
Nico menginap di rumah orang tuanya. Selama di sana, pikiran Nico hanya berkutat antara Reana, Reana, Reana. Apa yang dilakukan Reana? Bagaimana keadaan Reana? Marahkah Reana? Sedihkah Reana? Dan semua pertanyaan itu tentu tak bisa ditemukan jawabannya. Nico tak bisa menghubungi istrinya karena ponselnya yang telah hancur.
Saat pulang ke apartemen, Nico langsung menemukan istrinya yang berdiri sambil menangis tertunduk. Nico sangat ingin memeluk wanita yang dicintainya itu. Begitu kasihan menatap bahu yang berguncang karena isak tangisnya. Namun, Nico bertahan membiarkannya hingga Reana tak tahan lalu mengungkapkan isi hatinya.
"Jika aku salah, jika Kakak marah. Lakukan apa saja yang Kakak inginkan. Maki aku, bentak aku, gampar wajahku atau kalau perlu pukul aku. Tapi jangan sampai tidak pulang. Jangan abaikan aku. Jangan matikan hp nya. Aku sangat khawatir," tutur Reana dengan terisak-isak.
Kata-kata itu membuat hati Nico terenyuh. Ditambah lagi melihat Reana yang tak tidur di kamar karena menunggunya. Wanita itu bahkan tidak memakan makan malamnya. Laki-laki itu tak tahan untuk memeluk tubuh yang dicintainya itu. Lalu mengajak Reana beristirahat di kamar. Nico meminta wanita itu untuk tidak masuk kerja, karena khawatir Reana yang kurang istirahat dan tidak makan malam.
Benar saja, menjelang siang, wanita itu demam dan tubuhnya lemas. Nico memanaskan semua masakan yang dihidangkan Reana tadi malam dan memintanya untuk mengisi perutnya. Reana merasa tak enak hati melihat Nico yang menjaganya.
"Aku sudah berjanji akan selalu menjagamu–"
"Kapan?" tanya Reana heran.
"Saat kamu pingsan dan dirawat di rumah sakit karena dehidrasi. Kamu mungkin tak mendengar tapi aku sudah mengucapkannya. Tak mungkin aku ingkari," ucap Nico lalu memaksa menyuapi istrinya itu.
"Aku izinkan Kakak mencabut janji itu. Aku tidak pernah memintanya. Sedikit pun aku tak ingin menyusahkan Kak Nico," jawab Reana.
"Aku tak ingin mencabut janjiku. Karena itu yang memang aku inginkan. Menjagamu adalah hal yang paling ingin aku lakukan," ucap Nico pelan.
Reana bangkit dari posisi rebahnya. Wanita itu memeluk suaminya. Kata-kata Nico membuatnya terharu. Wanita itu menyesal, apa yang dilakukannya telah menyakiti hati Nico. Namun, laki-laki itu tetap teguh pada janji untuk menjaganya.
"Maafkan aku Kak Nico. Aku lalai menjaga hatimu," ucap Reana lemah.
"Aku tahu kamu tidak sengaja. Mungkin juga sikapku yang terlalu berlebihan. Aku terlalu mencintaimu. Aku terlalu takut kehilanganmu. Karena itu rasa cemburuku berlebihan. Padahal jika diingat pengorbananmu untuk menyelamatkan aku, rasanya aneh jika aku masih merasa cemburu," ucap Nico.
Reana tersenyum, laki-laki itu pun tersenyum. Perlahan mengecup bibir manis istrinya. Jika tak mengingat Reana yang sedang lemah, mungkin laki-laki itu menuntut wanita itu untuk melayani hasratnya.
Menjelang sore, Reana keluar dari kamar dan melihat suaminya yang duduk di meja kerjanya menatap layar monitor. Reana melangkah mendekati laki-laki itu. Lalu berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Kakak nggak masuk kerja hari ini?" tanya Reana.
"Aku sedang menjaga istriku yang sedang sakit. Mana mungkin aku masuk kerja," jawab Nico sambil mengusap tangan Reana yang menempel di bahunya.
"Sebenarnya Kak Nico masuk kerja juga nggak apa-apa. Aku nggak sakit kok, cuma butuh istirahat aja," jawab Reana.
Nico menoleh ke arah Reana, hanya diam menatap wanita itu. Reana langsung sadar kalau dia harusnya tak membantah ucapan Nico lagi. Wanita itu langsung berakting seolah sedang meresleting mulutnya.
Melihat itu Nico tertawa. Lalu menyambar pinggang Reana dan menarik wanita itu ke pangkuannya. Reana menatap wajah yang begitu dekat dengannya itu lalu mengalungkan tangannya ke leher Nico.
"Kamu benar-benar tidak sakit?" tanya Nico yang dibalas anggukan oleh Reana.
"Tapi wajahmu pucat dan tubuhmu terlihat lemah," sanggah Nico.
"Itu, mungkin karena aku kurang tidur. Sebentar-sebentar terbangun, takut Kak Nico pencet bel. Saking takutnya, aku sampai bermimpi kalau Kak Nico kritis karena kecelakaan. Setelah mimpi itu aku nangis semalaman. Aku nggak mau tidur lagi. Tapi akhirnya tertidur juga. Waktu terdengar bunyi pintu terbuka, aku langsung bangun. Aku kaget, kepalaku langsung terasa sakit, cuma itu," jelas Reana panjang lebar dengan ekspresi seperti anak kecil yang mengadu.
"Cuma itu?" tanya Nico.
"Sekarang masih sakit kepala?" tanya Nico.
Reana mengangkat wajahnya seperti ini berpikir dan merasa-rasai. Melihat leher putih itu terbuka, Nico langsung menerkam wanita itu dengan ciuman-ciuman di lehernya. Reana menunduk karena geli. Nico beralih ke bahu dan pangkal leher wanita itu. Lalu beralih ke bibir istrinya.
"Masih sakit kepala nggak?" tanya Nico setelah melepas ciumannya.
"Nggak lagi," jawab Reana.
Mendengar itu, Nico bangkit sambil menggendong Reana. Wanita itu menjerit sekilas karena kaget. Nico membawa istrinya ke kamar dan membaringkan istrinya di ranjang. Dalam sekejap Nico telah membuat mereka berdua tak mengenakan apa pun lagi.
"Aku harus segera membuatmu hamil," bisik Nico.
__ADS_1
Jika tak ingin tinggal bersama Mommy, batin Nico.
Berbeda dengan Nico yang memiliki tujuan. Reana justru kaget mendengar bisikan Nico. Karena tak biasanya laki-laki itu berkata seperti itu saat mereka ingin melepas hasrat. Nico hanya melakukannya demi menunjukkan rasa cintanya pada Reana atau saat tak bisa lagi menahan hasratnya.
Kini laki-laki itu mengungkapkan tujuannya meniduri istrinya. Reana merasakan hal yang aneh. Sesaat setelah mereka mencapai puncaknya, Reana langsung bertanya maksud ucapan suaminya.
Nico hanya diam, laki-laki itu justru mempererat pelukan dari belakang itu. Reana pun akhirnya pasrah, Nico tak mau menjawab pertanyaannya. Reana hanya bisa menerima. Nico tak lagi marah padanya, dia sudah sangat bersyukur. Terbukti dengan Nico yang telah kembali mengajaknya bercinta.
"Mommy ingin kita pindah ke rumahnya–"
"Apa?" tanya Reana kaget lalu membalik badannya menghadap ke arah suaminya.
"Karena kamu tak kunjung hamil, Mommy mulai khawatir. Mommy ingin kita berkumpul dengannya," jelas Nico.
"Untuk apa? Agar Mommy bisa menyalahkan aku. Agar setiap saat bisa membujukku untuk membiarkan Kak Nico menikah lagi atau memintaku untuk bercerai–"
"Nggak! Nggak Reana! Jika seperti itu, aku tak akan mau pindah ke sana. Semua ucapanmu tadi tak akan terjadi. Aku tak akan menikah lagi demi apa pun. Aku tak butuh anak yang lahir dari rahim wanita lain. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku juga tak akan menceraikanmu. Jika itu tujuan Mommy mengajak kita tinggal di sana, aku akan menentang keras keinginan Mommy," jelas Nico sambil memeluk tubuh istrinya erat.
Reana tersenyum meski hatinya terasa sakit. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Nico yang terbuka. Menikmati kehangatan tubuh, hati dan ucapan Nico. Nico mengecup puncak rambut wanita itu ketika tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Mereka saling berpandangan.
Belum pernah ada tamu sebelumnya di apartemen ini. Reana pun bersiap-siap bangun untuk melihat siapa yang datang. Namun, Nico menahan Reana untuk tetap di atas ranjang.
"Kamu di sini saja sayang! Biar aku yang lihat," ucap Nico, langsung bangkit dari ranjang dan segera mengenakan pakaiannya.
Nico melangkah ke depan pintu apartemen dengan pikiran yang berkecamuk. Ada firasat kalau ibunya datang untuk melihat keadaan mereka. Setelah ucapan Ny. Cathrina yang ingin mereka pindah ke rumah orang tua Nico itu.
Namun, perkiraan Nico ternyata salah, yang berdiri di depan pintu apartemennya hanyalah seorang kurir yang membawakan buket bunga. Setelah memastikan bunga itu untuk Reana akhirnya Nico menerima karangan bunga yang indah itu.
"Siapa Kak?" tanya Reana pada Nico begitu pintu apartemen itu ditutup.
__ADS_1
Nico yang telah melihat siapa yang mengirim buket bunga itu, langsung melempar buket bunga itu ke tong sampah. Reana kembali melihat tatapan marah dari suaminya. Wanita itu tak berani bertanya lagi tetapi langsung mengambil amplop kecil yang berisi nama pengirim buket bunga itu. Nama Hasbi tertera di sana.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...