
Reana telah selesai membersihkan diri. Seorang pelayan memberitahunya kalau Tn. Malvin akan menunggu gadis itu sarapan pagi bersama. Reana menatap sayu cermin yang ada dihadapannya. Jika boleh memilih, dia lebih memilih menahan laparnya daripada bertemu apalagi sarapan bersama dengan Tn. Malvin.
Begitu membuka pintu, Reana langsung dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di depan pintu kamarnya. Lebih terkejut lagi karena seseorang itu ternyata adalah pengawal yang semalam menemaninya berjalan-jalan di pinggir pantai. Sepertinya dari tadi pengawal itu berdiri di depan pintu, begitu melihat Reana langsung menampilkan senyum manisnya. Reana menoleh ke kiri dan kanan, seperti kebingungan apa alasan pengawal muda itu berdiri di depan pintu kamarnya.
"Tn. Malvin menyuruh saya menemui Nona," ucapnya saat melihat wajah bingung Reana.
"Haa! Untuk apa?" tanya Reana bingung.
Reana sendiri lupa apa isi perbincangannya dengan Tn. Malvin semalam mengenai pengawal itu. Reana berpikir keras, rasanya ada sesuatu yang ingin dibicarakannya dengan laki-laki itu tetapi tertimpa oleh rasa takut akan tingkah Tn. Malvin yang menggodanya semalam. Melihat Reana yang bingung pengawal itu langsung mengingatkan.
"Mungkin Nona ingin bertanya padaku, apa yang akan aku pilih? Berhenti menjadi pengawal Tn. Malvin dan mendapat kompensasi atau ingin tetap bekerja sebagai pengawal Tn. Malvin," ucap pengawal itu.
"Oh ya itu! Semalam Tn. Malvin ingin memecatmu tapi akhirnya bersedia mempertimbangkan lagi keputusannya sesuai dengan keinginanmu. Jika kamu sudah tidak betah? Kamu boleh memilih berhenti dan mendapat kompensasi tapi jika tetap bekerja, kamu tidak mendapatkan kompensasi apa-apa. Lalu sekarang apa pilihanmu?" tanya Reana.
"Aku ingin berhenti menjadi pengawal Tn. Malvin tapi aku tetap ingin bekerja dengan Tn. Malvin jadi tak perlu membayar kompensasi untukku," ucap pengawal itu.
"Haaa, apa maksudmu? Aku bingung, aku benar-benar bingung, aku tak mengerti. Tolong beri aku penjelasan lebih mudah dimengerti," ucap Reana. Pengawal itu tersenyum mendengar ucapan Reana.
"Itu mudah dimengerti Nona," jawab pengawal itu tak bisa menahan senyumnya.
__ADS_1
"Kamu ingin berhenti menjadi pengawal Tn. Malvin tapi tetap ingin bekerja padanya? Berhenti jadi pengawal? Lalu mau jadi apa? Jadi tukang masak?" tanya Reana, sama sekali tidak seperti bercanda tetapi membuat pengawal itu tak bisa menahan tawanya.
"Aku ingin berhenti jadi pengawal Tn. Malvin tapi ingin jadi pengawalmu–"
"Apa? Mana mungkin dia setuju? Semalam saja dia sudah menuduhmu menyakiti aku. Dia pasti tidak suka lagi padamu. Hal yang paling diinginkannya adalah memecatmu. Lagi pula aku tak butuh pengawal," jawab Reana.
"Karena itu aku ingin Nona yang mengusulkannya. Kalau aku yang usulkan sendiri padanya, aku pasti dipecat. Kalau Nona yang mengusulkan Tn. Malvin pasti patuh. Semua yang bekerja padanya tahu, Tn. Malvin sangat mudah memecat orang. Meski Tn. Malvin memberikan kompensasi yang besar setiap kali memecat bawahannya. Tetap saja orang-orang lebih memilih bekerja padanya daripada dipecat dengan kompensasi. Jadi sangat aneh jika Tn. Malvin membiarkan aku tetap bekerja untuknya. Harusnya aku sudah berangkat pagi ini tapi batal, semua orang tak menyangka Tn. Malvin membatalkan perintahnya sendiri tapi aku yakin semua itu pasti karena Nona iya 'kan?" tanya pengawal itu.
"Ya benar tapi ada batasan untuk sebuah permintaan. Jangan karena dia mengabulkan permintaanku semalam, sekarang aku meminta sesuatu yang tak masuk akal," tutur Reana.
"Bagiku masuk akal. Selagi Nona menjadi gadis yang dicintainya. Permintaan apa pun pasti bisa dikabulkan," ucap pengawal itu.
Reana melangkah tak peduli, meninggalkan laki-laki yang entah berapa lama menunggunya di depan pintu. Meskipun sikapnya seperti tak peduli. Namun, permintaan pengawal itu tetap menjadi beban pikirannya karena Reana tak terbiasa menolak permintaan orang.
Namun, dia tak mungkin meminta apa pun pada Tn. Malvin. Pengusaha tampan itu pasti akan meminta sesuatu sebagai imbalan karena memenuhi permintaannya. Hal yang sangat ditakutkannya adalah Tn. Malvin memintanya membatalkan pernikahan dengan Nico dan bersedia menikah dengannya.
Aku sudah berniat menolongmu eh … malah kamu minta macam-macam. Kalau Tn. Malvin minta aku jadi istrinya demi permintaanmu itu, apa harus aku penuhi? Emangnya kamu siapa? Apa untungnya aku menolongmu, batin Reana.
"Aku akan bantu kamu melarikan diri," ucap pengawal itu.
__ADS_1
Seperti mendengar isi hati Reana. Pengawal itu menjawab dengan sesuatu yang membuat Reana tercengang. Sebuah tawaran yang menggiurkan tetapi tidak masuk akal.
"Apa? Kenapa? Kenapa kamu menolongku. Kalau ketahuan, bisa habis kamu," ucap Reana.
"Aku cuma sendiri di dunia ini. Kalau aku habis tak ada yang akan kehilangan aku. Aku menolongmu karena aku suka padamu. Baru kali ini ada seseorang yang peduli padaku. Aku menjadi pengawal bukannya pertama kali ini. Aku menemui banyak karakter manusia dan karena aku dibayar untuk jadi pengawal, otomatis yang membayarku adalah orang-orang kaya. Tapi baru kali ini ada orang yang ingin pertahankan aku. Aku jadi suka padamu," jelas pengawal itu panjang dan lebar membuat Reana tercengang.
"Mungkin karena aku bukan orang kaya. Kamu bilang biasanya yang membayarmu adalah orang-orang kaya yang tak peduli padamu. Jadi mungkin saja aku seperti ini, karena aku bukan orang kaya," jawab Reana. Pengawal itu malah tersenyum.
"Aku juga bertemu dengan orang miskin yang sok kaya karena berteman dengan orang kaya. Mereka tetap tak peduli padaku bahkan mereka lebih sombong dari orang kaya yang sebenarnya. Jadi aku ingin menolongmu agar bisa lepas dari cengkeraman Tn. Malvin. Semua itu karena aku suka padamu," jawab pengawal itu.
Sudah tiga kali bilang suka padaku. Apa ini taktikmu agar aku klepek-klepek mendengar ucapanmu. Lalu berharap agar aku memenuhi permintaanmu? batin Reana.
Bermacam-macam pertanyaan muncul dalam benak gadis itu. Reana berpikir keras. Reana lalu bertanya resiko yang harus ditanggung pengawal itu jika ketahuan membantu Reana. Pengawal itu menjawab, bisa jadi dipecat, dipukuli atau disiksa. Mendengar itu Reana langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa Nona. Aku akan tanggung resiko itu. Setidaknya aku melakukan sesuatu demi seseorang yang aku suka dan sangat mengagumkan seperti Nona," tutur pengawal itu diam tanpa memandang Reana sedikit pun.
Empat kali, bisik hati Reana menghitung laki-laki itu mengucapkan kata-kata suka padanya.
Reana akhirnya pasrah. Dia memang sangat ingin dibantu untuk melarikan diri. Ada seseorang yang kagum padanya dan ingin menolongnya. Reana pun setuju dan berharap Tn. Malvin nantinya setuju. Hanya bisa berharap Tn. Malvin tak meminta imbalan yang sulit untuk dipenuhi Reana.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...