Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 67 S2 ~ Ingin Bertemu ~


__ADS_3

Nico melepas Reana dengan berat hati kembali ke tanah air. Sebentar-bentar laki-laki itu memeluknya erat. Pertemuan mereka yang sangat singkat itu memang belum bisa melepas rindu mereka. Dua tahun berpisah tanpa bertatap muka sama sekali. Bahkan melalui sambungan telepon pun Reana tak bersedia.


"Aku nggak bisa tidur setelah video call dengan Kak Nico. Kerjaku semalaman cuma menangis. Besoknya aku mecahin gelas karena nggak konsentrasi. Kalau begini caranya belum sempat tamat kuliah aku sudah dipecat," ucap Reana saat mereka berhubungan lewat sambungan telepon untuk kedua kalinya.


"Tapi kalau tak melihatmu, aku jadi kangen," sanggah Nico.


"Tapi setelah menelpon, aku jadi lebih kangen lagi," balas Reana.


Benar juga, batin Nico.


Akhirnya Nico setuju tak menghubungi Reana tetapi dengan sebuah perjanjian. Meskipun mereka tak saling menghubungi lagi, masing-masing harus tetap setia hingga nanti mereka bertemu lagi. Reana pun setuju, Nico yakin pada cinta Reana padanya. Asalkan tak ada pemaksaan seperti yang dilakukan Tn. Malvin, cinta Reana tak akan berpaling darinya.


Namun, Nico tak selamanya bisa memenuhi janji itu. Saat rasa rindunya tak tertahankan lagi, terlebih saat dirinya sedang libur kuliah, Nico nekat pulang ke Indonesia dan mengintip Reana dengan segala aktivitasnya. Bolak-balik, maju mundur untuk memutuskan, nekat menemui atau hanya menatap Reana dari jauh.


Menemuinya berarti melanggar janji. Kami hanya boleh bertemu saat Reana tamat kuliah nanti. Menelepon saja tak boleh apalagi bertemu, aaahhh, bisa-bisa dia marah besar padaku. Dia selalu bilang, orang yang ditinggalkan itu lebih menderita daripada orang yang pergi. Jika kami bertemu sekarang, aku akan membuatnya menderita saat berangkat nanti. Kalau begitu tak usah menemuinya … Tapi aku kangen, aku ingin memeluknya, batin Nico sambil mengintip Reana dari balik kaca perpustakaan.


Nico pasrah, akhirnya hanya bisa menatap gadis yang dicintainya itu dari jarak jauh. Baik itu saat di kelas, melangkah keluar kampus atau sedang berjalan menuju restoran. Nico seperti seorang penguntit beberapa hari itu. Semua demi menghilangkan rasa rindunya pada Reana.


Daripada dia ngamuk saat aku muncul di depannya lebih baik begini saja, batinnya lalu melangkah meninggalkan jalan depan rumah kost Reana, setelah laki-laki itu yakin Reana telah masuk ke dalam pagar rumah kost nya.


Laki-laki itu kembali ke apartemennya dan tersenyum membayangkan seharian menguntit gadis itu, apa pun kegiatannya. Hal yang paling membuatnya bahagia adalah Reana yang sama sekali tak terlihat akrab dengan laki-laki mana pun. Sedikit geram saat Reana bicara dengan seorang mahasiswa yang menghampirinya. 

__ADS_1


Namun, setelah itu mereka berpisah seperti tak memiliki hubungan apa pun. Berbeda jauh saat Nico yang selalu menunggui Reana, pulang bersama, bercanda bersama di sepanjang jalan menuju parkiran mobil. Melihat itu Nico yakin, gadis yang dicintainya itu masih tetap setia mencintainya.


Saat kembali ke New York hati Nico telah dipenuhi oleh rasa bahagia meski tak bisa memeluk gadis yang dicintainya. Melihat kesungguhan Reana belajar membuat Nico benar-benar tak ingin mengganggu konsentrasinya.


Kini mereka harus berpisah lagi. Masih harus berpisah lagi meski mereka telah direstui untuk menikah. Namun, kali ini Nico tak setuju jika Reana melarangnya menelpon atau melakukan video call lagi.


Reana mengangguk setuju, karena dirinya sendiri juga masih merasakan rindu pada laki-laki itu. Sayangnya Nico akan kembali pada kesibukan pekerjaannya. Berlama-lama tinggal di kediaman Alex Rayne juga tak ada artinya. Reana lebih baik mempersiapkan dirinya sendiri untuk kehidupan selanjutnya setelah wisuda dan untuk persiapan pernikahannya.


Saat tiba di tanah air, Reana segera menemui manager restoran. Mereka menyambut niat Reana yang ingin melamar kerja di bagian manajemen restoran.


"Kak Reana akan pindah ke bagian manajemen? Wah hebat Kak," ungkap Nella kagum.


"Pasti diterima, Kakak sudah mengerti sekali seluk beluk restoran ini. Dulu bahkan Kakak yang mengusulkan untuk mengganti konsep interior restoran setiap cabang agar sesuai dengan lokasinya. Manajemen sangat terkesan dengan ide Kakak saat itu," ucap Nella dengan semangat.


"Makasih Nella atas kepercayaanmu pada kemampuanku, mudah-mudahan bisa jadi nilai tambah bagi manajemen untuk menerimaku," jelas Reana.


"Kalau tak diterima pun dia tak akan ada masalah karena sebentar lagi akan menjadi Nyonya Nico. Bapak yakin Tn. Nico lebih suka kalau Nyonya Nico itu duduk manis di rumah," ucap Gunawan sambil tersenyum.


Semua tertawa dengan candaan manager restoran itu kecuali Reana yang langsung cemberut tak setuju. Reana menamatkan kuliahnya dengan susah payah. Berharap dengan begitu bisa bekerja dan mandiri meski memiliki seorang suami yang mapan. Reana tidak suka mengandalkan orang lain, itu adalah sifatnya sejak dulu.


"Mudah-mudahan pernikahan kalian berjalan lancar. Kalau bisa jangan sampai ditunda. Ibu khawatir jika ditunda ada halangan datang dan kalian akan menyesalinya," ucap Bu Shinta.

__ADS_1


"Baik Bu," jawab Reana sambil tersenyum.


Bu Shinta mengangguk dan mengusap dagu Reana. Di meja besar itu telah terhidang segala macam makanan. Mereka pun merayakan keberhasilan Reana menamatkan kuliahnya sekaligus bersyukur atas niat gadis itu dan Nico yang ingin segera menikah.


Saat menikmati acara kebersamaan dengan karyawan restoran itu, tiba-tiba ponsel Reana bergetar. Gadis itu menatap kontak yang tertera di layar ponsel kemudian tertegun. Tangannya gemetar, meskipun begitu, Reana tetap menerima panggilan telepon itu. Mencoba berpikiran positif dengan apa yang akan terjadi nanti.


"Halo Reana sayang! Bagaimana kabarmu? Dalam waktu dekat kita akan bertemu. Aku harap kamu mau menyambut kepulanganku," ucap Malvin sambil tersenyum melalui sambungan telepon.


Reana tertegun, tak tahu harus berkata apa. Panik, takut, sedih dan heran. Semua bergabung menjadi satu. Reana bahkan merasa ponselnya tiba-tiba terasa berat hingga menjatuhkannya. Nella mengikuti Reana yang memojok untuk menerima teleponnya, merasa heran dan kaget saat melihat ekspresi Reana yang langsung berubah.


"Ada apa Kak?" tanya Nella dan langsung mengambilkan ponsel Reana yang terjatuh.


"Tn. Malvin, dia … dia … dia baru saja meneleponku. Katanya akan segera menemuiku. Bagaimana ini Nella? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Reana langsung panik.


"Kakak jangan khawatir, Tn. Malvin pasti cuma ingin menakut-nakuti. Mana mungkin Tn. Malvin bisa datang menemui Kak Reana, masa tahanannya masih dua tahun lagi," jelas Nella menghibur.


"Kalau begitu, jangan beritahu siapa pun tentang telepon dari Tn. Malvin ini ya. Apalagi pada Kak Nico, aku takut dia akan panik," ungkap Reana.


Meski tak sependapat tetapi Nella akhirnya setuju untuk merahasiakan panggilan telepon yang berasal dari Tn. Malvin. Nella lalu mengajak Reana untuk kembali ke tengah pesta perayaan untuknya agar gadis tak lagi risau dengan panggilan telepon itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2