu melalui sambungan telepon.


"Kamu harus terus terang padanya, itu lebih baik daripada Mommy-mu yang bicara langsung padanya," ucap Rommy.


"Apa? Aku harus cerita kalau Mommy memintaku menikah lagi? Nggak akan? Itu pasti akan menyakiti hati Reana. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Reana. Dia rela mengorbankan dirinya sendiri demi orang lain. Aku takut dia memutuskan pergi demi mewujudkan keinginan Mommy memiliki cucu dari wanita lain. Nggak! Aku nggak mau! Aku akan selalu menolak keinginan Mommy. Saat ini Mommy masih diam saat aku menolak keras permintaan Mommy, tapi aku tidak tahu kalau suatu hari nanti Mommy akan kembali mengungkitnya. Rasanya aku ingin membawa Reana lari jauh agar bebas dari tuntutan Mommy," ungkap Nico.


"Kalau begitu, ajaklah Reana untuk memeriksakan diri, jangan menjudge kalau semua itu kesalahannya tapi minta dia menemanimu memeriksakan diri," ucap Rommy.


"Seolah-olah aku yang bermasalah?" tanya Nico yang dibalas anggukan oleh Rommy.


"Kamu juga tahu sifat Reana kan? Jika kamu merasa bermasalah maka dia tak akan membiarkan kamu merasa bersalah sendiri. Dia juga pasti ingin memeriksakan dirinya sendiri. Dengan begitu kalian bisa mendapat penjelasan yang akurat dari dokter apa penyebab tertundanya kehamilan Reana," ucap Rommy.


"Baiklah! Apa pun akan aku lakukan, asalkan tidak menikah lagi. Mommy boleh meminta apa pun asalkan jangan memintaku menikah lagi," ucap Nico.


Nico pun berterima kasih pada sahabatnya itu lalu menutup sambungan telepon selulernya. Nico bersiap untuk kembali ke ruang kerjanya setelah berdiri di balkon di samping ruang kerja perusahaannya itu. Nico membalik badan dan langkahnya langsung terhenti.

__ADS_1


Terpaku menatap Reana yang telah berdiri di pintu geser menuju balkon. Hatinya langsung risau, Nico merasa Reana mendengar percakapannya. Apalagi setelah melihat Reana yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2