Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 16 ~ Tak Ada yang Ketiga ~


__ADS_3

Nico menemui Nella di restoran karena ingin mengetahui keadaan Reana. Karena kebetulan jam makan siang, Nico bermaksud memesan makan siang sekaligus bicara dengan gadis itu.


Nella yang melihat kedatangan Nico langsung menyambutnya hangat. Setelah mempersilahkan duduk, Nella memberitahu bu Shinta perihal kedatangan Nico. Bu Shinta muncul begitu juga dengan pak Gunawan.


Nico menjadi kurang enak hati dengan penyambutan yang terasa berlebihan. Bu Shinta dan pak Gunawan sangat berterima kasih atas pertolongan Nico terhadap Reana.


"Kami sudah menjenguk Reana" lapor bu Shinta.


"Bagaimana keadaan Reana bu?" tanya Nico penasaran sejak tadi.


"Sudah membaik dan bertekad akan pulang sore ini, hanya saja.." ucapan Bu Shinta terputus.


"Ada apa bu?" tanya Nico penasaran.


"Bagaimana gadis itu akan membayar tagihan rumah sakit? pasti biayanya sangat besar" cerita bu Shinta.


"Kami sudah mengumpulkan dana sebisa kami, tapi entah lah apakah cukup" lanjut bu Shinta.


"Mengenai itu, ibu jangan khawatir, saya sejak awal memang berniat membayar seluruh biayanya, tapi... Reana menolak" ucap Nico kecewa.


"Kami sudah beritahu Reana kalau bantuan dari restoran dan patungan dari karyawan tidaklah banyak, karena itu kami meminta Reana untuk menambahkannya dengan uang tabungannya sendiri" cerita bu Shinta.


"Kak Nico tambahin aja, biar kak Reana hanya membayar sebagian kecil saja" usul dari Nella.


"Bagus juga, karena kalau dibayarkan full, takut nya Reana malah curiga berasal darimana uang itu" sahut bu Shinta.


"Baik bu, saya ikut usulan ibu aja" ujar Nico semangat.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita makan siang bersama" ucap pak Gunawan.


"Baik pak, kalau begitu saya pesan makanan dulu" jawab Nico.


"Ayolah makan bersama kami, kamu sudah kami anggap sebagai menantu keluarga besar ini" candaan pak Gunawan.


Nico tersipu, mereka bergerak bersama menuju meja besar yang biasa digunakan para karyawan untuk makan siang bersama.


Di sore harinya di teras depan rumah sakit, Reana berdiri sambil melihat kesana kemari, seperti ada yang sedang ditunggunya, lalu menundukkan wajahnya kecewa.


"Ayo Reana, kita pulang" ucap bu Shinta yang sudah duduk didalam taksi.


Setelah mendapat telepon dari Reana, bu Shinta langsung bergegas ke rumah sakit membawa serta bantuan biaya perawatan Reana. Setelah membayar tagihan Rumah Sakit mereka berangkat pulang. Bu Shinta hendak mengantar Reana hingga ke rumah kost-nya. Pak Gunawan menyarankan agar Reana istirahat saja dulu dirumah.


Reana masuk kedalam taksi, didalam taksi pun matanya masih melihat ke kanan dan ke kiri, saat taksi melaju barulah Reana duduk sambil menunduk. Bu Shinta hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.


Di kejauhan Nico menatap Reana yang berjalan menuju taksi. Dibalik tiang besar Rumah Sakit, Nico menunggu gadis yang dirindukannya itu keluar dari Rumah Sakit, hatinya tenang melihat Reana yang terlihat sehat.


Reana berjalan menuju kelasnya, sudah dua hari Reana membolos kuliah. Tiba-tiba Alika datang berlari kearahnya.


"Re... kamu dari mana aja, kenapa nggak kuliah, kami ingin menghubungimu tapi nggak ada satupun di kelas ini yang memiliki nomor ponselmu" ujar Alika dengan pertanyaan beruntun, ia terlihat cemas.


Sementara di sisi lain Hasbi hanya bisa menatap Alika dan Reana berbincang. Reana tersenyum melihat perhatian Alika, ada perasaan hangat dan nyaman yang dirasakan Reana melihat Alika yang sudah mau menyapanya.


Sudah lama mereka tidak bertegur sapa, kejadian lalu membuat hubungan mereka menjauh. Tapi hari ini Alika menyapanya, Reana berharap hubungan mereka menjadi lebih baik.


Alika yang tidak melihat Reana selama dua hari merasa heran. Gadis yang terkenal tak pernah membolos kuliah itu bisa tak terlihat batang hidungnya. Alika menanyakan hal itu pada Hasbi, namun Hasbi sendiri tidak mendapat kabar apapun tentang Reana.


Laki-laki itu sendiri merasa khawatir namun hanya di simpan sendiri di dalam hati. Hasbi yang mencoba bertahan di posisinya, akhirnya berjalan menuju mereka.


Laki-laki itu juga penasaran kenapa Reana tidak muncul di kelas. Namun Hasbi hanya berdiri di sisi Reana tanpa berani bertanya atau berkata apapun.


"Aku sakit" ucap Reana singkat.


"Haa... kamu bisa sakit juga?" tanya Alika bercanda, karena se taunya Reana tak pernah sakit apalagi sampai absen.

__ADS_1


"Katanya, orang bodoh tidak pernah sakit, jadi saya pikir, saya ini nggak bodoh-bodoh amat" ucap Reana tersipu.


Alika tertawa, Hasbi tersenyum mendengar ucapan polos gadis itu.


"Ya nggaklah.. mana mungkin kamu bodoh, kamu ini penyelamat kami, jagoan kami di Analisa Numerik" ucap Alika sambil melingkarkan tangannya di bahu Reana.


Reana tersenyum, melihat sikap Alika yang sudah seperti biasa, ramah dan bijaksana, mungkin karena tidak ada lagi rasa marah terhadap Reana.


Reana sangat bersyukur dengan situasi ini, sakit yang di alami Reana membawa hikmah pada hubungan mereka.


"Itu karena kebetulan saya suka mata kuliahnya" jawab Reana.


"Kalau begitu berikan alamat dan nomor ponselmu, jadi jika terjadi sesuatu kami bisa menghubungimu" ujar Hasbi mulai ikut bicara meski ekspresinya masih terlihat canggung.


"Aku tidak punya ponsel" jawab Reana singkat.


Alika dan Hasbi tercengang, di jaman sekarang ini masih ada orang yang tidak memiliki alat komunikasi satu itu.


Barulah mereka menyadari kalau mereka memang tidak pernah melihat Reana memegang ponsel sama sekali.


Akhirnya dosen datang, kuliah pun dimulai. Reana merasa senang, wajahnya berseri dan bibirnya selalu tersenyum. Sambutan Alika dan Hasbi menjadi penyemangat baginya menjalani kehidupan dikampus. Reana seperti orang yang baru terlahir kembali.


Alika dan Hasbi juga merasakan hal yang sama, Reana terlihat tak seperti dulu. Alika dan Hasbi saling berpandangan dan tersenyum. Hal yang tak lagi mereka lakukan, semenjak insiden di depan restoran.


Sementara tak jauh dari kelas Reana, Nico hanya bisa memandanginya, sejak gadis itu datang ke kampus hingga masuk ke kelasnya.


Ardi menepuk bahu Nico, yang tak lepas memandang Reana dari jauh.


"Kenapa nggak disamperin, hanya bisa memendam rindu, ntar lama-lama loe yang masuk rumkit" ledek Ardi.


Nico hanya diam menunduk, dia belum siap menemui Reana. Sejujurnya sejak mendengar ucapan Reana, Nico baru menyadari betapa besar efek dari keinginannya untuk mendekati gadis itu.


Ardi juga terdiam melihat Nico yang tak merespon. Apalagi melihat wajah Nico yang terlihat sedih. Laki-laki itu merasa segala niat baiknya membantu, menjaga dan menyayangi Reana tak menghasilkan sesuatu yang baik.


Dada Nico terasa sesak, tak ada jalan baginya untuk bersama Reana, semua usahanya hanya menambah penderitaan gadis itu. Hal yang bisa dilakukannya hanyalah memandang Reana dari jauh.


Reana mengganti baju seragam restorannya. Jam kerjanya telah habis, Reana sudah bersiap untuk pulang.


bu Shinta tersenyum kearahnya, namun wajahnya terlihat sedikit bingung.


"Ada apa Bu?" tanya Reana penasaran melihat ekspresi bu Shinta.


"Begini nak.. diluar ada tuan Malvin. Sebenarnya saat kamu tidak hadir karena sakit, beliau sudah membooking restoran ini lagi.


Tapi karena kamu tidak datang jadi beliau membatalkannya dan mengganti dengan malam ini. Padahal kami mengira kalau tuan Malvin benar-benar sudah membatalkannya" cerita Bu Shinta panjang lebar.


Pak Gunawan muncul diantara mereka.


"Jika kamu tidak ingin menemuinya, tidak apa-apa. Sejujurnya saya merasa bersalah padamu, karena menyuruhmu menemaninya waktu itu.


Saya merasa seperti sudah menjualmu" ucap pak Gunawan menyesal.


"Nggak apa-apa pak, sudah menjadi tugas kita memberi pelayanan yang terbaik, bapak tidak perlu merasa menjual saya, selama tidak menyalahi norma, saya akan melakukannya" jawab Reana mencoba menenangkan perasaan pak Gunawan.


Apalagi situasi restoran yang sepi belakangan ini. Reana masih merasa bersalah, gadis itu berharap bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk restoran.


Reana berharap kondisi restoran kembali ramai seperti dulu, dan Reana akan melakukan apa saja untuk itu.


Reana melangkah menuju meja tuan Malvin, menemui laki-laki kaya yang ingin bertemu dengannya sejak beberapa hari yang lalu.


Reana melirik ke sekeliling restoran, ruangan sudah sepi. Mungkin sejak tadi pak Gunawan sudah membalik papan tanda open close sehingga tak ada lagi tamu yang datang.


Reana menghela nafas saat tiba dihadapan tuan Malvin. Seorang pelayan pria menarik kursi dan meletakkan serbet dipangkuan Reana, lalu menuangkan air putih untuknya.

__ADS_1


Reana tersenyum pada pelayan yang tak lain adalah teman kerjanya sendiri, pelayan itu membalas senyuman Reana dan berlalu dari tempat itu.


Tuan Malvin yang sejak tadi hanya memandang Reana, sejak gadis berjalan menuju kearahnya hingga duduk dihadapannya, akhirnya membuka suara.


"Kamu tidak masuk kerja beberapa hari yang lalu, ada apa?" tanya tuan Malvin mulai menyantap hidangan yang telah dipesannya.


"Saya jatuh sakit dan tak bisa menghubungi restoran" jawab Reana masih belum menyentuh makanan dihadapannya.


"Jadi mereka tidak bohong" lanjut tuan Malvin.


"Mereka bukan pembohong" jawab Reana, tidak suka dengan tuduhan tuan Malvin.


Makan tuan Malvin terhenti, mengangkat wajahnya memandang Reana, lalu tersenyum.


"Aku sudah meluangkan waktu untuk bertemu denganmu, tapi bagaimana dengan sikapmu, kau terlihat tidak ikhlas menemaniku" ujar tuan Malvin melirik Reana lalu kembali menyantap hidangan dihadapannya.


"Maaf tuan, tapi saya tidak pernah meminta untuk bertemu dan saya yakin tuan juga tau, kalau tidak ada satupun restoran yang memberikan pelayanan menemani tamu" jawab Reana.


Entah kenapa suasana hati Reana menjadi berubah. Tekadnya untuk melakukan pelayanan terbaik yang dijanjikannya pada pak Gunawan kini mendadak sirna.


Mungkin karena penilaian tuan Malvin terhadap orang-orang restoran tadi yang membuat hati Reana menjadi kesal. Dan sifat sombong tuan Malvin yang seakan-akan Reana telah membuang waktunya membuat gadis itu makin bertambah sebal.


Tuan Malvin kembali tersenyum.


"Karena aku tidak menganggap mu pelayan disini, kamu adalah tamu istimewaku" ujar tuan Malvin.


"A-pa maksud tuan?" tanya Reana bingung.


"Aku ingin kamu berhenti dari sini dan bekerja untukku" ucap tuan Malvin.


Reana menghela nafas panjang.


"Saya menemui tuan, justru ingin meminta tuan agar jangan menemui saya lagi" jawab Reana menatap mata tuan Malvin.


Entah kenapa tiba-tiba ucapan itu bisa muncul dari mulut Reana. Gadis itu kesal hingga tidak berpikiran panjang. Ucapan tuan Malvin terasa seperti sebuah perintah baginya, gadis itu berpikir apa hak tuan Malvin memintanya berhenti dari restoran ini.


Namun gadis itu tersadar ucapannya terlalu kasar, gadis itu ingin memperbaiki maksud ucapannya.


"Jadilah seperti tamu yang lainya, datang ketempat ini untuk menikmati makanannya bukan untuk menemui pelayannya" lanjut Reana semakin pelan.


"Aku tidak datang ketempat seperti ini jika bukan karnamu" balas tuan Malvin masih sombong.


Kepala Reana rasanya sudah seperti mau meledak, tuan Malvin jelas-jelas sudah meremehkan restoran tempat dia mencari nafkah ini.


"Kalau begitu saya pastikan, saya tidak akan menemui tuan lagi, ini sudah kedua kalinya, takkan ada yang ketiga" ucap Reana tegas.


Tuan Malvin menghentikan makannya, membersihkan mulutnya lalu berdiri. Reana terkejut dengan sikap tuan Malvin yang bahkan belum menghabiskan makanannya. Reana merasa tuan Malvin sangat marah dengan ucapannya.


Tuan Malvin memberi kode bahwa dia telah selesai. Pak Gunawan yang dari tadi mengamati datang menghampiri.


"Saya sudah selesai" ucap tuan Malvin sambil tersenyum sinis.


Pak Gunawan mempersilahkan, Reana yang melihat pak Gunawan mengantarkan tuan Malvin kedepan, bergerak mengiringi langkah pak Gunawan. Sebagai pelayan yang sesungguhnya, Reana tentu tidak membiarkan seorang Manager Restoran mengantar tamu sendirian.


Pak Gunawan dan Reana berdiri dibelakang tuan Malvin, menunggu mobil mewahnya datang. Saat mobil mewah itu tiba tuan Malvin membalik badan dan berjalan mendekati Reana.


Meraih tangan gadis itu dan meletakkan sebuah kartu nama. Reana melirik kearah kartu nama itu, nama tuan Malvin tertera disitu berikut nama sebuah hotel berbintang lima.


Tangan tuan Malvin masih memegang tangan Reana, lebih mendekat kearah gadis itu, lalu berbisik.


"Kamu tak ingin menemuiku lagi disini, temui aku disana, jadilah simpananku" bisik tuan Malvin ditelinga Reana.


Reana terdiam mematung, tubuhnya membeku. Tak pernah terbayangkan ada seseorang yang berkata seperti itu padanya.

__ADS_1


Tuan Malvin masuk kedalam mobilnya, pak Gunawan mengangguk hormat, mobil itu telah melaju, sementara Reana masih tetap diam seperti batu.


...*****...


__ADS_2