
Ardy mengumumkan putusnya pertunangannya dengan Lisca. Wanita itu tidak terima dan mengancam akan membunuh dirinya. Wanita belum siap kehilangan segala fasilitas yang disediakan Ardy untuknya.
Ardy membiayai hidup Lisca, segala kebutuhan hidup wanita itu ditanggung Ardy meski mereka belum menikah. Sekarang Ardy memutuskan pertunangan membuat Lisca blingsatan karena belum punya tempat lain untuk bergantung. Kehidupannya yang seperti seorang sosialita di grup-grup media sosialnya membutuhkan biaya yang cukup besar.
Sementara penghasilannya sebagai seorang marketing perumahan sama sekali tak mencukupi untuk bergaya hidup layaknya kaum jet set. Di sosial media penampilannya berbeda saat bekerja tampilannya pun berbeda.
Lisca melakukan apa saja untuk mendapatkan rasa kagum dari teman-teman dari dunia maya sembari menemukan seseorang yang bisa merubah kehidupan mewahnya yang semu menjadi sesungguhnya. Lisca membatalkan keputusan Ardy termasuk mengancam dengan bunuh diri. Ardy pun terpaksa kembali pada Lisca.
Namun, dengan ancaman. Jika berani mengkhianatinya maka dia sendiri yang akan membunuh Lisca. Ya, Ardy berkata seperti itu karena dia telah dipaksa kembali menjalin hubungan yang tidak sehat itu. Ancaman bunuh diri oleh Lisca akan berganti pembunuhan oleh Ardy jika Lisca berani berkhianat padanya.
Ih seram sekali ancamannya, apa benar dia berani seperti itu? Bodo amat yang penting sekarang aku masih bisa bertahan mendapatkan fasilitas darinya sampai aku mendapatkan seseorang yang lebih mapan darinya, seperti Nico, batin Lisca tersenyum.
Sejak saat itu, Lisca bersikap lebih hati-hati. Lebih menjaga tindak tanduknya. Terlihat acuh tak acuh pada Nico. Hal itu membuat Nico jadi lebih tenang begitu juga dengan istrinya.
Saat duduk berdua di teras salah satu kamar di villa, Reana menyampaikan rasa leganya melihat sikap Lisca yang tak lagi berlebihan terhadap suaminya. Hal itu membuat liburan mereka terasa lebih nyaman. Nico dengan perasaan berbunga-bunga selalu menyempatkan mengecup bibir istrinya.
"Kakak kenapa? Sepertinya happy sekali," tanya Reana.
"Aku nggak boleh mengecup bibir istriku tanpa alasan? Harus ada sebabnya?" tanya Nico.
"Ya, karena itu adalah pengaruh dari suasana hati. Kalau hati sedang kesal mana mungkin sebentar-bentar mengecup," ungkap Reana.
"Ya baiklah! Mungkin karena hatiku merasa senang," jawab Nico.
"Kenapa?" tanya Reana.
"Aku pernah berkhayal seperti ini–"
"Oh ya? Bersama siapa?" tanya Reana.
"Ya bersama kamu, bersama siapa lagi?" tanya Nico malah merasa heran.
"Oh, aku pikir Kakak mengkhayalkan itu sebelum bertemu denganku," ucap Reana.
__ADS_1
"Sayang, hatiku ini tertutup untuk gadis mana pun setelah Angela, aku juga belum sempat mengkhayalkan bersama Angela karena dia selalu ada di depan mataku, tapi saat bersamamu, aku banyak berharap. Jangankan memelukmu, bisa menatapmu saja aku harus berkhayal dulu," ucap Nico yang langsung dibalas dengan tawa oleh istrinya.
"Kalau aku ingin berkhayal, otakku lebih dulu menyadarkan agar jangan berpikir yang tidak-tidak–"
"Berpikir yang tidak-tidak? Apa kamu berkhayal bercinta denganku–"
"Mana mungkin! Aku bahkan tidak berani berkhayal apa-apa tentangmu," ucap Reana.
"Kalau aku, selalu berkhayal bercinta denganmu, sejak aku menciummu–"
"Apa ciuman yang pertama kali itu? Mana mungkin, kita baru bertemu, baru pertama kali berhadapan," ucap Reana.
"Ya, tapi aku sudah lama mengagumi kamu. Sejak berdiri menyelesaikan soal di papan tulis, kamu selalu menarik perhatianku, mungkin karena itu aku tak bisa menahan diri hingga akhirnya memilih menciummu," ucap Nico.
"Kakak menyesal?" tanya Reana.
"Mana mungkin aku menyesal, aku justru bersyukur akhirnya menikahimu," jawab Nico.
Nico tersenyum menatap istrinya lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Perlahan membenamkan bibirnya ke bibir manis itu. Baru saat menikmati manisnya bibir yang lembut itu. Mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu.
Nico dan Reana saling berpandangan dan tersenyum. Nico mempersilahkan yang mengetuk pintu untuk masuk. Dina muncul sambil tersenyum.
"Maaf mengganggu momen romantisnya, aku cuma mau ngasih tahu, makan malamnya udah siap kakak berdua," ucap Dina begitu siang.
"Oh ya, makasih ya. Maaf udah merepotkan," ucap Reana.
"Nggak kok kami senang. Kami tunggu ya," ucap Dina lalu berlalu setelah menutup kembali pintu kamar.
"Maaf ya," ucap Nico.
"Maaf untuk apa?" tanya Reana.
"Karena teman-temanku selalu mengganggu kita," jawab Nico.
__ADS_1
"Sama sekali tidak mengganggu. Aku senang bisa berkumpul dengan teman-teman. Lagi pula teman-teman Kak Nico adalah teman-temanku juga. Sayang tidak semua bisa kumpul–"
"Tidak semua, siapa lagi, oh … maksudmu teman-temanmu?" tanya Nico.
"Ah sudahlah! Lagi pula kita tidak begitu akrab," ucap Reana hendak berdiri dari kursi malas itu.
"Maksudmu, teman-teman dari sisimu, tidak bisa terlalu akrab denganku bahkan justru menjadi musuhku …."
"Bukan begitu … maksudku,"
"Kenyataannya memang begitu. Aku tidak bisa menerima teman-temanmu. Maafkan aku. Aku akan mencoba untuk mereka mulai hari ini," ucap Nico meraih tangan istrinya lalu mengusap punggung tangan itu.
"Kakak? Jika tidak sehati, akan sulit untuk berteman. Berteman itu tidak bisa direncanakan, juga tidak bisa dipaksakan. Sudahlah lupakan saja, ayo kita gabung Kak, mereka pasti sudah menunggu kita," ucap Reana menarik tangan Nico agar segera berdiri.
"Maafkan aku. Aku begitu egois," ucap Nico.
Sekarang terpikirkan olehnya, Reana yang selalu mengalah padanya. Jika dia sendiri ingin dan suka berkumpul dengan teman-temannya, Reana justru menahan diri untuk berjumpa dengan teman-temannya.
Hasbi, Rassya, dr. Yose adalah teman-teman Reana yang harus mengalah demi Nico. Mereka tak akan bisa berkumpul seperti saat ini. Berkumpul bahkan menginap dengan teman-teman Nico. Jangankan berkumpul, untuk bertemu sesaat saja, Reana akan mendapat masalah.
Semua itu karena Nico menganggap teman-teman Reana adalah orang-orang yang mungkin menggoda Reana. Nico tidak sadar kalau godaan juga bisa datang dari teman di sisinya. Reana hanya bersikap sabar dan mengalah saat godaan itu datang dari teman-teman Nico.
"Kamu begitu sabar menghadapi aku. Aku selalu cemburu dengan teman-temanmu sementara aku …." ucap Nico semakin menyadari.
"Itu karena aku yakin Kakak tidak akan tergoda, dan Kakak juga bisa mengatasi godaan itu. Sedangkan aku … aku selalu membuat Kakak marah, aku selalu berdiri di situasi yang membuat Kakak salah paham, itu salahku. Mungkin aku tak perlu berteman dengan siapa pun, ya … aku tidak ada gunanya juga bertemu dengan teman-temanku," ucap Reana tersenyum tetapi dengan mata yang berkaca-kaca.
Nico langsung memeluk erat istrinya. Nico menyadari kalau semua itu bukanlah kesalahan Reana. Wanita itu justru mengalah sekuat tenaga. Masalah justru ada pada dirinya yang tak bisa menahan rasa cemburunya. Nico ingin seperti Reana bisa menahan rasa cemburu terhadap semua godaan yang mengganggu rumah tangga mereka.
"Sayang, aku ingin seperti kamu. Mulai hari ini aku akan berusaha menjadi teman bagi teman-temanmu. Aku akan berusaha mengatasi rasa cemburuku dengan belajar darimu. Kamu mau kan bantu aku," ucap Nico sambil menangkup wajah istrinya lalu mengecup bibir manis di hadapannya itu.
Reana mengangguk sambil tersenyum. Reana akan membantu suaminya, jika itu yang diinginkannya. Reana hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi apa pun yang buruk di antara mereka. Mengingat rasa cemburu Nico terhadap sahabat-sahabatnya yang sering tidak terkendali.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1