
Reana kembali tinggal di apartemen Nico. Namun, sekarang dengan memakai pakaiannya sendiri yang dimasukkannya secara sembarangan ke dalam travel bag itu. Reana baru sadar kalau dia tak memasukkan sama sekali pakaian dalamnya.
"Kamu berkemas tetapi lupa membawa pakaian dalam? Kamu sengaja ya? Biar nggak pakai pakaian dalam di depanku?" tanya Nico pura-pura tak tahu kalau Reana berkemas antara sadar dan tidak sadar.
Mendengar itu Reana terperangah dan langsung ingin mencubit pinggang suaminya tetapi Nico mengelak. Reana mengejar laki-laki yang langsung berlari itu. Begitu melihat gadis itu terlihat lelah, Nico pura-pura berlari, begitu mendekat justru laki-laki itu yang menangkap Reana.
Gadis itu kaget ketika tiba-tiba Nico menggendongnya lalu menghempaskannya di sofa. Nico menatap wajah yang begitu dekat dengannya itu. Selalu merasa kasihan saat melihat wajah Reana yang masih membekas tamparan keras itu. Nico ingin bertanya tentang kejadian itu tetapi tak ingin Reana mengingat kejadian itu.
"Aku obati ya? Dulu kamu yang suka obati lukaku–"
"Siapa yang bilang suka?" tanya Reana. Nico langsung menepuk jidatnya.
"Baiklah? Kamu … yang obati lukaku,"
"Oh ya itu baru benar," jawab Reana.
Nico tersenyum, mengecup bibir istrinya lalu melangkah mengambil kotak P3K. Menghembuskan nafas berat saat melangkah kembali ke sofa di mana gadis itu berbaring. Nico duduk di karpet di samping sofa itu.
Nico mulai mengolesi gel anti memar di pipi istrinya. Hatinya terasa perih membayangkan perlakuan Tn. Malvin terhadap istrinya. Rasanya laki-laki itu ingin melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan Tn. Malvin tapi tak tega mengungkit kejadian itu yang pasti akan membuat hati istrinya bersedih.
"Kalau sakit teriak aja ya," bisik Nico.
"Teriaknya seberapa keras?" tanya Reana.
Nico langsung menatap mata istrinya lalu mencubit hidung hidung istrinya. Reana berteriak dengan suara yang lucu mereka berdua tertawa. Reana diminta untuk tenang agar Nico bisa kembali mengoles krim anti memar itu.
Nico terpaku saat menatap memar di leher Reana. Tak cuma satu atau dua, tapi cukup banyak hingga ke pangkal lehernya. Laki-laki itu sedikit menarik kerah blouse yang dipakai Reana. Memar itu semakin banyak terlihat.
"Apa aku harus mengoles juga bekas ciuman menggebu dari bajingan itu?" tanya Nico dalam hati.
__ADS_1
Laki-laki itu langsung berhenti mengoles bekas memar di wajah istrinya itu. Lalu melangkah dengan cepat ke kamar. Begitu kesalnya Nico pada Tn. Malvin hingga menutup pintu kamarnya dengan dibanting. Reana kaget, gadis itu langsung merasa ada sesuatu yang membuat Nico marah.
Gadis itu sama sekali tak menyadari semua bekas ciuman dan gigitan Tn. Malvin masih membekas di tubuhnya. Setiap kali pengusaha sukses itu mencoba menaklukkannya setiap kali itu pula bertambah bekas ciuman atau gigitan dari laki-laki itu.
Hal yang selama ini selalu menjadi incarannya saat bersama Reana adalah leher halus putih seperti susu itu. Lembut seperti marshmellow yang siap digigit. Sebelum mengadakan pesta pernikahan mereka, Tn. Malvin hanya berani menatap leher putih itu tanpa berani melakukan apa-apa. Namun, saat laki-laki itu menyekap Reana di pulau, keinginan untuk melakukan itu menjadi tidak terkendali lagi.
Nico membuka kran wastafel lalu menyipratkan air sebanyak-banyaknya ke wajah dan kepalanya. Nico merasakan kepalanya terasa panas. Melihat kissmark di tubuh istrinya, darah Nico seperti berlomba naik ke puncak kepalanya.
Reana yang tak mengerti datang dan mencoba bertanya pada Nico. Mendapat pertanyaan itu, Nico justru bertambah kesal. Laki-laki itu mencoba menahan kekesalannya tetapi Reana terus saja bertanya.
"Ada apa Kak?" tanya Reana kebingungan melihat perubahan sikap Nico.
"Nggak apa-apa," jawab Nico mengelak dari tatapan Reana.
"Jika ada yang mengganggu pikiran Kakak sebaiknya Kakak cerita atau tanyakan. Jangan sampai timbul salah paham," ujar Reana.
Yang semua itu tentu tak ada jawabannya. Reana sendiri tak inginkan itu. Gadis itu hanya bisa tertunduk, tak lama kemudian air matanya menetes.
"Aku sudah bilang kalau sebaiknya aku pulang ke kampung. Kalau aku pergi Kakak tak akan melihat semua ini," ucap Reana.
"Kalau itu maumu ya sudah sana pergi!" bentak Nico.
Reana yang berdiri di pintu kamar mandi lalu melangkah mundur. Segera mengambil pakaiannya yang masih tersimpan di dalam tas. Gadis itu langsung berlari meninggalkan apartemen itu sambil menangis. Bunyi pintu tertutup dan bunyi alarm kunci aktif membuat Nico tersadar.
Segera berlari keluar dari apartemen itu. Berlari menuju lift tetapi gadis itu sudah tak ada lagi. Laki-laki itu berlari menuruni tangga darurat.
Nggak! Nggak Reana jangan pergi! Maafkan aku. Tolong maafkan aku. Harusnya aku tak membentakmu. Harusnya aku tak pedulikan semua itu. Tidak! Tidak! Bekas ciuman itu tak ada artinya. Bekas itu akan menghilang. Tak seperti bekas peluru yang menembus tubuh mu saat menyelamatkan aku. Reana maafkan aku, tolong jangan tinggalkan aku. Aku mohon! Batin Nico berteriak sambil terus berlari mengejar gadis yang dicintainya itu.
Nico berlari sambil mencari-cari hingga akhirnya melihat Reana yang berjalan sendiri keluar dari kawasan apartemen elit. Kejadian yang pernah terjadi saat Nico salah paham mendengar ucapan Reana pada Jessica. Gadis itu pergi dari apartemen itu dengan berjalan kaki sambil menangis.
__ADS_1
Nico berhenti untuk mengambil napasnya yang sudah terengah-engah. Terus menatap gadis yang berjalan sambil tertunduk. Sekali menghapus air matanya yang telah membasahi hingga ke lehernya.
Jika dulu Nico sempat mengejarnya dengan menggunakan mobilnya, kini Nico hanya berlari. Laki-laki itu mengira gadis hanya berpura-pura pergi. Namun, kenyataannya Reana benar-benar ingin pergi.
Aku tak pantas untukmu. Jadi kita harus berpisah. Harusnya dari dulu aku lakukan ini. Saat Kakak membiarkan aku pergi sendiri keluar dari apartemen. Harusnya Kakak tak perlu mengejarku. Harusnya kita berpisah sejak dulu. Selalu ada halangan yang merintangi kita untuk bersatu. Kita tak ditakdirkan bersama. Tapi percayalah, aku tetap mencintaimu, meski aku bukan istrimu lagi, aku akan tetap mencintaimu. Bagiku, Kakak selamanya adalah suamiku, batin Reana.
Tiba-tiba Nico muncul di hadapannya dan langsung memeluknya. Reana terpaku. Gadis itu merasa ini adalah akhir dari kisah mereka berdua. Sudah sejauh itu Reana melangkah tetapi suaminya belum muncul juga. Reana merasa kalau Nico tak akan mengejarnya lagi untuk kali ini.
Reana merasa masalah yang menimpa mereka kali ini tak bisa membuat Nico menerimanya lagi. Reana juga merasa dirinya tak pantas lagi untuk Nico meski itu dirasakannya sejak dulu. Namun, ternyata apa yang diduganya salah. Nico tetap mengejarnya.
"Maafkan aku sayang! Tolong maafkan aku," ucap Nico sambil memeluk Reana.
"Apa yang Kakak lakukan? Kakak akan menyesali ini, sebaiknya biarkan aku pergi," ucap Reana dengan terisak-isak.
"Nggak Reana, justru membiarkan kamu pergi yang akan membuat aku menyesal. Ayo kita kembali, kita kembali ke apartemen sayang!" ajak Nico.
"Nggak Kak sebaiknya aku pergi. Setiap Kakak melihat tanda itu Kakak akan membenciku. Aku tak sanggup menanggung kebencian Kakak, sungguh! Aku paling takut Kakak membenciku. Biarlah kita berpisah secara baik-baik tanpa ada rasa benci, ya?" tanya Reana.
"Ini keinginanmu?" tanya Nico sambil merenggangkan pelukannya.
Sebuah pertanyaan yang berat. Siapa yang bisa berpisah dengan orang yang dicintai? Siapa yang ingin berpisah dengan seseorang yang selalu dirindukan? Reana tak bisa menjawabnya. Karena jauh di lubuk hatinya bukan itu yang diinginkannya. Namun, demi kebahagiaan Nico dia akhirnya mengangguk kepalanya. Nico kecewa tetapi dia tak peduli. Nico kembali memeluk Reana erat-erat.
"Tapi bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin bersamamu selamanya. Apa pun masalah yang muncul dalam rumah tangga kita, akan kita hadapi dan aku tetap ingin bersamamu. Seperti apa pun beratnya beban masalah yang aku hadapi, aku akan tetap mencintaimu dan kamu tetaplah menjadi istriku," ucap Nico dengan tegas.
Reana memejamkan matanya meresapi setiap kata-kata yang dilontarkan Nico. Sebuah kenyataan yang indah, laki-laki yang dicintainya akan tetap mencintainya dan menjadi suaminya. Reana merasa Nico terlalu cepat berjanji. Sementara mereka tak tahu apa yang akan terjadi nanti.
Nico tak peduli Reana percaya pada ucapannya atau tidak. Namun, dia akan selalu melakukan itu. Setiap kali datang masalah yang mengguncang hubungan mereka, Nico akan mencoba berpegang teguh pada ucapannya yaitu mencintai Reana dan hanya Reana yang akan menjadi istrinya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1