
Nico kembali ke kamar di mana Reana sedang menunggunya di sana. Saat masuk Nico tersenyum pada gadis di hadapannya itu kemudian langsung memeluknya. Reana terpaku menerima pelukan dari Nico. Sesaat kemudian tersadar lalu membalas pelukan itu.
Mungkin ini menjadi pelukan terakhir kami, batin Reana.
Merasakan tangan Reana di punggungnya, Nico semakin mempererat pelukannya. Membuat gadis itu seolah-olah tenggelam dalam dadanya.
"Daddy … tetap ingin aku mengambil alih perusahaannya. Daddy juga bilang, tak boleh membuatmu berkorban lagi," ucap Nico masih memeluk erat gadis itu.
Kata-kata Nico membuat Reana melepaskan pelukannya untuk menatap laki-laki yang dicintainya itu. Nico menunggu apa yang akan diucapkan gadis tercintanya. Tapi Reana hanya diam menatapnya dengan tatapan yang risau.
"Aku menceritakan apa yang kamu lakukan untuk melindungiku. Kamu yang mengabaikan keselamatanmu untuk menyelamatkan jiwaku. Mereka sangat terkejut dan memintaku untuk jangan menuntut pengorbanan lagi darimu. Aku tidak boleh membuat hatimu risau dengan pilihan-pilihan yang sulit bagimu," ungkap Nico.
Reana termangu. Sekuat tenaga menahan agar air di matanya tak muncul ke permukaan. Menurutnya, ucapan Nico menunjukkan bahwa sudah cukup pengorbanannya untuk Nico. Nico tak diizinkan lagi memberikan pilihan-pilihan padanya apalagi yang menuntut pengorbanannya. Meskipun itu adalah keinginan Reana sendiri.
Aku tidak boleh lagi berkorban untuk Kakak? Apa orang tua Kak Nico memintaku untuk menyerah? batin Reana bertanya-tanya.
Reana hanya bisa menatap laki-laki yang dicintainya itu dengan tatapan yang semakin nanar. Kemudian gadis itu tersenyum meski terlihat sangat dipaksakan. Bibir yang tersenyum itu terlihat bergetar. Reana seperti telah pasrah. Namun, demi Nico, gadis itu tetap berusaha tersenyum meski terasa berat baginya.
"Aku tak boleh berkorban lagi? Bagaimana kalau Mama bersedia melepas aku tinggal di sini, apa juga tidak boleh?" tanya Reana suara yang tercekat. Nico menggelengkan kepalanya.
"Itu hanya akan membuat hatimu risau. Aku tahu, kamu tidak akan bisa hidup tenang meninggalkan Mama mu sejauh itu," jawab Nico.
"Jadi pernikahan kita batal?" tanya Reana yang tak sanggup menahan lebih lama lagi pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
"Tidak! Siapa yang bilang kita batal menikah–"
"Apa? Tapi … tadi–"
__ADS_1
"Mommy dan Daddy sepakat tak ingin menuntut pengorbanan lebih banyak lagi darimu karena itu mereka memutuskan untuk memindahkan kantor pusat perusahaan ke Indonesia. Aku bisa memimpin perusahaan itu di sana. Tetap bisa menikah denganmu tanpa harus pindah ke sini dan tinggal di sini. Kita tak perlu meninggalkan Mama sendirian di Indonesia," ucap Nico sambil tersenyum dan menangkup wajah calon istrinya.
"Benarkah? Apa ini sungguh-sungguh? Kakak tidak berbohong. Tidak untuk menyenangkan hatiku saja?" tanya Reana. Nico menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Justru Daddy yang mengusulkan ini. Mommy tadinya heran melihat Daddy yang memaksa aku menerima jabatan itu, sama herannya sepertimu. Mommy mengira Daddy ingin memaksaku pindah ke sini dan membuat kita berpisah. Tapi Daddy langsung memutuskan akan memindahkan kantor pusat ke Indonesia. Sayang! Mereka lakukan semua ini demi kamu. Mereka juga sangat menyayangimu–"
"Benarkah?" tanya Reana masih tak percaya.
"Sayang, untuk apa aku bohong?" tanya Nico sambil tersenyum dan langsung membenamkan bibirnya ke bibir manis Reana.
Gadis itu menerima dengan hati bahagia. Rasa tak percaya saat mendengar ucapan Nico tapi itu sebuah berita yang menggembirakan. Nico masih bisa tetap di Indonesia bersamanya, itulah yang terpenting bagi Reana.
"Aku harus berterima kasih pada mereka," ucap Reana langsung hingga membuat Nico kaget.
"Nanti aja," jawab Nico kembali ingin mencium Reana.
"Nanti aja sih. Waktu makan siang aja, aku masih ingin bersama kamu di sini. Kamu nggak tahu, betapa berat beban batinku saat menemui mereka. Kalau aku tadi nggak sarapan, mungkin tadi aku sudah pingsan–"
"Lebay,"
Nico tertawa, tapi yang dikatakannya tidaklah bohong. Masuk ke kamar orang tuanya tadi seperti masuk ke dalam ruang audisi pencarian bakat yang sangat langka terjadi. Kesempatan yang hanya terjadi sekali seumur hidup dan Nico sangat ingin memenangkannya. Apa pun akan dilakukannya agar bisa lolos, kalau perlu tak akan keluar sebelum berhasil.
Jantung deg-degan, dengkul gemetaran, kening keringatan, telapak tangan mendadak dingin dan tenggorokan terasa kering. Namun, saat menatap gadis cantik di hadapannya itu, Nico merasa pantas untuk memperjuangkan Reana. Karena itu Nico masih ingin bersama gadis itu, tak ingin berpisah meski hanya untuk sebentar saja.
Reana pasrah akhirnya membiarkan laki-laki itu memeluknya. Nico seperti menyalurkan rasa lega hatinya pada Reana. Terdengar deru nafas Nico yang teratur berhembus di tengkuk Reana.
"Aku bahagia sayang! Temani aku dulu ya! Aku ingin menikmati rasa lega ini bersamamu," ucap Nico masih memeluk Reana.
__ADS_1
Reana mengangguk, perlahan tangan gadis itu juga mengeratkan pelukannya. Nico menenggelamkan wajahnya di pangkal leher calon istrinya. Menghirup aroma tubuh gadis yang telah merebut perhatiannya sejak pertama kali melihatnya.
Seperti yang dikatakan Nico, saat makan siang, laki-laki itu mengajak gadis yang dicintainya itu bertemu kembali dengan orang tuanya. Karena tak langsung berterima kasih pada kedua orang tua itu, Reana menjadi merasa canggung. Tiba-tiba Reana kehilangan rasa percaya diri dan merasa ragu atas apa yang disampaikan Nico padanya.
"Reana, katanya ingin berterima kasih pada Daddy dan Mommy. Kenapa sekarang tak mengatakan apa-apa sayang?" tanya Nico memancing Reana bicara.
"Aku … begini, Mom … maaf, Nyonya–
"Ada apa Reana?" tanya Alex Rayne sambil tersenyum.
"A-aku … Kak Nico bilang kalau Tuan mengizinkan kami me … me–"
"Ya benar! Kami merestui kalian menikah," jelas Alex Rayne lalu tersenyum.
"Ya, tapi benarkah kami, boleh tetap tinggal di Indonesia?" tanya Reana mulai merasa nyaman berbicara dengan kedua orang tua Nico itu.
"Ya sayang! Kamu tidak harus tinggal di sini. Nico akan menjabat CEO perusahaan kami di Indonesia. Secepatnya kami akan mengurus persiapan pemindahan kantor pusat ke Indonesia," jawab Alex Rayne.
"Terima kasih Dad eh … Tuan, Nyonya!" ucap Reana begitu bahagia hingga tanpa disadarinya telah menganggap kedua orang tua Nico sebagai orang tuanya sendiri.
"Panggil kami seperti Nico panggil kami. Kamu calon istri Nico, kamu juga anak kami sekarang," ungkap Alex Rayne tersenyum.
Reana balas tersenyum lalu menoleh ke arah Nico. Laki-laki itu menggenggam tangan Reana. Gadis itu beralih menoleh ke arah Ny. Cathrina. Terlihat sikap nyonya itu yang biasa saja. Sama sekali tak menolak dan mempermasalahkan cara Reana memanggilnya.
"Baiklah Daddy, terima kasih Daddy. Terima kasih Mommy," ucap Reana begitu bahagia.
Tn. Alex Rayne mengangguk sambil tersenyum, Ny. Cathrina pun tersenyum simpul. Meski tak memperlihatkan sikap yang terbuka. Namun, tatapan matanya pada Reana tak lagi menunjukkan rasa tidak setuju.
__ADS_1
... ~ Bersambung ~...