
Reana tak mampu lagi melawan tuduhan Angelica. Reana tak mampu memberikan bukti yang bisa menentang ucapan wanita itu. Reana berlari meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Reana telah menjelaskan semuanya di hadapan kedua mertuanya termasuk pada Angelica dan suaminya
Merasa tak bisa melawan Reana akhirnya memilih meninggalkan meja makan itu dan berlari menuju kamarnya dengan menaiki tangga. Namun, saat mendengar suaminya dicecar dan disalahkan, Reana kembali menghadap kedua mertuanya itu. Reana lebih memilih dirinya disalahkan daripada kedua itu menyalahkan suaminya.
Reana bahkan dibentak oleh ibu mertuanya karena membela suaminya. Namun, melayani nafsu laki-laki lain demi mempertahankan posisi adalah sesuatu yang sangat memalukan bagi kedua orang tua itu. Reana tak ingin Nico disalahkan. Bagaimanapun juga Nico telah melarangnya menemui Hasbi.
Reana menyakinkan kalau dirinya tak melayani Hasbi sekaligus meyakinkan kalau suaminya adalah orang yang pantas untuk memegang posisi itu meski tak bisa memberikan bukti. Reana pasrah dianggap sebagai perusak nama baik keluarga dan memilih pergi. Nico yang ingin menyusul istrinya langsung ditahan oleh Angelica.
"Kak Nico jangan pergi. Biarkan saja dia tinggalkan rumah ini. Dia tidak pantas di sisi Kak Nico," ucap Angelica menahan lengan Nico dengan kedua tangannya.
"Lepaskan aku!" ucap Nico.
__ADS_1
"Nggak! Aku nggak mau! Dia nggak pantas untuk Kak Nico. Dia kampungan, miskin, bodoh–"
"Tutup mulutmu! Terserah apa pendapatmu tentang istriku, tapi sekali aku mendengar itu mulutmu, aku tidak akan segan-segan menyakitimu!" bentak Nico.
Nico melepas kedua tangan Angelica. Gadis itu menangis meraung mengejar. Kembali menahan Nico bahkan dengan memeluknya. Nico panik, di sisi lain tak mungkin bersikap kasar pada seorang wanita tetapi melihat Reana yang pergi. Nico semakin takut Reana telah pergi jauh. Laki-laki mendorong tubuh Angelica hingga jatuh terjengkang.
"Kak Nico! Kenapa masih memilih wanita murahan seperti itu. Dia telah selingkuh!" teriak Angelica.
"Reana tidak selingkuh! Aku percaya padanya–"
"Diam!" bentak Nico yang bersiap-siap melayangkan tamparannya.
__ADS_1
Ny. Cathrina menjerit. Dengan dada yang sesak menahan emosi, akhirnya Nico urung mendaratkan tamparan ke wajah cantik Angelica. Nico menurunkan tangannya dan memilih pergi mengejar istrinya.
Namun, wanita itu sudah tak terlihat. Nico berlari hingga keluar dari gerbang rumah mereka. Berlari sambil memanggil-manggil nama istrinya. Tak percaya Reana bisa menghilang secepat itu. Nico berlari ke persimpangan. Melihat ke sekeliling, dengan nafas yang terengah-engah.
"Reana! Reana! Pulanglah! Kita kembali ke apartemen. Reana kamu di mana? Jangan pergi! Jangan pergi! Reana! Aku mohon pulanglah, jangan pergi!" teriak Nico seperti orang gila.
Dengan air mata yang bercucuran laki-laki itu berlari ke sana kemari. Bertanya pada ibu-ibu yang lewat, pos jaga komplek, berlari melintasi lapangan bermain. Namun, tetap tak menemukan istrinya
Akhirnya terduduk di pinggir jalan setelah lelah terus berlari memanggil Reana. Wanita itu memilih diam di tempatnya di balik sebuah pohon jalur hijau jalan kompleks elit itu. Reana menatap nanar laki-laki yang dicintainya itu melangkah putus asa dan kembali masuk ke gerbang rumahnya.
Biarkan aku pergi Kak Nico, tak ada yang bisa aku lakukan untuk meyakinkan mereka. Meski Kak Nico menerimaku, tapi aku tak sanggup anak ini hidup ditengah-tengah orang yang membencinya. Aku akan tetap mencintaimu, Papa Nico, batin Reana lalu melangkah meninggalkan kompleks perumahan elit itu.
__ADS_1
Entah mengapa, Reana merasa yakin benar-benar telah mengandung seorang bayi. Reana tak peduli jika harus membesarkan bayi itu seorang diri. Wanita itu bahagia menerima kenyataan itu, meski karena kandungan itu, dia dituduh berselingkuh.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...