Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 36 ~ Kembali Bersamamu ~


__ADS_3

Nella mengintip dari pintu kaca restoran. Rasa penasaran gadis itu sangat tinggi, melihat sebuah mobil mewah memasuki gerbang restoran, rasa ingin taunya langsung mencuat. Siapa kira-kira tamu istimewa kali ini.


"Kamu ini cocoknya jadi doorman daripada jadi pelayan" ucap seorang pelayan laki-laki sambil tertawa.


Nella langsung mengusir pelayan itu kedalam dan kembali mengamati. Gadis itu mengenali mobil mewah yang baru datang. Seorang laki-laki berjas hitam membukakan pintu belakang mobil, tepat diteras restoran.


Reana keluar dari mobil itu sambil tertunduk lemah. Nella kaget bukan main, gadis itu tidak menyangka Reana datang menggunakan mobil mewah yang diamatinya.


Gadis itu berjalan menuju pintu restoran, seorang pengawal mengikutinya dibelakang.


"Cukup disini saja, terima kasih" ucap Reana pelan saat menyadari, seorang pengawal masih mengikutinya.


"Baik nona" mengangguk sekilas lalu melangkah pergi.


Baru saja Reana membalik badan, Nella muncul dari balik pintu kaca.


"Kak Reana kok bisa dianter mobil tuan Malvin ?" tanya Nella penasaran.


Reana hanya melihat Nella sekilas lalu melangkah pelan kedalam restoran. Pandangan mata Reana kosong, tanda-tanda habis menangis masih membekas. Wajahnya terlihat sangat pucat.


Nella mengikuti gadis itu, ingin menanyakan bermacam pertanyaan. Reana hanya diam dan langsung masuk keruang ganti. Sampai disana gadis itu duduk dibangku panjang.


Nella memperhatikannya dari belakang, melihat gelagat gadis itu yang kurang baik, Nella bertahan untuk tidak mendekatinya. Reana rebah dibangku panjang itu, Nella penasaran ingin melihat lebih dekat.


Reana memejamkan mata, membuat air mata gadis itu mengalir, wajah Reana terlihat pucat. Tubuhnya menggigil namun keningnya berkeringat.


"Apa yang terjadi pada Reana?" tanya bu Shinta tiba-tiba muncul disamping Nella.


"Nggak tau Bu, tadi kak Reana turun dari mobil tuan Malvin" jawab Nella cepat.


"Apa ?" teriak bu Shinta kaget.


"Kenapa jadi seperti ini ? apa yang dilakukan tuan Malvin padanya" ucap bu Shinta sambil mengusap keringat dikening Reana.


"Bu, mungkin saja tuan Malvin menemukan kak Reana yang sedang sakit lalu mengantarnya kesini" pendapat Nella.


Bu Shinta keluar menghadap pak Gunawan, menceritakan keadaan Reana. Pak Gunawan datang melihat.


"Sepertinya Reana sakit bu Shinta, sebaiknya dibawa ke rumah sakit" ucap pak Gunawan.


Reana membuka mata lalu duduk perlahan.


"Saya nggak apa-apa pak, saya nggak sakit" jawab Reana lirih.


"Tak mungkin Reana, tubuhmu gemetar seperti ini, kamu harus kerumah sakit" ucap bu Shinta bersikeras.


"Nggak Bu, saya nggak mau kerumah sakit" jawab Reana terlihat lelah.


"Kalau begitu kamu pulang dan istirahat dirumah, dengan kondisi seperti ini kamu juga tidak bisa bekerja" ucap pak Gunawan, kemudian menyuruh Nella mengantar Reana.


Nella memesan taksi online untuk mengantar mereka ke kost-an Reana. Sesampai dipintu kamar Reana, gadis itu mengucapkan terima kasih dan menyuruh Nella pulang.


"Tapi pak Gunawan berpesan saya harus nemenin kakak. Karena kakak nggak mau dibawa ke rumah sakit" jelas Nella sambil memegang bahu Reana.


"Kakak nggak apa-apa kok Nell, kakak cuma butuh istirahat" tolak Reana sambil mengusap tangan Nella.


"Kalau kakak nggak mau ditemenin berarti saya balik ke restoran aja" usul Nella.


Reana mengangguk. Nella pamit untuk kembali ke restoran. Baru beberapa langkah gadis itu mendengar sesuatu. Nella menoleh, terlihat Reana terduduk didepan pintu, tangannya memegang gagang pintu.


Nella langsung berbalik, mendekati dan menolong gadis itu berdiri. Melihat kondisi Reana yang lemah akhirnya Nella memutuskan untuk menemani Reana. Reana pun mengalah, membiarkan Nella menemaninya.


Mereka duduk diranjang. Reana merasa sangat sedih, dia paling tidak suka merepotkan orang lain.


"Maaf Nell, kakak jadi ngerepotin kamu" ucap Reana menitikkan air mata.


"Jangan ngomong gitu kak, kak Reana sama sekali nggak ngerepotin aku" jawab Nella prihatin dengan kondisi Reana.


Air mata Reana berlinang, Nella semakin sedih melihatnya.


"Kenapa kak Reana nggak mau dibawa ke rumah sakit" tanya Nella sambil mengusap rambut Reana.


"Kakak nggak sakit" ucap Reana mengulang ucapannya, Nella merasa, kalau Reana perlu ke rumah sakit.


"Lalu kenapa kondisi kakak seperti ini, dan kenapa kak Reana bisa diantar pengawal tuan Malvin ?" tanya Nella bertubi-tubi.


Mendengar nama Malvin, air mata Reana mengalir, Nella panik bertanya apa yang terjadi, Reana hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tangis Reana terdengar begitu sedih. Nella yakin terjadi sesuatu yang berhubungan dengan tuan Malvin.

__ADS_1


Apa tuan Malvin berbuat jahat pada kak Reana ? apa yang dilakukan tuan Malvin ? jerit hati Nella.


Reana masih terisak, hati Nella tergerak untuk memeluk Reana. Reana menangis terisak dibahu Nella.


"Bagaimana ini Nell ? bagaimana ini ? apa yang harus kakak lakukan ? " ucap Reana sambil memeluk Nella.


Nella bingung dengan pertanyaan Reana. Pelukan Reana terasa melemah, Nella segera membaringkan gadis itu di ranjang, merebahkan kepala Reana di bantal diatas pangkuannya. Sementara Nella duduk bersandar di dinding kamar.


Itu adalah cara yang biasa dilakukan ibunya setiap kali Nella bersedih. Menyisir helaian rambut anaknya dengan jari-jari tangannya. Setelah itu perasaan Nella akan terasa tenteram.


Begitu juga dengan Reana, gadis itu langsung teringat pada mamanya. Setiap kali Reana bersedih mamanya akan melakukan hal yang sama. Tak peduli gadis itu akan bicara atau hanya diam.


Perhatian Nella meluluhkan hati Reana, dengan lirih perlahan gadis itu mencurahkan kesedihannya. Gadis itu menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan tuan Malvin dari awal hingga akhir.


Tatapan mata Nella lurus kedepan, terpaku mendengar curahan hati Reana, tanpa sadar Nella menitikkan air mata. Nella tak menyangka Reana mengalami semua itu dan menyimpannya didalam hati seorang diri.


Nella merasa kasihan pada Nico. Reana memohon pada gadis itu untuk merahasiakannya.


"Mungkin ini takdir kakak Nell" ucap Reana lirih, suaranya terdengar serak.


Air mata gadis itu mengalir mengenai bantal. Reana membalik wajahnya hingga tertutupi bantal, berharap isak tangisannya bisa teredam. Tubuh gadis itu berguncang menahan isak tangisnya.


Namun bantal itu tak mampu meredam tangis Reana. Nella tak sanggup melihat penderitaan gadis itu, Nella maju memeluk punggung Reana, menangis mereka bersama-sama.


Menjelang malam Nella pamit pulang. Entah karena air matanya sudah mengering atau karena merasa lega, Reana tak lagi menangis. Gadis itu tak ingin membebani pikiran Nella. Dia ingin terlihat tenang, agar Nella tidak lagi mengkhawatirkannya.


"Pokoknya kalau ada apa-apa, kakak telepon aku ya" ucap Nella mengacungkan telunjuknya.


Reana mengangguk, entah berapa kali gadis itu bolak balik menasehati Reana.


"Mulai sekarang apapun yang terjadi kita hadapi bersama, kakak nggak boleh memendamnya sendiri, mengerti" ucap Nella tegas.


Reana kembali mengangguk, sekarang gadis itu seperti memiliki seorang adik, yang siap mendengar keluh kesahnya dan Nella sekarang memiliki seorang kakak yang disayanginya. Sebelum melangkah pergi Nella kembali memeluk Reana.


Tetaplah tabah, jangan bertindak bodoh, kalau kakak lakukan itu, Nella akan sangat membenci kakak, batin Nella.


Nella akhirnya pergi, meninggalkan Reana seorang diri.


Keesokan harinya, Reana bangun dengan perasaan yang tak menentu, terasa hampa, terasa ada yang hilang. Gadis itu bangun terlalu pagi, begitu terbangun matanya tak mau di pejamkan lagi, gadis itu memilih duduk memandang keluar jendela yang masih gelap.


Hari ini, entah apa yang akan terjadi, batin Reana.


Hari masih terlalu pagi, namun Reana telah berjalan keluar dari rumah kost-nya. Menutup pagar dan berbalik. Matanya terpaku pada sosok yang berdiri tak jauh dari rumah kost-nya.


Lama Reana berdiri menatap, memandangi Nico yang bersandar di mobil sambil menyusun kerikil-kerikil kecil dengan sepatunya.


Sama seperti Reana, begitu matanya terbuka laki-laki itu tak bisa tertidur lagi. Hati dan pikirannya hanya ingin segera menemui Reana. Tak peduli hari masih gelap, cuaca masih dingin, Nico telah berdiri di depan rumah gadis yang sangat dirindukannya itu.


Apa ini nyata ? batin Reana.


Apakah ini nyata atau ilusi, Reana harus membuktikannya sendiri. Reana melangkah pelan mendekat, sosok itu tetap ada, nyata dihadapannya.


Merasa ada yang mendekat, Nico langsung menoleh. Laki-laki itu langsung tersenyum melihat gadis yang selama ini di impikannya, segera Nico datang menghampiri.


Tak peduli sebesar apapun masalah yang mengganggu hubungan mereka, tak peduli seberat apapun masalah yang menimpa mereka. Nico bertekad mendapatkan maaf dari Reana. Nico bertekad memenangkan hati gadis itu lagi.


Kak Nico berdiri dihadapanku... sehat dan selamat, hanya itu yang kubutuhkan, hanya itu yang kuinginkan, jerit hati Reana.


Nico menarik tubuh Reana kedalam dekapannya, menenggelamkan gadis itu dalam pelukannya. Laki-laki itu sangat mendambakan kehangatan tubuh Reana, merindukan wangi rambutnya, membutuhkan bibir lembut gadis itu.


Nico menangkup wajah Reana, mengecup lembut bibir gadis itu, merasakan sensasi manis lidahnya. Nico ingin mendapatkan semua itu, ingin memilikinya, selamanya.


Reana pasrah, memberi yang Nico inginkan. Melepas rindu yang telah terpendam, melepas hasrat yang telah tertahan. Nafas mereka memburu, jantung mereka berdegup kencang.


Nico merenggangkan pelukannya, memberi kesempatan Reana bernafas lega. Mengecup lembut kening gadis itu dan kembali memeluknya. Nico masih sangat merindukannya.


"Aku akan buktikan, gadis itu tak ada hubungannya denganku, dia hanya ingin mengganggu hubungan kita, dia..."


"Saya tau" sahut Reana memotong ucapan Nico.


Nico terheran, bagaimana Reana bisa tau. Tapi dia tak peduli, baginya yang terpenting adalah Reana menerimanya kembali. Laki-laki itu tersenyum, memeluk erat gadis yang paling disayanginya.


Ditempat lain seseorang melaporkan apa yang mereka lihat.


"Biarkan saja, itu yang terakhir bagi mereka" ucap tuan Malvin mengakhiri pembicaraannya melalui ponsel.


Tuan Malvin berdiri dari kursi kerjanya, melempar pensil yang telah patah menjadi dua.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, aku ingin pernikahanku dipercepat" ucap tuan Malvin memandang lurus menembus kaca lalu menutup panggilan teleponnya.


Seorang diseberang sana telah menyanggupi. Bagi mereka permintaan tuan Malvin adalah sebuah perintah.


Nico menggenggam erat tangan Reana. Bersama mereka berjalan menuju kelas gadis itu.


"Aku harus pergi, ada urusan yang harus dikerjakan. Aku akan menjemputmu nanti" janji Nico.


Reana mengangguk.


"Hati-hati mengemudi" pesan Reana.


Nico mengangguk, melepaskan tangan gadis itu. Bagi Nico saat ini berpisah sebentar saja terasa berat baginya.


Sejak melihatnya, hatiku terasa lepas dari beban, Nico masih menginginkanku, dia kembali padaku, batin Reana sambil menatap Nico yang melangkah pergi.


Sesekali laki-laki itu membalik badan, memastikan Reana masih menatapnya. Tersenyum bahagia saat melihat gadis itu masih memandang kearahnya.


Setelah memastikan Nico pergi, Reana masuk kedalam kelasnya, menjalani aktivitas seperti biasa. Tapi sekarang hatinya telah lega, masalah yang mengganggu kebahagiaan mereka telah sirna, hubungan mereka telah kembali seperti semula.


Kuliah telah berakhir, Reana duduk dibangku dibawah pohon rindang. Menatap layar ponselnya, mencari pesan yang mungkin belum dibaca. Tapi tak ada satupun pesan baru disana.


Reana meraih ranselnya mengeluarkan buku dan langsung membacanya. Entah berapa lama Reana duduk disitu, dia tidak peduli, dia hanya ingin menunggu.


Terdengar bisik-bisik mengganggu konsentrasinya. Para mahasiswa memandang ke satu arah. Iringan mobil sedan mewah berwarna hitam memasuki lingkungan kampus.


Ada yang berpikir kampus ini sedang kedatangan tamu, pejabat atau orang-orang penting. Reana tertarik mengikuti obrolan para mahasiswa itu.


Tak berapa lama kemudian mobil itu berhenti, beberapa meter dari tempat duduk Reana. Jantung Reana berdegup kencang, beberapa orang berjas hitam turun dan berbaris membentuk pagar betis dihadapan Reana.


Apa-apaan ini ? bisik hati Reana.


"Silahkan nona Reana" ucap salah seorang pengawal meminta gadis itu untuk bergerak menuju mobil.


Mata para mahasiswa tertuju pada Reana. Mereka berbisik, entah apa yang mereka bicarakan. Reana merasa malu, dia tidak ingin masuk kedalam mobil tuan Malvin, tapi dia juga tidak ingin menjadi bahan perbincangan mahasiswa yang berada disitu.


Reana merasa bingung, terlihat kaca mobil diturunkan, tuan Malvin menatap tajam kearah Reana. Terdengar jerit mahasiswi-mahasiswi mengagumi ketampanan laki-laki yang berkarisma itu.


Beberapa diantara mereka bahkan mengambil foto, menjerit dan melompat senang saat mendapat angle yang sempurna.


Berbeda dengan Reana, saat melihat wajah tuan Malvin, Reana justru merasakan ketakutan, panik dan tidak tau harus berbuat apa, tubuhnya membeku.


Tuan Malvin akhirnya turun dari mobil, melangkah mendekati Reana. Menarik tangan gadis itu dan membawanya. Serentak para pengawal mengikuti, tuan Malvin mengantar gadis itu ke pintu mobil sisi lainnya.


Seorang pengawal membukakan pintu untuk Reana, gadis itu terpaksa masuk. Sementara tuan Malvin masuk ke pintu sisi lain setelah dibukakan untuknya. Iringan mobil itu meninggalkan kampus.


Teriakan para mahasiswi riuh terdengar, itu adalah peristiwa yang jarang terjadi atau mungkin hanya sekali.


"Memalukan" ucap Reana setelah mobil itu melaju di jalanan.


Tuan Malvin menoleh kearah Reana, memandang tajam kearah gadis itu. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung setelah memandang kedua pengawal didepannya.


Para pengawal itu penasaran dengan ekspresi tuan Malvin setelah mendengar ucapan Reana. Menatap melalui spion dan buru-buru berpaling saat tuan Malvin memergoki mereka.


Kali ini tuan Malvin tidak membawa gadis itu ke hotel. Reana tercengang saat melihat mobil mereka memasuki kawasan perumahan elit. Kawasan yang tak mungkin disinggahi Reana.


Gadis itu merasa ketakutan, berpikir apa kira-kira yang direncanakan tuan Malvin. Telapak tangan gadis itu terasa dingin, wajahnya pucat, tubuhnya gemetar.


Iringan mobil memasuki gerbang, melewati taman luas yang tertata asri. Iringan itu berhenti disebuah rumah mewah hampir menyerupai istana.


Pengawal bergegas membukakan pintu. Reana keluar dengan perlahan, berdiri mematung, gadis itu merasakan takut dan ragu-ragu. Tuan Malvin segera meraih tangan Reana, menariknya masuk kedalam rumah.


Para pengurus rumah tangga berjejer menyambut mereka. Seorang kepala pengurus rumah tangga datang menyambut dengan senyum hangat. Tuan Malvin memperkenalkan Reana padanya. Bapak berumur lima puluh tahunan itu mengangguk hormat pada Reana.


Tak lama-lama, segera tuan Malvin membawa Reana ke sebuah ruangan. Tuan Malvin menyuruh Reana duduk disebuah kursi tamu, gadis itu berpikir ruangan ini pastilah tempat tuan Malvin menerima tamu-tamu pentingnya.


"Mulai sekarang kamu tinggal disini" ucap tuan Malvin tegas.


"A-apa ? kenapa saya harus tinggal disini ?" sahut Reana panik.


"Kenapa ? sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya dirumah ini" ucap tuan Malvin tegas, terdengar sedikit ketus.


Reana tertunduk.


Benar-benar terjadi, persetujuan menikah itu ternyata memang benar terjadi, bisik hati Reana.


Gadis itu menitikkan air mata. Tuan Malvin memandang gadis itu lamat-lamat, sejujurnya laki-laki itu tak ingin membuat gadis itu menangis.

__ADS_1


Tapi bayangan kejadian yang dilaporkan pengawalnya tadi pagi membuat hatinya murka. Tak ingin itu terjadi lagi, tuan Malvin memutuskan membawa Reana jauh dari jangkauan Nico.


...*****...


__ADS_2