
Reana menatap melalui jendela bus yang ditumpanginya. Sudah cukup lama gadis itu tidak merasakan naik angkutan umum satu ini. Semenjak Reana dibawa paksa oleh pengawal tuan Malvin, Nico tak membiarkan gadis itu pergi kemanapun sendirian.
Reana buru-buru menghapus air matanya yang menetes. Tentu saja dia tidak ingin menjadi perhatian para penumpang bus. Namun hati gadis itu masih terasa pedih melihat dan mendengar hal-hal yang sangat mengejutkannya.
Rebecca, harusnya hari itu kak Nico mencium Rebecca, andai itu terjadi, aku tak akan mengalami semua ini. Kesedihan, kepedihan dan perasaan terhadap kak Nico. Aku tak akan merasakan apapun padanya.
Aku tidak akan memiliki hubungan apapun dengannya. bisik hati Reana masih duduk memandang melalui jendela kaca.
Reana memutuskan untuk segera ke restoran, dia ingin terbebas dari lingkungan kampus yang membuatnya tak bisa bernapas. Setidaknya di restoran dia bisa merasakan suasana yang berbeda.
Reana melangkah ke ruangan ganti, meskipun dia telah meninggalkan kampus tapi perasaannya tak kunjung membaik. Gadis itu duduk sendiri memandangi kotak-kotak lantai keramik diruang ganti.
Perlahan air matanya kembali menetes, Nella yang sejak tadi mengetahui kehadiran Reana yang datang terlalu cepat, sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Namun bu Shinta menghalangi gadis itu mendekati Reana.
Nella berlalu dengan wajah cemberut, sebentar-sebentar gadis itu melongok keruang ganti, melihat apakah Reana sudah siap untuk ditanyai.
Reana mengganti baju hariannya dengan seragam restoran. Gadis itu memutuskan mencari kerjaan yang bisa mengalihkan perasaannya yang sedang sedih. Nella menyambut Reana yang keluar dari ruang ganti.
"Kak Reana kenapa datang lebih cepat ? kenapa datang sendiri, nggak bersama kak Nico ?" ucap Nella yang langsung memberondong Reana dengan pertanyaan yang justru ingin dihindari Reana.
Bu Shinta langsung mencubit lengan gadis itu, Nella meringis, memandang cemberut pada bu Shinta.
"Sakit bu" ucap Nella dengan wajah manja.
"Sabarlah sedikit, biarkan Reana menenangkan diri dulu. Dia datang lebih cepat karena ingin lari dari masalahnya, tapi kamu justru membuat dia tambah bete, kalau dia pergi lagi gimana ?
Nanti kalau perasaannya udah baikan kamu bisa bertanya padanya" jelas bu Shinta.
"Ya bu" jawab Nella, akhirnya bisa mengerti situasi.
"Reana kenapa bu Shinta?" tanya pak Gunawan.
"Entahlah pak, sepertinya lagi ada masalah" jawab bu Shinta sambil mengangkat bahunya.
Reana memutuskan membantu bu Nani, janda gemuk beranak dua itu terlihat sibuk mengumpulkan sampah sayuran dan sampah bahan-bahan masakan yang menumpuk di bak sampah dapur.
Dalam sekejap bak sampah itu bisa penuh, para koki yang sibuk menyiapkan bahan dan memasaknya tak mungkin sempat membersihkan semua dalam satu waktu.
Reana membawa plastik berisi sampah itu keluar dan memilahnya. Memasukan satu persatu ke bak sampah yang telah ditentukan. Sampah-sampah plastik kemasan, terpisah dengan sampah sayuran yang masih bisa terurai, begitu juga sampah yang masih bisa didaur ulang.
Reana terlihat sibuk sendiri, setelah pekerjaannya memilah sampah selesai gadis itu duduk dihalaman belakang restoran.
"Kenapa tidak duduk didepan, kamu kan pelayan?" tanya bu Nani yang datang kembali membawa sampah sayuran.
Reana menggeleng, gadis itu justru menghindari hal itu. Menghindari meja restoran yang biasa di duduki Nico saat memesan makanan setelah mengantar atau saat ingin menjemput Reana.
Menghindari pandangannya dari parkiran dimana Nico biasa memarkirkan mobilnya, atau teras dimana Nico biasa menunggunya.
Terbayang senyum laki-laki itu setiap kali melihat Reana keluar dari restoran, menggandeng tangannya dan membukakan pintu mobil untuknya.
Reana mengerjapkan matanya yang terasa berair.
"Hidup ini terlalu singkat nak, bahkan terlalu singkat untuk mencintai" ucap Bu Nani yang tiba-tiba duduk disamping Reana.
"Jika saya tau dia akan pergi, jika saya tau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.
Saya tidak akan pernah menuntut apapun darinya.
Saya akan membiarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan.
Saya akan melakukan apapun yang bisa membuatnya bahagia, meski itu tidak sesuai dengan keinginan saya, meski itu bertentangan dengan kemauan saya, meski itu akan menyakiti saya.
Saya tidak akan pernah marah, saya akan selalu memaafkannya" ucap Bu Nani, matanya berkaca-kaca mengenang suaminya.
Reana tercengang mendengar ucapan Bu Nani. Reana tidak menyangka bu Nani hari ini terbuka padanya. Bu Nani yang biasa sibuk dengan urusannya didapur memang jarang bertemu dengan Reana yang bekerja di bagian depan.
Reana mengelus punggung bu Nani, mencoba memberikan kekuatan untuk ibu-ibu beranak dua itu. Bu Nani tersenyum, merasa berterimakasih atas rasa simpati Reana.
Bu Nani tipe orang yang jarang bicara, namun kali ini dia bisa mencurahkan isi hatinya. Bu Nani merasa Reana gadis baik yang bisa dipercaya, Reana bukanlah gadis yang biasa berbicara sembarangan pada orang lain.
Bu Nani menepuk bahu Reana dan kembali masuk ke dapur restoran melaksanakan kembali tugas-tugasnya.
Memaafkan, kak Nico, kak Rommy, kak Dito dan kak Ardi. Mungkin suatu saat, bisa aku lakukan, tapi sepertinya tidak untuk saat ini, bisik hati Reana.
Reana kembali pada tugasnya sebagai pelayan, sebentar-sebentar Nella melihat perubahan air muka gadis itu. Nella berharap Reana sudah merasa baikan hingga dia bisa mengorek kejadian apa yang menimpa Reana.
Menjelang sore Reana sudah seperti biasa, Nella merasa kalau Reana sudah bisa di dekati. Bu Shinta menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Nella. Rasa penasaran gadis itu sangat tinggi.
Nella mengambilkan kopi latte hangat untuk Reana. Gadis itu menerima dengan senyum manis. Reana tau Nella berbaik hati padanya karena ada maunya. Reana sudah siap bercerita padanya, tentu saja dengan memilah apa-apa yang pantas untuk di ceritakan.
Masalah yang bisa di ceritakan Reana pada Nella adalah tentang gadis tak di kenal yang tiba-tiba muncul di antara Nico dan Reana. Untuk ketiga kalinya gadis itu datang menggoda Nico.
__ADS_1
Nella terlihat begitu serius mendengarkan cerita Reana.
Sering kali gadis itu mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu itu bukan salah kak Nico, kenapa kak Reana marah sama kak Nico ?" tanya Nella tak mengerti.
Reana pun tak tau bagaimana menjelaskannya, mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan gadis itu. Sejujurnya Reana bingung menyusun cerita yang pantas di dengar Nella. Reana tak ingin terlalu mengumbar kisah pribadinya.
Melihat Reana yang hanya diam tertunduk, Nella merasa kalau Reana menyesal dengan sikapnya. Dengan semangat gadis itu memberi saran agar Reana segera memaafkan dan menerima Nico kembali.
Reana hanya tersenyum simpul, Nella berlaku seperti seorang pakar pemberi solusi. Hati gadis muda itu terlihat lega saat Reana seperti mengerti dan menyetujui usulannya.
Jam kerja Reana telah habis, gadis itu bersiap-siap untuk pulang, dengan semangat Nella memberitahu bahwa Nico telah menunggu di depan. Reana berbalik arah, dia belum siap menemui Nico.
Jelas-jelas Reana belum bisa memaafkannya. Reana membuka ponselnya mencari aplikasi jasa antar penumpang. Tanpa sengaja Reana melihat notifikasi pesan yang belum dibuka, semua dari Nico.
Laki-laki itu sudah mengirim pesan hingga tujuh belas kali. Tapi tak satupun dibacanya. Reana mengerjapkan matanya yang berair. Reana melihat Ading yang juga bersiap untuk pulang.
Laki-laki remaja yang duduk dibangku SMA itu terpaksa bekerja paruh waktu sebagai tenaga bantu-bantu di restoran. Dia harus mencari nafkah untuk ibu dan kedua adiknya, menggantikan tugas ayahnya yang belum lama ini meninggal dunia.
Setiap kali melihat pemuda itu Reana selalu teringat akan dirinya.
"Ding, boleh nggak kakak ikut nebeng motor kamu? " tanya Reana, gadis itu tidak berani menggunakan aplikasi jasa antar karena tidak terbiasa.
"Loh bukannya kak Nico lagi nunggu kak Reana diluar ?" ucap Ading heran.
Reana menunduk tak bisa menjawab pertanyaan Ading.
"Ya deh kak, nggak apa-apa kalau kakak mau naik motor butut, cuma kalau kak Nico marah, Ading jangan disalahin ya" ucap Ading, tidak mau memaksa Reana menjelaskan alasannya tak ingin pulang bersama Nico.
Reana tersenyum, mereka pulang melewati jalan samping restoran dimana kendaraan para karyawan terparkir dibelakangnya.
Nico menatap Reana yang pulang berboncengan dengan seorang pemuda tanggung. Jelas terlihat kalau Reana masih belum bisa memaafkannya. Nico berjalan menuju mobilnya.
Merebahkan kepalanya ke jok mobil mewah itu. Bulir bening mengalir dari sudut matanya. Hanya Angela dan Reana yang bisa membuatnya seperti itu.
Andai Nico bisa seperti laki-laki lain, dengan mudah berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Rasanya mungkin tak sesakit itu.
Nico meraih ponselnya, memeriksa pesan-pesan masuk. Tak satupun pesan Nico yang di baca Reana. Setiap kali Nico menelpon, Reana juga tak pernah menjawabnya.
Sampai kapan kamu menjauhiku ? tolong maafkan aku ? beri aku kesempatan, jerit hati Nico.
Laki-laki itu memejamkan matanya, menenangkan hatinya. Berharap semua akan lebih baik nantinya, bulir bening kembali mengalir di sudut matanya.
Keesokan harinya Nico menunggu di depan rumah kost Reana, tapi mereka bilang Reana telah berangkat sejak pagi tadi.
Haruskah seperti ini caramu menjauhiku ?
Seperti ini caramu menghindariku ?
Reana, sudah tak adakah kesempatan untukku ? batin Nico, sambil melangkah gontai ke mobilnya.
Di kampus Reana juga sulit di temui, begitu kelas bubar Reana juga ikut menghilang. Masih seperti sebelumnya, Reana masih belum mau menjawab telepon Nico.
Nico putus asa, sahabatnya Rommy, Dito dan Ardi ikut memberi pengertian pada Reana. Reana masih mau mengangkat telpon dari Rommy, karena perasaan gadis itu terhadap Rommy seperti seorang adik terhadap abangnya.
Pada Rommy gadis itu berdalih sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, karena sebentar lagi mid semester, semua tugas sudah harus terkumpul. Entah itu sebenarnya atau cuma alasan, hanya Reana yang tau.
Hari berganti hari, Reana berjalan mencari-cari, namun Nico tak terlihat. Gadis itu pernah berjanji akan membantu Nico memahami mata kuliah Analisa Numerik. Bahkan berjanji akan datang ke apartemennya.
Meski perasaan gadis itu masih tak menentu, tapi janji tetaplah janji, gadis itu ingin memenuhi janjinya, meski saat bertemu nanti entah seperti apa perasaan mereka.
Tapi Nico justru tak terlihat, sudah dua hari. Rasanya sudah dua hari Reana tak melihat Nico. Gadis itu bertanya pada Rommy tentang keberadaan Nico.
"Kamu nggak tau ?
Nico tidak memberi taumu ?
Nggak mungkin Reana ?
Nico setiap hari menelponmu ?
Mengirim pesan padamu ?
Kamu, benar-benar tidak tau ?
Kemarin lusa, Nico berangkat ke New York menjenguk Daddy-nya yang sakit" jelas Rommy melalui sambungan telepon.
"New.. York ? New York City ? sejauh itu ?" tanya Reana seperti tak percaya pada ucapan Rommy.
"Mmm... kalau dihitung hari ini, berarti udah seminggu Daddy nya di rawat, baru tiga hari yang lalu dia memutuskan berangkat pada penerbangan 17.55 harusnya jam 08.50 tadi pesawatnya udah landing" jelas Rommy.
__ADS_1
Reana tercenung.
Sudah seminggu ?
Sejak seminggu yang lalu Daddy-nya di rawat.
Itu adalah saat-saat gadis tak di kenal itu datang mendekatinya.
Kak Nico bukannya berangkat menemui orang tuanya tapi justru menghiburku karena kelakuan gadis itu, jerit hati Reana sambil menutup wajahnya.
Maafkan aku kak Nico, harusnya aku tak menambah beban pikiranmu, jerit hati Reana.
Reana melangkahkan kakinya pulang ke rumah kostnya. Tak seperti biasanya, hari ini Reana memilih pulang untuk beristirahat, hati dan tubuhnya terasa letih.
Sesampai di kamarnya gadis itu langsung merebahkan diri. Menatap langit-langit kamar, refleksi Nico membayang disitu. Bulir bening menetes dari sudut mata gadis itu. Tak berapa lama kemudian gadis itu tertidur.
Reana terbangun saat hari menjelang sore. Tentu saja gadis itu terlambat sampai di restoran. Niatnya hanya ingin beristirahat sebentar melepas lelah tubuh dan jiwa nya. Tapi Reana terlalu lelah, istirahat sekejap tak cukup untuknya.
Hasilnya sekarang dia harus bergegas menyiapkan diri untuk berangkat kerja. Setengah berlari gadis itu menyusuri trotoar yang biasa dilewati setelah turun dari bus yang membawanya dari rumah kost.
Tidurku terlalu lelap, harusnya tadi tak usah pulang, batin Reana.
Sesampai di restoran Reana langsung menemui pak Gunawan meminta maaf karena datang terlambat.
"Saya terpaksa memotong upahmu Reana, itu konsekuensi yang harus kamu terima" ucap pak Gunawan dengan wajah serius.
Reana tertunduk, bukan karena upahnya yang harus dipotong tapi rasa malu karena tidak disiplin menjalankan tugas.
"Kami mengira kamu sakit, jika sakit, kami masih bisa memaklumi tapi ternyata kamu baik-baik saja, kamu harus memperbaiki kinerjamu" ucap pak Gunawan lagi.
"Maaf pak" hanya itu yang bisa Reana ucapkan, gadis itu pasrah menerima teguran Manager Restoran itu.
Mata gadis itu berkaca-kaca.
"Sudahlah, cukup, tadi saya cuma bercanda, ini pertama kalinya kamu terlambat, selama ini kamu juga banyak membantu tanpa meminta uang lembur, jangan di ambil hati ya" ucap pak Gunawan sambil berlalu.
Nella tertawa dibalik pintu, begitu juga dengan bu Shinta. Nella merasa puas dengan akting pak Gunawan. Semua atas permintaannya untuk mengerjai Reana. Gadis itu meneteskan air mata.
"Saya kira pak Gunawan benar-benar marah" ucap Reana sambil terisak.
Air mata Reana mengalir deras.
"Sudah, sudah, kok jadi nangis gini ? kami cuma becanda" ucap bu Shinta.
Reana tau tangisnya berlebihan, dia tak punya alasan untuk menangis tapi dia sangat ingin menangis.
Teguran pak Gunawan menjadi alasan gadis itu mengeluarkan air matanya karena Reana tak bisa lagi menahannya. Sesungguhnya gadis itu menangisi hal lain.
Setelah jam kerjanya habis Reana bersiap untuk pulang. Ading menawarkan diri untuk mengantar Reana, tapi gadis itu menolak dengan halus. Pada dasarnya gadis itu tak ingin merepotkan siapapun.
Permintaan Reana pada Ading untuk mengantarnya pulang waktu itu hanya untuk membuat Nico berhenti menemuinya. Dan sekarang gadis itu menyesali perbuatannya.
Setiba dikamar kostnya Reana terduduk dibalik pintu. Rasa rindu dan penyesalan membuat gadis itu tak bisa menahan air matanya. Seharian Reana tak henti-hentinya menyalahkan dirinya karena mengabaikan Nico.
Reana mengeluarkan ponsel dari ranselnya. Menyentuh lembut gantungan ponsel berbentuk hati yang selalu mengingatkannya pada Nico.
Perlahan gadis itu membuka pesan-pesan dari Nico yang belum terbaca.
'Reana maafkan aku'
'Reana kamu dimana, aku ingin bicara'
'Reana aku kangen sama kamu'
'Reana tolong beri aku kesempatan'
'Reana'
'Reana'
'Reana'
Pandangan mata Reana semakin kabur, entah berapa banyak pesan yang dibacanya, semua ucapan laki-laki itu membuat air matanya tak berhenti berlinang.
Hingga diakhir pesannya laki-laki itu berkata,
'Reana, aku harus pergi, jaga dirimu, aku akan sangat merindukanmu'
Sampai disitu gadis itu tak mampu lagi sekedar menitikkan air mata, gadis itu menangis terisak.
Maafkan saya kak Nico, maafkan saya, batin Reana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
...*****...