
Viana mendatangi kantor Tn. Malvin untuk mengembalikan sapu tangan yang digunakan Reana membersihkan rambut dan wajahnya yang disiram. Viana yang tak enak hati seorang nona kaya membersihkan wajahnya, gadis itu ingin mengeringkan sendiri wajahnya yang basah.
Reana yang tak setuju perlakuan manager restoran itu terhadap bawahannya. Membujuk Viana untuk meninggalkan restoran yang tak mau membela karyawan sendiri itu. Tanpa sadar Viana menyimpan sapu tangan bermerk itu ke dalam kantong seragam pelayan.
Saat mengganti seragamnya barulah teringat kalau dia menggunakan sapu tangan itu untuk membersihkan wajahnya. Viana pun bertanya pada bagian reservasi alamat Tn. Malvin dan Reana. Gadis itu pun segera datang ke alamat yang diberikan.
Namun, beberapa kali datang Viana tak dapat bertemu dengan Tn. Malvin. Tanpa diketahuinya, Tn. Malvin telah frustasi akan kehilangan Reana dan memilih meneguk minuman keras untuk menghilangkan kegalauan hatinya. Hari itu, mata kuliahnya di batalkan, mahasiswi kedokteran itu akhirnya memutuskan kembali datang untuk mencari Tn. Malvin.
Viana mengenalkan diri untuk mengingat Tn. Malvin siapa dirinya. Saat Viana menyebut nama Reana, laki-laki itu merasakan emosinya yang semakin memuncak.
"Aku tahu, aku ingat sekarang. Reana membersihkan rambut dan wajahmu dengan sapu tanganku. Sekarang ambillah! Aku tak butuh sapu tangan ini," ucap Malvin.
Laki-laki itu ingin sesuatu apa pun yang berhubungan dengan Reana. Tak membiarkan benda apa pun yang mengingatkannya pada gadis itu terlihat oleh matanya. Viana yang tak tahu apa-apa justru memaksa untuk memberikan sapu tangan itu kepada Tn. Malvin.
Tn. Malvin kesal bahkan melempar sapu tangan itu ke wajah Viana. Kekesalan laki-laki itu membuat mengalami serangan jantung. Stres yang dialaminya dilampiaskan dengan mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Membuat Tn. Malvin mengalami gangguan tidur hingga tak cukup istirahat. Membuat Tn. Malvin tak mampu lagi menahan nyeri di dadanya hingga akhirnya jatuh pingsan.
Viana yang melihat laki-laki itu rubuh dan tergeletak di lantai langsung meminta tolong. Namun, belum ada seorang pun yang datang. Dengan panik gadis itu akhirnya melepas jas dan juga dasi Tn. Malvin untuk memberikan pertolongan pertama pada Tn. Malvin.
Beberapa orang datang dan langsung memanggil ambulans. Namun, Viana tak bisa diam menunggu ambulans datang. Gadis itu segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Tn. Malvin. Viana mendapati Tn. Malvin telah berhenti bernafas. Viana segera melakukan kompresi dada dan pemberian napas buatan.
Viana mulai menekan dada Tn. Malvin sebanyak 30 kali. Melihat tanda-tanda pergerakan atau mulai bernafas. Viana tak melihat kedua tanda itu. Viana membuka saluran napas dengan cara mendongakkan kepala Tn. Malvin, lalu meletakkan telapak tangannya di dahi pengusaha tampan itu. Lalu angkat dagunya secara lembut untuk membuka saluran napas.
Namun, Viana tetap tak melihat Tn. Malvin bernafas. Gadis itu pun segera memberikan napas buatan. Menjepit hidung Tn. Malvin, lalu menempatkan mulutnya ke mulut Tn. Malvin. Memberikan udara dari mulutnya lalu melakukan proses tekan dada sebanyak tiga puluh kali yang diikuti oleh dua kali pemberian napas buatan.
__ADS_1
Hingga akhirnya laki-laki itu kembali menghembuskan nafas. Beberapa orang bawahannya langsung menghembuskan nafas lega. Mereka pun segera membawa Tn. Malvin ke rumah sakit begitu ambulans datang. Tn. Malvin segera mendapat penanganan medis.
"Nona itu memberikan yang melakukan pertolongan pada Tuan. Kami semua sudah sangat khawatir. Tuan sudah tidak bernafas lagi. Jika tidak ada Nona itu mungkin Tuan tidak bisa diselamatkan," jelas personal assistant Tn. Malvin itu.
Tn. Malvin sendiri telah mendapat penjelasan dari dokter bahwa Tn. Malvin bisa terselamatkan karena pertolongan pertama dari gadis itu. Tn. Malvin yang tak suka berhutang budi akhirnya meminta bawahannya untuk mendatangkan gadis penolongnya itu.
"Aku sudah dengar kalau kamu telah menyelamatkan nyawaku. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas jasamu?" tanya Tn. Malvin to the point.
"Apa yang setara dengan nyawa Tuan?" ucap Viana balik bertanya. Tn. Malvin tercenung, tak bisa menjawab.
"Kalau tidak ada? Ya sudah, tidak perlu dibalas, biarkan menjadi jasa saya seumur hidup Tuan. Selama Tuan hidup, saya akan melihat hasil usaha saya. Itu sudah cukup membuat saya bangga. Oh ya, ini sapu tangan Tuan saya kembalikan, saya permisi–"
"Tunggu! Aku … tidak berhutang budi padamu," ucap Malvin.
Ucapan yang langsung membuat langkah Viana terhenti. Gadis itu terperangah. Jelas-jelas dia yang telah membuat Tn. Malvin bernafas lagi. Kini pengusaha tampan itu justru menyangkal usaha penyelamatannya.
"Sudah kewajibanmu menyelamatkan aku. Karena aku mengalami serangan jantung karena kamu yang muncul dihadapanku. Memaksaku untuk menerima sapu tangan itu. Jadi aku tak punya hutang apa-apa padamu. Terima kasih sudah mengingatkan aku penyebab serangan jantungku," jawab Malvin.
Viana tertawa tertahan. Menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya pergi dari ruang rawat inap mewah itu. Belum lagi gadis itu mencapai pintu, Tn. Malvin kembali angkat bicara.
"Tapi aku tak akan membiarkan usahamu sia-sia. Aku akan memberikan pekerjaan padamu dengan gaji yang sangat tinggi. Aku menugaskanmu sebagai perawat khususku–"
"Aku ini calon dokter," ucap Viana sombong.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi kamu belum tamat dan kamu punya hutang banyak pada kampus karena menunggak pembayaran uang semester. Jadi title mu mungkin selamanya hanya ca-lon dokter," jelas Malvin yang langsung mendapat laporan tentang gadis penolongnya itu. Viana tertunduk.
"Aku akan memberikan calon dokter ini gaji dua puluh juta perbulan untuk merawatku. Kamu pasti tahu apa tugasnya," ungkap Malvin.
Mendapat tawaran yang sangat menggiurkan itu akhirnya Viana bersedia menjadi perawat pribadi Tn. Malvin. Viana yakin tugasnya tidaklah sulit. Karena Tn. Malvin bukanlah orang cacat lumpuh. Hanya karena berkursi roda bukannya dia tak bisa berjalan.
Viana merasa tugasnya cukup mudah dan gadis itu tak perlu bekerja keras di restoran yang melelahkan itu. Viana akhirnya bersedia. Tn. Malvin memalingkan wajahnya dan tersenyum. Dalam hatinya jika Viana tak bersedia, dia akan menuntut gadis itu melakukan pemaksaan hingga membuatnya panik dan mengalami serangan jantung.
Tn. Malvin tak perlu melakukan semua itu karena hanya dengan mengingatkan dengan sedikit ancaman, tawarannya sudah cukup membuat Viana bersedia menerima. Mulai detik Tn. Malvin telah menjadi majikannya.
"Aku tak menyangka seseorang dokter akan menjadi perawatku," ucap Malvin seolah-olah merendahkan profesinya.
"Calon!" ucap Viana mengingatkan.
"Oh ya calon," jawab Malvin tersenyum.
Viana terpana, menatap senyum manis pengusaha tampan itu. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya untuk membuyarkan fantasi liarnya. Tn. Malvin mungkin tidak tahu, tapi dia tak akan lupa kalau tadi bibirnya dan bibir laki-laki tampan itu telah menyatu.
...~ Bersambung ~...
Halo pembaca setia Noveltoon.
Sambil nunggu update selanjutnya, mampir juga ke salah satu karya bestie ku yaaa 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak sebagai dukungan buat Author, makasih 🥰