
Setelah mendapatkan kembali kamar kostnya, Reana memutuskan untuk segera memberitahu perihal kepindahannya pada Nico. Gadis itu bahagia karena bisa kembali ke kamar yang sudah begitu menyatu dengan dirinya.
Selain ibu kost yang sangat baik padanya, suasana kekeluargaan yang sangat kuat antara sesama penghuni kost membuat tak ada tempat lain yang senyaman dan sehangat rumah kost itu.
Setelah memastikan Rebecca mengembalikan kamarnya dengan semangat dan hati riang, Reana mencari Nico yang mungkin sejak tadi telah selesai bimbingan skripsi. Gadis itu tertegun saat melihat Nico yang sudah duduk diam menunggunya.
Gadis itu memandang Nico yang hanya duduk tertunduk dibangku. Matanya kosong, diam bergeming. Entah apa yang dipikirkannya, Reana berjalan perlahan mendekati.
"Kak, udah lama disini?" tanya Reana dibuat ceria mencoba bersikap sewajarnya.
Nico hanya melirik sebentar lalu berdiri melangkah ke parkiran. Reana mengikuti dari belakang, ada perasaan berbeda dengan tingkah laku Nico. Tapi gadis itu hanya mengikuti tanpa berani bertanya.
Kenapa kak Nico seperti ini, apa dia marah ? apa dia tau kalau saya diam-diam meninggalkan kampus ? tanya Reana dalam hati.
Nico masuk kedalam mobilnya, tanpa membukakan pintu untuk Reana. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dan itu membuat Reana merasa ada sesuatu yang terjadi. Gadis itu membuka sendiri pintu mobil dan duduk di samping Nico.
Mata gadis itu melirik pada Nico yang masih diam. Laki-laki itu langsung tancap gas bahkan sebelum Reana selesai memasangkan safety belt nya. Reana bertekad menanyakan pada Nico saat sampai di apartemen nanti.
Mungkinkah kak Nico tau kalau saya akan segera pindah ? karena itukah dia merasa marah ? batin Reana bertanya-tanya.
Gadis itu hanya berani melirik Nico tanpa berani bersuara. Dan perjalanan itu berlangsung dengan diam, sementara Nico hanya terlihat sibuk mengemudi.
Sesampai di parkiran apartemen kembali Nico pergi begitu saja, tanpa membukakan pintu mobil untuk Reana seperti yang biasa dilakukannya.
Reana masuk ke dalam apartemen yang pintunya dibiarkan terbuka. Reana memandang Nico yang mengambil minuman ringan di kulkasnya. Meneguk minuman itu sekaligus seperti orang yang sangat kehausan. Reana datang menghampiri.
"Kak, hari ini saya akan kembali ketempat kost lama saya, karena... " ucapan Reana terputus karena Nico pergi begitu saja meninggalkannya duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan LED TV.
"Kak" sapa Reana masih ingin melanjutkan pembicaraan.
Tapi Nico justru melempar remote control dan masuk ke kamar. Reana mengikuti, suka atau tidak suka gadis itu harus bicara pada Nico sekarang.
"Kak, maaf jika saya salah tapi tolong, katakan sesuatu" ucap Reana bingung dengan sikap Nico yang mengabaikannya.
"Apa yang ingin kamu dengar ?
Kamu ingin aku berkata apa?
Ucapan terimakasih karena kau peduli padaku? Terimakasih karena kau mendo'akanku bahagia bersama Rebecca ?
Apa aku terlihat begitu menyedihkan bagimu ? Menurutmu, aku orang yang tidak bisa memperjuangkan kebahagiaanku sendiri ?
Sehingga harus kau yang menentukan dengan siapa aku akan bahagia ?" pertanyaan Nico bertubi-tubi menghujani Reana.
Reana tertegun, gadis itu baru menyadari penyebab sikap aneh Nico dari tadi, laki-laki itu ternyata tersinggung mendengar pembicaraannya dengan Rebecca.
"Bukan begitu maksudku kak" ucap Reana pelan, matanya berkaca-kaca.
"Lalu apa ?
Kamu sudah menghinaku dengan pemikiranmu itu, apa kau tau ?
Kalau kamu nggak suka aku ada di sekitarmu, katakan saja terus terang" teriak Nico menatap lurus ke mata Reana.
Tanpa disadari gadis itu menitikkan air mata, gadis itu tidak menyangka ucapannya pada Rebecca membuat hati Nico terluka.
"Kau di terima lagi di kost-an lamamu ?
Kau ingin segera pergi ?
PERGILAH !!!
Tak ada yang melarangmu, jangan gede kepala serasa aku menahanmu disini" teriak Nico meraih kembali remote control dan memencet tombol-tombol itu asal-asalan, nafasnya memburu karena emosi.
Reana menatap Nico yang menunjukkan wajah kesal, gadis itu sungguh tidak menyangka Nico mendengar pembicaraannya dengan Rebecca. Reana sadar Nico salah paham dengan maksud ucapannya. Tapi gadis itu tidak tau bagaimana cara menjelaskannya.
Reana melangkah perlahan mengumpulkan semua barang-barangnya. Memasukan satu persatu kedalam travel bag miliknya.
Kak Nico tersinggung dengan ucapanku, apa yang harus kulakukan ? pikir Reana sambil mengumpulkan barang-barangnya.
Reana memandang sekeliling kamar yang pernah menghiasi kehidupannya dalam beberapa hari ini. Air mata gadis itu mengalir, dia tidak menyangka kepergiannya meninggalkan apartemen, berakhir dengan cara seperti ini.
Justru sesaat setelah Reana menyatakan ingin mempertahankan Nico. Reana merasa Tuhan tidak merestui keinginannya.
Apa semuanya akan berakhir begitu saja ? setelah ini, apa kak Nico masih mau mengenalku ? apakah kita akan menjalani kehidupan tanpa saling mengenal ? apakah saya sanggup ?
__ADS_1
Air mata Reana menetes dimeja kaca, di mana jadwal kuliah Reana terselip disana. Gadis itu segera menghapus air matanya.
Lalu mengeluarkan gaun dan sepatu yang pernah di berikan Nico, begitu juga ponsel pemberian laki-laki itu. Tak lupa Reana melepas kalung yang baru saja di hadiahkan Nico padanya.
Gadis itu keluar kamar sambil membawa travel bag berisi pakaian dan buku-bukunya. Nico masih diam mematung, gadis itu mendekat ingin berpamitan. Tapi tatapan Nico yang lurus ke depan seakan-akan memberi kesan Nico tidak peduli dengan apapun yang Reana lakukan.
"Saya pamit kak, terimakasih untuk segalanya" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Reana.
Gadis itu bergerak meninggalkan apartemen. Satu-satunya orang yang berjalan kaki keluar dari gedung mewah itu mungkin cuma Reana.
Tertatih berjalan dengan ransel di punggung dant ravel bag yang di tenteng Sekilas Reana berhenti melangkah dan menatap kearah gedung bertingkat itu. Mungkin ini adalah kali terakhir Reana menatap bangunan itu.
Perlahan gadis itu berjalan keluar dari kawasan apartemen elit tempat bernaungnya dalam beberapa hari ini. Matanya menatap buram trotoar yang di laluinya, sebentar-sebentar gadis itu menghapus air matanya.
Apa yang kusesali, perpisahan dengan cara seperti ini ? Bukankah ini lebih baik, aku akan kembali pada kehidupan nyataku, tanpa mimpi dan khayalan yang terlalu tinggi ?
Reana menghentikan langkahnya, dadanya terasa sesak bukan karena berat beban bawaannya tapi dadanya yang tiba-tiba terasa seperti di tekan, perih, seperti terhimpit beban yang sangat berat.
Gadis itu mengeluarkan tangisnya dengan keras berharap beban yang menyesakkan dadanya terbebas. Berharap rasa perih itu hilang seiring tangisannya yang pecah di jalanan yang sunyi. Meski menggeleng sekuat tenaga, gadis itu tak sanggup menghilangkan bayangan kemarahan Nico.
Teringat pada semua kebaikannya, kelembutannya, kasih sayangnya dan perhatian yang selama ini dicurahkannya pada Reana. Dan sekarang, tiba-tiba semua itu harus di relakannya.
Saya harus melupakannya, saya harus bisa melupakannya, jerit hati Reana.
Sementara Nico yang dari tadi hanya mematung, tiba-tiba berlari kearah kamar dan mendapati barang-barang yang pernah di berikannya pada Reana, tersusun rapi diatas meja kaca.
Sial, jerit Nico sambil mengambil ponsel serta kalung Reana.
Memacu mobil sportnya mencoba mengejar Reana. Hingga akhirnya laki-laki itu melihat gadis yang berjalan pelan tertatih. Sebentar-sebentar gadis itu berhenti untuk menghapus air matanya.
Nico menghentikan laju mobilnya, mengambil ponsel dan kalung Reana, berlari kehadapan gadis itu. Meraih tangan Reana dan meletakkan ponsel serta kalungnya di telapak tangan gadis itu.
"Menurutmu aku sudi memakai barang-barang bekasmu. Kalau kau tidak suka buang saja, jangan tinggalkan apapun di apartemenku" ujar Nico hendak kembali ke mobilnya, tapi langkahnya terhenti saat mendengar Reana bicara.
"Maaf kak Nico, tak ada maksudku untuk menghina, bagiku kak Nico adalah langit yang tinggi, hanya bisa di pandang namun tak bisa di gapai, dan saya harus selalu mengingatkan diri saya akan hal itu.
Kebaikan dan kasih sayang kak Nico sering membuatku lupa. Aku harus selalu mengingat posisiku, agar kejadian seperti sekarang ini tidak terlalu menyakitkan bagiku" ucap Reana menunduk dengan air mata yang terus mengalir.
Reana menatap ponsel dan kalung di tangannya. Air mata gadis itu mengalir tak tertahankan. Kata-kata Nico menusuk hati dan perasaannya, perih. Gadis itu menatap Nico yang berjalan kembali ke mobilnya.
Kak Nico tak inginkan apapun yang mengingatkannya padaku. Kak Nico ingin menghapus semua kenangan kami, jerit hati Reana.
Dalam sekejap terbayang kembali saat pertama kali melihat senyum Reana, yang akhirnya tak bisa mengelak saat Nico memilih mencium gadis itu sebagai bayaran atas kekalahan taruhannya.
Gadis itu harus mengalami berbagai macam bully dari orang-orang di sekitarnya, hingga akhirnya jatuh sakit dan mendapat ancaman cuti kuliah.
Semua terjadi karena ulahnya yang tidak berpikir, apa yang dilakukannya membawa perubahan pada kehidupan gadis malang yang sejak dulu terbiasa hidup menyendiri.
Menjalani kehidupan yang berat, membiayai hidup dan kuliahnya sendiri. Dan sekarang, gadis itu harus pergi dengan segala perbuatan dan ucapan yang menyakitkan hatinya.
Pantaskah Reana menerima perkataan kejam itu ? setelah semua yang kulakukan padanya ? jerit hati Nico.
Sial, sial, sial, jerit Nico sambil memukul kemudi.
Dengan cepat Nico keluar dari mobilnya mengejar Reana yang masih berjalan tertatih seorang diri. Nico menghentikan langkahnya tepat di hadapan gadis itu, menatap wajah yang masih basah tersiram air mata.
Nico merengkuh Reana dalam pelukannya. Memeluk gadis itu dengan sangat erat. Reana hanya bisa berdiri lemah, pasrah dengan apapun yang Nico lakukan. Nico membiarkan gadis itu menangis di dadanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, meski kamu meronta aku tidak akan melepaskanmu, meski aku jauh dari gapaianmu, kamu tidak perlu takut, tetaplah di tempatmu, akulah yang akan datang menghampirimu" ujar Nico membelai rambut gadis itu.
Travel bag terlepas dari tangan Reana. Gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Nico, Reana membenamkan wajahnya di dada laki-laki itu.
Kata-kata yang diucapkan Nico justru membuat tangis Reana makin menjadi, antara percaya dan tidak. Tapi gadis itu sangat ingin mempercayainya.
Dia tidak tau apakah ini yang terbaik baginya. Berharap Nico tidak akan pernah berubah, tidak akan pernah mencampakannya seperti yang terjadi hari ini
Nico masih terus memeluknya erat sambil membelai rambut gadis itu hingga akhirnya tangis Reana mereda.
Setelah perasaan gadis itu lega, Nico mengantar Reana menuju tempat kost-nya. Laki-laki itu memandang Reana lama, terbayang rasa sepi yang melanda saat Nico kembali ke apartemen. Gadis itu tidak lagi tinggal bersamanya.
"Masuklah, aku akan pergi setelah kamu masuk" ujar Nico tak ingin kehilangan kesempatan memandang Reana lebih lama.
"Kak Nico yang pergi duluan, saya akan masuk setelah kak Nico pergi" balas Reana mengikuti ucapan Nico.
Nico tersenyum kecil.
__ADS_1
"Aku pasti akan kesepian sendirian disana" lanjut Nico mengungkapkan isi hatinya.
"Bukankah dari dulu memang seperti itu ? Kak Nico memang tinggal sendirian disana ?" tanya Reana mengingatkan.
"Tapi sekarang terasa berbeda, rasanya seperti ada yang hilang" sahut Nico menimpali ucapan Reana.
Gadis itu hanya tersenyum hambar.
"Ya Tuhan... sekarang saja, aku sudah merindukanmu padahal kamu ada dihadapanku" ucap Nico sambil tersenyum memandang lembut mata Reana.
"Kita akan terbiasa lagi kak, saat ini kita hanya kembali pada posisi yang sebenarnya" ucap Reana memberi semangat.
Nico mengangguk, laki-laki itu meraih tangan Reana.
"Maafkan ucapan jahatku, kata-kataku pasti sangat menyakiti perasaanmu.
Aku sungguh tidak tau, kenapa bisa begitu tega mengungkapkan kata-kata kejam seperti itu padamu.
Reana, tolong jangan membenciku" pinta Nico pada Reana.
Reana menggeleng.
"Mungkin saya memang pantas menerima semua ucapan itu, saya.."
Nico langsung memeluk Reana, menghentikan ucapan miris gadis itu. Pelukan Nico membuat Reana tercenung.
"Nggak Reana kamu nggak pantas disakiti, aku yang salah.
Aku terlalu mementingkan perasaanku sendiri, aku sungguh menyesal, maafkan aku Reana" ucap Nico masih memeluk Reana.
"Maafkan aku" ulang laki-laki itu merenggangkan pelukannya lalu menatap Reana.
Reana tersenyum, Nico mengecup kening Reana, membalas tersenyum sambil menghembuskan nafas lega, lalu melangkah ke mobilnya.
Nico melambaikan tangan dan Reana membalasnya, Reana menunggu hingga laki-laki itu dan mobilnya menghilang dibalik tikungan.
Reana kembali menempati kamarnya, kamar itu tidak berubah sama sekali. Rebecca pasti belum sempat menginjakkan kakinya disini.
Reana mengeluarkan pakaiannya dan menyusunnya kembali di lemari. Matanya tertumpu pada gaun yang di belikan Nico. Reana mengambil gaun itu dan duduk di sudut ranjangnya.
Tangannya membelai lembut gaun cantik yang sempat menjadi pakaian yang paling berkesan dalam hidupnya.
Hari itu adalah hari istimewa, hari dimana dia tampil menjadi orang yang berbeda.
Gaun indah dan sepatu cantik, Reana tersenyum mengenang masa-masa itu. Terdengar ketukan di pintu kamarnya. Reana membuka pintu, ibu Yati berdiri disana.
"Kamu sudah kembali" ucap Bu Yati sambil memeluk Reana.
"Terima kasih, ibu sudah mengijinkan saya kembali ke kamar ini" balas Reana sambil memeluk erat Bu Yati, sebulir bening jatuh dari pelupuk matanya.
Bu Yati melepaskan pelukannya, menghapus air yang mengalir dari sudut mata gadis itu.
"Kamu sudah seperti anakku sendiri, kalian semua sudah seperti putri-putri ku sendiri" jawab bu Yati menangkup wajah Reana.
"Selamat kembali Reana" teriak anak-anak kost lain, mereka membuka pintu kamar dan berteriak serentak mengagetkan Reana dan bu Yati.
Semua tertawa.
"Hari ini kita makan malam bersama menyambut kembalinya Reana ke rumah ini" ucap bu Yati bersemangat.
"Asyiiik.. kita masak sama-sama ya bu" jawab seorang gadis yang sangat hobi memasak dan tentunya juga hobi makan.
Bu Yati mengangguk sambil mencubit pipi tembem gadis itu.
"Sekarang kamu istirahatlah, nanti malam usahakan pulang kerja cepat, ya" lanjut Bu Yati sambil berlalu dari kamar Reana.
Reana tersenyum, bu Yati tidak lupa kalau setiap hari Reana harus bekerja di restoran.
Bagaimana dengan kak Nico, hari ini saya harus berangkat sendiri atau menunggu nya ? lagi-lagi Reana memikirkan Nico.
Dan ternyata Nico tidak pernah lupa, terbukti laki-laki itu sudah menunggu di samping mobilnya siap mengantar Reana bekerja di restoran.
Reana tercenung melihat ketekunan laki-laki itu, seperti suatu kewajiban baginya mengantar kemanapun Reana pergi.
Memangnya saya ini siapa ? kenapa kak Nico begitu bertanggungjawab terhadap saya ? bagaimana cara saya membalas kebaikan kak Nico ? jerit hati Reana.
__ADS_1
Nico yang melihat kehadiran Reana langsung tersenyum. Membukakan pintu mobil untuk Reana. Mereka menjalani hari-hari seperti biasa. Reana berdo'a semoga tidak ada lagi masalah yang menghampiri hidup mereka.
...*****...