Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 85 S2 ~ Rencana Tak Berguna ~


__ADS_3

Setelah mengalami kejadian yang membuatnya terguncang, Reana yang sibuk dengan khayalan dan kenangannya bersama Nico tak menyadari Tn. Malvin masuk ke kamarnya. Laki-laki yang begitu mencintai Reana itu langsung melingkar tangannya pinggang dan dada Reana. Selama, meeting berlangsung Tn. Malvin hanya memikirkan Reana. Semakin dibayangkan semakin dirindukan.


Kini bisa langsung memeluknya Tn. Malvin sangat bahagia. Hal yang dirindukan Reana terhadap Nico. Kebiasaan Nico yang suka memeluknya dari belakang, sesaat membuat Reana terlena hingga mengira yang melakukan itu adalah suaminya.


"Kak Nico?" tanya Reana tanpa sadar.


Namun, terkejut saat Reana menoleh. Tn. Malvin merasakan pelukan sesaat itu tersenyum saat gadis itu menoleh ke arahnya. Menyadari bukan Nico yang memeluknya dari belakang. Reana kaget.


Tn. Malvin tak menyia-nyiakan wajah Reana yang begitu dekat dengannya langsung mendaratkan ciuman di bibir gadis itu. Reana sadar dan langsung mundur tapi dekapan Tn. Malvin sangat erat. Kembali gadis itu merasakan ciuman paksaan dari Tn. Malvin.


Setiap kali dipaksa berciuman Reana merasa berdosa pada suaminya. Membayangkan wajah laki-laki yang dicintainya itu sambil menangis. Sayang tangisan tak dipedulikan Tn. Malvin karena dia juga menangis dalam hatinya. 


Reana putus asa, mendorong dan meronta. Reana tak menjerit tetapi tangis paniknya terlihat dari raut wajahnya. Rassya yang sedang melangkah ke kolam renang itu menatap ke arah balkon. Dari sana laki-laki itu bisa melihat kelakuan Tn. Malvin.


Reana yang menempati kamar termewah dari segala tipe kamar hotel itu berada di lantai teratas dan memiliki balkon luas dengan pemandangan terbaik. Tipe kamar yang disebut sebut juga sebagai penthouse. Dari balkon kamar itu Reana bisa  menikmati Deluxe Pool View.


Dari situ juga Rassya bisa melihatnya dengan jelas. Laki-laki memutar otak untuk menolong Reana. Tak mungkin pengawal itu harus menggedor pintu kamar Reana untuk mengajaknya berjalan-jalan di tengah malam itu. Rassya menatap Tn. Malvin yang masih sibuk memaksa mencium Reana.


Tiba-tiba pengawal itu mengeluarkan ponselnya. Dan menjawab dengan suara yang cukup mengagetkan Tn. Malvin. Laki-laki itu berpura-pura jalan mondar-mandir di depan balkon seolah-olah tak mendengar suara orang yang menelponnya.


"Apa? Masih pelan? Aku sudah berteriak di sini. Jangan sampai orang mengira aku orang gila menelpon sambil marah-marah!" seru laki-laki itu.


Tn. Malvin menatap tajam ke arah Rassya. Lagi-lagi pengawal itu mengganggu kesenangannya. Lagi-lagi Reana berterima kasih dalam hati. Gadis itu tahu, Tn. Malvin terusik dengan suara keras Rassya menelpon tetapi tak sekali pun Reana menoleh ke arah pengawal itu. Reana takut itu akan menambah kemarahan Tn. Malvin. Laki-laki tampan itu akhirnya memutuskan keluar dari kamar Reana.


"Istirahatlah!" ucap Malvin pada Reana yang memeluk dirinya sendiri.


"Jangan berdiri di sini. Angin malam tak bagus untuk kesehatanmu, nanti kamu bisa sakit," ucap Malvin teringat tak ingin gadis itu tetap berada di balkon itu dan saling pandang atau saling senyum dengan pengawal muda dan tampan itu.

__ADS_1


Reana menyadari maksud yang tersembunyi dalam ucapan tuan muda itu. Tn. Malvin tak ingin Reana  melihat Rassya. Segera gadis itu masuk ke kamar agar Tn. Malvin tak lebih menyalahkan Rassya lagi. Melihat itu Tn. Malvin terlihat lega. Laki-laki itu menutup pintu geser balkon itu.


"Aku kembali ke kamar ya sayang. Tidurlah yang nyenyak," ucap Malvin.


Lalu mendorong Reana ke pembaringan. Laki-laki itu menyelimuti tubuh Reana lalu mengecup kening gadis itu. Hatinya sangat berbunga-bunga bisa melakukan itu pada Reana. Berbanding terbalik dengan Reana yang langsung menenggelamkan wajahnya di balik bantal dan menangis.


Keesokan harinya Reana bangun dengan mata yang sembab. Gadis terlihat lemas keluar dari kamar mandi. Terkejut saat melihat Tn. Malvin sudah duduk di meja makan. Karena haus, Reana ingin minum seteguk air tetapi saat melihat Tn. Malvin ada di situ segera gadis itu berbalik ke kamar mandi. 


Melihat itu Tn. Malvin tersenyum. Sangat mengerti kelakuan gadis itu yang pasti malu karena hanya mengenakan kimono handuk. Tn. Malvin mengetuk pintu kamar mandi untuk bicara pada Reana.


"Kenapa masuk lagi? Apa ada yang kurang bersih? Mau aku bantu bersihkan?" tanya Malvin sambil tersenyum.


Reana terkejut dan langsung memeluk dirinya sendiri. Di balik pintu Tn. Malvin tersenyum. Laki-laki itu pamit untuk bekerja dan menyuruh Reana untuk segera menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja makan.


Reana mencoba mendengar dari balik pintu kamar mandi kalau Tn. Malvin telah keluar dan menutup pintu kamar. Namun, Reana tak kunjung mendengar suara yang ditunggu-tunggu. Reana berpikir tak akan terdengar dalam kamar mandi apalagi kamar itu sangat luas.


Kamar ini sebesar rumah, bagaimana bisa terdengar hingga ke sini? Batin Reana bertanya.


"Aku hanya ingin mengawali hariku dengan sesuatu yang indah!" serunya lalu benar-benar keluar dari kamar itu.


Indah bagimu, menyedihkan bagiku, batin Reana kesal.


Gadis itu duduk di meja makan sambil dengan kepalanya yang bertumpu pada kedua tangannya. Reana memijat kepalanya yang terasa sakit. Setelah semalam menangis begitu lama hingga letih dan akhirnya tertidur.


Sampai kapan aku akan hidup seperti ini? Kehidupan macam apa ini? tanya Reana dalam hati.


Reana menatap hidangan yang tersedia di hadapannya berbagai macam jenis makanan itu tak ingin disentuhnya. Reana rasanya ingin mogok makan, tetapi teringat tubuhnya yang akan lemah jika tak makan maka dia sendiri yang akan rugi. Tn. Malvin bebas melakukan apa saja sama seperti saat dalam pengaruh obat bius.

__ADS_1


Reana akhirnya memutuskan untuk makan. Setidaknya dia harus kuat jika ingin melakukan perlawanan. Setelah mengenakan pakaian, Reana segera menyantap makanannya.


Kalau aku lemas bagaimana caraku melarikan diri? Tapi sampai saat ini Rassya masih melakukan aksi apa-apa untuk membantuku melarikan diri. Apa dia berbohong? Tapi, aku rasa tidak. Selama ini dia selalu menolongku. Tadi malam juga, aku rasa dia memang sengaja melakukan itu untuk mengganggu Tn. Malvin lagi, batin Reana sambil menghela napas karena tak kunjung bisa bebas dari Tn. Malvin.


Mata Reana terbelalak saat melihat secarik kertas terselip di bawah gelas jus alpukat kesukaannya. Segera gadis itu mengambil secarik kertas itu yang ternyata adalah pesan dari Rassya. Reana terkejut tetapi bahagia karena Rassya sepertinya memulai action-nya.


Beruntung Tn. Malvin tidak mengetahuinya. Kalau tahu bisa gawat, entah apa yang akan Tn. Malvin lakukan padanya. Kira-kira apa isinya, batin Reana bertanya.


"Siang ini, Tn. Malvin ada pertemuan. Minta izinlah melalui pesan. Kalau Nona ingin keluar berbelanja ditemani aku. Apa? Apa sudah gila? Minta keluar dari hotel ini hanya berdua saja? Ya, Tn. Malvin akan senang hati mengabulkannya. Mimpi, minta izin keluar? Berdua lagi? Apa seperti ini strategi yang bisa direncanakannya?" batin Reana tak berhenti tertawa kecil.


Namun, akhirnya tetap dicobanya. Mengirim pesan untuk pergi keluar hotel bersama pengawal pribadinya. Tn. Malvin langsung emosi dan menggebrak meja. Seluruh yang hadir di ruangan itu mendadak diam. Senyap, Tn. Malvin sendiri heran kenapa suasana ruangan itu menjadi angker, karena penuh dengan wajah takut.


Tn. Malvin tak ingin mengizinkan pergi tetapi gadis itu selalu membalas untuk memohon agar diizinkan keluar bersama dengan pengawalnya. Tn. Malvin bahkan menawarkan diri untuk mengantar Reana berjalan-jalan di luar hotel. Namun, gadis itu menolak dengan alasan sangat bosan di kamar dan juga ada keperluan untuk dibeli.


Tn. Malvin tak konsentrasi dengan pertemuannya karena selalu mendapat pesan dari Reana. Akhirnya pengusaha sukses itu mengizinkan Reana pergi bersama pengawalnya. Meski dalam hatinya sangat kesal karena gadis yang dicintainya pergi dengan seorang pengawal muda dan tampan.


 "Sepertinya aku tak bisa membantu Nona melarikan diri," ucap Rassya pada Reana.


"Apa?"


"Jangan menoleh! Kita tak bisa merencanakan untuk melarikan diri. Tn. Malvin menyuruh anak buahnya mengikuti kita," ucap Rassya tetap memandang lurus ke depan.


"Kita ganti strategi," ucap Rassya. "Nona harus mau pura-pura berselingkuh denganku."


"Apa? 


Meski Rassya tetap menyuruhnya untuk tetap menatap ke depan tetapi Reana tetap saja menoleh. Rencana itu terasa sangat mengada-ada bagi Reana. Selain menurut Reana tak ada gunanya. Reana merasa Rassya ingin mengambil kesempatan untuk mendekatinya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


.


__ADS_2