Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 44 ~ Hari Pernikahan ~


__ADS_3

Sejak subuh di ballroom hotel bintang lima milik tuan Malvin telah disibukkan oleh aktivitas para penyelenggara yang berlalu lalang mempersiapkan segala penunjang terselenggaranya pesta pernikahan mewah pemilik hotel tersebut.


Keputusan menikah mendadak ini membuat wedding organizer yang ditunjuk terpaksa menambah personal dengan melakukan kerjasama atau melakukan subkontrak dengan wedding organizer lain.


Hal ini untuk membantu pengerjaan, agar persiapan pernikahan ini dapat selesai tepat waktu sesuai dengan keinginan tuan Malvin, yang rencananya menggunakan konsep pesta pernikahan ala sitting dinner.


Pesta pernikahan tuan Malvin yang diperhitungkan akan sangat mewah dengan mengundang pebisnis-pebisnis sukses, tokoh-tokoh terkenal, pejabat hingga selebriti.


Hingga harus menggunakan seluruh area ballroom yang luas. Dekorasi pesta yang merubah suasana seakan-akan masuk ke area tiga dimensi dengan menata dekorasi ruangan yang tergantung di langit-langit.


Pemilihan warna, bahan, serta peletakkan dekorasi yang tepat, membuat suasana menjadi lebih romantis dan magical dengan kombinasi kilauan kristal, warna putih, emas, dan perak yang menghadirkan efek glamor.


Reana duduk di sebuah ruang rias yang di fasilitasi spot selfie dengan dekorasi rangkaian bunga berwarna lembut disekitar kursi mewah panjang berwarna putih.


Setelah para gadis penata rias selesai dengan tugasnya, mereka pamit untuk bersiap-siap menghadiri pesta Reana. Gadis-gadis itu diundang ke pesta pernikahannya karena Reana merasa sudah dekat dengan mereka.


Para gadis merasa terharu karena mendapat kesempatan hadir di pesta yang begitu mewah. Mereka bahkan menitikkan air mata. Janji mereka untuk menjadikan Reana pengantin tercantik yang pernah ada telah mereka laksanakan.


Reana terlihat begitu cantik tapi raut wajah murung gadis itu tak kunjung menghilang. Kadang gadis itu tersenyum saat ada tamu yang mengunjunginya, tersenyum manis saat mereka mengajak berfoto bersama.


Senyum sesaat, kemudian murung lagi.


"Kak Reana" sapa Nella yang baru tiba.


Reana mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk, gadis itu tersenyum.


"Nella udah datang? sendiri aja? " tanya Reana.


"Bersama yang lain, bu Shinta, pak Gunawan dan karyawan restoran, mereka duduk dimeja tamu" jelas Nella.


Reana tersenyum.


"Wah...Kakak cantik sekali" ucap Nella kagum.


Nella memandang Reana yang berbalut gaun pengantin tradisional daerah yang telah dimodifikasi menjadi gaun modern dengan sentuhan tradisional yang masih tetap terlihat.


Gaun berwarna putih itu menjuntai panjang hingga ke lantai. Dengan penutup kepala yang berbentuk kerudung, terbuat dari kain beludru bersulam emas membuat Reana tampil seperti seorang putri.


Nella ingin lebih lama berada disitu tapi setiap kali memandang wajah Reana yang terlihat murung, membuat gadis itu ingin menangis. Dan Nella adalah satu-satunya yang mengerti kesedihan Reana.


Nella tak ingin menangis dihadapan Reana, karena itu bisa membuat pengantin cantik itu terbawa perasaan dan ikut menangis. Nella ingin keluar dari ruangan itu tapi Reana menahannya.


"Bisakah Nella temani kakak ? kakak sendirian disini ? " ucap Reana memelas.


Nella mengangguk, jika Reana menginginkan dia tetap disitu maka Nella akan menuruti, dia akan bertahan untuk tidak bersedih demi Reana. Nella memilih duduk di sebuah kursi tak jauh dari tempat duduk Reana.


Tak lama kemudian terlihat tuan Malvin masuk. Laki-laki itu melangkah perlahan mendekati Reana lalu menoleh kearah Nella.


"Dia adalah teman sesama pelayan di restoran, saya sudah menganggapnya seperti adik saya sendiri" ucap Reana pada tuan Malvin.


Nella mengangguk hormat, dibalas Dengansenyum oleh tuan Malvin. Nella bangkit untuk keluar ingin memberikan kesempatan kepada tuan Malvin bicara berdua dengan Reana tapi tuan Malvin melarangnya.


"Tidak apa-apa, tetaplah disini temani Reana" ucap tuan Malvin pada Nella.


Nella kembali duduk di kursinya.


Tuan Malvin menatap Reana, tersenyum padanya lalu mengangkat dagu gadis yang selalu tertunduk itu.


"Cantik sekali" ucapnya.


"Ada mitos yang mengatakan, bertemu pengantinmu sebelum upacara pernikahan, akan mendapat nasib buruk.


Aku tidak ingin percaya itu, karena sebelum melihatmu, aku tidak percaya kalau hari ini benar-benar nyata. Aku takut ini hanyalah khayalanku.


Tapi sekarang aku benar-benar lega, kamu sungguh ada dihadapanku. Sangat cantik mengenakan gaun pernikahan kita" ucap tuan Malvin sambil memegang kedua tangan gadis itu, meminta Reana untuk berdiri.


Reana berdiri seperti yang diinginkan tuan Malvin. Laki-laki itu menatap Reana dari bawah hingga keatas, mengusap lembut pipi Reana, tersenyum pada gadis itu lalu bergerak mendekat, mencium bibir Reana, meresapi setiap sentuhan di bibir gadis itu berulang kali.


Hari ini kamu akan menjadi milikku, bisik hati tuan Malvin.


"Trimakasih, kamu tidak lagi menghindariku" ucap tuan Malvin terdengar lirih.

__ADS_1


Kembali mencium bibir gadis itu, sesuatu yang sangat diharapkannya sejak pertama kali bertemu Reana. Namun sangat sulit untuk diwujudkannya.


Reana diam pasrah, tak menolak ciuman laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Tak ada degup jantung yang berdebar, tak ada nafas yang memburu, hanya pasrah menerima.


Nella memalingkan wajahnya, merasa kasihan pada nasib Reana. Meski tuan Malvin terlihat tulus mencintai Reana tapi hati gadis itu bukanlah untuknya. Kebahagiaan Reana bukanlah bersamanya.


Tuan Malvin melepas ciuman di bibir Reana lalu mengecup kening gadis itu lama, tuan Malvin kembali meresapinya, lalu beralih memeluk gadis itu erat seakan-akan tak ingin melepaskannya.


Reana masih diam mematung, membiarkan laki-laki itu melakukan apa yang diinginkannya. Entah mengapa gadis itu merasa tak ada gunanya lagi mengelak, tak ada gunanya lagi menolak, karena sebentar lagi gadis itu akan masuk kedalam jerat pernikahan tuan Malvin.


Sepeninggalan Tuan Malvin Reana terduduk, badannya terasa lemas, nafas gadis itu terasa sesak. Reana mengerjapkan matanya, berusaha melenyapkan bulir bening dimatanya.


Nella menggenggam tangan Reana membantu memberinya kekuatan. Reana menoleh pada Nella, dalam hati berterima kasih pada Nella yang telah berada disisinya. Satu-satunya orang yang tau isi hatinya.


Alika muncul dari balik pintu tersenyum pada Reana. Reana membalas senyum gadis itu lalu mempersilahkan Alika duduk disampingnya. Nella mengenali gadis itu sebagai teman Reana yang pernah menjadi pelanggan di restoran.


"Selamat ya Reana, wow... lihatlah kamu cantik sekali, aku belum pernah melihat pengantin secantik dirimu, aku sungguh-sungguh tak menyangka kamu justru menikah dengan tuan Malvin.


Entah apa yang dipikirkan Hasbi jika tau akhirnya hubunganmu dan kak Nico berakhir begitu saja.


Hasbi rela melepasmu demi kak Nico, tapi sekarang kenyataannya sungguh berbeda, takdir sungguh tak bisa disangka-sangka" curhat Alika pada Reana.


Reana tersenyum pahit, gadis itu menyesal karena telah hadir diantara Hasbi dan Alika, jika saat itu mereka tidak mengenalnya, mungkin saat ini Hasbi bahagia bersama Alika.


"Maaf Alika, Hasbi pergi karena saya, maaf karena telah hadir diantara kalian" ucap Reana bersedih matanya berkaca-kaca.


"Sudahlah, semuanya sudah berlalu, meski Hasbi tak bisa bersamamu bukan berarti dia mau menerimaku, dia sudah menjelaskan semuanya padaku.


Reana, yang terpenting sekarang kamu bahagia dengan keputusanmu, apapun itu alasannya" ucap Alika mendo'akan Reana.


Alika memeluk Reana, mata mereka berkaca-kaca, segera Alika meminta pamit untuk keluar, terdengar tawa pahit Alika yang berusaha mengerjapkan mata untuk menghilangkan air di matanya.


Reana menatap Alika yang tergesa-gesa keluar, Reana merasa Alika belum bisa melupakan Hasbi. Kemudian menoleh pada Nella yang masih setia menemaninya. Gadis itu ikut tersenyum sedih.


Terdengar ketukan di pintu, terlihat Rommy berdiri tersenyum disana. Reana segera berdiri menghampiri, meninggalkan Nella yang heran dengan sikapnya. Reana berlari mendekati Rommy, melihat ke kanan dan ke kiri.


Dilorong itu tak ada siapapun, Reana tertunduk, lalu mempersilahkan Rommy masuk ke dalam ruangan. Rommy mengangguk tersenyum pada Nella, gadis itu membalas senyuman Rommy sambil mengira-ngira siapa gerangan laki-laki itu.


Barulah Nella mengerti siapa laki-laki yang berbicara dengan Reana.


"Nico menitip salam, dan memberikan ini sebagai kado pernikahanmu" lanjut Rommy menyerahkan sebuah kotak kecil.


Reana meraih kotak itu, membukanya, matanya terpaku menatap kado yang Nico berikan untuknya, kalung pemberian Nico yang telah dikembalikan Reana, kembali ke tangan gadis itu.


Nafas Reana terasa berat gadis itu menutup mulutnya kuat untuk menahan tangisnya. Nella langsung berdiri mendekat memeluk gadis itu. Reana tersedu-sedu berusaha menahan tangisnya.


Rommy menunduk sedih, tak mengerti dengan pandangan yang ada dihadapannya. Terlihat jelas Reana masih mengharapkan Nico, tapi gadis itu justru yang mengusir Nico dari kehidupannya.


"Kak, tenanglah, nanti riasan kakak rusak" bujuk Nella sambil mengusap punggung gadis itu.


Reana merenggangkan pelukannya, menatap kalung dengan liontin berbentuk hati itu. Meminta Nella untuk memasangkannya. Nella berharap semoga dengan liontin yang selalu digenggamnya ini, Reana bisa tegar menjalani prosesi pernikahan.


Rommy pamit keluar, bergabung dengan tamu-tamu yang mulai berdatangan. Reana mengangguk dengan matanya yang masih basah, lalu kembali duduk di kursi panjang. Nella mengusap punggung Reana pelan, dia merasakan kesedihan gadis itu.


"Reana" sapa seorang ibu cantik paruh baya, sambil tersenyum.


Reana mengangkat wajahnya melihat siapa yang menyapa. Reana langsung berlari menghamburkan diri dalam pelukan wanita paruh baya itu, tangisnya pecah.


Gadis itu jatuh bersimpuh, Ibu itu terbawa duduk dilantai, tanpa sadar ikut menangis Nella datang mendekat, gadis itu juga turut menangis mendengar isak tangis Reana yang keluar dari perasaan sedih yang mendalam.


"Maafkan Reana ma, maafkan Reana ma" ucap Reana dalam pelukan mamanya.


Kalimat itu selalu diulang Reana berkali, tak henti-henti. Bu Ridha Lia menggelengkan kepala menunjukkan bahwa Reana tak perlu meminta maaf, bagi ibu Ridha anak gadisnya tidak bersalah.


Ibu Ridha mengajak putrinya duduk di kursi panjang, Nella membantu gadis itu berdiri. Reana masih tak melepaskan pelukannya, tangis Reana masih terdengar pilu, kata minta maaf masih diucapkannya.


Reana memang seperti itu, ibu Ridha sangat mengerti sifat anak gadis itu. Selama menangis Reana tak bisa diajak bicara. Gadis itu terus mengulang kata-katanya.


Nella tak sanggup melihat kesedihan itu, karena Nella tau apa yang sesungguhnya terjadi. Tangis Reana adalah ungkapan perasaan yang tertahan, menanggung bebannya yang tak bisa diungkapkan.


Nella tak sanggup lagi melihat Reana begitu, dia tak ingin tetap diam disitu. Nella ingin melakukan sesuatu, sambil menangis gadis itu berlalu dibalik pintu.

__ADS_1


Ibu Ridha menepuk-nepuk punggung putrinya, tangis gadis itu sudah mulai mereda. Ibu itu menghapus air mata Reana dengan perlahan.


Reana bersandar di dada ibunya sambil memejamkan mata. Diam seperti tidur, namun tangan gadis itu masih memeluk erat pinggang ibunya.


"Mama percaya padamu, mama percaya keputusanmu, karena sejak kecil kamu selalu disiplin terhadap dirimu. Kamu selalu bisa memilih yang terbaik bagi dirimu. Saat papa meninggal, mama bahkan mulai belajar darimu" ucap ibu Ridha menghibur Reana.


"Mama bohong, mana mungkin belajar dari anak yang belum lulus SMP" ucap Reana pelan yang masih memejamkan matanya sambil terus memeluk ibunya.


"Kamu tidak percaya? ingat saat rekan kerja papa mengusir kita dari rumah tanpa diizinkan membawa apapun.


Kamu dengan berani menentang mereka, masuk kedalam dan mengambil baju dan juga buku-bukumu. Mereka menghalangimu tapi anak mama ini terus bertahan.


Ingat kata-kata yang kamu ucapkan? 'Om boleh mengambil semua barang yang om inginkan tapi mempertahankan sesuatu yang tidak om butuhkan agar orang lain tidak bisa memilikinya itu sungguh serakah' , om Danu akhirnya terdiam dan membiarkanmu mengemasi baju dan buku-bukumu, saat itu mama belajar sesuatu darimu, bahwa kita harus memperjuangkan apa yang kita inginkan" cerita ibu Ridha.


"Maafkan Reana ma, maafkan Reana" ucap Reana membuka matanya menatap wajah ibunya.


"Mama tak berhak memberi maaf apapun, mama tidak berhak menyalahkanmu karena mama tidak memberi apapun padamu, kewajiban mama sebagai seorang ibu seharusnya menjagamu, melindungimu, memberi yang terbaik untukmu, tapi mama tidak mampu, hingga kamu harus berjuang sendiri, kamu justru menjadi orang yang melindungi mama, mama tidak berhak menuntut apapun darimu" ucap ibu Ridha yang tak ingin membebani pikiran anaknya.


"Bagaimana mama bisa sampai disini ?" tanya Reana heran, mulai melepaskan pelukannya.


"Beberapa hari yang lalu, saat mama pulang dari sekolah, mama melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumah.


Mama pikir itu mobil pejabat yang berkunjung ke kota itu atau orang kaya yang ingin membeli tanah di daerah kita.


Rasanya mama tidak percaya saat tuan itu memperkenalkan diri sebagai calon menantu mama.


Dia membawa banyak barang, elektronik, perhiasan, uang, mama kira laki-laki itu mungkin salah orang.


Tapi dengan pasti dia berkata ingin menikahi Reana Putri, mama benar-benar terkejut.


Dengan sopan mama menolak semua pemberian itu, karena mama tak ingin terikat dengan semua barang itu.


Mama hanya bisa menerima kebaya ini, karena jika mama menolak maka kebaya ini akan terbuang sia-sia begitu katanya saat itu" ucap Bu Ridha sambil memperlihatkan baju kebaya yang sedang dipakainya.


Sebuah kejutan yang tak disangka-sangka, diam-diam tuan Malvin menemui ibunya dan memohon restu untuk pernikahan mereka.


Reana bahkan tidak berani bercerita, karena takut ibunya tak merestui pernikahannya yang terburu-buru itu.


"Kamu bahkan tidak pernah cerita kalau sedang dekat dengan seorang pria" ucap ibu Ridha heran dengan keputusan anaknya.


Reana tertunduk, dia sendiri tidak yakin dengan hatinya, perasaan terhadap Nico yang memiliki latar belakang yang tidak sebanding dengannya jelas-jelas membuat Reana tidak percaya diri dengan hubungan mereka.


Sementara tuan Malvin, Reana sama sekali tak ada keinginan untuk hidup bersamanya, tapi justru saat ini harus menerima kenyataan bahwa dia akan terikat selamanya dengan laki-laki itu.


"Reana bukannya ingin menutupi ma, tapi Reana merasa tidak yakin" ucap Reana sambil menunduk, mata gadis itu berkaca-kaca.


"Bagaimana kamu bisa memutuskan untuk menikah sementara kamu tidak yakin nak?" tanya Bu Ridha sambil menangkup wajah anak gadisnya.


Reana menunduk menitikkan air mata, dia tidak bisa menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Dan itu sangat menyayat hatinya. Gadis itu kembali menangis tersedu-sedu.


Bu Ridha langsung memeluk anak gadisnya, mencoba menenangkannya.


"Baiklah, baiklah, mama tau kamu sudah memikirkan dengan baik keputusanmu, mama tidak akan bertanya lagi meski keputusan menikah ini terlalu cepat bagimu, mama akan tetap mendukungmu, mama tidak akan bertanya lagi, mama percaya padamu" ucap Bu Ridha tak ingin melihat anaknya bersedih.


"Meski keputusan menikah ini terlalu terburu-buru, mama harus percaya, Reana tidak melakukan perbuatan yang terlarang" ucap Reana meyakinkan ibunya.


Reana tidak ingin ibunya memiliki pikiran buruk, seperti yang dipikirkan orang-orang tentang pernikahannya. Ibu Ridha mengangguk mengiyakan, wajah wanita paruh baya itu terlihat lega.


Seseorang dari wedding organizer meminta Reana bersiap-siap, karena acara pernikahan akan segera dimulai. Reana terlihat panik, tangannya mendadak dingin.


Ibu Ridha segera menenangkan anak gadisnya, membelai lembut pipi gadis itu sambil tersenyum lalu membimbing Reana keluar dari ruangan itu.


Di depan pintu ballroom Reana tertunduk, berusaha mengumpulkan segenap kekuatan dan keberaniannya. Menarik nafas panjang dan mulai melangkah, didepan sana tuan Malvin telah berdiri menunggunya.


Penghulu, wali serta saksi telah duduk mengelilingi meja. tuan Malvin berdiri dihadapan mereka, berharap cemas menanti kedatangan Reana.


Selangkah demi selangkah Reana berjalan mendekat. Semua mata tertuju padanya, berjalan dengan pasrah mengikuti jalan nasibnya.


"Reana..." teriak Nico dengan kerasnya.


Suara Nico terdengar menggema, mengagetkan semua yang ada. Reana berbalik mencari arah suara, terlihat Nico yang selama ini dirindukannya, dengan nafas tersengal laki-laki itu berdiri dihadapannya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2