
Acara kumpul sahabat itu berlangsung dengan bahagia. Meski ada beberapa masalah muncul tapi mereka berusaha untuk melenyapkan pikiran-pikiran yang mengusik kebahagiaan mereka. Nico dan yang lainnya berusaha bersikap tenang dan wajar. Saat duduk bersama di lantai beralaskan karpet itu, masing-masing duduk berdampingan dengan pasangan.
Mereka bermain kartu, para laki-laki memegang kartu dan para wanita mendampingi. Dina menempel di punggung suaminya, ikut menatap kartu-kartu dalam genggaman suaminya. Rommy hanya duduk sendiri. Nico bahkan meminta istrinya itu bersandar di dadanya. Hanya Ardy dan Lisca yang terlihat duduk berdampingan tapi seperti orang asing.
"Kak Rommy!" panggil Reana.
"Ya!" jawab Rommy cepat.
"Kak Rommy sudah mapan, jadi orang kepercayaan CEO perusahaan besar. Punya rumah mewah, mobil mewah dan segalanya sudah dimiliki. Masa sampai sekarang nggak ada yang mendekati? Apa standar Kak Rommy terlalu tinggi?" tanya Reana.
Wanita itu mencoba mengingatkan Rommy yang telah pantas untuk serius mencari pendamping. Sekaligus ingin melihat reaksi Lisca terhadap laki-laki lain juga telah mapan. Lisca langsung menoleh ke arah Rommy saat Reana bicara.
Tinggal Rommy yang menatap Reana dengan tatapan yang mengandung arti tetapi tak bisa diungkapkan. Menurutnya, Reana sedang mencoba mengalihkan perhatian Lisca kepadanya. Rommy mengerti wanita itu memiliki rasa takut terhadap Lisca.
Wanita itu sepertinya tak kunjung menyukai Reana. Semua itu pasti karena Reana adalah pemilik laki-laki yang menjadi incarannya. Rasa kaget Rommy atas perkataan Reana yang terkesan seperti sedang promosikan dirinya itu akhirnya dimengerti Rommy, dan laki-laki itu sepertinya tak keberatan selagi semua itu demi kebaikan Reana.
"Tak ada standar tertentu. Mungkin karena sibuk di kantor, langkah kakiku hanya berkutat antara rumah mobil dan gedung perusahaan. Aku tidak pernah ke mana-mana dan tak bertemu siapa-siapa," jelas Rommy.
"Sayang sekali laki-laki semanis Kak Rommy tak terlihat oleh gadis-gadis. Mereka tidak tahu ada oppa-oppa boy band yang belum punya pasangan di sini," ucap Reana.
"Jangan terlalu memujinya, aku jadi cemburu ini," ucap Nico.
Reana yang telah merebahkan diri di pangkuan Nico menoleh ke arah laki-laki itu lalu tertawa. Nico langsung mencubit pipi istrinya sambil terus mengamati permainan kartu itu. Reana membalik tubuhnya dan memeluk pinggang suaminya meski masih merebahkan diri di pangkuan laki-laki itu.
Membuat Lisca yang duduk tepat di hadapan Nico menatap sinis. Lisca yang termangu menatap tingkah Reana tak luput dari tatapan Rommy yang berdiri di samping depannya. Tatapan sinis itu tak bisa disembunyikan Lisca menatap kemanjaan Reana pada suaminya.
"Udah mengantuk Sayang? Ayo tidur sana!" bisik Nico.
Reana mengangguk lalu bangkit dari posisi rebahnya. Nico mengecup kening istrinya. Lisca tersenyum saat Reana pamit pada teman-teman yang masih ingin berkumpul dan bermain.
__ADS_1
"Aku juga mau tidur ya Kak," ucap Dina pada suaminya.
Tak mau kalah dengan Nico, suami Dina itu pun mengecup kedua pipi istrinya. Saat Dina telah masuk ke kamar. Ardy pun bertanya pada tunanganya.
"Semua perempuan sudah tidur, apa kamu tidak ingin tidur juga?" tanya Ardy yang tak nyaman melihat Lisca masih bertahan duduk di sampingnya.
"Ah nggak ah, aku belum mengantuk," ucap Lisca.
"Tenang saja, kalau kamu mau tidur. Kamu tidur saja langsung, aku nggak akan cium kamu kok," ucap Ardy sakartis.
Rommy, Nico dan Dito terperangah mendengar ucapan sinis Ardy terhadap tunangannya. Ardy seperti telah mati rasa terhadap calon istrinya itu. Terbesit di hati mereka, sikap Ardy itu tak akan membuat rumah tangga mereka berumur panjang.
Ardy sendiri dalam hati bertekad untuk memberi kesempatan. Dengan sungguh-sungguh memberi kesempatan pada Lisca. Namun, wanita itu tak bisa berhati-hati dengan sikapnya. Ardy dengan jelas melihat, hati Lisca masih terjerat pesona dari sahabatnya itu.
Bagaimana aku bisa yakin pada cintamu, jika kamu saja tak berniat untuk berubah. Tak pernah menyadari sikapmu terlihat jelas masih mengharap pada Nico. Sudahlah! Untuk apa memiliki istri yang hatinya telah tertambat pada sahabat sendiri. Yang ada kamu akan mengharap aku dan Reana cepat mati, batin Ardy termenung menatap kartu-kartu di hadapannya.
"Ya, jangan-jangan bukannya mikir tapi malah tidur," ucap Nico.
Ardy tersenyum lalu menjatuhkan kartu pilihannya. Keempat sahabat itu sepertinya masih ingin tetap berkumpul. Dito menceritakan masa-masa kuliah mereka dulu termasuk hobi mereka yang kadang membawa kesulitan bagi mereka.
"Ingat cewek yang di cafe waktu itu, pas balik badan jakunnya langsung kelihatan? Kita benar-benar kaget saat itu dan langsung ketawa," ucap Rommy.
"Ya benar, kita ketawa sampai cafe itu terdengar riuh. Kalau dipikir-pikir kita ini kurang ajar sekali waktu itu, mengganggu ketenangan pengunjung," ucap Nico menimpali.
"Ya benar tapi mau gimana lagi, kita spontan kaget. Kebayang cewek jadi-jadian itu bakal jadi pacar Dito," ucap Rommy yang kali ini jadi banyak bicara.
Berbeda dengan Ardy yang tiba-tiba jadi pendiam. Masalah yang timbul antara dirinya dan tunangannya membuat Ardy jadi kurang mood. Mendengar pembicaraan para sahabat itu bernostalgia tentang masa lalu, bahkan tentang gadis-gadis di masa lalu mereka, Lisca menjadi bosan dan memilih untuk pamit masuk ke kamar.
"Sudah mau tidur?" tanya Rommy berbasa-basi.
__ADS_1
Lisca hanya mengangguk. Jangan harap Nico akan berbasa basi terhadap wanita itu. Tak ada niatnya sedikit pun untuk beramah tamah hingga terkesan memberi harapan pada Lisca. Nico lebih suka menjaga jarak dari tunangan sahabatnya itu.
Hal itu disadari oleh Ardy, hal itu membuat Ardy merasa tak enak hati pada Nico. Perbuatan Lisca membuat temannya itu merasa tak nyaman. Setelah Lisca masuk kamar mereka melanjutkan permainan mereka.
Namun, hanya sebentar saja. Setelah itu mereka duduk di beranda belakang sambil menatap langit dan pantai. Mereka melanjutkan bincang dan bercanda. Kadang harus menahan tawa yang terasa sedikit keras mengingat para wanita sudah tertidur.
"Kapan kita akan berkumpul lagi seperti ini," ucap Rommy setelah tawa mereda.
"Kita bikin jadwalnya setiap tahun, mengenai tanggal, bisa disesuaikan dengan waktu luang kita," ucap Dito.
"Kalau aku siap kapan saja," ucap Nico.
"Aku juga," ucap Dito.
"Aku … lihat situasi dulu," ucap Rommy sambil cengengesan.
Giliran Ardy hanya diam. Laki-laki itu berubah pendiam sejak pertengkaran dengan tunangannya. Nico merasa menyesal. Niatnya untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya ini berakibat timbulnya pertengkaran Ardy dan tunanganya.
Menyadari itu mereka berbincang tanpa memaksa Ardy untuk bicara. Setelah merasa lelah, Rommy, Dito dan Ardy pamit beristirahat. Tinggal Nico yang masih betah duduk memandangi pantai di hadapannya.
Kenangannya melayang jauh saat menginap berdua dengan Reana saat menemani kekasihnya itu menjalani masa pemulihan setelah tertembak. Nico tersenyum saat terkenang Reana yang begitu bahagia saat melihat pantai di belakang villa.
Gadis itu langsung berlari tanpa mengkhawatirkan kondisi lukanya. Nico yang tak bosan-bosannya mengingatkan Reana untuk selalu berhati-hati. Saat asyik sendiri mengenang masa itu, tiba-tiba Lisca datang.
Duduk di sampingnya dan langsung memeluk erat laki-laki di sampingnya itu. Tak hanya itu, Lisca segera mendaratkan ciuman di bibir Nico.
Laki-laki itu kaget. Namun,bukan itu yang jadi masalah. Tepat di saat itu, Reana keluar dari kamar untuk mencari suaminya di beranda. Reana tertegun, terpaksa menyaksikan adegan yang menyakiti hatinya itu.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1