
Dengan perasaan bahagia, Reana pulang mengemudikan mobilnya. Wanita itu tak sabar ingin mengucapkan terima kasih pada suaminya. Melihat pasangan yang berhasil dipilihkan oleh Nico untuk Nella adalah sahabatnya sendiri. Di mana Reana tahu persis kalau Nella sejak dulu menyukai Ardy.
Teringat saat Nico mengedipkan matanya dan sekarang Reana baru sadar apa maksudnya. Nico ingin memberikan kebahagiaan bagi Nella yang telah banyak memberikan bantuan dalam hubungan mereka. Begitu sampai apartemen Reana langsung mencari suaminya itu yang ternyata sedang duduk sofa sambil menonton televisi.
Reana langsung memeluk laki-laki itu dan mendaratkan ciuman lama dan dalam di pipi suaminya itu. Nico tersenyum, seperti sudah tahu kalau istrinya bahagia dan ingin berterima kasih padanya. Begitu bahagia hingga mencium dalam-dalam pipi laki-laki itu. Nico hingga terdorong miring ke samping. Saat dilepas Nico masih tetap di posisi miring.
"Apa-apa ini?" tanya Reana sambil tertawa.
"Sepertinya tidak adil makanya jadi miring," ucap Nico sambil menahan senyum.
"Oh ya ampun! Ternyata itu masalahnya!" seru Reana lalu duduk di sisi Nico.
Hendak mencium sisi pipi Nico yang belum diciumnya. Reana telah bersiap mencium pipi laki-laki itu tapi tiba-tiba Nico menoleh ke arahnya. Bibir Reana mendarat di bibir Nico. Merasa ditipu, Reana langsung mencubit pinggang suaminya dengan wajah semburat merah.
"Ternyata masih malu-malu, padahal waktu dicium pertama kali malah diam saja," ucap Nico mengingatkan saat pertama kali mencium Reana untuk membayar hukuman taruhan.
__ADS_1
"Itu bukan diam saja, itu namanya terpaku," ucap bantah Reana.
"Terpaku karena tidak menyangka ada cowok ganteng yang mau menciummu?" tanya Nico.
Menatap lembut wajah Reana sambil membelai pipi wanita cantik itu. Reana menggelengkan kepala membalas dugaan laki-laki itu. Nico tersenyum menatap istrinya yang bersandar di dadanya itu.
"Lalu kenapa? Kenapa kamu terpaku?" tanya Nico.
"Kenapa aku? Dari semua gadis yang inginkan Kak Nico, kenapa aku? Kenapa memilihku. Apa salahku? Itu yang aku pikirkan saat itu," ucap Reana.
"Ya pikiran, namanya juga pikiran bisa sekelebat. Dalam satu detik bermacam-macam pikiran bisa datang. Kalau Kakak? Apa yang Kakak pikirkan saat itu?" tanya Reana balik bertanya.
Sekian lama berumah tangga dengan laki-laki itu. Reana belum pernah tahu apa yang dirasakan Nico saat pertama kali menciumnya. Karena selama ini yang dia tahu, target ciuman Nico adalah Rebecca tapi justru beralih padanya. Merasa penasaran apa yang Nico rasakan saat itu. Reana beranikan diri untuk bertanya.
"Yang aku pikirkan … entahlah! Ini aneh, kamu bisa bermacam-macam dalam waktu sekejap itu tapi aku justru tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya ingin melakukan padamu. Aku merasa itu adalah kesempatanku dan aku harus melakukannya. Karena jika tidak, aku merasa selamanya tidak akan berani. Dalam pikiranku hanya itu, gadis itu dia ada dihadapanku. Aku ingin merasakan bibirnya. Aku ingin merasakan bibir manis itu. Aku …."
__ADS_1
"Stop! Stop! Stop! Katanya pikiran Kakak kosong, tidak memikirkan apa-apa. Kenapa penjabarannya bisa sepanjang itu," ucap Reana sambil tertawa.
"Ya, itulah anehnya. Kosong saja bisa dijelaskan panjang lebar. Pokoknya begitulah, aku hanya ingin kamu sejak saat itu," ucap Nico sambil menoel puncak hidung istri yang sangat dicintainya itu.
"Terima kasih Kakak," ucap Reana dengan suara pelan.
"Untuk apa Sayang?" tanya Nico sambil berbisik.
"Untuk melakukan itu," jawab Reana.
Membuat Nico tersenyum. Lalu melanjutkan apa yang ada dipikirannya. Merebahkan istrinya di sofa itu.
Lalu membenamkan bibirnya di bibir manis istrinya. Perlahan, lembut dan menikmati. Membuat keduanya terhanyut dalam hasrat yang harus disalurkan. Di sofa itu dengan penuh kelembutan. Masing-masing ingin melakukan pelampiasan hasrat sekaligus penyaluran kasih sayang
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1