
Reana baru saja hendak masuk ke gerbang saat tiba-tiba Nico memanggilnya. Laki-laki itu terlihat ingin bertanya tapi masih ragu-ragu. Reana menunggu hingga laki-laki itu merasa siap untuk bertanya.
"Saat pakai t-shirt tadi siang, apa … kamu … pakai pakaian dalam?" tanya Nico akhirnya lalu tertunduk menahan malu.
Wajahnya bersemu merah namun Nico harus menanyakannya. Kalau tidak, Nico akan menyesal seumur hidup. Kalau mati, jadi arwah penasaran. Begitu berat beban hidup Nico menanggung pertanyaan besar dihatinya itu. Namun, Reana justru tertawa mendengar itu lalu menggelengkan kepalanya.
"Apa maksudmu menggelengkan kepala? Tidak mau jawab?" tanya Nico.
Reana kembali menggelengkan kepalanya. Belum mampu menjawab karena hanya bisa tertawa, tak bisa menahan rasa lucu dari pertanyaan laki-laki itu. Reana tak menyangka Nico begitu penasaran hingga nekat menanyakan hal itu.
"Aku mencuci semuanya. Kenapa?" tanya Reana.
Mata Nico terbelalak mendengar pengakuan Reana. Tak hanya matanya yang terbelalak namun mulutnya pun ternganga. Reana semakin tertawa melihat lucunya ekspresi wajah laki-laki tampan itu.
"Jangan menghayal sekarang! Sudah terlambat!" seru Reana masih tertawa dengan sebelah tangannya menutup mulutnya.
"Kamu nekat sekali sayang. Kalau terjadi hal yang diinginkan bagaimana?" tanya Nico yang masih terlihat seperti terguncang.
"Katanya diinginkan kok nadanya sedih gitu sih?" tanya Reana kembali tertawa.
"Menyedihkan karena terlewat begitu saja," ucap Nico juga dengan nada lemas. Reana kembali tertawa.
"Kakak ingin itu terjadi?" tanya gadis itu setelah meredakan tawanya. Nico menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku janji pada Mama akan menjagamu. Aku … tidak menyesal … sedikit. Tapi menyesal banyak," ucap Nico sambil tersenyum. "Kenapa kamu kok nekat begitu itu sih sayang?" ucap Nico kembali mengulang bertanya.
"Karena aku percaya Kak Nico. Tadinya aku ragu untuk melepasnya tapi teringat Kak Nico yang dari dulu selalu menjagaku. Meski kita hanya berdua di Villa tapi Kakak bisa mengatasi dorongan hasrat Kakak," jawab Reana sambil tersenyum malu untuk membahas itu.
Tapi saat itu kamu sakit sayang, kamu masih dalam masa penyembuhan. Kalau sehat dan menggemaskan seperti tadi, kamu tidak akan selamat Reana, batin Nico dengan wajah cemberut.
"Tapi kalau aku tak bisa menahannya bagaimana? Kan bisa terjadi." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut laki-laki tampan itu.
"Tapi tidak terjadi 'kan? Terus sekarang bagaimana? Apa menyesal seumur hidup?" tanya Reana menggoda.
Laki-laki itu segera mendekat dan memeluk gadis itu dan mendaratkan ciuman.
"Kakak, nanti ada yang lihat," ucap Reana.
"Sudah malam, nggak ada yang keluar," jawab Nico kembali mendekatkan bibirnya di bibir Reana.
Setelah mengetahui apa yang terlewati olehnya, Nico seperti mencari pelarian. Dengan begitu bernafsu memagut dan mengulum bibir Reana. Memeluknya dengan erat dan memainkan lidahnya. Reana bahkan terengah-engah karena tak bisa bernafas.
__ADS_1
Nico melepaskan pagutan dan memeluknya erat, mencium pangkal leher Reana hingga terdengar hembusan nafasnya hingga berkali-kali. Cukup lama hingga membuat Reana merasa risih, takut jika ada yang melihat tingkah mereka namun Reana tak berani menolak Nico. Laki-laki itu seperti masih ingin menghilangkan rasa rindunya.
Perlahan Nico melepaskan pelukannya lalu mencium kening Reana. Laki-laki itu tersenyum lalu pamit pulang ke apartemennya. Bisa di bayangkan betapa kesepiannya Nico saat tiba di apartemen. Langsung terduduk di sofa dengan kedua tangannya menopang dagu.
"Setiap kali Reana habis dari sini, rasanya langsung sepi. Coba kalau kamar-kost itu bisa terima pria. Aku bisa semalaman tidur sambil memeluknya," ucap Nico berbicara pada dirinya sendiri.
Berbeda dengan Nico yang langsung merasa sepi. Reana justru segera di sibukkan dengan menyiapkan barang-barang yang akan dibawa dalam perjalanan ke luar negeri nanti. Mondar-mandir, mencari-cari, memilih-milih, menimbang-nimbang, semua itu dilakukannya agar dia benar-benar merasa siap untuk perjalanan nanti.
Lebih suka menyibukkan diri daripada termenung hingga risau memikirkan pertemuannya dengan sang calon mertua.
Calon mertua, seperti apa mereka. Harusnya aku bertanya lebih banyak tentang mereka pada Kak Nico. Bukannya menghindar kalau membicarakan mereka. Aku harusnya tahu apa yang disukai mereka, apa yang dibenci mereka. Ini malah takut membicarakan mereka. Jangankan bicara tentang mereka, sekelebat terlintas dipikiran saja langsung buru-buru di usir. Oh, aku salah, aku harusnya lebih banyak bicara tentang mereka. Tapi besok masih bisa, aku akan tanya-tanya sama Kak Nico nanty batin Reana kembali merasa lega.
Setelah menyiapkan semuanya, Reana beralih menyiapkan kelengkapan persyaratan mengurus dokumen-dokumen untuk perjalanan luar negeri. Melewati tengah malam gadis itu baru selesai menyiapkan semuanya.
Reana tertidur tanpa memikirkan lagi rasa takutnya bertemu dengan para calon mertua. Begitu letih dan mengantuknya gadis itu hingga keesokan harinya Reana terbangun setelah seorang gadis menggedor pintu kamarnya.
"Kak Reana! Banguuun! Kak Reana, ada cowok ganteng cariin Kakak tuh!" Teriak para gadis yang memanggil-manggilnya.
Namun teriak itu seperti alunan lagu syahdu yang semakin melelapkan tidurnya.
"Masih belum bangun?" tanya Nico pada gadis yang akhirnya kembali dengan tangan kosong.
"Ya Kak, nggak biasanya Kak Reana susah bangun. Biasanya malah Kak Reana yang bagunin kami kalau ketiduran," ucap gadis lain.
"BELUUUM!!!" jawab mereka serentak.
"Eh eh, ada apa ini? Kok pada ribut pagi-pagi?" tanya Bu Yati.
Melihat ibu paruh baya yang muncul itu Nico langsung memperkenalkan diri. Ibu itu juga mengenali Nico sebagai laki-laki yang pernah membawa lari Reana saat pernikahan gadis itu dulu.
Melihat ibu itu datang, gadis-gadis itu langsung minggir sambil tersenyum-senyum. Nico yang hanya boleh duduk di beranda depan akhirnya dipersilahkan Bu Yati untuk masuk ke ruang tamu. Para gadis-gadis itu pun mengikuti.
"Ya ampun kalian ini, kayak nggak pernah lihat orang ganteng aja!" sahut Cut Anisyah ikut nimbrung.
"Emang belum! Eh … Maksud kami seganteng Kak Nico, memang belum," jawab seorang gadis.
Yang lain langsung tertawa. Nico meminta izin pada Bu Yati untuk mentraktir sarapan pagi untuk gadis-gadis itu, mereka langsung bersorak setuju. Bu Yati tertawa melihat tingkah gadis-gadis itu. Bu Yati merasa tidak enak hati namun Nico dengan senang hati melakukannya.
"Tidak apa-apa Bu, tadi, saya sudah terlanjur bertanya pada mereka," ucap Nico.
"Kamu sendiri sudah sarapan belum?" tanya Cut Anisyah yang memang satu angkatan dengan Nico.
__ADS_1
"Belum, karena buru-buru ke sini, saya juga belum sarapan," ucap Nico malu-malu.
Bu Yati akhirnya setuju Nico mentraktir para gadis penghuni kost-an itu. Para gadis itu langsung, memanggil gadis-gadis yang masih berada di kamar termasuk Reana.
"Yuu-huuu, kita di traktir sarapan pagi! Ayo bangun!" teriak para gadis itu.
"Waduh, jadi banyak yang ditraktir," ucap Bu Yati tak enak hati.
"Nggak apa-apa Bu, biar adil," ucap Nico sambil tersenyum.
Sementara seorang gadis itu memberitahu yang lain. Gadis yang lainya mencatat menu pesanan mereka. Nico membebaskan mereka memilih menu apa saja.
Reana bangun karena mendengar ribut-ribut.
"Ayo bangun! Pacarmu traktir kita sarapan--"
"APA?" tanya Reana langsung masuk ke kamarnya dan melihat jam dinding.
Ya ampun udah jam segini, aku baru bangun. Pantas Kak Nico menyusul ke sini, Kak Nico pasti sudah tak sabar menunggu di mobil, batin Reana.
Segera gadis itu mandi dan bersiap-siap untuk pergi. Setelah memoles sedikit wajahnya dengan bedak bayi, Reana segera menghampiri Nico yang sedang diajak ngobrol oleh Bu Yati dan Cut Anisyah.
"Kalian sudah mau menikah ya?" tanya Cut Anisyah.
Cut Anisyah langsung memeluk Reana untuk memberi selamat. Gadis-gadis yang ada di situ juga melakukan hal yang sama.
"Jadi kita rayakan pertunangan mereka, Kak Nico! Anda sudah kami terima sebagai kakak ipar kami," ucap seorang gadis.
Nico tersenyum malu-malu, karena telah dinobatkan sebagai kakak ipar dari para adik kost itu.
"Sering-sering datang ke sini ya Kak."
"Apalagi di jam makan, jangan ragu-ragu--"
"Kalian ini nggak malu apa?" tanya Yati.
"Kenapa mesti malu bu, 'kan Kakak Ipar kita," sahut gadis lain.
Semua langsung tertawa, Nico hanya tersenyum. Sementara Reana merasa bersalah. Nico terpaksa mencarinya hingga masuk ke rumah kost yang memang tak boleh sembarangan di kunjungi tamu laki-laki itu. Mereka pun menikmati sarapan pagi bersama.
Bu Yati mengajak makan bersama di ruang tengah dengan hamparan permadani. Reana duduk di samping Nico, sambil makan mereka mengambil foto bersama. Tak puas-puasnya para gadis itu memuji ketampanan calon suami Reana itu. Terlebih lagi saat mereka duduk bersanding, keduanya dinilai sebagai calon pengantin yang sangat serasi.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...