Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 34 ~ Jauh Darimu ~


__ADS_3

"Honey, your son is here" Mrs. Rayne berbisik pada suaminya.


Mr. Alex Rayne perlahan membuka mata.


"Oh.. kamu sudah datang" ucapnya perlahan duduk bersandar.


Laki-laki setengah abad itu lebih pas dikatakan Nico versi tua. Mereka sangat mirip, sama-sama tampan, namun raut wajah tuan Rayne lebih berwibawa. Kematangan emosi dan spikologisnya jauh diatas Nico.


Itu wajar, laki-laki yang menjalani liku-liku kehidupan dengan segudang pengalaman, bertemu dengan berbagai macam karakter manusia, menjadikan dia seseorang yang memiliki wawasan luas dan bijaksana.


Perusahaan keluarga yang berdiri kokoh turun temurun, menjadi tanggung jawab tuan Rayne. Watak yang tegas menjadikannya salah satu pebisnis yang disegani di kota pusat bisnis dan perekonomian Amerika tsb.


Diruangan rumah sakit yang lebih mirip presidential suite hotel berbintang lima ini Daddy Nico dirawat sejak seminggu yang lalu. Kehadiran putra semata wayangnya adalah yang paling diharapkannya.


Terutama bagi Ny. Cathrina Rayne, wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu menghubungi putranya sejak seminggu yang lalu.


"How are you Dad ?" sapa Nico sambil memeluk ayahnya.


"Its fine, i get better" balas tuan Rayne menepuk punggung putranya.


"Bagaimana kuliah mu ?" ucap tuan Rayne balik bertanya.


"Lancar" jawab Nico singkat sambil duduk disamping hospital bed sang ayah.


"Apa sangat sakit?" tanya Nico ingin mengetahui kondisi ayahnya.


"Ooh... Harusnya Daddy sudah bermain golf kemarin, tapi mommy, memaksa Daddy untuk istirahat disini" jawab tuan Rayne.


"Dokter yang menyuruh istirahat, bukan mommy" sahut Ny. Cathrina tak ingin disalahkan suaminya.


Tuan Rayne dan Nico tersenyum.


"Daddy mengalami serangan ditengah meeting, siapa yang tidak khawatir?" lanjut Ny. Cathrina.


Nico mengusap lengan Mommy-nya yang duduk disampingnya, Nico bisa membayangkan betapa panik ibunya saat mendapat kabar ayahnya terkena serangan jantung saat memimpin sebuah meeting.


"Tapi aku sudah membaik sejak tiga hari yang lalu, mommy mu ingin aku bertahan disini, karena kalau bukan begitu kamu tidak akan datang" lanjut tuan Rayne dengan aksen American English yang masih kental.


"I'm sorry Dad" ucap Nico menyesal.


"No... No... Aku sudah bilang jangan paksakan dirimu untuk datang, aku sudah membaik" ucap tuan Rayne.


"Mommy memaksa Daddy tetap disini, agar bisa benar-benar istirahat" ucap Ny. Cathrina dengan bahasa yang lebih lancar.


"Mommy benar, kalau Daddy keluar dari sini, Daddy akan langsung aktif, Daddy nggak akan cukup istirahat" ujar Nico mendukung sang mommy.


Ny. Cathrina tersenyum mendengar dukungan Nico, tuan Rayne menggelengkan kepala.


"Daddy bisa istirahat dirumah" ucap sang ayah bersikeras.


"Tentu bisa, tapi Daddy akan istirahat dengan laptop dipangkuan" balas istrinya.


Nico tersenyum mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Mendengar itu tuan Rayne pasrah, Ny Cathrina mulai meluncurkan serangan kedua. Serangan itu ditujukan untuk Nico.


Ny. Cathrina mendekati putranya, menggenggam tangan anaknya, dengan wajah serius memulai rencananya.


"Kita diundang dalam sebuah jamuan makan malam, mommy ingin kamu berkenalan dengan putri sahabat mommy. She's beautiful, she's smart and elegant" ucap Ny. Cathrina mulai melancarkan serangan pada Nico.


Ouh... Not again, bisik Nico dalam hati.


Tanpa sadar Nico langsung memijit keningnya. Melihat ekspresi putranya tuan Rayne langsung tertawa.


"Kamu sakit ?" tanya Ny. Cathrina.


"It's just a jet lag" dalih Nico, menunjukkan dia hanya kelelahan.


"Kalau begitu istirahatlah, kamu baik-baik saja tadi, rencana mommy mu, memang bisa membuat orang jatuh sakit" ucapan satire tuan Rayne.


Ny. Cathrina melotot pada suaminya.


"Kamu ingin dipesankan kamar, sayang ?" tanya sang mommy perhatian.


"Nggak usah mom, saya istirahat disini aja" ucap Nico sambil melangkah ke sofa dan rebahan disana.


Mendengar rencana ibunya, Nico langsung teringat Reana, dia langsung mengkhawatirkan gadis itu. Bayangan kemarahan Reana langsung membebani pikirannya.


Nico menutupi wajahnya dengan bantal sofa, dibalik bantal itu dia bebas membayangkan gadis yang sangat dirindukannya itu. Nico tak bisa mengungkapkan apapun tentang Reana bahkan mengungkit sedikit saja, bisa berbahaya.


Ny. Cathrina tidak akan membiarkan Nico berhubungan dengan gadis dari keluarga miskin. Kebersamaannya dengan gadis itu bisa terancam.


Nico pasrah jika sang mommy ingin mengenalkannya dengan putri teman-temannya. Yang terpenting baginya ibunya tak memaksa untuk menerima salah satu diantara mereka.


Keinginan mendalam Nico saat ini adalah bisa segera menyelesaikan kuliahnya, bekerja, memiliki penghasilan sendiri dan memastikan Reana menjadi miliknya. Sebelum semua itu terwujud, Reana tak boleh terdeteksi oleh keluarganya.

__ADS_1


Mengingat Reana, Nico mendadak sedih, menjelang keberangkatannya Reana masih belum membaca pesannya. Padahal laki-laki itu berharap Reana akan datang ke bandara untuk mengantarnya.


Reana masih marah, oh Tuhan bagaimana ini ? bagaimana jika dia tidak mau memaafkanku lagi ? batin Nico bersedih.


Dibelahan bumi lain, Reana sendirian menyusuri trotoar menuju halte, melangkah pelan sambil menunduk, jam kerjanya telah habis, langkah demi langkahnya mengingatkan gadis itu pada Nico.


Teras restoran, parkiran hingga trotoar yang pernah jadi saksi penolakan Reana dulu saat dia tak ingin diantar pulang oleh Nico. Laki-laki itu tak pernah putus asa mendekatinya.


Bagaimana sekarang ? bagaimana jika kak Nico berhenti menginginkanku ? batin gadis itu.


Berhenti melangkah, menatap ke langit kelam menjaga agar buliran air matanya tidak menetes.


Reana duduk di halte, layar ponsel ditangannya menyala, redup, menyala lagi, lalu diredupkan lagi. Hati gadis itu bimbang. Reana sangat ingin menghubungi Nico.


Biaya Sambungan Langsung Internasional tak jadi fokusnya, keraguan Reana yang paling besar adalah perasaan Nico.


Apakah perasaan laki-laki itu masih tetap sama terhadapnya ? Bagaimana jika Nico menolaknya ? sanggup kah dia menghadapi perubahan Nico ? dan berbagai macam pertanyaan lain dibenaknya.


Setitik air jatuh di LCD ponselnya, gadis itu segera menghapusnya, juga titik air dipelupuk matanya. Hari-harinya terasa begitu hampa. Dipenuhi rasa kebimbangan, Reana sangat ingin mengakhiri rasa itu.


Namun gadis itu tidak tau bagaimana caranya, dia hanya bisa menunggu. Dengan pasrah menanti keputusan Nico, akan seperti apa hubungan mereka kelak. Reana hanya bisa berharap semua bisa kembali seperti semula.


Ny. Cathrina membelai rambut suaminya lembut, senyum mewarnai wajah cantiknya. Sambil menunggu sekretaris pribadi tuan Rayne menyelesaikan biaya perawatan, Nico mendorong kursi roda itu dengan pelan.


Seorang perawat rumah sakit menawarkan diri mendorong kursi roda itu hingga ke teras RS. Tapi Nico menolaknya dengan halus, dia ingin mendorong sendiri kursi roda ayahnya.


Laki-laki itu ingin maksimal menunjukkan baktinya pada orang tuanya selagi mereka masih berkumpul bersama.


Sambil berjalan pelan, bapak dan anak itu mengobrol santai. Jika tidak ada kejadian seperti itu, entah kapan orang tua dan anak itu bisa bertemu. Selagi semua masih bisa kembali membaik, itu adalah hal yang perlu disyukuri.


Jarak yang memisahkan demi kehidupan dan prinsip masing-masing. Kehidupan orang tuanya di New York, kehidupan Nico di Indonesia. Dengan prinsip masing-masing yang saling tak mau mengalah.


Mungkin suatu saat mereka bisa berkumpul bersama lagi. Harapan orang tua biasanya seperti itu.


Nico turun dari sebuah mobil mewah diikuti oleh kedua orangtuanya. Melangkah bersama ke sebuah rumah bergaya Mediterania.


Interior rumah bernuansa klasik dengan penerangan yang membiaskan warna kuning temaram memberi kesan menenangkan.


Warna lampu kuning temaram juga memberi kesan tuan rumah yang hangat. Terbukti saat pemilik rumah keluar menyambut tamu dengan senyum penuh kehangatan.


Bapak-bapak dan ibu-ibu kelas atas itu saling berpelukan. Sang tuan rumah yang masih berwarga negara Indonesia itu seperti merasa kembali ke tanah air.


Ny. Cathrina selalu berusaha mencari teman atau sahabat yang berasal dari Indonesia, karena selain memiliki gaya hidup dan budaya yang sama, berada jauh di negeri orang membuat rasa persaudaraan menjadi terasa lebih kuat.


Tuan rumah mempersilahkan duduk diruang tamu yang super megah, setelah memperkenal Nico pada mereka. Ny. Cathrina berbasa-basi menanyakan putri sahabatnya itu.


Nico memandang gadis itu mulai dari anak tangga teratas hingga berdiri dihadapan mereka. Begitulah cara Nico menghargai seorang perempuan yang ingin dikenalkan padanya.


Nico tak pernah bersikap tak acuh apalagi berlaku kurang sopan. Dia selalu menjaga nama baik keluarga, bersikap gentleman pada semua kolega Tuan dan Ny. Rayne.


Itu pula yang menjadi sebab Nico selalu disukai dan di terima oleh para sahabat orang tuanya. Kebanggaan bagi mereka apabila Nico bersedia menjadi pendamping putri mereka.


Rasa diperhatikan, dikagumi dan dihargai yang dirasakan gadis- gadis itu saat bertemu Nico kebanyakan membuat mereka menyetujui perkenalan, pertemanan atau bahkan perjodohan yang dilakukan kedua keluarga.


Meski pada akhirnya tak pernah ada respon dari Nico. Namun acara dengan agenda jamuan makan malam, perkenalan kedua putra dan putri, dan silaturahmi mempererat tali persaudaraan itu selalu berjalan dengan lancar.


Setelah jamuan makan malam, biasanya para orang tua akan berbincang diruang tengah dan putra putri akan berbincang diruangan yang lain. Entah itu dipinggir kolam, taman belakang atau gazebo.


Nico selalu bersikap ramah kepada para gadis yang diperkenalkan padanya. Para gadis tak pernah merasa direndahkan atau merasa terpaksa, karena mau tidak mau perkenalan ini bertujuan menjodohkan dengan konsep perjodohan tanpa paksaan.


Memiliki wawasan yang luas membuat Nico bisa membawa diri, gadis-gadis itu merasa senang ada yang mengerti dan memahami apa yang menjadi passion mereka. Kebanyakan dari mereka akan langsung menyukai bahkan jatuh hati pada Nico.


Setelah rentetan acara selesai, keluarga Tn. Rayne akan berpamitan diantar hingga ke teras rumah, acara berpamitan itu selalu diwarnai kehangatan dan bahkan bisa berlangsung lama.


Menunjukkan keakraban mereka dan enggan terpisahkan. Dan memang entah kapan mereka akan bertemu lagi.


Baru saja duduk di jok mobil, bahkan mobil belum sempat keluar dari gerbang, Nico langsung diberondong dengan berbagai pertanyaan.


"Bagaimana yang satu ini ? kamu suka ?" tanya Ny Cathrina semangat.


Biasanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan langsung meluncur dari mulut Ny. Cathrina dan biasanya pula Nico hanya memberikan pendapat seadanya, yang intinya laki-laki itu tidak tertarik dengan perjodohan itu.


Tak lama kemudian Ny. Cathrina akan segera mendengar dering ponselnya. Sahabat dari nyonya kelas atas itu akan langsung menanyakan pendapat Nico tentang putri mereka.


Ny. Cathrina akan memberi berbagai alasan, dari alasan yang membuat Nico kesal hingga alasan yang membuat laki-laki itu tertawa.


Sepertinya di otak Ny. Cathrina telah terprogram berbagai alasan yang siap digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi. Ny. Cathrina kadang dibuat pusing oleh sahabatnya yang terlalu memaksa.


Tapi demi putra kebanggaannya, Ny. Cathrina rela bersusah payah mencarikan seseorang yang dapat mengisi kehampaan hati sang putra kesayangan.


"Apa sih kurangnya gadis itu ? tolong katakan sama mommy ? " tanya Ny. Cathrina segera setelah sampai di rumah.


Perlu diketahui pertanyaan seperti itu sudah sering dilontarkan.

__ADS_1


"Nggak ada yang kurang mom, cuma saya yang tidak punya perasaan apa-apa terhadapnya" jawaban seperti itu juga sering diucapkan Nico.


Lalu Ny. Cathrina akan duduk diruang keluarga dengan perasaan kesal. Nico akan menunggu sampai perasaan sang mommy membaik, merayunya dengan berbagai cara.


"Are you a gay ?" tanya Ny. Cathrina mengejutkan.


Kali ini pertanyaan yang tak biasa. Bagaimana pertanyaan seperti itu bisa terlintas, Ny. Cathrina seperti sudah kehilangan akal dengan sikap putranya yang tak memiliki perasaan apa-apa terhadap wanita.


"Mom, No" Nico menjawab dengan nada sedikit keras, laki-laki itu kaget dengan pertanyaan sang mommy.


Meskipun dijawab dengan suara tinggi, namun Ny. Cathrina terlihat lega.


"Mom please, jangan terlalu memaksakan diri, saya pasti akan menemukan seseorang suatu saat nanti" ucap Nico lembut memberi pengertian pada ibunya.


"Sebentar lagi kamu akan diwisuda, kamu bisa langsung bekerja di perusahaan Daddy.


Kalau pun melanjutkan pasca sarjana kamu bisa melakukannya sambil bekerja.


Apalagi yang mommy inginkan selain seorang calon istri yang sempurna untukmu, yang bisa menghadirkan Rayne-Rayne kecil dirumah ini.


Mommy ini sudah tua sayang" harapan Ny. Cathrina begitu besar terhadap putra satu-satunya itu.


Nico termenung, laki-laki itu membayangkan anak-anak kecil yang berlarian diruangan ini dengan umur dan gaun yang sama dan semua mirip Reana. Tanpa disadari Nico tertawa sendiri.


"Are you crazy ? kamu tertawa sendiri sayang" tanya Ny. Cathrina heran melihat tingkah anaknya.


"Nothing" ucap Nico mengelak.


"Andai Angela tidak meninggal" ucap Ny. Cathrina menyesali.


Tuan Rayne yang sedang membaca menghentikan aktivitasnya. Langsung menimpali ucapan istrinya.


"Sayang, sampai kapan kamu akan menyesali takdir.


Jika terus seperti itu, Nico tak akan pernah bebas dari rasa kehilangannya" Tn. Rayne yang dari tadi hanya diam mendengar perbincangan mereka akhirnya angkat bicara.


"I love her very much" sahut Ny. Cathrina.


"Tentu saja kamu menyayanginya, mommy Angela yang membawamu menjadi member club wanita-wanita kalangan atas" sindir tuan Rayne.


"Aku tulus menyayanginya, dia gadis yang baik, dan Nico sangat mencintainya" sanggah Ny. Cathrina, menyatakan ini tidak ada hubungannya dengan keakraban ny. Cathrina dan Mommy Angela.


Nico hanya diam mendengar perdebatan orang tuanya. Sungguh perdebatan yang tak berguna. Kenyataannya Angela sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Daddy selalu beranggapan mommy menerima Angela karena latar belakang keluarganya yang membanggakan. Lalu bagaimana dengan Reana ? keadaan mereka bertolak belakang, bisakah suatu saat mommy menerimanya ? batin Nico.


Mendadak Nico merasa sakit kepala, laki-laki itu memijit keningnya.


"Mom, malam ini saya akan booking tiket pulang, mungkin untuk penerbangan besok atau lusa" ucap Nico tiba-tiba mengagetkan Tn dan Ny Rayne.


"Secepat itu? " tanya Ny Cathrina.


"Sebentar lagi kami mid semester, mom" ucap Nico memberi alasan.


"Mommy bahkan belum melepas rindu" ucap Ny. Cathrina manja pada putranya.


Nico pindah ke sofa sang mommy, merangkulnya erat. Dagu Nico bertumpu pada bahu sang mommy.


"Bagaimana cara melepas rindu mommy ?" tanya Nico tak kalah manjanya.


"Terima gadis kemarin" ucap Ny. Cathrina seenaknya.


"Mom, nggak ada hubungannya" bantah Nico.


"Kamu yakin dengan ucapanmu ?" tanya si mommy.


"Yang mana ?" Nico balik tanya.


Tn. Rayne mengerutkan keningnya, melihat tingkah laku ibu dan anak itu.


"Kamu bukan gay" bisik si mommy.


"Nggak lah, aku masih suka cewek mom" Nico juga berbisik.


"Kamu masih suka sama cewek ? bagaimana kamu bisa yakin ? ada yang kamu suka ?" tanya mommy-nya kaget dengan nada penasaran.


Nico hampir keceplosan. Ya, dia memang suka seorang gadis, ucapannya tadi seakan-akan menunjukkan bahwa sekarang dia merasakan perasaan suka terhadap seorang gadis.


Mereka berbincang sepanjang malam, kesempatan yang sempit itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Tuan Rayne tidak keberatan jika Nico ingin segera pulang ke tanah air. Bagi beliau pendidikan adalah hal yang utama.


Rasa rindu terhadap putra satu-satunya bisa ditepis jika Nico sudah menjadikan kuliahnya sebagai alasan untuk segera pulang.


Ayah yang bijaksana itu sangat berharap anaknya segera menyelesaikan studinya dan mulai membantunya mengembangkan diri di perusahaannya

__ADS_1


Tn. Rayne sangat ingin anaknya segera menggantikan posisinya di perusahaan milik keluarga itu.


...******...


__ADS_2