
Nico menjalani hari-hari baru dengan perasaan yang sedikit lega karena istrinya yang tak lagi menggunakan transportasi umum. Reana menggunakan mobilnya sendiri untuk ke kantor. Reana pun menjalani rutinitas dengannya dengan tenang.
Suasana di rumah mertuanya pun tenang. Ny. Cathrina yang melihat sendiri cara hidup Reana sama sekali tak menyinggung masalah mereka yang belum memiliki keturunan. Ny. Cathrina mendengar sendiri dari dokter kandungan kalau kondisi kandungan Reana baik-baik saja karena itu Ny. Cathrina tak bisa menyalahkan Reana lagi.
"Kandungan Reana ternyata sehat dan baik saja, bagaimana ini Dad?" tanya Cathrina pada suaminya.
"Kok malah panik begitu? Bagus kalau sehat dan baik-baik saja. Memangnya Mommy ingin kandungan Reana itu bermasalah?" tanya Alex Rayne.
"Bukan itu Dad. Kalau Reana baik-baik saja, berarti yang bermasalah itu Nico?" tanya Cathrina yang tak rela putranya memiliki masalah kesehatan reproduksi.
Dalam hatinya, Nico adalah putranya yang dibesarkan dengan memberikan segala sesuatu yang terbaik untuknya. Ny. Cathrina tak percaya justru putranya yang bermasalah. Lebih cenderung memilih Reana yang bermasalah hingga lebih mudah mencari jalan keluarnya.
Yaitu mencarikan istri yang lain untuk Nico. Nyonya kaya itu, begitu bangga pada putranya karena setiap saat sahabat-sahabatnya selalu bersedia menyodorkan putri mereka untuk dipersunting Nico. Bisa dikatakan Nico yang menjadi idola, ibunya yang bangga. Namun, rasa bangga itu sekarang tak ada artinya lagi, begitu Nico memilih Reana sebagai pendamping hidupnya.
"Nico juga belum tentu bermasalah," jawab Alex Rayne.
"Kalau Reana tak bermasalah. Nico juga nggak bermasalah, lalu siapa yang bermasalah?" tanya Cathrina makin panik.
"Mommy yang bermasalah karena tidak sabar. Kita ikuti saja, biarkan mengalir seperti air. Sesuatu yang ditunggu-tunggu itu akan terasa semakin lama. Mereka juga kasihan jika didesak terus. Hidup mereka jadi terbebani. Biarkan saja, justru kita harus buat mereka selalu gembira. Ingat! Beban pikiran bisa menimbulkan stress dan stress juga bisa membuat pasangan sulit mendapat keturunan," jelas Alex Rayne.
Ny. Cathrina pasrah. Tak tahu siapa yang harus disalahkan. Untuk mengajak putra memeriksakan diri, Ny. Cathrina pun tak sanggup. Wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu tak sanggup menghadapi kenyataan jika ternyata justru putranya yang bermasalah.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan kandunganmu baik-baik saja?" tanya Nico saat Reana bercerita hari itu ditemani ibu mertuanya ke dokter kandungan.
"Ya. Tak ada masalah," jawab Reana.
__ADS_1
Kalau begitu … akulah yang bermasalah, batin Nico yang langsung panik.
Hati laki-laki itu langsung risau. Nico duduk di sisi ranjang setelah melepaskan pelukannya di tubuh polos istrinya. Laki-laki itu duduk tertunduk dengan kedua tangannya menopang kepalanya yang terasa berat.
"Kakak kenapa? Kakak nggak suka aku baik-baik saja?" tanya Reana sambil bersandar di punggung terbuka laki-laki itu.
"Bukan begitu sayang. Jika kamu baik-baik saja artinya akulah bermasalah …."
"Belum tentu! Kalau ingin lebih pasti, Kakak juga harus diperiksa. Tapi dokter bilang bisa jadi Kakak juga sehat," jelas Reana lalu beralih merebahkan diri di pangkuan laki-laki itu.
Nico tersenyum lalu membelai rambut wanita cantik itu. Reana memeluk pinggang suaminya. Nico membalas memeluk istrinya tercintanya itu.
"Kamu selalu menjadi penghibur hatiku. Kamu wanita yang sangat polos. Jika wanita lain pasti akan timbul kesombongan. Aku juga seperti itu, merasa karena kamu yang harus hamil, maka kamu lah pasti bermasalah. Begitu yakin kalau aku baik-baik saja. Pemikiranku ini sangat egois. Maafkan aku sayang. Reana, jika aku yang bermasalah, apa kamu akan meninggalkan aku?" tanya Nico dengan menghiba.
Nico berterima kasih pada istrinya. Merasa sangat kagum pada kebaikan hati istrinya. Rasanya ingin selamanya memeluk wanita itu dan tak ingin melepaskannya. Rasa khawatir itu kini berbalik padanya.
Jika dulu dengan bangga menyatakan akan tetap memilih Reana, jika istrinya itu dinyatakan bermasalah. Kini rasa bangga itu musnah. Yang timbul justru rasa khawatir dan rasa tak percaya diri.
Namun, Reana tetap tampil menghibur hatinya. Meringankan beban rasa tak percaya dirinya. Dengan berjanji tak akan meninggalkan suami yang dicintainya itu. Reana meminta suaminya untuk bersikap seperti semula dan tetap yakin kalau dia baik-baik saja.
Untuk pastinya aku harus periksakan diri ke dokter tapi rasanya sangat mengerikan. Mengetahui jika ternyata aku yang tak bisa memberikan keturunan. Dengan polosnya Reana memeriksakan diri ke dokter, bagaimana jika seandainya dia bermasalah? Mommy pasti langsung memintanya meninggalkan aku atau setidaknya membiarkan aku menikah lagi, tapi jika aku yang bermasalah, Mommy mungkin akan memintanya untuk tetap setia padaku, batin Nico memikirkan ketidakadilan itu.
Sejak mendengar hasil pemeriksaan itu. Nico menjadi murung. Reana tahu penyebabnya tetapi dia tak ingin mengungkit itu. Reana ingin Nico tahu, bagaimanapun kondisi Nico, Reana akan tetap setia pada suaminya itu.
Perlahan dan pasti, hari demi hari terlewati tanpa ada masalah. Semuanya berjalan dengan damai. Ny. Cathrina tak menuntut Reana untuk cepat hamil lagi. Nyonya itu seperti pasrah, karena Reana tak bisa disalahkan. Hari demi hari berlalu tanpa ada hal yang berarti.
__ADS_1
Seperti hari ini, Reana yang mengetahui suaminya masih berada di kantornya saat jam makan siang, ingin memberi surprise untuk laki-laki yang dicintainya itu. Namun, Reana terkejut saat melihat Rebecca yang keluar dari ruangan suaminya.
"Rebecca?"
"Oh! Kamu di sini? Sudah lama menunggu?" tanya Rebecca.
"Apa urusanmu di sini?" tanya Reana.
"Apa urusanku? Suamimu tidak cerita kalau aku bekerja di sini? Oh ya, rasanya sudah lebih dari dua bulan. Kak Nico tidak cerita padamu? Sepertinya dia ingin merahasiakan aku. Baiklah! Aku kembali dulu. Urusanku dengannya untuk hari ini sudah selesai," ucap Rebecca.
Menyadari ada yang berbincang di luar ruangannya, Nico datang untuk melihat. Laki-laki itu terkejut saat melihat istrinya sedang bicara dengan Rebecca. Salah seorang manager perusahaannya. Namun juga adalah musuh Reana.
"Kenapa dia bisa ada di sini? Kakak menerimanya di sini. Kakak tahu kan? Dia jahat padaku. Dia meledekku karena Kakak sembunyikan dia dariku. Kakak sengaja merahasiakannya padaku. Kenapa? Kenapa? Apa yang Kakak lakukan dengannya?" tanya Reana bertubi-tubi.
"Aku harus jawab yang mana dulu Reana? Aku bingung mendengar begitu banyak pertanyaanmu," ucap Nico panik.
Reana malah beranjak meninggalkan ruangan itu. Nico segera menghalangi jalan wanita yang dicintainya itu. Reana mendorong tubuh laki-laki itu untuk minggir tetapi Nico justru meraihnya dan menenggelamkan wanita itu dalam pelukannya.
"Aku tak ingin merahasiakan dia padamu. Sungguh sayang! Aku hanya bingung bagaimana cara menceritakannya padamu. Bingung bagaimana cara meminta pengertianmu. Ceritanya panjang. Aku akan jelaskan di rumah ya!" ucap Nico lalu merenggangkan pelukannya.
"Nggak usah, rahasiakan saja selama-lamanya," ucap Reana lalu langsung berbalik dan keluar dari pintu.
Dengan sedikit membanting Reana menutup pintu ruangan itu. Membuat Nico hanya diam di tempat sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Nico tahu ini tidak akan mudah. Menjelaskan pada Reana alasan Rebecca bekerja di perusahaan itu mungkin bisa tetapi meminta wanita itu untuk tidak cemburu setiap hari, mungkin susah.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1