Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 156 ~ Demi Reana ~


__ADS_3

Sebelum berangkat berjualan ke kantin, Bu Ridha, Nico dan Reana sarapan pagi bersama. Sesekali Bu Ridha menanyakan kabar perusahaan Nico. Berharap laki-laki itu kembali teringat akan tugas dan tanggung jawabnya. Bu Ridha tak ingin menantunya itu terlena menemani Reana hingga menimbulkan hal buruk bagi perusahaannya di belakang hari.


"Jika aku di sini bersama Reana, perusahaanku akan baik-baik saja Ma. Justru jika aku jauh dari Reana, aku bisa menghancurkan perusahaanku. Itu sudah pernah terjadi. Lebih baik aku meninggalkan perusahaan daripada meninggalkan Reana di sini," ungkap Nico.


Tergurat keraguan atas ucapannya sendiri. Bagi Nico yang terpenting adalah Reana meski tak bisa melepaskan tanggung jawabnya begitu saja terhadap perusahaannya. Nico seperti berada di persimpangan jalan dan kedua arah itu penting baginya.


Nico bahkan tidak berani mengajak istrinya pulang. Merasa istrinya pulang ke kampung bisa membuat hidup Reana lebih bahagia. Nico tak ingin menghalangi Reana yang mencari kebahagiaannya. Di mana pun wanita itu bisa mendapatkan kebahagiaan itu.


"Reana, jangan buat suami kamu merasakan dilema. Dia sayang padamu hingga rela meninggalkan perusahaannya lalu bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan untuk suamimu?" tanya Ridha.


"Tapi Ma, Reana nggak mau tinggalin Mama sendiri, Reana–"

__ADS_1


"Itu karena sudah jadi kebiasaan kamu sekarang ini. Setiap hari menemani Mama, hingga terasa berat meninggalkan kebiasaan itu, tapi sebenarnya kebiasaan kamu bukan lagi bersama Mama Nak. Kamu sudah punya tanggung jawab yang lain. Suami kamu adalah tanggung jawab kamu yang baru. Jangan biarkan masalah membuatmu lari dari tanggung jawabmu pada Nico. Ingat juga tanggung jawab Nico sebagai anak dari orang tuannya yang berjuang segalanya demi keberhasilan anaknya. Jangan egois Nak. Jangan karena Nico mengalah padamu, kamu jadi merasa menang," tutur Ridha Lia menasehati Reana hingga membuat wanita itu tertunduk.


"Nggak apa-apa Ma, saya mengerti. Ini terjadi karena kesalahan saya sendiri sampai-sampai Reana putus asa dan pulang ke kampung ini. Saya sudah bicara pada Mommy dan Daddy, saya tak akan memaksa Reana untuk hidup di dunia kami lagi. Saya yang akan datang menghampiri Reana dan hidup dunianya," jelas Nico.


"Nico?"


"Kakak?"


Wanita itu tak bisa membayangkan rasa kecewa orang tua Nico jika laki-laki itu benar-benar menjalankan keputusannya, melepas semua fasilitas dan kenyamanan hidupnya demi Reana. Wanita itu menatap sendu pada laki-laki yang dicintainya itu. Sama sekali tak setuju dengan keputusan Nico.


"Aku tidak setuju! Kakak harus kembali. Kakak harus menjalankan tanggung jawab kakak terhadap Daddy, kakak sudah janji sama Daddy," ungkap Reana dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku bersedia mengambil tanggung jawab itu demi bisa menikah denganmu Reana. Jika tanggung jawab itu justru membuat aku terpisah darimu, aku tidak mau," jawab Nico.


Serta merta air mata Reana mengalir. Bu Ridha memalingkan wajahnya sambil menggelengkan kepalanya. Bu Ridha juga tahu bagaimana kerasnya hati Nico terhadap Reana. Saat berada dalam kamar wanita itu langsung memukul tubuh Nico untuk mengusir laki-laki itu.


"Pergi! Pergi sana pulang! Jangan di sini! Kakak tidak diterima di sini," jerit Reana.


Sambil memukul dada Nico. Laki-laki itu menangkap kedua tangan wanita yang dicintainya itu lalu menarik tubuh wanita itu hingga membentur tubuhnya. Nico memeluk erat istrinya.


"Aku tidak akan pulang. Aku ingin bersamamu. Aku ingin berada di manapun kamu berada. Jangan memaksaku untuk berpisah dengan istriku, aku tak sanggup hidup tanpa istriku," ucap Nico sambil memeluk erat istrinya.


Reana menangis dalam pelukan Nico. Reana tak ingin Nico meninggalkan kehidupannya demi dirinya. Hidup sederhana jauh dari segala fasilitas dan kenyamanan hidup. Reana tak menyangka jika suaminya telah bertekad meninggalkan segalanya demi bisa hidup bersamanya.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2