Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 40 ~ Menjelang Konferensi Pers ~


__ADS_3

Ardi menekan bel apartemen Nico tanpa henti, bertiga


mereka menunggu Nico membuka pintu. Tapi tak ada sedikitpun tanda-tanda sedikit dari Nico . Sudah cukup lama mereka berdiri didepan pintu apartemen itu.


"Gue pencet terus biar berisik" ucap Ardi kesal sambil tangannya terus menekan bel.


Ardi mencoba bersabar untuk tidak menggedor pintu. Tapi kali ini Nico benar-benar menguji kesabarannya.


"Jangan-jangan udah bunuh diri" ucap Dito cemas.


"Apa" ucap Ardi langsung panik.


"Loe sih, dari kemaren diajakin kesini nggak pernah mau" ucap Dito menyalahkan Ardi.


"Gue sibuk, skripsi gue di suruh print ulang melulu" ucap Ardi mempercepat menekan bel pintu.


Rommy yang biasanya tenang sekarang mulai terlihat cemas.


"Apa kita dobrak aja ?" tanya Dito.


"Kita bisa dituntut pasal pengrusakan" jawab Rommy.


Ardi makin panik, akhirnya mulai menggedor pintu.


"Nic, kalo loe nggak buka pintu juga, kita bakal dobrak nih pintu" teriak Ardi masih menggedor pintu.


Pintu apartemen di sebelah terbuka, seorang bule perempuan nongol di depan pintu. Sepertinya dia merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan dari suara gedoran pintu Ardi dan kawan-kawan.


Rommy meminta maaf akan perbuatan mereka yang mengganggu ketenangan bule itu.


"Gimana nih? " tanya Ardi, wajah laki-laki itu pucat.


"Nico, nggak mungkin bunuh diri... nggak... nggak" ucap Dito menggelengkan kepala kuat.


"Loe nggak liat dia itu depresi berat, hampir empat tahun kita barengan, loe pernah liat dia suka ama cewek sampai kayak gini ? loe pernah liat dia sedih sampai seperti ini ?" teriak Ardi pada Dito.


"Trus gimana ? gue mesti percaya kalo dia emang bener-bener bunuh diri" teriak Dito tepat didepan wajah Ardi, mereka berdua benar-benar panik.


"Kita tanya pada pengelola gedung, siapa tau dia bisa bantu membukakan pintu" usul Rommy.


Sahabat Nico yang selalu kalem dan bijak ini mulai merasa khawatir. Bergegas mereka pergi mencari pengelola gedung apartemen. Belum jauh mereka melangkah, tiba-tiba terdengar pintu dibuka.


Rommy dan kawan-kawan langsung berpaling, Nico bersandar di depan pintu. Teman-temannya langsung berbalik menghampiri, Dito memeluk, Ardi memukul lengan Nico sementara Rommy hanya diam memandang.


"Kami pikir kamu..." ucapan Ardi terpotong


"Ayo masuk" ucap Rommy cepat.


"Apa-apaan loe, kenapa loe nggak datang ke kampus, kenapa loe nggak angkat telpon kami, kenapa loe nggak buka pintu, kenapa loe begini ?" tanya Ardi, menangis mendorong tubuh Nico.


Pertanyaan Ardi sebenarnya tak perlu dijawab, mereka sama-sama tau alasan Nico jadi seperti ini. Laki-laki itu terlihat lemah tak bersemangat. Sikapnya berubah drastis seperti tak ada harapan.


Sejujurnya Ardi sangat panik, membayangkan laki-laki frustrasi itu ditemukan tak bernyawa di apartemen. Ardi merasa paling bersalah jika itu terjadi, karena sempat menolak diajak ke apartemen Nico.


Rommy bergerak membereskan barang-barang Nico yang berantakan. Laki-laki itu memilih sibuk bekerja dibanding memaki, menanyakan, berteriak meminta alasan.


Didepan wastafel laki-laki itu membuka kacamatanya dan mengusap bulir disudut matanya. Hati Rommy terasa lega saat melihat Nico muncul didepan pintu.


Rommy bertekad untuk selalu mendukung Nico, menemani dan membantu sahabatnya itu menyelesaikan masalahnya. Rommy tak akan membiarkan Nico menghadapi masalahnya sendiri. Tak akan.


"Loe mandi sana biar seger" ucap Rommy pada Nico sambil mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas.


Nico berjalan ke kamar mandi, Ardi duduk di sofa meremas rambutnya. Rasa stress laki-laki itu masih belum hilang. Dito membantu membereskan sampah kemasan yang berserakan di meja, dapur, dimana-mana.


Pekerjaan Dito beres, makanan pun hampir matang. Nico keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat lebih segar. Namun badannya masih lemas.


"Kapan terakhir loe makan" tanya Dito bercanda.


Nico hanya tersenyum simpul. Mereka makan malam bersama. Rommy, Dito dan Ardi bertekad untuk menginap di apartemen Nico. Mereka ingin menghibur sahabat mereka yang sedang terluka.


Menjelang malam Ardi dan Dito sudah terkapar. Nico memberikan bantal dan selimut buat mereka yang tertidur di sofa.

__ADS_1


"Harusnya kalian nggak usah kesini, Ardi dan Dito pasti kelelahan mengerjakan skripsinya. Mereka pasti abis begadang semalam" ucap Nico sambil membawakan secangkir kopi sachet pada Rommy.


Mereka duduk bersama di balkon apartemen, Rommy tertunduk. Laki-laki itu sangat bersyukur karena pikiran buruk mereka tidak menjadi kenyataan.


"Loe nggak tau gimana paniknya kami, kalau loe emang peduli harusnya loe jangan bikin orang khawatir" ucap Rommy.


"Sorry, gue sendiri juga nggak ingin seperti ini" balas Nico.


"Loe harus bangkit Nic, jangan hancurin hidup loe" ucap Rommy khawatir.


"Sejak Reana menghilang, loe udah dua kali nggak bimbingan, entah berapa kali loe nggak masuk kuliah, loe mau memperpanjang masa aktif mahasiswa loe?" tanya Rommy bercanda sambil bersedih.


Nico tersenyum kecut


"Waktu kita tinggal dikit, kita ini udah diujung semester, loe mesti segera beresin skripsi loe, loe nggak bisa lama-lama terpuruk, loe musti beresin urusan loe ama Reana" ucap Rommy kali ini panjang lebar.


"Beresin gimana? dia udah mutusin nikah sama laki-laki lain" ucap Nico pelan.


"Maksud gue, loe harus beresin hati loe terhadap Reana. Apapun itu jangan sampai mempengaruhi hidup loe" lanjut Rommy.


"Rebut Reana atau lupakan Reana" ucap Rommy.


"Dua-duanya pilihan loe, nggak ada yang mudah" jawab Nico.


"Loe tau kenapa Reana tiba-tiba mutusin nikah sama tuan itu?" tanya Rommy.


Nico menggelengkan kepala, meski dia sudah berpikir keras, namun tetap saja tak menemukan jawaban. Terakhir mereka bertemu pagi itu, Reana menerima penjelasan Nico mengenai gadis yang menggodanya.


Tak terlihat kemarahan dimata gadis itu, yang ada kerinduan dan keinginan bersama lagi. Tapi semua berubah sejak tuan Malvin membawanya.


Nico mengingat kembali kejadian demi kejadian yang mungkin bisa memberi petunjuk perubahan sikap Reana yang drastis.


"Reana berubah sejak tuan Malvin menjemputnya di kampus. Gue yakin tuan Malvin udah melakukan sesuatu padanya. Reana nggak mungkin berubah secepat itu" ucap Nico menjelaskan situasi hubungan mereka, tertunduk sedih.


"Loe nggak bisa cuma diam dan ngancurin hidup loe seperti ini. Loe lupa ? dulu Reana sangat membenci loe tapi loe tetap maju, meski sulit mendekati Reana tapi loe nggak putus asa, hingga dia membuka hatinya untuk loe. Loe harus menghidupkan semangat itu lagi, semangat memperjuangkan Reana" tanya Rommy.


Nico menoleh pada Rommy dengan mata sendu. Laki-laki itu merasa ragu, keadaan dulu tidak sama dengan sekarang. Saat itu kehadiran tuan Malvin justru menjadi jalan baginya untuk meraih hati Reana.


Yang dilakukan oleh tuan Malvin justru membuat Reana takut dan berlari kearahnya. Ketulusan hati Nico memperjuangkan Reana dari gangguan tuan Malvin justru membuat Reana menyerahkan hatinya pada Nico.


"Apa yang harus gue lakuin Rom, gue nggak bisa ngelupain Reana" ucap Nico tertunduk.


"Tuan Malvin akan melakukan konferensi pers untuk mengabarkan perkembangan perusahaannya, tapi gue yakin dia juga akan mengumumkan pernikahannya karena berita mengenai pernikahan itu udah merebak di kalangan para pengusaha. Mereka penasaran dengan kabar pernikahan tuan Malvin yang terkesan tiba-tiba" jelas Rommy.


"Dari mana loe tau ?" tanya Nico heran.


"Tuan Malvin udah mengirimkan surat resmi pada redaksi untuk mengundang wartawan dan perwakilan media massa, gue baca di internet, acaranya besok di ruang konferensi hotel itu, loe baca sendiri aja beritanya" saran Rommy.


"Untuk apa ? kenapa gue harus peduli dengan berita pernikahan mereka" tanya Nico patah semangat.


"Loe bisa temui Reana disana, dia juga pasti menghadirinya. Mencari Reana di rumah tuan Malvin itu jelas-jelas nggak mungkin, Reana bahkan tidak masuk kuliah dan bekerja. Satu-satunya kesempatan loe ketemu Reana ya di acara itu" jelas Rommy.


Nico tercenung, ada keinginan untuk menjalankan usulan Rommy. Tapi juga keraguan apakah dia bisa menembus pertahanan pengawal yang sudah mengenalnya. Mereka pasti sudah mengantisipasi kehadiran Nico.


Tapi seperti yang dikatakan Rommy ini adalah kesempatannya untuk bertemu Reana. Nico meremas rambutnya kasar, Rommy hanya bisa menatap sahabatnya yang mondar-mandir di balkon karena bimbang.


Malam itu Nico mencoba memejamkan matanya namun tak bisa, pikirannya masih terganggu ide Rommy untuk datang ke acara konferensi pers itu. Laki-laki itu berjalan melewati ruang tengah dimana sahabat-sahabatnya sedang tertidur pulas.


Nico mengambil minuman ringan dari kulkas lalu duduk di meja makan. Menatap layar ponsel yang memberi info akan diadakannya konferensi pers di hotel itu. Sesekali melirik teman-temannya yang masih tertidur nyenyak.


Reana memandang taman dari jendela kaca saat terdengar ketukan pintu. Reana mempersilahkan masuk. Beberapa orang gadis dengan segala perlengkapan berjejer masuk. Mereka adalah penata rias dan rambut serta busana.


Gadis pelayan berwajah lugu menunjukkan dimana walk in closet. Seorang gadis berjalan kearah sana membuka pintu dan memasuki ruangan untuk menyimpan pakaian dan aksesoris pendukung penampilan itu


"Oh my God" jerit gadis itu sambil berlari kian kemari mengagumi indahnya ruangan yang diciptakan untuk menunjang penampilan pemilik rumah itu.


Gadis-gadis lain kaget mendengar jerit gadis itu dan penasaran ingin melihat kedalam. Reana hanya berdiri diam memperhatikan tingkah mereka.


"Gue belum pernah liat walk in closet secantik dan semewah ini" ucapnya pada gadis-gadis yang baru masuk.


Sama seperti gadis tadi, mereka juga tak henti-hentinya berdecak kagum. Seorang gadis mengamati lampu chandelier dengan ornamen kristalnya yang tergantung cantik dengan pencahayaan warna lampu yang lembut untuk menambah nilai estetika.

__ADS_1


Seorang gadis lain bahkan mencoba kenyamanan sofa yang diletakkan di tengah ruangan, sambil memandang wajahnya di balik cermin.


Bukan hanya design walk in closet ini saja yang membuat mereka terkagum, tapi isi dari rak-rak yang tersusun rapi dengan pakaian-pakaian dan aksesoris-aksesoris mahal yang belum pernah mereka lihat.


Para gadis itu akan lupa waktu dan lupa diri, jika Reana tidak masuk menghampiri mereka. Para gadis itu langsung tertunduk takut melihat gadis yang menguasai kemewahan itu.


Bisa dipastikan mereka sering dibentak gadis-gadis kaya karena tingkah mereka. Entah sampai kapan mereka akan terbiasa melihat kemewahan semacam itu.


Karena setiap kali melihat, mereka akan merasa kagum dengan barang-barang yang hanya bisa dimiliki dalam khayalan. Reana melihat ketakutan itu, tersenyum pada mereka.


"Kalian kesini untuk apa ?" tanya Reana polos.


Gadis-gadis itu semakin merasa takut, pertanyaan Reana seakan-akan menyindir mereka datang hanya untuk mengagumi walk in closet saja. Lalu mereka menjawab tujuan mereka adalah untuk merias Reana.


"Kalau begitu kapan dimulainya ? "tanya Reana lagi.


"Sekarang, ya.. sekarang nona" ucap salah seorang gadis yang masih ketakutan.


"Kenapa kalian takut-takut ? "tanya Reana lagi.


"Maaf nona, tadi kami lupa diri karena mengagumi ruangan ini" ucap seorang gadis yang terlihat lebih tenang.


Reana mengangguk lalu meminta gadis pelayan membawakan minuman dan makanan ringan untuk para gadis itu. Pelayan mengangguk permisi, para gadis-gadis itu tercenung melihat keramahan Reana.


Dengan cepat mereka memulai tugas merias Reana. Tak henti mereka mengagumi kecantikan wajah, kulit dan tubuh Reana.


"Bukankah kalian sudah terbiasa merias gadis-gadis cantik ?" tanya Reana.


"Benar, tapi kecantikan mereka kebanyakan karena perawatan atau bahkan hasil rombakan" ucap gadis berekor kuda, gadis yang lain tertawa tertahan.


"Kalau kecantikan nona Reana adalah kecantikan alami, tanpa makeup pun nona sudah terlihat cantik" ucap gadis lain.


Reana sering mendengar kata-kata seperti itu, saat di SMA, menurutnya kata-kata itu mungkin hanya untuk menghiburnya agar dia tidak perlu berpikir membeli kosmetik yang harganya bisa menguras penghasilannya.


Gadis-gadis itu terlihat masih muda namun pekerjaan mereka sangat profesional. Itu berkat pelatihan-pelatihan yang mereka dapatkan dari tempat mereka bekerja.


Sebagian dari mereka adalah gadis-gadis berbakat yang sengaja direkrut oleh salon kecantikan ternama. Dan sebagian memang lulusan Pendidikan Tata Kecantikan yang professional di bidang kecantikan, mereka bergabung dalam sebuah tim make-up profesional.


Mereka memulai pekerjaannya dari rias wajah, rambut, kuku hingga memilih pakaian, sepatu dan aksesoris yang akan digunakan Reana.


Mereka sangat profesional, Reana mengagumi dan memuji cara kerja mereka. Mereka justru terkejut dengan sikap ramah Reana, menurut mereka gadis-gadis kaya itu biasanya sombong dan banyak tingkah, protes sana protes sini dan suka mengatur.


Reana risih karena mereka selalu mengira dia adalah gadis dari keluarga kaya. Reana mengakui bahwa dia hanyalah seorang gadis miskin.


Tapi para gadis itu justru tertawa dan menuduh Reana hanya bercanda atau terlalu rendah hati, karena menurut mereka gadis secantik Reana tak mungkin lahir dari keluarga miskin. Reana akhirnya pasrah dengan pemikiran mereka.


Jika ditelusuri asal usulnya, papa Reana adalah seorang direktur tampan di perusahaannya. Sementara mama Reana adalah sekretaris cantik yang menjadi idola di perusahaan itu.


Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah hingga lahirlah Reana. Sangat tidak mengherankan jika Reana terlahir cantik. Hanya saja kesulitan hidup membuat Reana melupakan semua itu.


Menjelang siang para gadis itu selesai merias Reana. Gadis pelayan berwajah lugu datang membawakan sekotak perhiasan. Gadis itu berkata bahwa tuan Malvin memintanya untuk memasangkan perhiasan-perhiasan itu pada Reana.


Gadis-gadis penata rias itu langsung terkagum-kagum melihat seperangkat perhiasan itu. Mereka menebak harganya pasti milyaran. Mereka semakin kagum pada tuan Malvin yang begitu memanjakan calon istrinya.


Tapi itu justru membuat Reana bersedih, gadis itu sama sekali tidak mau menerima pemberian laki-laki itu. Tapi kali ini Reana tak mungkin menolaknya.


Penampilan Reana bisa mempengaruhi penilaian orang-orang terhadap tuan Malvin, dan Reana paling tidak suka menjadi orang yang membawa citra buruk bagi orang lain.


Reana menuruni tangga perlahan diiringi para penata rias dan pelayannya. Tuan Malvin terpesona memandang makhluk ciptaan Tuhan satu ini. Tanpa mau mengedip sedikit pun tuan Malvin mengikuti langkah Reana hingga sampai ke hadapannya.


"Kamu cantik sekali" ucap tuan Malvin meraih tangan Reana dan mencium buku jari gadis itu.


Reana jengah, para gadis penata rias tersenyum sambil berbisik, tuan Malvin tidak peduli akan hal itu. Matanya tak lepas memandang Reana.


Tiba saatnya menghadiri konferensi pers, Reana turun dari mobil dibimbing calon suaminya, tuan Malvin. Laki-laki itu menggandeng tangan Reana memasuki lobby hotel.


Disana sudah banyak menunggu para wartawan dan perwakilan media massa. Baik itu perwakilan dari media cetak, media elektronik maupun media siber (Cybermedia).


Begitu tuan Malvin dan Reana masuk lobby para wartawan langsung menghujani mereka dengan kilatan blitz kamera yang menyilaukan mata. Tanpa sadar Reana mundur bersembunyi di belakang tuan Malvin.


Tuan Malvin tersenyum, Reana tidak terbiasa dengan situasi seperti itu. Laki-laki itu segera meraih tangan Reana dan melingkarkan tangannya dipinggang ramping gadis itu.

__ADS_1


Blitz kamera kembali menyilaukan mata. Tuan Malvin segera mengajak para wartawan memasuki ruangan khusus konferensi pers. Semua itu tak luput dari tatapan sedih Nico yang berdiri dibalik tiang besar lobby hotel.


...*****...


__ADS_2