Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 45 ~ Peristiwa di Hari H ~


__ADS_3

Nella keluar dari ruang rias pengantin sambil berlari, gadis itu tak sanggup lagi melihat kesedihan Reana. Mendengar isak tangis Reana yang keluar dari perasaan sedih yang paling dalam, ungkapan perasaan yang tertahan.


Gadis malang itu jatuh tersimpuh dipangkuan Ibunya. Reana tak mampu menahan berat beban batinnya yang tak bisa diungkapkannya, meski itu pada ibunya sendiri.


Dan Nella adalah satu-satunya tempat berbagi beban gadis itu.


Sekarang Nella ikut memikul beban itu, masa depan dan kebahagiaan Reana seakan menjadi taruhannya. Apakah hidup bahagia atau hidup menderita yang akan dijalani Reana seakan-akan berada didalam genggaman Nella.


Tak sanggup berdiri dengan perasaan bimbang, mengungkapkan rahasia atau diam selamanya. Nella berlari keluar ruangan mencari udara yang terasa hilang.


Rommy yang hanya berdiri sendirian tanpa teman-teman, memandang sedih diantara tamu-tamu yang datang. Sebentar-sebentar matanya menatap kearah pintu ruang rias Reana. Sejujurnya Rommy ingin tau perasaan Reana yang sesungguhnya.


Rommy terkejut saat melihat Nella keluar dalam keadaan menangis. Suasana pernikahan yang harusnya bahagia, justru berbanding terbalik dengan perilaku Nella.


Rommy merasa ada yang salah dengan keputusan Reana. Gadis itu jelas masih mengharapkan Nico namun memilih menikah dengan laki-laki lain. Bergegas Rommy mengejar Nella yang berlari keluar gedung.


Mendapati Nella yang berdiri menangis bersandarkan dinding. Rommy mendekat ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.


"Maafkan Nella kak Reana, maafkan Nella kak Nico" ungkap Nella pada dirinya sendiri, tak cukup hanya di dalam hati, gadis itu ingin berteriak.


"Kenapa ? kenapa dengan Reana, kenapa minta maaf pada Nico ?" tanya Rommy tiba-tiba.


Nella menoleh kearah Rommy yang berdiri diam-diam dibelakangnya, wajah gadis itu bersimbah air mata. Gadis itu tak sanggup menahan isak dihadapan laki-laki itu. Nella merosot ke lantai, kakinya lemas tak mampu menahan tubuhnya.


Rommy menahan tubuh gadis itu membuat Nella bersandar padanya. Rommy membimbing Nella mencari tempat untuk duduk, menepuk lembut punggung gadis itu.


Rommy ingin tau kejadian sebenarnya, laki-laki itu menenangkan hati Nella, membuat gadis itu merasa nyaman dan percaya pada dirinya. Sebagai sesama teman yang menyayangi Nico dan Reana, perlahan Rommy mengorek kejadian yang sebenarnya.


Nella menceritakan kejadian sesungguhnya, ancaman tuan Malvin yang ingin melenyapkan Nico hingga persetujuan menikah yang harus dipilih Reana untuk menyelamatkannya.


Perasaan Nella terasa lega, namun berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Rommy. Laki-laki itu tidak bisa diam begitu saja, laki-laki itu tak bisa menjadikan rahasia ini terpendam begitu saja.


Bergegas Rommy menelpon Nico, ingin menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Nico harus merebut Reana kembali, Nico harus menyelamatkan Reana.


Namun laki-laki itu tak menjawab teleponnya, Nico dan kedua sahabatnya menutup diri darinya. Karena memilih menghadiri pernikahan Reana, mereka memusuhinya. Rommy bergegas mencari taksi dan pergi menuju apartemen Nico.


Nella menutup mulutnya dengan kedua tangannya, gadis itu panik, dia terlanjur menceritakan semuanya, dia terlanjur mengingkari janjinya pada Reana dan sekarang Rommy tau apa yang terjadi sesungguhnya.


Laki-laki itu langsung meninggalkan Nella yang terpaku, Rommy membuatnya menceritakan semua rahasia dibalik pernikahan Reana. Gadis itu bingung apa yang harus dilakukannya.


Nella bergegas berlari menuju ruang rias Reana, disana Nella masih mendapati Reana yang masih menangis di pelukan ibunya.


Maaf kak Reana, saya telah mengingkari janji, semoga ini adalah yang terbaik, maaf kak, batin Nella sambil memandang Reana yang masih menangis terisak di pelukan ibunya.


Sementara Rommy memaksa supir taksi mempercepat laju mobilnya, sambil terus mencoba menghubungi Nico. Rommy memukul jok mobil dihadapannya setiap kali Nico tak menjawab teleponnya.


Sial, sial, batin Rommy.


Membuat supir taksi gugup, panik dan segera menambah kecepatan agar segera terbebas dari penumpang yang sedang uring-uringan itu.


Rommy berlari seperti kesetanan, langsung menggedor pintu apartemen Nico. Ardi yang sedang kesal pada sahabatnya itu tak menggubris gedoran pintunya.


"Keparat... cepat buka pintunya" teriak Rommy yang biasanya sabar tak bisa lagi menahan diri.


Kata-kata yang tak pernah terdaftar di otaknya sekarang muncul dan keluar begitu saja. Ardi dan Dito terbelalak, tak biasa mendengar ucapan itu keluar dari mulut Rommy yang penyabar.


Begitu pintu apartemen terbuka, Rommy langsung menuju kamar Nico, membuka pintu kamar laki-laki itu dengan kasar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Nico duduk di lantai beralaskan karpet di depan ranjangnya, tertunduk menitikkan air mata. Rommy mengangkat tubuh Nico yang lunglai memaksa laki-laki itu untuk berdiri.


"Kamu harus selamatkan Reana, kamu harus membawanya pergi, kamu harus menggagalkan pernikahannya" teriak Rommy, bulir bening mengalir dari sudut matanya.


Nico memandang heran pada sahabatnya, Rommy menangis, dia mengeluarkan air mata.


"Reana... tidak... tuan Malvin... dia memaksa Reana menandatangani persetujuan menikah. Gadis itu ingin menyelamatkanmu dari ancaman tuan Malvin yang ingin meledakan pesawat yang kamu tumpangi dari New York" ucap Rommy yang bingung bagaimana menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


"Tidak... mana mungkin ada kejadian seperti itu, mana mungkin tuan Malvin bisa berbuat sejauh itu, pasti itu bohong" ucap Nico menggeleng mundur.


"Kamu tidak tau siapa tuan Malvin, kamu tidak tau seberapa besar kekuasaannya.


Kamu tidak tau bagaimana menakutkannya laki-laki itu, sebelum terlambat selamatkan Reana.


Laki-laki yang ada dihatinya cuma kamu" teriak Rommy kesal dengan sikap Nico.


Nico menatap mata sahabatnya, mencari kebenaran ucapannya disitu. Rommy yang merasa marah, panik takut terlambat dan sedih membayangkan nasib Reana dan Nico, tak henti-hentinya menitikan air mata.


Nico menyambar kunci mobilnya dari atas meja, berlari sekencang-kencangnya menuju parkiran dimana mobilnya berada. Dito dan Ardi saling memandang tak percaya, lalu tersadar dan bergegas mengejarnya.


Bertiga mereka berlari ke parkiran, namun mobil Nico sudah tak ada lagi disana. Segera mereka menghalang taksi mengantar mereka menuju lokasi resepsi.


Nico memarkirkan mobilnya sembarangan, berlari sekencang-kencangnya menuju ballroom.

__ADS_1


Tunggu aku Reana, tunggulah aku, jerit hati Nico.


Terengah-engah berdiri dipintu besar ruangan resepsi itu, memandang Reana yang melangkah menuju laki-laki lain.


"REANA !!!" teriak Nico menghentikan langkah Reana.


Suara Nico terdengar menggema, mengagetkan semua orang yang ada. Reana berbalik mencari arah suara, terlihat Nico yang selama ini dirindukannya, dengan nafas tersengal laki-laki itu berdiri dihadapannya.


Tak menunggu lama Nico berlari menuju Reana, menarik tangan gadis itu dan berlari meninggalkan ruangan pesta. Semua terpana, tuan Malvin murka, tak terima pengantinnya dibawa pergi di depan matanya, segera mengejar bersama pengawal-pengawalnya.


Reana yang tak tau apa yang terjadi hanya bisa berlari mengikuti. Ya, dia memang ingin lari, berharap bisa lari, dia memang ingin pergi. Sambil bergandengan tangan mereka terus berlari.


Reana tersenyum sambil berlari, memandang punggung laki-laki itu, laki-laki yang sedari tadi ditunggu-tunggu. Harapannya yang hampir musnah sekarang muncul lagi. Apapun yang terjadi dia tak peduli.


Mobil telah terlihat, semakin lama semakin mendekat.


Sedikit lagi Reana, kita akan pergi dari sini, batin Nico.


Nico menoleh pada gadis yang berlari bersamanya, mata Reana, mata yang bahagia memandangnya. Gadis itu berlari bersamanya dan tersenyum padanya.


"BERHENTIIII !!!" teriak tuan Malvin.


Berlari mengejar bersama para pengawalnya, panik, murka, tak pernah ada orang selancang ini padanya, namun Nico dan Reana telah menjauh, tak mampu mengejar mereka, tuan Malvin kalap, meraih senjata api dipinggang pengawalnya.


"BERHENTI ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU !!!" teriak tuan Malvin kalap sambil memegang senjata.


Reana menoleh kebelakang, terlihat tuan Malvin sedang mengarahkan senjata pada mereka. Firasat Reana buruk.


Kali ini, biarkan aku membalas kebaikanmu, kak Nico, batin Reana.


Lalu melepaskan tangan Nico dan berdiri menghalangi, Nico kaget Reana melepaskan tangannya.


Suara letusan terdengar, Reana terhuyung dan ambruk.


"REANA....." teriak semua orang yang menyaksikan.


Semua terkejut, tamu-tamu berlari-an datang melihat kejadian, bu Ridha jatuh pingsan, Nico panik merangkul Reana.


Laki-laki itu menangis, tangannya tak henti menekan luka, berusaha menahan pendarahan disamping kiri perut Reana, namun derasnya darah masih mengalir disela-sela jari Nico, mewarnai gaun putih Reana.


Bermacam-macam ekspresi terpancar dari wajah para undangan, panik, menangis, gemetar, seseorang tertembak didepan mata adalah peristiwa yang tak ingin disaksikan, menimbulkan trauma yang mendalam, namun masih ada yang bersikap tenang, segera memanggil ambulans.


Tuan Malvin berlari mendatangi gadis yang terbaring lemah dipangkuan Nico, mata Reana sayu memandang tuan Malvin. Laki-laki itu mengusap wajah gadis itu sambil menangis.


Tuan Malvin menggenggam tangan Reana yang berlumuran darah, tak kuat menatap, tuan Malvin tertunduk menangis. Memandang gadis itu saat mendengar suara lirihnya.


"Tuan... tuan... tidak bersalah... jangan menyesal... tuan tidak membunuhku... karena... sejak... menyetujui... pernikahan.. itu... aku... tidak... merasa..kan... hidup lagi... aku... sudah... mati... "ucapan Reana yang terbata-bata, mengulang ucapan tuan Malvin saat memaksa Reana menandatangani surat persetujuan menikah.


Nafas Reana berhembus satu-satu, lelah, lemah namun bibirnya tersenyum.


Reana berharap tuan Malvin tidak menyesal dengan apa yang terjadi. Gadis itu mengerti tuan Malvin memaksa menikahinya karena dia sangat menyayanginya, karena terlalu menyayanginya.


Reana dapat memaklumi perasaan tuan Malvin, menyayangi seseorang hingga ingin memilikinya, ingin selalu bersamanya, ingin selalu membahagiakannya. Reana sangat memahami itu karena gadis itu merasakan hal yang sama, namun pada laki-laki lain.


Hingga tuan Malvin lupa perasaan tidak bisa dipaksakan. Reana tak bisa memaksa dirinya menerima perasaan tuan Malvin. Reana bisa menyerahkan dirinya, namun tidak perasaannya.


Hidup tanpa rasa, berpisah dengan Nico membuat Reana tak bisa merasakan hidup lagi, gadis itu merasa hidupnya telah mati.


Reana terkulai, tuan Malvin berteriak memanggil namanya. Nico memeluk tubuh penuh darah Reana. Seseorang tamu undangan menerobos masuk diantara orang-orang yang mengelilingi. Lalu memeriksa gadis itu.


"Jangan tunggu ambulans, bawa langsung ke rumah sakit" ucapnya segera.


Mendengar itu Nico langsung mengangkat tubuh Reana, berlari menuju mobilnya. Tuan Malvin mengejar namun aparat hukum menahan langkah tuan Malvin, membekuk tuan muda kaya raya itu.


Laki-laki itu berteriak memanggil nama Reana, dia tak rela dijauhkan dari gadis yang dicintainya. Namun tuan Malvin tak bisa melawan, pengawalnya pun tak bisa berbuat apa-apa.


Tuan Malvin telah melakukan pelanggaran hukum, di depan banyak saksi, para pengawal tak bisa melakukan apapun untuk membantunya.


Nico menggendong tubuh Reana diikuti tamu undangan yang baru datang itu. Menaruh Reana di kursi belakang dipangku laki-laki itu yang tak henti menahan luka Reana dengan sapu tangannya guna menutup sumber perdarahan agar Reana tidak kehilangan banyak darah.


"Mudah-mudahan Tuhan bersama kita, mudah-mudahan masih ada kesempatan, hati-hatilah mengemudi" ucap tamu undangan yang umurnya hampir setengah abad itu.


Nico mengangguk, air matanya tak berhenti mengalir, laki-laki itu mengusapnya dengan kasar, dia ingin Reana diberikan kesempatan, dia tak ingin berbuat kesalahan, dia ingin segera sampai ke rumah sakit dengan selamat.


Tamu undangan itu menyarankan rumah sakit terdekat, rumah sakit besar yang terletak di tengah kota tak jauh dari hotel tuan Malvin.


Kemungkinan korban luka tembak untuk bertahan hidup sangat bergantung pada seberapa cepat korban dilarikan ke rumah sakit.


Reana harus segera dilarikan ke unit gawat darurat terdekat dalam waktu sepuluh menit setelah tertembak.


Begitu yang dijelaskan tamu undangan itu, Nico pasrah mengikuti arahannya. Nico yang tadinya telah putus harapan kini memiliki kesempatan menyelamatkan Reana, dia harus hati-hati menggunakan kesempatan ini.

__ADS_1


Namun padatnya lalu lintas menjadi hambatan, hal ini membuat kedua laki-laki itu resah.


Nico melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat terbebas dari macet. Namun dia harus tetap hati-hati, tak boleh ada kesalahan apapun yang membuat mereka terlambat mencapai rumah sakit.


Nico melirik Reana yang semakin pucat.


Bertahanlah Reana, kita akan segera sampai, aku akan berusaha semampuku menyelamatkanmu" batin Nico.


Nico terus mengusap air matanya, dia tak ingin dihalangi oleh air yang selalu muncul dipelupuk matanya, karena harus konsentrasi mengemudikan mobil.


Terdengar tamu undangan itu menelpon seseorang, meminta disiapkan ruang operasi. Nico merasa sangat bersyukur, Tuhan mengirim laki-laki itu sebelum terlambat.


Nico menghentikan mobilnya tetap di pintu masuk Unit Gawat Darurat. Beberapa orang tenaga medis telah siap menunggu. Dengan brankar yang telah di siapkan Reana langsung dibawa ke ruangan operasi.


Sambil berjalan cepat mengiringi brankar, Nico tak lepas-lepas memandang wajah Reana. Sebentar-sebentar laki-laki itu menghapus air matanya. Menyesali perbuatannya, menyesali kejadian ini.


Lagi-lagi Nico menghapus air matanya, tubuh dan hatinya terasa letih. Namun Nico tak mau membiarkan gadis itu seorang diri, dia harus mengikuti kemanapun paramedis membawanya.


"Silahkan dr. Yudhi" ucap seorang perawat mempersilahkan tamu undangan itu memasuki ruang operasi.


"Kamu tunggu disini dan berdo'alah" ucap tamu undangan yang ternyata seorang dokter ahli bedah.


Dokter itu menepuk bahu Nico kemudian berlalu masuk kedalam ruangan yang berjarak sekitar sepuluh meter didepannya. Diiringi beberapa petugas medis yang menjadi anggota tim bedahnya.


Lampu indikator ruang operasi pun menyala. Pertanda tindakan bedah sudah dimulai. Tidak ada lagi yang bisa Nico lakukan selain pasrah, berdoa dan menanti.


Nico duduk menunggu dan mencoba menenangkan diri. Laki-laki itu tertunduk, menangis terisak. Seorang diri merasakan kecemasan ini, berbagai pikiran buruk melintas dibenaknya.


Bagaimana jika terlambat ?


Bagaimana jika Reana tak bisa bertahan ?


Kenapa aku membawanya pergi ?


Kenapa aku tidak membiarkannya menikah dengan laki-laki yang sangat mencintainya ?


Kenapa aku begitu egois ? kenapa ?


Ini dosaku, aku terlalu serakah ?


Serakah karena terlalu menginginkannya ?


Andai saja aku membiarkannya, dia akan bahagia, tuan Malvin akan membuat Reana jatuh cinta padanya?


Tuan Malvin akan melakukan apa saja untuk membahagiakannya ?


Begitu banyak pertanyaan dalam benak Nico. Begitu banyak penyesalan laki-laki itu. Tidak ada satupun yang bisa dijawabnya.


Tak berapa lama kemudian Ardi, Dito, Rommy dan bu Ridha, serta semua orang yang kenal dekat dengan Reana datang ke rumah sakit. Mereka langsung menemui Nico bertanya tentang keadaan gadis itu.


Nico menunjuk ruangan dengan lampu indikator yang masih menyala, dan menjelaskan kejadian selama di perjalanan, ada yang bersyukur karena seorang dokter bedah menjadi tamu undangan di pesta pernikahan itu, hingga dapat mengambil langkah yang cepat dalam mengatasi situasi darurat.


Dan sebagian lagi terdiam, karena semua tidak tau apa yang akan terjadi, semua berharap gadis itu masih bisa bertahan, berharap masih memiliki kesempatan.


Semua berharap cemas, ibu Ridha duduk terdiam dengan air matanya yang mengalir pelan, tatapan matanya kosong.


Rommy mendekati Nico mencoba menenangkannya, menepuk punggung laki-laki itu. Namun Nico langsung berdiri dengan tatapan yang menyalahkan.


"Harusnya aku tidak mengikuti saranmu, harusnya aku membiarkan dia tetap menikah, harusnya aku tidak membawanya pergi" ucap Nico dengan mata yang berkaca-kaca.


Rommy yang disalahkan Nico hanya diam tertunduk, Dito mendekati Nico, menepuk bahu laki-laki itu, mencoba menenangkannya. Bu Ridha menatap tajam pada Nico, dalam hatinya, Bu Ridha menyalahkan laki-laki yang telah mengacaukan pernikahan putrinya.


"Nggak ada yang tau akan terjadi seperti ini, kita semua nggak ada yang nyangka akan sampai seperti ini" ucap Dito yang mencoba membujuk sahabatnya itu.


Nico melepaskan tangan Dito, menghindar mundur dengan terhuyung. Matanya menatap nanar, tubuhnya gemetar.


"Nic.. tenanglah, kalo nggak, yg loe bisa roboh, loe bahkan belum makan dari kemarin" ucap Ardi mengkhawatirkan Nico, sahabatnya itu.


"Kenapa kalian tidak mencegahku, kenapa kalian tidak melarang aku menemuinya" teriak Nico sambil bergerak mundur menjauhi Ardi.


Nico mundur terlalu kuat hingga membuat badannya kembali terhuyung membentur dinding. Semua menatap Nico dengan perasaan yang bercampur aduk, sedih, marah, menyesal terhadap perbuatan Nico yang membawa Reana lari dari pernikahannya.


Namun semua hanya bisa diam karena tidak ada yang tau peristiwa seperti ini bisa terjadi.


Nico mencoba berjalan kearah lain, namun tubuhnya kembali terhuyung, Rommy mencoba menahan tubuh laki-laki itu, namun Nico malah mengibaskan tangan sahabatnya itu.


Nico ingin pergi, dia ingin menjauh dari gadis itu, dia merasa menjadi penyebab terlukanya gadis itu.


Nico merasa menjadi pembawa sial bagi Reana.


Nico merasa menyesal karena pernah mendekatinya.

__ADS_1


Nico berjalan beberapa langkah, namun kemudian terduduk dan tersungkur. Laki-laki itu jatuh pingsan.


...*****...


__ADS_2