Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 87 S2 ~ Gadis Setia ~


__ADS_3

Begitu sampai di kamarnya Reana langsung merebahkan diri di ranjang. Matanya lurus menatap langit-langit kamar dengan ukiran-ukiran yang begitu indah. Namun, bukan itu yang dilihatnya tetapi bayangan rencana-rencananya bersama Rassya.


Apa yang akan dilakukannya? Dia bilang aku hanya perlu menuruti perintahnya. Tak akan sulit karena aku tak perlu merayunya. Seperti rencana pertama. Menjadikan diri sendiri wanita murahan yang akhirnya dicampakkan. Berarti merayu Tn. Malvin lalu jika dia mau, aku harus melayaninya. Entah sampai berapa lama, menunggu hingga dia bosan. Sampai akhirnya dia membuangku, aaahh kapan aku bisa bertemu dengan suamiku? Setelah benar-benar layu baru dikembalikan pada Kak Nico. Sementara itu, saking lamanya menungguku, Kak Nico menemukan wanita lain. Aku baru datang dalam keadaan layu, ooohhh tidak, batin Reana menjerit.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Malvin.


Melihat Reana yang memukul-mukul keningnya. Ingin melenyapkan kembali pikiran-pikiran tadi. Melihat Tn. Malvin datang Reana langsung duduk. Menoleh pada arah masuk Tn. Malvin, seolah-olah menyalahkannya yang tak mengetuk pintu sebelum masuk.


"Aku sudah mengetuk pintu, tapi kamu tak menyahut. Padahal mereka bilang kamu sudah pulang. Mana belanjaanmu? Apa yang kamu beli?" tanya Malvin sambil melangkah mendekati Reana.


Reana menunjuk ke atas meja. Tn. Malvin menyipitkan matanya dan menunjuk. Sepertinya dia tak percaya kalau hanya itu yang dibeli Reana. Satu kemasan ukuran kecil pembalut wanita.


"Kalian pergi selama itu hanya untuk membeli itu?" tanya Malvin sambil melepas jasnya.


"Aku … mencari produk yang biasa aku pakai tapi ternyata tidak ada di sana," jawab Reana.


"Kenapa bisa tidak ada? Produk luar negeri?" tanya Malvin.


"Haaa, aku biasa mencari produk termurah tapi di sana ternyata tidak tersedia jadi agak sedikit lama," jawab Reana.


"Oh ya? Bukannya hanya ingin bermain-main bersama pengawal muda itu. Ingin jalan-jalan berdua dengannya?" tanya Malvin sambil tersenyum menyindir.


"Apa? Untuk apa? Yang aku inginkan Kak Nico. Kenapa ingin bermain-main dengannya?" tanya Reana.


"Jadi kamu sedang haid? Atau cuma alasan agar bisa berjalan-jalan berdua dengannya?" tanya Malvin kembali mendekati Reana.


Oh Tuhan, apa yang ingin dilakukannya? Apa yang disampaikan suruhan itu padanya. Mereka tak membuat cerita bohong 'kan? Aku tidak seperti sudah berjalan berdua dengan Rassya tadi, kenapa Tn. Malvin bisa bicara seperti itu? Apa yang mereka laporkan? batin Reana.


"Itu … "


"Aku ingin buktikan kalau kamu benar-benar haid–"


"Apa?"


"Kalau ternyata tidak? Berarti kamu hanya mencari alasan untuk pacaran dengannya," ucap Malvin semakin mendekat.

__ADS_1


"Itu … hanya untuk jaga-jaga karena siklusnya sudah dekat," jawab Reana.


"Oh, jadi tidak sedang haid? Itu lebih bagus lagi. Kamu sudah menemaninya berjalan-jalan sekarang giliranku. Aku ingin ditemani olehmu, jalan-jalan ke surga," ucap Malvin.


Oh tidak, apa yang harus aku lakukan? Tanya Reana dalam hati sambil bergerak mundur.


Apa aku menjalani rencana semula, melayani nafsu Tn. Malvin hingga dia tak terobsesi lagi. Oh tidak! Aku tak sanggup. Aku lebih baik mati, batin Reana.


Terus melangkah mundur hingga punggung Reana terbentur dinding. Kondisi yang paling disukai Tn. Malvin, laki-laki itu pun langsung mengukungnya. Kembali ingin mendaratkan bibirnya ke bibir Reana.


Gadis itu langsung menangis. Tak tega melihat Reana menangis, Tn. Malvin langsung menghentikan tingkahnya. Laki-laki itu hanya ingin menggoda Reana karena tadi memaksa untuk pergi bersama pengawalnya.


"Nanti malam giliran bersamaku ya sayang? Kita makan malam bersama," ajak Malvin.


Reana menoleh ke arah wajah yang begitu dekat di hadapannya itu. Tn. Malvin memohon sambil tersenyum. Akhirnya Reana menganggukkan kepala. Tn. Malvin tersenyum lalu memeluk tubuh mungil Reana. Gadis itu termangu, tubuhnya dingin  darahnya seperti berhenti mengalir.


Rasa takut Reana karena setiap kali berhubungan dengan Rassya, Tn. Malvin akan sangat emosi. Terkadang membuatnya tak berpikiran jernih. Reana takut, Tn. Malvin gelap mata dan memaksa Reana melayani pengusaha sukses itu.


Sore menjelang malam terdengar ketukan pintu. Reana dengan ragu-ragu menyuruh masuk. Ternyata dua orang gadis pelayan membawakan gaun, high heels dan perhiasan. Mereka pun diminta untuk merias Reana.


Terkadang gadis itu bangun di tengah malam dan tak bisa tidur lagi. Hanya bisa duduk sambil memeluk kedua lututnya dan menangis untuk menghilangkan rasa rindunya pada Nico. Reana merasakan cemas setiap hari. Gadis itu merasa kehormatannya selalu berada di ujung tanduk.


Gadis itu tersenyum saat Tn. Malvin membantunya menarik kursi. Sementara untuk dirinya sendiri, pelayanlah yang melakukannya. Sebenarnya hati dan jiwa Reana telah lelah untuk tersenyum. Namun, semua dipaksakannya demi menjaga suasana hati Tn. Malvin.


Makan malam itu bisa dikatakan sebagai makan malam romantis. Di mana suasana restoran mewah itu bernuansa romantis dengan penerangan temaram yang menambah suasana hangat di hati para pengunjung. Tak lupa lilin melengkapi suasana romantis candle light dinner itu.


Tn. Malvin tak puas-puasnya menatap wajah Reana. Laki-laki itu tersenyum dengan tatapan yang lembut. Tak lama kemudian mereka pun mulai menyantap hidangan makan malam itu. Tiba-tiba terdengar suara ricuh di sebuah meja pengunjung.


Reana langsung menoleh, begitu juga dengan Tn. Malvin. Mereka melihat seorang pelayan yang dimaki oleh seorang pengunjung wanita. Bisa dipastikan pengunjung itu adalah seorang wanita dari kalangan atas.


Reana menatap kejadian itu seolah-olah menatap dirinya sendiri yang pernah diperlakukan seperti itu oleh pengunjung yang mana adalah temannya sendiri. Kericuhan itu masih terdengar, tetapi Reana tak mampu lagi menatapnya. Gadis itu hanya bisa tertunduk.


"Aku mengenalmu karena kejadian seperti itu," ucap Malvin tiba-tiba setelah hening saat menyantap makan malam itu.


Reana tak menyangka jika Tn. Malvin mengungkapkan hal itu. Reana mengangkat wajahnya, merasa heran dengan ucapannya. Terlebih heran karena Tn. Malvin yang bisa tahu tentang kejadian itu.

__ADS_1


"Entah kenapa waktu itu aku tertarik untuk melihat rekaman video itu. Membacanya judulnya aku tertarik menonton video rekaman itu. Saat melihatmu mempertahankan prinsip demi membela restoranmu, aku langsung tertarik padamu hingga akhirnya memutuskan untuk mengenalmu. Tadinya aku ingin menjadikan kamu seperti gadis-gadisku yang lain. Membantu mengatasi masalah keuanganmu demi tercapainya cita-citamu. Aku tak menyangka hari ini bisa melihat kejadian seperti itu secara langsung. Aku kagum pada kalian yang bekerja di usia muda demi membiayai hidup kalian," ucap Malvin lalu kembali menoleh ke arah pelayan yang masih mempertahankan argumennya itu.


"Orang-orang seperti kami itu jumlahnya banyak. Mereka terpaksa bekerja dengan posisi yang dianggap rendah demi membiayai hidup. Di balik seragam orang-orang kelas rendah itu tersembunyi pribadi yang mengagumkan. Kadang mereka adalah orang-orang yang selangkah lagi menjadi seorang profesional. Aku pernah mengenal seorang mahasiswi jurusan ilmu psikologi yang bekerja sebagai SPG sebuah counter. Siapa yang menyangka kalau suatu saat dia akan menjadi seorang psikolog dengan seragam SPG itu?" jawab Reana.


Tn. Malvin mengangguk. Tiba-tiba kembali terdengar makian dari pengunjung wanita itu. Reana terkejut saat melihat pengunjung itu akhirnya menyiramkan minuman di atas meja itu ke wajah gadis pelayan itu. Kejadian yang benar-benar hampir sama dengan kejadian yang dialaminya. Namun, berbeda, jika Reana dibela oleh manajer restorannya. Gadis itu justru ikut dimaki oleh manajernya.


Tak tahan melihat kejadian itu Reana bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri gadis pelayan itu. Menggunakan sapu tangannya sendiri untuk mengeringkan rambut dan wajah gadis itu. Gadis itu merasa tak enak hati karena seorang nona kaya datang untuk membersihkan rambut dan wajahnya.


Manajer itu langsung bertanya dengan hormat pada Reana.


"Kenapa Pak Manager memperlakukan saya dengan hormat? Kenapa sikap bapak berbeda dengan … Viana?" tanya Reana setelan melihat tag nama gadis pelayan itu.


"Tentu saja saya berlaku hormat pada anda Nona karena Nona adalah seorang … wanita terhormat," jawab manajer itu setelah melihat Malvin yang bergerak menghampiri mereka.


"Bapak yakin saya wanita terhormat? Kenapa?" tanya Reana.


Mendengar pertanyaan itu, manajer restoran itu kelimpungan. Manajer itu melihat penampilan Reana dari bawah hingga ke atas. Semakin yakin kalau Reana adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga kelas atas.


"Tentu saya yakin Nona," jawab manajer itu.


"Kenapa? Karena penampilanku? Kalau begitu bapak salah, aku bukan wanita terhormat seperti wanita yang bapak bela tadi. Aku hanya pelayan sama seperti Viana. Apa pak manajer akan memperlakukan saya seperti Viana sekarang?" tanya Reana.


"Itu tak mungkin Nona. Nona dan wanita tadi adalah pelanggan. Pelanggan itu adalah raja Nona–"


"Aku mengerti Pak, aku juga seorang pelayan, apa Bapak lupa? Tapi Bapak adalah orang tua bagi Viana. Jika Bapak ingin Nona tadi menghormati restoran ini, Bapak bisa mengatasi masalah tanpa menyalahkan Viana. Sekarang nona itu merasa dirinya benar dan restoran ini yang akan dinilai salah. Ayo Viana sebaiknya jangan bekerja di sini. Aku rekomendasi kamu di restoran tempatku bekerja. Kamu adalah orang yang berdedikasi dalam bekerja, orang seperti kamu sangat dihargai di restoran kami. Ayo ikut denganku," ajak Reana sambil menarik tangan Viana.


"Maaf Nona, terima kasih karena menawarkan saya bekerja di tempat Nona bekerja, tapi restoran ini adalah tempat yang paling berjasa bagi saya. Saya bisa makan dan membayar uang kuliah saya karena jasa restoran ini. Karena itu saya tak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja Nona. Maafkan saya Nona," tutur gadis manis itu.


"Walaupun diberi gaji lebih tinggi dari di sini?" tanya Reana lalu menoleh pada Tn. Malvin yang berdiri di sampingnya.


"Ya Nona, bagi saya, gaji yang tinggi tak bisa digantikan dengan jasa restoran ini yang memberi makan saya di saat saya lapar," jawab Viana tanpa mengurangi rasa hormatnya.


Reana tersenyum, manajer itu terharu mendengar jawaban karyawannya. Manajer itu meminta maaf pada Reana dan juga pada Viana. Mendengar manajer itu meminta maaf, Reana merasa terharu dan juga bahagia.


Tn. Malvin mengajak gadis yang dicintainya itu kembali ke mejanya diantar oleh manajer restoran itu. Mereka melanjutkan menyantap hidangan itu sambil tersenyum-senyum. Tn. Malvin menoleh ke arah gadis yang sibuk membersihkan meja tamu yang mengamuk tadi.

__ADS_1


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2