Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 129 ~ Datang ~


__ADS_3

Saat melangkah pulang melewati gerbang sekolahnya. Reana dan Bu Ridha Lia dikejutkan oleh dr. Yose yang telah berdiri menunggu mereka. Dengan alasan ingin bernostalgia datang ke sekolah itu, dr. Yose sekalian menunggu Reana pulang.


"Nostalgia?" tanya Reana dengan tatapan penuh selidik.


"Ya, tanya saja sama guru-guru di sini. Tadi aku menemui mereka di ruang guru. Mereka tak menyangka kalau aku sudah menjadi dokter," jelas Yose.


"Ya, mungkin karena mereka heran, anak yang diusir dari kelas karena malas mengerjakan tugas, ternyata bisa jadi dokter juga," ucap Reana.


Membuat Bu Ridha Lia tertawa tertahan mendengar ucapan Reana. Yose membulatkan matanya. Reana tertawa melihat tingkah Yose. Reana dan Bu Ridha Lia akhirnya menuruti dr. Yose yang ingin mengantar mereka pulang. Reana bertekad ingin menjelaskan kalau dirinya telah menikah dan masih mencintai suaminya. Reana tak ingin ada salah paham dengan sikapnya yang menerima pertemanan dengan dokter tampan itu. 


"Aku tahu kamu sudah menikah. Aku melihat cincin di jari manismu. Lalu, di mana dia? Kenapa tidak di sini bersamamu?" tanya Yose.


"Dia tak bisa meninggalkan perusahaannya," ucap Reana.


"Kalau dia tak bisa meninggalkan perusahaannya kenapa bukan kamu yang tinggal bersamanya?" tanya Yose.


"Ada banyak hal yang menghalangi kami. Masalah datang silih berganti. Aku merasa letih. Terlebih lagi, aku merasa tak pantas untuknya," ucap Reana pelan.


"Kalau kamu masih mencintainya, kenapa tidak berusaha pertahanankan cintamu. Jika bersamanya membuatmu menderita, berpisah pun membuatmu menderita. Lalu kenapa tak ambil kesempatan untuk bersamanya? Kenapa malah memilih berpisah?" tanya Yose.


"Aku memilih berpisah karena aku berharap dia bisa menemukan kebahagiaannya," ucap Reana.


"Dengan resiko kamu yang menderita sendirian," sahut Yose.


"Hari ini Kak Yose nggak praktek?" tanya Reana mengingatkan.


"Kamu ingin mengusirku?" tanya Yose mendengar Reana mengalihkan pembicaraan.


"Bukan itu, aku takut dr. Yose lupa dengan tugasnya," jawab Reana sambil tertawa.


"Aku giliran jaga malam," ucap Yose.


"Kalau begitu harusnya Kak Yose istirahat siang ini," ucap Reana.


"Aku baru saja bertemu denganmu. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan ini," ucap Yose tertunduk lalu menoleh ke arah Reana.


Wanita itu ikut tertunduk. Menjelang sore duduk di balai bambu di depan rumah Reana adalah hal yang diinginkan Yose sejak kemarin. Namun, karena kesibukan di rumah sakit membuatnya harus segera pergi menjalankan tugas.

__ADS_1


Kini saat mendapat waktu longgar di waktu siang, tentu dipergunakannya untuk menemui Reana. Gadis yang pernah membayang-bayang di pelupuk matanya beberapa tahun yang lalu. Setelah melihat seorang gadis manis yang menangis karena tugasnya hancur berantakan.


"Katanya ingin minta maaf sama adikku?" tanya Yose.


"Oh ya, kalau begitu hari libur sekolah saja. Main ke rumah Kak Yose," ucap Reana.


"Baiklah! Nanti aku jemput!" ucap Yose.


"Nggak usah pakai dijemput. Kasih alamat aja, biar aku yang ke sana," ucap Reana.


"Nggak ah, nggak tega biarkan wanita cantik jalan sendiri mencari rumahku," ucap Yose.


Reana terdiam lalu tersenyum simpul. Kata-kata yang menyanjung itu justru membuat hati Reana gusar. Wanita itu tak suka disanjung oleh laki-laki selain oleh suaminya. Kata-kata yang muncul dari laki-laki lain justru menambah bebannya.


"Andaikan waktu itu aku tidak sibuk. Aku pasti sudah mencarimu," ucap Yose.


Kata-kata yang tak bisa dimengerti oleh Reana. Namun, bisa dirasakan arahnya. Reana tak ingin memperpanjang pembicaraan seperti itu lagi.


"Kenapa bisa memilih menjadi dokter? Apa memang cita-cita Kak Yose?" tanya Reana.


"Apa? Apa maksudnya itu? Apa hubungannya denganku?" tanya Reana.


Wanita itu sama sekali tak mengira bisa terkait dengan cita-cita Yose yang akhirnya menjadi dokter. dr. Yose menoleh ke arah gadis yang sedang menatapnya heran itu. Reana seperti sedang berpikir-pikir sendiri.


"Aku ceritakan nanti setelah bertemu adikku," ucap Yose untuk menghilangkan rasa penasaran Reana.


"Oh ya, siapa namanya. Berarti dia seumuran denganku. Kami satu angkatan kan?" tanya Reana yang dibalas dengan anggukan Yose.


Dia tak lagi seumuran denganmu. Dia remaja selamanya, batin Yose.


"Namanya Yori," jawab Yose.


"Oh, nama kalian mirip, dia pasti cantik," ucap Reana.


"Ya, cantik, manja, ceria dan tukang ngambek," jawab Yose. Membuat Reana tertawa.


"Tentu saja dia manja, punya Kakak laki-laki seperti Kak Yose. Kalau aku seperti itu, aku juga pasti jadi manja," jawab Reana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu juga boleh bermanja denganku kalau mau," ucap Yose dengan tatapan menggoda.


"Ih, Kak Yose ini," ucap Reana sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tiba-tiba mata Reana menangkap sesuatu. Dari jauh terlihat mobil sedan melaju pelan menuju ke arah rumahnya. Di desa itu, mobil tak sering berlalu lalang 


Apalagi tipe mobil perkotaan seperti yang dilihatnya itu. Mobil itu bukanlah mobil suaminya tetapi melihat mobil seperti itu jantung Reana terasa berdebar. Entah mengapa, Reana merasa seperti kembali ke suasana di kota.


"Itu mobil suami kamu?" tanya Yose.


"Bukan," jawab Reana singkat.


Mata mereka belum beralih dari mobil yang terus bergerak pelan menuju ke arah mereka. Jantung Reana semakin berdebar karena mobil itu tak kunjung berhenti di salah satu rumah. Sementara rumah Reana bisa dikatakan rumah yang paling ujung.


Benar saja firasat wanita itu. Mobil itu berhenti tepat di hadapan mereka. Di depan rumah di pinggir jalan desa itu. Mobil sedan yang tak diketahui milik siapa itu tak pernah Reana kenali sebelumnya.


Pengemudi mobil itu tak terlihat dari luar. Terhalang kaca mobil yang cukup gelap. Cukup lama mobil itu berdiri di situ membuat Reana dan Yose hanya bisa terpana menatap mobil yang tergolong mewah itu.


Tiba-tiba pintu mobil terbuka, membuat Reana terkejut. Rommy turun dari mobil itu dan langsung tersenyum padanya. Reana langsung berdiri menunggu Rommy menghampiri.


"Kak Rommy kenapa bisa sampai ke sini?" tanya Reana.


Setahunya Rommy ataupun Nico tak pernah tahu alamat rumahnya di desa ini. Rommy tersenyum lalu menoleh ke arah Yose. Reana langsung mengenalkan dr. Yose pada Rommy sebagai kakak kelas saat di SMA dulu. Mereka pun saling berkenalan.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Rommy langsung.


Reana bingung, wanita itu tahu. Rommy ingin membicarakan tentang masalah dirinya dan suaminya yang pasti Reana tak ingin orang lain tahu. Tingkah Reana yang bingung membuat dr. Yose kalau dia harus pergi dari tempat itu. Dokter tampan itu pun pamit pada Reana.


"Kamu harus ingat hutang janji-janjimu. Jangan pergi sebelum terlunasi, Ok!" ucap Yose dengan raut wajah sedih.


Lalu mengangguk pamit pada Rommy. Sahabat Nico itu langsung tak enak hati. Rommy hanya ingin minta waktu sebentar pada Reana.


"Jauh-jauh datang ke sini hanya minta waktu sebentar? Tidak apa-apa. Aku bisa datang lain kali. Sekarang aku bisa  pakai waktuku untuk istirahat ya 'kan Reana?" ucap Yose pada Rommy lalu beralih pada Reana.


Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Yose tahu yang dibicarakan Reana dan Rommy pasti ada hubungannya dengan pernikahan wanita idamannya itu. Yose ingin memberikan waktu sebanyak-banyaknya pada mereka. Yose berharap Reana bisa menuntaskan masalah rumah tangganya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2