Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 128 S2 ~ Harus Bangkit ~


__ADS_3

Reana mengucapkan terima kasih untuk segala pertolongan dr. Yose. Namun, laki-laki itu justru menolak menerima ucapan terima kasih Reana untuk pertolongan di masa lalu. Laki-laki itu meminta imbalan dari Reana sebagai balasannya.


Seperti sedang bercanda karena diucapkan sambil tertawa tetapi tetap saja menjadi beban pikiran bagi Reana. Sepanjang malam berpikir-pikir apa kira-kira yang menjadi permintaan dokter tampan itu. Reana sontak menatap cincin yang terselip di jari manisnya itu. Reana bertekad sebelum berharap terlalu jauh, dia harus memberi tahu kalau dirinya telah menikah.


Apa aku yang terlalu percaya diri, gede rasa. Merasa kalau dia menyukaiku dan ingin menyatakan cinta padaku? Ada-ada aja, mungkin bukan itu maksudnya, batin Reana sambil tersenyum.


Wanita itu beristirahat setelah menyiapkan semua keperluan untuk berjualan besok. Reana terlihat letih hingga Bu Ridha Lia meminta Reana rebah di pangkuannya. Seperti biasa, Bu Ridha Lia akan menyisir rambut putrinya dengan jemari tangannya.


"Apa kamu lelah?" tanya Ridha Lia.


"Sedikit Ma," ucap Reana.


"Jangan bohong! Pasti kamu sangat lelah. Sudah! Besok nggak usah ikut jualan," ucap Ridha Lia.


"Nggak apa-apa kok Ma. Saat berjualan rasanya nggak lelah. Justru saat istirahat ini baru terasa lelahnya. Aku heran kenapa Mama masih bersikeras bekerja berat seperti ini," ucap Reana.


"Kalau telah dilakukan setiap hari. Kalau sudah menjadi rutinitas, rasanya tak selelah yang kamu kira. Duduk-duduk saja di rumah besar Nico justru terasa membuat badan Mama terasa lemas," ucap Ridha Lia.


Mendengar nama suaminya disebut, raut wajah Reana langsung berubah. Terkenang kembali masalah yang menimpanya. Wanita itu kembali mengalirkan air mata.


"Kamu belum siap untuk cerita sama Mama?" tanya Ridha Lia.


"Nggak ada yang perlu dibahas Ma. Semua sudah berakhir," ucap Reana lalu menangis terisak-isak.


Bu Ridha Lia langsung memeluk putrinya yang berbaring di pangkuannya. Bu Ridha Lia sangat ingin bertanya apa yang terjadi sebenarnya. Namun, putrinya seperti belum siap untuk bercerita. Bu Ridha Lia meminta putrinya untuk tidur untuk membantu melupakan kesedihannya.

__ADS_1


Sementara itu Nico menghabiskan waktu dengan termenung. Setelah mencari informasi tentang Reana ke mana-mana, laki-laki itu masih belum menemukan jawaban. Nico menatap alamat yang diberikan Manager Restoran yang masih menyimpan surat lamaran kerja Reana dulu.


Saat itu, Reana melamar bekerja begitu mencapai kota itu. Mencantumkan alamat di kampungnya karena kamar kost yang ingin ditempatinya belum pasti. Nico berencana mencari istrinya itu ke kampung segera.


Meski cukup jauh dan hanya sia-sia jika ternyata Reana tak ada di sana, setidaknya Nico telah mencoba dan tidak menyesal. Jika bertemu dengan Bu Ridha Lia, Nico juga berharap, mertuanya itu mau membantunya untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya.


"Halo Nico," ucap Rommy melalui sambungan telepon setelah Nico dengan enggan menerima panggilan telepon itu.


"Ada apa?" tanya laki-laki itu yang tak ingin memikirkan apa pun tentang perusahaan.


"Apa yang kamu pikirkan? Keputusanmu itu bisa membahayakan perusahaanmu," ucap Rommy.


"Kamu ini aneh ya? Kamu bekerja di perusahaan sana, tapi malah khawatirkan perusahaanku," ucap Nico seenaknya.


"Apa yang terjadi sama kamu? Sejak kamu kehilangan Reana, kamu seperti tak peduli pada perusahaan ayahmu–"


"Tapi itu beresiko Nico. Mereka mungkin tak berminat untuk menguasai perusahaanmu sekarang tapi nanti, siapa yang tahu? Kamu tak punya kekuatan lagi Nico. Kamu terlalu mudah menyerahkan semuanya. Jika kamu tidak berhasil dalam proyek kali ini, kamu bisa kehilangan segala-segalanya. Kenapa kamu tidak berpikir sebelum menyetujui suatu kesepakatan–"


"Sudah cukup! Cukup Ceramahmu! Jangan katakan kalau aku tidak berpikir. Aku sudah puas berpikir setiap hari. Aku capek! Jangan memintaku untuk berpikir lagi! Aku tak peduli kehilangan apa pun. Saat ini aku sudah kehilangan segala-galanya. Aku sudah kehilangan segala-galanya. Segala-segalanya," ucap Nico berulang kali.


Laki-laki itu terdengar sangat stress. Rommy terdiam. Tak berani bicara lagi. Meski Rommy bekerja pada perusahaan lain menjalin kerja sama dengan perusahaan Nico tetapi bagi Rommy perusahaan Nico bukanlah perusahaan saingan baginya. Rommy juga menyayangi perusahaan itu karena bagi Rommy. Nico adalah saudaranya, saudara yang disayanginya. Rommy tak ingin Nico gegabah dalam mengambil keputusan untuk perusahaannya.


Gawat, pikirin Nico kacau. Aku harus segera menemukan Reana sebelum laki-laki itu menghancurkan perusahaannya dengan keputusan-keputusannya yang berpikiran pendek, batin Rommy.


Tekad Rommy sudah bulat untuk segera menemukan Reana. Hanya wanita itu yang bisa mengembalikan akal sehat Nico. Sebelum terlambat. Sebelum perusahaan itu terlanjur hancur.

__ADS_1


Rommy tak bisa berkeluh kesah pada Tn. Alex Rayne. Orang tua itu telah mempercayakan perusahaan itu pada putranya demi bisa beristirahat dari dunia bisnis. Rommy tak tega membebani pikiran orang tua Nico itu.


Sementara itu Reana sibuk membantu ibunya berjualan di kantin sekolah. Setelah dua hari mencoba beradaptasi, di hari ketiga wanita itu sudah lebih terbiasa dan sudah ahli dengan tugas-tugasnya. Bu Ridha Lia sangat terbantu, tetapi di saat jam belajar, di saat siswa-siswi sepi berbelanja. Ibu itu menyadarkan Reana bahwa tempatnya bukan di kantin sekolah itu.


Namun, di sebuah perusahaan seperti yang pernah dicita-citakannya. Reana menitikkan air mata saat mendengar ucapan ibunya itu. Teringat saat ini Reana telah mengundurkan diri dari perusahaan tempat dia bekerja.


Reana harus memupus harapan dan cita-citanya itu demi melarikan diri dari masalah rumah tangganya. Demi menghindar dari Nico yang mengabaikannya. Demi kebahagiaan laki-laki yang dicintainya itu.


"Kembalilah ke kota, kembali pada pekerjaanmu. Tempatmu tidak di sini Nak. Kamu telah berjuang demi mencapai cita-citamu. Susah payah kamu menamatkan kuliahmu. Apa akan kamu buang semua itu dengan hanya menjadi seorang penjual di kantin? Jika seperti ini hasilnya, kamu tak perlu capek-capek kuliah dulu. Tak perlu tinggal terpisah dari Mama. Tak perlu bekerja sebagai pelayan restoran demi membiayai kuliahmu, jika seperti ini akhirnya. Masalah dengan suami jangan sampai menghancurkan masa depanmu. Selesaikan segera. Mama yakin pada cinta Nico padamu," ungkap Ridha Lia.


Reana menggelengkan kepalanya. Justru saat ini Reana pergi karena tak yakin lagi pada cinta Nico. Melihat itu Bu Ridha tak memaksakan Reana lagi menemui suaminya. Namun, tetap tak setuju Reana menghancurkan hidupnya dengan tenggelam dalam kesedihan dan melarikan diri ke kampung.


"Beristirahatlah sebanyak yang kamu butuhkan tapi setelah itu kamu harus berjuang lagi demi masa depanmu. Jangan biarkan dirimu hancur karena rasa kecewamu pada suamimu," ucap Ridha Lia.


Reana menangis sesenggukan. Namun, wanita itu akhirnya mengangguk. Apa yang dikatakan ibunya benar. Reana tak boleh larut dalam kesedihan terlalu lama.


Saat melangkah pulang, melewati gerbang sekolah. Reana dan Bu Ridha Lia dikejutkan oleh dr. Yose yang telah berdiri menunggu mereka. Bu Ridha Lia bahkan menggelengkan kepalanya.


"Aku jadi bernostalgia lagi datang ke sekolah ini," ucap dokter itu sambil meraih barang bawaan Bu Ridha Lia.


"Kenapa sampai datang ke sini segala?" tanya Reana.


"Aku sudah bilang, aku ingin nostalgia," ucap Yose tapi Reana tak percaya.


"Baiklah! Tadinya mau menunggu tempat kemarin tapi setelah aku pikir-pikir kenapa tak langsung ke sini saja menjemput Reana dan Tante," ungkap Yose.

__ADS_1


Reana dan Bu Ridha Lia tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka menuruti dr. Yose yang ingin mengantar mereka pulang. Namun, Reana telah bertekad akan menjelaskan dirinya yang telah menikah dan masih mencintai suaminya agar dokter itu tak salah paham dengan sikapnya yang menerima pertemanan dengan dokter tampan itu.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2