Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 173 ~ Terancam Batal ~


__ADS_3

Nico menyapa para wanita di dapur. Selain selalu ingin bersama istrinya. Nico juga merasa tak nyaman dengan kehadiran Lisca yang setiap ada kesempatan selalu mencuri pandang padanya.


Begitu melihat Nico turun dari lantai atas, Lisca duduk tegak memperhatikan setiap langkah laki-laki tampan itu. Merasa kesal karena Nico tak bergabung bersama teman-temannya tetapi justru bersama istrinya.


Jika tetap berkumpul bersama istri kenapa harus jauh-jauh datang ke sini? Kenapa tidak tinggal di apartemen saja? Betah sekali bersama perempuan itu? Ada teman-teman yang jauh-jauh datang malah diabaikan. Sombong sekali, batin Lisca.


Sambil menatap ke arah dapur. Hatinya bergemuruh rasa iri dan dengki melihat kemesraan Nico yang dipamerkan di mana-mana. Bahkan di hadapan Dina. Lisca merasa muak melihat Reana dimanjakan suaminya itu.


Dasar tidak tahu sopan santun, bermesraan di depan teman sendiri. Benar-benar pasangan memuakkan, batin Lisca.


Yang menatap suami istri itu tanpa berkedip. Ardy yang tanpa sengaja menoleh ke arah Lisca merasa heran dengan apa yang dilihat tunangannya itu. Mengikuti arah pandangan mata Lisca hingga akhirnya melihat Nico yang sedang mengusap rambut istrinya sambil tertawa.


Ardy berdiri dan melangkah ke arah dapur. Nico dan Reana menyambut datangnya sahabat mereka itu. Sementara Ardy melirik ke arah tunangannya. Lisca tak lagi menatap ke arah dapur itu.


"Sudah lapar Kak? Kita mulai makan siangnya?" tanya Reana.


"Oh boleh saja. Kalau aku belum begitu lapar. Cuma kasihan sama yang sedang hamil. Bukannya ibu hamil itu harus sering makan?" tanya Ardy.


"Lho kok malah bawa-bawa aku sih? Tenang Kak siapa pun boleh makan sesering makannya ibu hamil, " tanya Reana sambil tertawa.


Mereka yang berada di dapur itu ikut tertawa. Mengusik perhatian Dito dan Rommy yang sedang berbincang-bincang. Mereka pun akhirnya ikut bergabung di dapur. Reana mengajak semuanya makan siang bersama.


"Kalian ingin anak perempuan atau laki-laki?" tanya Dito sambil menyantap makan siangnya.

__ADS_1


"Apa saja, yang penting sehat," jawab Nico.


"Akhirnya ada juga bukti keperkasaanmu–"


"Sial!" ucap Nico menjawab ucapan Ardy. Sahabatnya itu malah tertawa.


"Walau bukti belum lahir tapi Reana sudah membuktikan. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Dito.


"Kita buktikan nanti. Begitu nikahi Lisca, dia akan langsung menampakkan hasil," ucap Ardy penuh semangat.


Yang lain bertepuk riuh mendukung tekad Ardy. Laki-laki itu melirik ke arah tunangannya. Terlihat Lisca yang hanya tersenyum terpaksa. Ardy pun membalas senyuman terpaksa itu. Selama makan siang itu, Ardy mengamati tunangannya. Terlihat Lisca yang tak semangat menikmati makan siangnya setelah melihat Nico yang menyuapi Reana dengan makanan dari piringnya sendiri.


Nico merasa yakin menu yang dipilihnya sangat enak hingga ingin istrinya mencicipi. Saat Reana mengangguk, laki-laki itu segera mengambilkan untuk istrinya. Semua yang menurutnya enak akan disuapi ke istrinya. 


Jangankan Lisca yang terusik dengan tingkah Nico. Yang lainnya pun merasa iri. Hanya Rommy yang terlihat tenang mengamati dan sesekali ikut tertawa mendengar gurauan teman-temannya.


Sambil menatap matahari menjelang tenggelam, Rommy sengaja mengajak Nico duduk berdua di sana. Sementara itu Reana mengajak Dina dan Dito duduk-duduk di atas dermaga kayu yang menjorok ke pantai. Rommy memiliki kesempatan untuk bicara setelah Ardy mengajak tunangannya itu berjalan-jalan di pinggir pantai lebih dulu.


"Ada apa?" tanya Nico.


"Kamu tidak merasa? Sepertinya Lisca kehilangan rasa terhadap Ardy," ucap Rommy.


"Benarkah? Aku tidak terlalu mengenalnya juga tidak berminat perhatikan dia," jawab Nico.

__ADS_1


"Aku rasa kamu tahu, atau mungkin tidak yakin dengan perasaanmu. Kalau aku merasa, kamu tahu itu tapi tak ingin salah sangka," ucap Rommy.


"Apa maksudmu?" tanya Nico.


"Aku merasa kamu menghindar di mana pun ada Lisca. Aku yakin kamu merasa kalau Lisca ada ketertarikan padamu," ucap Rommy.


"Oh itu, entahlah! Aku takut salah sangka. Aku hanya ingin dia sadar kalau aku mencintai istriku dan aku tidak berminat untuk berpaling dari Reana demi wanita mana pun," ungkap Nico.


"Itulah yang aku maksudkan, tingkahmu begitu jelas ingin menunjukkan kalau kamu sangat ingin memperlihatkan rasa cintamu pada Reana. Kadang tingkahmu tak terlihat seperti dirimu. Begitu juga dengan Reana yang terlihat harus mengimbangi permainanmu. Meski kadang dia terlihat canggung karena Reana bukan tipe orang yang suka pamer kemesraan. Aku tahu kamu sengaja melakukan itu demi menyadarkan Lisca," ucap Rommy.


"Ya … aku harap berhasil," ucap Nico.


Tiba-tiba terlihat Ardy dan Lisca yang kembali ke villa dengan tergesa-gesa. Ekspresi Lisca terlihat kesal, begitu juga dengan Ardy. Rommy dan Nico langsung berdiri dari tempat duduknya begitu melihat mereka berjalan di atas dermaga.


"Aku pulang dulu Nic," ucap Ardy.


"Nggak perlu! Aku pulang sendiri!" ucap Lisca.


Nico tak bisa berkata-kata. Merasa seba salah. Ingin sahabatnya itu lebih lama bergabung dengan mereka tetapi merasa tak nyaman dengan tingkah calon istri sahabatnya itu. Sementara Rommy dengan tenang mencoba menahan Ardy dan Lisca pulang.


Lisca jelas-jelas menolak saran Rommy. Ardy terlihat setengah hatinya masih ingin mengikuti saran Rommy. Nico sebagai tuan rumah akhirnya ikut menawarkan untuk tetap berkumpul di villa itu.


"Kenapa harus pulang lebih cepat, kita berencana menginap di sini? Lisca, jangan pulang dulu, kita menginap dan kumpul-kumpul dulu di sini," ucap Nico.

__ADS_1


Begitu mendengar tawaran Nico yang berencana menginap di Villa, Lisca langsung menyetujui. Ardy mendelik kesal pada Lisca. Sepertinya laki-laki itu telah susah payah menyarankan untuk tetap tinggal tetapi, Lisca tak peduli dan tetap ingin pulang. Namun, saat Nico menawarkan, Lisca setuju dan memutuskan untuk tetap tinggal.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2