Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 105 S2 ~ Karena Kebohongan ~


__ADS_3

Reana menerima ajakan makan siang dari Hasbi. Karena menurut Reana, Nico mengenal Hasbi maka tak akan ada masalah. Nico tahu kalau Hasbi adalah ketua kelasnya semasa kuliah. Nico juga tahu kalau mereka bersahabat, bertiga dengan Alika. Meskipun Nico pernah berada dalam posisi bersaing dengan Hasbi, tetapi Reana yakin kalau Nico tahu Hasbi hanya seorang sahabat baginya.


Nico yang ingin memberikan surprise pada istrinya justru mendapat kejutan tak menyenangkan. Hari ini, kontrak kerjasama antara perusahaan dengan perusahaan rekanan berhasil mencapai kesepakatan. Saat diajak merayakan bersama, Nico justru memilih merayakannya bersama istrinya.


Namun, laki-laki itu justru mendapatkan kekecewaan. Nico yang merasa menyesal karena telah beberapa hari ini tak sempat mengajak Reana untuk makan siang, justru mendapati kenyataan istrinya pergi dengan laki-laki yang mencintainya. Dengan wajah tegang menahan kesedihan bercampur amarah. Nico meraih ponselnya lalu menghubungi Reana.


"Kamu di mana? Apa sudah makan siang?" tanya Nico setelah mendengar Reana menyapanya.


"Ya Kak, aku … sedang makan siang sekarang. Kak Nico gimana? Apa sudah makan?" tanya Reana dengan jantung yang berdebar-debar.


Wanita itu tak menyangka Nico akan menelponnya justru di saat dia telah pergi makan siang dengan Hasbi. Jika saja suaminya itu menghubunginya lebih cepat, Reana pasti memilih untuk menunggu suaminya. Kini, entah mengapa, Reana jadi merasa bersalah.


"Aku sudah makan. Kamu pergi dengan siapa?" tanya Nico.


"Dengan … teman."


"Perempuan?" tanya Nico. Hening sejenak lalu terdengar suara Reana mengiyakan.


"Baiklah." Nico langsung memutuskan panggilan teleponnya dan langsung pergi begitu saja dari hadapan sekretaris Reana.


Nisa yang melihat wajah tegang suami dari atasannya itu menjadi serba salah. Nisa merasa takut apa yang diucapkannya pada Nico adalah sesuatu yang harusnya ditutupi. Nico kembali ke kantornya dan menghabiskan waktu dengan termenung.


Bukan hanya karena siapa laki-laki yang menemani Reana saja yang membuatnya emosi. Hasbi, adalah laki-laki yang dibenci Nico karena jelas-jelas memiliki perasaan khusus terhadap istrinya. Namun, kebohongan Riana lah yang membuat hatinya lebih sakit lagi.


"Teganya kamu membohongiku. Apa yang ingin kamu tutupi? Apa sebenarnya kamu juga punya perasaan padanya? Apa sebenarnya kamu mencintainya? Kamu menolaknya karena tak ingin menyakiti hati sahabatmu 'kan? Kamu menolak laki-laki itu karena dia laki-laki yang dicintai sahabatmu. Aku hanya pelarian bagimu. Aku hanya pelarian dari cinta terpendammu padanya. Aku benci padamu! Kamu pembohong! Aku benci padamu Reana! Aku benci padamu!" teriak Nico lalu melempar semua yang ada di atas meja kerjanya.


Nico tertegun lalu menitikkan air mata, menatap ponselnya yang membentur dinding lalu jatuh berantakan di lantai. Sementara Reana seperti mendapat firasat buruk, entah karena rasa bersalah atas kebohongannya. Reana tak merasa makan siangnya menyenangkan lagi. Hasbi menyadari itu dan langsung menanyakannya.

__ADS_1


"Tadi itu suamimu?" tanya Hasbi, mengagetkan Reana yang sedang melamun.


"Ya," jawabnya singkat, berusaha untuk tersenyum.


"Apa dia marah?" tanya Hasbi.


"Nggak," jawab Reana lagi.


Kalau Kak Nico tahu aku berbohong, dia pasti akan marah. Kenapa aku harus berbohong padanya, harusnya aku jujur saja. Harusnya aku tidak berbohong. Kenapa aku lakukan itu? Untuk apa? Batin Reana lalu memejamkan matanya.


Hasbi yang melihat perubahan suasana hati wanita itu hanya membiarkan Reana berusaha menenangkan dirinya sendiri. Hasbi tak ingin mendesak wanita itu untuk menceritakan kegelisahannya. Saat Hasbi mengajaknya kembali ke kantor, segera Reana mengangguk menyetujui.


Wanita itu ingin segera sampai di kantornya. Seolah-olah jika telah berada di ruangannya hatinya menjadi tenang. Namun, begitu mendapatkan laporan dari Nisa, jangankan tenang, Reana justru bertambah panik.


"Apa? Jadi suamiku tadi ke sini?" tanya Reana pada Nisa.


"Oh," ucap Reana langsung memijat kepalanya yang mendadak berdenyut.


"Maaf Bu, saya tidak tahu kalau–"


"Nggak! Itu bukan salahmu. Itu bukan salahmu," ucap Reana lalu kembali masuk ke ruangannya.


Wanita itu duduk terhenyak di kursi kerja. Sudah jelas kalau Nico mengetahui kebohongannya. Reana tertunduk dengan kedua tangannya menopang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. Tanpa disadari air matanya langsung mengalir. Reana tak bisa membayangkan kemarahan dan kesedihan Nico.


Sebaiknya aku telpon saja, mudah-mudahan Kak Nico memaafkan aku. Oh, rasanya sangat takut bertemu dengannya. Aku harus bisa mendapatkan maaf darinya sebelum pulang ke rumah, batin Reana.


Segera wanita itu meraih ponselnya dan menghubungi nomor telepon seluler suaminya. Namun, Reana tak dapat menghubungi laki-laki itu karena tak bisa tersambung. Hati Reana semakin gusar. Wanita itu mengira-ngira apa yang terjadi.

__ADS_1


"Kak Nico sengaja mematikan ponselnya. Dia pasti marah besar. Kak Nico pasti marah besar, oh bagaimana ini, kenapa aku harus berbohong padanya. Apa salahnya jika aku jujur? Nggak! Nggak! Aku nggak berniat membohonginya. Aku cuma tak ingin dia sedih karena aku pergi dengan Hasbi. Mereka tidak saling suka, mereka mungkin saling benci. Aku hanya tak ingin Kak Nico sedih mengetahui aku pergi dengan orang yang dibencinya," ucap Reana bicara pada dirinya sendiri.


Reana mencoba mengalihkan rasa risaunya dengan melakukan pekerjaannya. Namun, sedikit pun wanita itu tak konsentrasi. Pikirannya selalu terbayang pada kemarahan Nico. Apalagi hingga kini wanita itu masih belum bisa menghubungi suaminya.


Apa yang terjadi? Kenapa HP-nya tak bisa dihubungi? Apa yang terjadi pada Kakak. Oh tidak, Tuhan! Tolong lindungi suamiku, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya, batin Reana menangis.


Reana menanti saat-saat jam kerjanya habis dengan perasaan tak sabar. Detik demi detik waktu berlalu terasa begitu lambat. Reana ingin segara sampai di apartemennya dan menunggu suaminya atau mungkin akan nekad mendatangi kantornya.


Nggak, Kak Nico bisa marah kalau aku datang ke kantornya. Suasana hatinya sangat buruk saat ini. Jika aku datang mungkin Kak Nico akan semakin marah, batin Reana yang akhirnya memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen begitu jam kerjanya habis.


Reana menunggu kepulangan suaminya dengan hati cemas. Wanita itu sudah berencana untuk langsung meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Reana sama sekali tak bermaksud membohongi suaminya karena hal lain. Semua itu semata-mata karena tak ingin Nico berpikiran buruk atau bahkan sedih karena Reana yang terlanjur pergi bersama laki-laki yang tidak disukainya.


Sementara Reana cemas menunggu di apartemen, Nico justru melarikan diri ke rumah orang tuanya. Merebahkan diri di kamar saat dirinya masih tinggal bersama orang tuanya sebelum mereka pindah ke luar negeri. Nico tidak ingin bertemu dengan Reana. Laki-laki itu merasakan lelah seharian menahan emosi.


Ingin memaki wanita itu tetapi tak tega. Ingin melampiaskan kemarahannya tetapi tak sanggup menatap wajah Reana yang menangis. Nico terlalu mencintainya hingga memilih menahan sendiri rasa sakit hatinya hingga tertidur. Berharap setelah itu amarahnya mereda dan siap pulang untuk bertemu dengan istrinya.


Di apartemennya, Reana telah menunggu dengan menyiapkan makan malam untuk mereka. Sebentar-sebentar wanita itu menoleh ke arah jam dinding lalu menghembuskan nafas berat. Semakin larut malam, wanita itu semakin khawatir. Begitu lelah menunggu hingga akhirnya wanita itu tertidur di sofa. Reana dikejutkan oleh suara bel yang berbunyi.


Kakak? Kenapa selalu begitu? Kenapa tak buka sendiri password-nya, tanya Reana dalam hati.


Wanita itu segera membukakan pintu. Namun, terkejut karena Rommy yang muncul dan berdiri dihadapannya. Reana heran dan panik saat melihat raut wajah sahabat suaminya itu.


"Reana, ayo ikut aku ke rumah sakit! Nico kritis. Mobilnya kecelakaan!" seru Rommy dengan panik.


Reana terhuyung ke belakang. Firasatnya yang tak enak sejak tadi karena tak bisa menghubungi suaminya, kini telah mendapat jawabannya. Rommy langsung menahan tubuh Reana yang terasa limbung dan hampir terjatuh.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2